
Yuna dan kedua orangtuanya telah tiba di sebuah mansion mewah nan megah gaya Eropa modern. Jika dibilang mansion milik papanya mewah dan megah, mansion milik sahabat dari papanya ini 2 kali lipat lebih mewah dan megah lagi.
Namun Yuna tau siapa sebenarnya sahabat dari Papanya itu. Dia berharap tidak ada sesuatu hal terjadi di dalam sana nantinya.
Lukas memencet bel mansion tersebut, tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat malam, Bi." sapa Lukas.
"Selamat malam Tuan, Nyonya, Nona. Nyonya besar dan Tuan muda telah menunggu di dalam," balas pelayan itu dengan ramah.
"Baik, terima kasih Bi," jawab Jasmine.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam mansion tersebut. Yuna melihat seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda tampan tengah duduk sofa menunggu kedatangan dia dan kedua orangtuanya. Betapa terkejutnya Yuna saat melihat pemuda itu yang ternyata Jayden. Jayden yang melihat keterkejutan Yuna hanya tersenyum yang memiliki sebuah arti.
Eleanor pun berdiri dan segera menghampiri tamu-tamu istimewanya itu.
"Malam Eleanor," sapa Lukas menjabat tangan Eleanor.
"Malam Lukas," balas Eleanor.
"Malam Elea, kamu apa kabar?" sapa Jasmine menanyakan kabar Eleanor sambil cipika-cipiki.
"Aku baik. Kalian apa kabar? Aku rindu sekali dengan kalian, udah lama banget kita tidak bertemu." Sudah hampir 5 tahunan Eleanor tidak bertemu dengan Lukas dan Jasmine semenjak dia mengambil alih perusahaan suaminya yang berada di New York.
"Iya udah lama banget, mungkin sekitar 5 tahunan," pungkas Jasmine. Eleanor melirik ke arah Yuna.
"Ini Yuna kan?" tanya Eleanor.
"Iya Tante, aku Yuna," ucap Yuna sopan sambil sedikit menunduk kepalanya.
"Ya ampun kamu makin cantik saja sayang, udah lama banget Tante nggak ketemu kamu. Terakhir ketemu waktu kamu masih kelas 2 SMP kalau tidak salah," ujar Eleanor dengan nada antusiasnya. Yuna menanggapi ucapan Eleanor itu hanya dengan senyuman.
"Oh astaga aku sampai lupa. Jayden sini," ucap Eleanor memanggil sang putra. Jayden yang dipanggil tentu saja dengan cepat menghampiri sang Mama.
"Ini Jayden, anakku. Kalian masih ingat kan?"
"Tentu saja, Eleanor. Dia sangat mirip dengan mendiang Papanya, Jordan Choi," pungkas Lukas tersenyum.
"Malam Om, Tante," sapa Jayden pada Lukas dan Jasmine.
"Malam nak," balas Lukas dan Jasmine secara bersamaan.
"Wajah dan karisma kamu sangat mirip dengan Papamu," ujar Lukas sambil menepuk-nepuk bahu Jayden. Jayden hanya tersenyum dan beralih menatap Yuna.
__ADS_1
"Malam Yun," sapa Jayden pada Yuna dengan senyum khasnya yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Malam juga Jay," timpal Yuna sedikit gugup.
"Kamu cantik sekali malam ini," puji Jayden yang memang sedari Yuna datang sudah terpesona dengan penampilan gadis itu malam ini.
"Makasih Jay," balas Yuna sedikit kikuk. Para orang tua tersenyum melihatnya.
"Eh ayo duduk dulu," ajak Eleanor. Semuanya mengangguk dan duduk di sofa. Tak lama, dua orang pelayan datang membawakan minuman dan beberapa cemilan.
"Silahkan di minum dulu," ucap Eleanor.
"Iya Eleanor." Lukas dan Jasmine meminum sedikit minuman yang telah disediakan tadi. Sedangkan Yuna masih canggung di rumah sahabat papanya ini, apalagi ada Jayden disini.
"Kata Jayden, kamu juniornya di kampus, benar nak?" tanya Eleanor pada Yuna.
"Iya benar Tante," jawab Yuna singkat.
"Kalian sering bertemu atau ngobrol gitu di kampus?" tanya Eleanor lagi yang penasaran tentang hubungan anaknya dengan Yuna.
"Sering Tan, tapi kalo udah ketemu sama dia rasanya pengen emosi aja, Orangnya ngeselin banget, bawaannya pengen mukulin wajah sok gantengnya itu Tan," jelas Yuna menggebu-gebu. Jika di ingat-ingat kembali Yuna masih kesal dengan sifat angkuh dan arogan dari Jayden waktu itu, ya walaupun sifat laki-laki itu masih sama sampai sekarang.
"Lah memang aku udah ganteng dari lahir kali," sahut Jayden dengan percaya diri . Yuna mendelik tak suka ke arah Jayden.
"Apalagi dia, orangnya galak dan bar-bar banget, Ma. Padahal kan seharusnya perempuan itu harus lembut dan anggun!" timpal Jayden membalas cibiran Yuna sambil menatap gadis itu dengan tatapan mengejek. Yuna langsung mendengus mendengar perkataan Jayden tadi.
"Ih mana ada aku gitu!" balas Yuna tak terima seraya melotot kan mata ke arah Jayden. Para orang tua hanya terkekeh geli dan geleng-geleng kepala.
"Memang benar kan? Pakai nggak ngaku segala."
"Udah jangan berdebat gitu, nanti yang ada kalian jodoh loh," goda Jasmine.
"Semoga aja Tan," balas Jayden berharap. Yuna mendelik ke arah Jayden, pria itu terlalu percaya diri.
"Kalau Jayden masih suka gangguin kamu, bilang aja sama Tante. Biar nanti Tante hukum!" sahut Eleanor yang sedari tadi menyimak perdebatan sang putra dan Yuna.
"Apa sih Ma, anak Mama itu Yuna apa Jayden? Dan Jayden itu nggak pernah gangguin Yuna!" Bela Jayden.
"Kalau kamu nakal suka gangguin Yuna, Mama berhenti ngakuin kamu jadi anak Mama dan coret kamu dari ahli waris!" ancam Eleanor membuat Jayden mengerucutkan bibirnya dan merengek seperti anak kecil.
"Ih jangan gitu lah Ma." Yuna yang melihat itu hanya bisa terkekeh geli.
"Permisi Nyonya." Seorang pelayan datang ke ruang tamu untuk memberitahukan jika makan malam telah siap.
__ADS_1
"Ya Bi?"
"Makan malamnya sudah siap, Nyonya."
"Oh ya terima kasih, Bi." Pelayan itu mengangguk sopan lalu kembali pergi menuju ke dapur.
"Kalau gitu kita makan malam dulu yuk," ajak Eleanor. Semuanya langsung mengangguk menyetujui ajakan Eleanor untuk makan malam.
Selesai makan malam, Eleanor menyuruh Jayden mengajak Yuna untuk berkeliling di mansion. Yuna ingin menolak tapi tak enak hati dengan Eleanor, dengan perasaan terpaksa ia pun menyetujuinya, walaupun sangat malas jika sudah berduaan dengan Jayden.
"Kamu sekarang lagi dekat dengan siapa? Apa masih dengan William?" tanya Jayden tiba-tiba membuat Yuna langsung menatap ke arahnya. Kini mereka berdua tengah berada di halaman belakang mansion.
"Bukan urusanmu!" jawab Yuna cuek.
"Apa kamu masih marah sama aku sampai sekarang?" tanya Jayden. Yuna hanya terdiam, dia sudah tidak marah lagi, tapi mungkin kecewa sebab sampai sekarang Yuna tidak bisa melupakan kejadian waktu itu.
"Yuna." Jayden memegang kedua tangan Yuna membuat sang empu langsung tersentak.
"Eh!" Saat Yuna hendak melepaskan tangannya, Jayden malah mempererat genggamannya.
"Lihat aku Yun," suruh Jayden. Mata Yuna pun menatap mata hitam legam milik Jayden.
"Apa kamu sama sekali tidak ada rasa sama aku?" tanyanya dengan suara lirih.
"Rasa aku ke kamu itu sudah hilang Jay, semenjak kejadian waktu itu. Hatiku sangat sakit ditambah kecewa dan malu saat Jessie mengatakan bahwa kamu hanya mempermainkan aku sekaligus menjadikan aku bahan taruhan bersama teman-temanmu," jelas Yuna dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mati-matian untuk tidak mengeluarkan air matanya. Jayden menunduk menyesali akan perbuatannya itu.
"Maafkan aku, Yun. Aku menyesal."
Yuna pergi meninggalkan Jayden sendirian, tanpa menanggapi ucapan Jayden tadi. Jayden hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap sendu punggung Yuna yang semakin menjauh.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.