
Hari ini tanggal 14 Februari, bertepatan dengan hari valentine dan hari ulangtahun Jayden. Maka dari itu Yuna ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya itu dan pada hari ini Yuna serta Eleanor akan pergi ke mansion Jayden untuk membuat dekorasi untuk merayakan ulang tahun lelaki itu dengan pesta kecil-kecilan.
TOK! TOK! TOK!
"Nak, kamu udah siap belum?" tanya Eleanor mengetuk pintu kamar tempat Yuna berada.
CEKLEK!
Yuna membuka pintu kamar.
"Udah kok, Tan."
"Kalau begitu kita pergi ke mansion nya Jayden," ajak Eleanor.
"Let's go!" ucap Yuna dengan semangat.
Membutuhkan waktu 30 menitan, mereka sampai di mansion milik Jayden yang berada di New York. Mansion itu memang lebih sedikit kecil dari mansion tempat tinggal Eleanor, tapi jangan salah mansion tersebut dibeli oleh Jayden dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.
Eleanor memencet bel mansion milik putranya itu, tak lama seorang maid membukakannya pintu.
"Mari silahkan masuk Nyonya, Nona," suruh maid itu. Eleanor dan Yuna hanya mengangguk lalu masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Jayden tinggal sendirian disini, Tan?" tanya Yuna.
"Jayden nggak sendirian nak, ada maid yang tadi dan scurity yang tinggal bersamanya. Tapi terkadang Jayden juga mengajak asisten pribadinya tinggal disini," jelas Eleanor.
"Apa asistennya Jayden masih Robert, Tan?"
"Asistennya disini sudah berbeda, bukan Robert lagi. Robert tetap di JCH Group membantu Levin disana. Sekarang asisten pribadi Jayden itu bernama Mark."
Yuna mengangguk mengerti, Eleanor pun mengajak Yuna menuju kamar Jayden yang berada di lantai dua. Saat membuka kamar Jayden, aroma parfum maskulin milik lelaki itu menguar masuk ke dalam hidung Yuna. Ah, dia semakin merindukan lelaki berlesung pipi itu.
Yuna dan Eleanor mulai membuat dekorasi ulangtahun di kamar Jayden dengan beberapa balon dan dekorasi ulang tahun lainnya.
"Huft... Akhirnya selesai juga," ucap Yuna bernapas lega.
"Iya nak, tinggal tunggu Jayden pulang saja. Oh ya nak, apa kamu bisa tunggu disini? Soalnya Tante mau ke kantor sebentar, ada yang ingin Tante selesaikan disana," izin Eleanor.
__ADS_1
"Iya gapapa, Tante."
"Ya sudah Tante pergi dulu ya, nanti Tante balik kesini lagi," ujar Eleanor sambil mengambil tas jinjing miliknya.
Yuna mengangguk, "Iya, Tan."
"Kalau butuh sesuatu kasi tau aja pelayan yang ada di mansion ini ya sayang?" suruh Eleanor mengelus pipi Yuna. Yuna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelah itu Eleanor keluar dari kamar Jayden dan meninggalkan Yuna sendirian disana.
Tepat pukul 7 malam, Jayden pulang dari kantor. Lelaki itu mengistirahatkan tubuhnya sejenak di ruang tamu, dirinya sangat lelah hari ini karena pekerjaannya cukup banyak membuatnya pulang malam.
"Huft... Hari ini sangat melelahkan," ucapnya sambil membuang napas berat. Tiba-tiba saja terlintas nama Yuna di otaknya. Gadisnya itu sangat sulit dihubungi, terkadang hal itu membuat Jayden ingin cepat-cepat pulang ke Korea Selatan tapi Eleanor selalu melarangnya.
"Sayang, kamu kemana sih sebenarnya? Apa kamu baik-baik saja disana?" Monolog Jayden memikirkan keadaan Yuna.
"Udah 3 hari ini Yuna nggak pernah hubungi aku, aku telpon pun nggak diangkat, aku kirimi pesan juga nggak dibalas sama sekali, padahal dia lagi online. Bikin aku jadi over thinking aja sama dia," ujar Jayden resah.
Jayden menghela napas panjang, "Apa dia marah sama aku? Padahal aku nggak pernah bikin dia marah kok." Jayden memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat sehingga membuat Yuna tidak pernah membalas bahkan menghubunginya.
"Argh, bikin aku pusing saja!" teriak Jayden frustrasi.
Saat Jayden membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ledakan party popper.
"Surprise!" seru dua orang wanita yang berarti dalam hidupnya, salah satunya itu gadis yang 3 hari ini ia rindukan, eh ralat Jayden selalu merindukan gadis itu apalagi ia sudah lama tidak bertatapan muka langsung dengannya semenjak Jayden bekerja di New York.
"Mama, Yuna!" pekik Jayden. Ia menghampiri Yuna, Yuna yang didekati Jayden itu langsung menyunggingkan senyum manisnya, terlihat dari kedua mata dua orang berbeda kelamin itu penuh syarat akan kerinduan.
"Happy birthday my valentine man!" ucap Yuna.
Bukannya menanggapi perkataan Yuna tadi, Jayden malah memegang kedua pipi Yuna dan berkata, "Ini beneran kamu sayang?" tanyanya masih tak percaya dengan mata berbinar.
Yuna membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Ini bukan mimpi kan?" kata Jayden. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan dirinya dari mimpi indah ini!
"Iya sayang ini nyata, bukan mimpi kok," balas Yuna. Tak tahan lagi, Jayden langsung membawa Yuna ke dalam dekapannya.
"Aku rindu sekali denganmu sayang," lirih Jayden. Ia mencium puncak kepala Yuna berkali-kali.
__ADS_1
"Aku juga sama seperti dirimu, Jay. Aku sangat rindu padamu," balas Yuna mencium aroma tubuh Jayden yang membuatnya nyaman. Eleanor yang melihat itu hanya tersenyum haru, tak sia-sia dirinya membujuk Lukas dan Jasmine agar Yuna diizinkan ke New York.
Jayden melepaskan pelukannya dan menatap lekat Yuna, "Kok kesini nggak bilang-bilang sama aku dulu?"
"Kan biar jadi kejutan untuk kamu."
"Jangan bilang kamu nggak balas pesan dan angkat telpon dari aku gara-gara ini juga?" tanya Jayden selidik.
"Ya gitu deh," jawab Yuna gugup. Akhirnya Jayden bisa bernapas lega, ia mengira bahwa Yuna tengah marah kepadanya.
"Nakal ya kamu." Jayden yang gemas langsung menangkup kedua pipi Yuna lalu menciumi seluruh wajah kekasihnya itu, termasuk bibir ranum milik gadis itu. Eleanor hanya bisa geleng-geleng kepala melihat adegan di depan matanya ini, ternyata putranya itu sangat ganas kepada calon menantunya.
"Ekhem-ekhem! Udah dulu mesra-mesranya, sekarang kamu tiup lilin dulu nih!" titah Eleanor memegang kue ulang tahun untuk putranya. Jayden mengangguk dan melepaskan tangannya dari wajah Yuna lalu menghampiri sang Mama untuk meniup lilinnya.
"Sebelum tiup lilin kamu make a wish dulu," suruh Eleanor lagi.
"Iya Ma." Jayden mulai mengatupkan kedua tangan dan memejamkan matanya, lalu berdoa entah apa yang di pinta oleh lelaki itu dalam doanya. Jayden bahkan lupa jika hari ini dia berulang tahun, di pikirannya hanya ada kenapa Yuna yang tidak pernah menghubungi dan membalas pesan serta angkat teleponnya.
Setelah make a wish, Jayden meniup lilin tersebut.
"Terima kasih ya Ma atas kejutannya," ucap Jayden mencium sekilas pipi Eleanor.
"Sama-sama sayang, ini sebenarnya ide dari calon menantu, Mama," jelas Eleanor menatap Yuna.
Jayden ikut menatap Yuna dengan tatapan penuh cinta, "Terima kasih sayang." Jayden mengecup puncak kepala Yuna.
"Sama-sama sayang."
"Kalau gitu kita makan malam dulu yuk? Pasti kalian sudah lapar," ajak Eleanor.
"Mama sama Yuna duluan aja ke ruang makan, aku mau mandi dulu bentar," suruh Jayden. Walaupun belum mandi, Jayden tetap harum dan tampan pastinya.
"Ya sudah, yuk nak kita ke bawah," ajak Eleanor pada Yuna.
"Iya Tan." Yuna dan Eleanor keluar dari kamar Jayden.
...----------------...
__ADS_1