Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Ajakan Dinner


__ADS_3

Keesokan harinya, di Bandar Udara Internasional Incheon, seorang pemuda tampan dan wanita paruh baya baru saja turun dari pesawat yang membawa mereka dari New York City. Siapa lagi kalau bukan Jayden dan Eleanor.


'Finally, aku bisa balik ke tanah kelahiran ku ini. Aku rindu sekali dengan negara ini. Tunggu kejutan dari aku sayang,' batin Jayden tersenyum misterius. Ada alasan kenapa Jayden tidak pernah menghubungi Yuna dan alasan itu akan ia jelaskan nanti pada gadisnya itu.


"Ayo Ma, kita pulang," ajak Jayden dengan semangat.


"Iya ayo nak."


Jayden dengan sang Mama langsung meninggalkan Bandara menuju ke mansion.


Sesampainya di mansion Jayden langsung menuju ke kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati. Jayden merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap chat room antara dirinya dan Yuna.


Jayden tersenyum saat melihat chat spam dari Yuna yang sudah 1 bulan belakangan tak pernah ia balas, "Maafkan aku sayang dan tunggu aku," gumamnya. Tak lama matanya terpejam dan ia pun tertidur pulas.


Sedangkan ditempat lain, tepatnya di perusahaan raksasa yang bergerak di bidang property. Yuna terus saja gelisah dan cemas menunggu Jayden menghubunginya.


"Jayden sebenarnya kemana sih? Nggak tau apa kalau aku disini cemas mikirin dia!" gerutu Yuna sambil menghentak-hentakkan kakinya di bawah kursi.


"Sumpah tega banget sih dia, hiks!" isak Yuna mulai menangis. Tak ingin berlama-lama menangis, ia segera menghapus air mata dan mengatur napasnya yang naik turun.


"Awas aja kalau dia berani macam-macam disana! Aku potong tuh juniornya kalau dia berani khianati aku!" geram Yuna.


TOK! TOK! TOK!


Seseorang mengetuk pintu ruangan Yuna.


"Masuk!"


Masuklah pria paruh baya yang masih terlihat tampan, gagah dan kekar.


"Papa!"


"Apa kamu sibuk nak?" tanya Lukas sambil berjalan ke arah sofa.


"Nggak kok Pa, memangnya kenapa?" tanya Yuna.


"Duduk sini nak, ada yang Papa ingin sampaikan sama kamu," suruh Lukas. Yuna pun beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di samping sang papa.


"Ada apa Pa?"


"Kamu nggak kemana-mana kan nanti malam?" tanya Lukas memastikan.


Yuna mengangguk, "Iya Yuna nggak kemana-mana."


"Papa sama Mama mau aja kamu dinner diluar nanti malam, kamu bisa kan nak?"


"Bisa Pa, memang mau dinner dimana?"


"Di Diamond Restaurant nak," jawab Lukas.


Tiba-tiba langsung terlintas di pikiran Yuna tentang restoran tersebut, tempat bersejarah bagi dirinya dan Jayden karena disana merupakan tempat dimana mereka bersatu kembali menjadi sepasang kekasih.

__ADS_1


'Itu kan tempat aku balikan sama Jayden dulu,' batin Yuna.


"Baiklah, Pa," ucap Yuna.


"Jangan lupa nanti kamu dandan yang cantik ya princess," perintah Lukas.


Yuna mengerutkan keningnya, "Memangnya ada siapa sih Pa? Apa kita akan bertemu dengan klien disana?" tanyanya bingung.


"Tidak ada apa-apa kok nak, yang penting kamu dandan saja yang cantik, oke?" suruh Lukas sambil mengelus puncak kepala Yuna.


Yuna mengangguk menyetujui, "Iya Pa."


"Ya sudah Papa mau balik ke ruangan dulu ya? Soalnya ada pekerjaan yang belum Papa selesaikan," ucap Lukas.


"Iya Pa."


Lukas pun keluar dari dalam ruangan putrinya itu dan benak Yuna terus bertanya-tanya, apa nanti dia dan kedua orangtuanya akan bertemu dengan seseorang sampai Papanya itu menyuruh Yuna harus berdandan cantik?


"Sudah lah, lebih baik aku lanjut kerja aja." Yuna berjalan ke arah meja kerjanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


****************


Malam harinya Yuna tengah bersiap-siap di kamarnya, ia mengenakan dress berwarna biru navy model a-line yang melebar ke bawah. Di bagian pinggang dress diberi aksen kerutan di pinggirannya, sementara di lengan dress dibuat dengan model balon yang pendek dengan kerutan di ujungnya.


Yuna juga menambah perhiasan seperti anting dan kalung, tak lupa hand bag dan heels berwarna hitam keluaran terbaru sekaligus limited edition dari brand chanel.


Tak lama Jasmine mengetuk pintu kamarnya.


Jasmine pun masuk ke dalam kamar sang putri, ia tersenyum melihat penampilan Yuna yang cantik dan anggun.


"Kamu sudah siap kan nak?" tanya Jasmine.


"Sudah Ma," jawab Yuna.


"Kalau gitu ayo kita berangkat, Papa sudah nungguin kita di mobilnya," ajak Jasmine.


"Iya Ma."


"Anak Mama selalu cantik seperti Mama," puji Jasmine.


"Mama bisa saja," balas Yuna tersenyum malu.


Mereka berdua keluar dari kamar, berjalan beriringan menuju ke depan halaman mansion. Lalu segera masuk ke dalam mobil Lukas dan benar saja pria paruh baya itu sudah berada di kursi pengemudi. Yuna duduk di kursi belakang dan Jasmine duduk di kursi samping suaminya.


"Sudah siap Ma?" tanya Lukas melirik ke arah istrinya.


"Sudah sayang," jawab Jasmine.


Lukas memutar kepalanya ke arah Yuna, " Princess sudah siap?" tanyanya pada Yuna.


Yuna mengangguk, "Sudah, Pa."

__ADS_1


"Kalau gitu kita berangkat sekarang." Lukas pun mulai melajukan mobilnya menuju ke Diamond Restaurant.


Selang 20 menit tibalah mereka di Diamond Restaurant. Yuna serta kedua orang tuanya turun dari mobil, mereka berjalan masuk ke dalam restoran.


"Ya ampun!" ucap Jasmine menghentikan langkahnya membuat Lukas dan Yuna pun ikut berhenti dibuatnya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Lukas pada Jasmine.


"Ponsel Mama ketinggalan di dalam mobil," jawab Jasmine.


"Ya udah Papa antar Mama ambil ponselnya dulu ya nak? Kamu duluan saja ke tempat yang Papa pesan, katakan saja ke resepsionisnya, reservasi atas nama Papa," suruh Lukas.


Yuna mengangguk mengerti, "Iya Pa, tapi cepetan ya?"


Sepasang suami-istri itu hanya tersenyum dan mengangguk lalu mereka langsung keluar kembali menuju ke mobil.


"Semoga rencana kita berempat berhasil ya Ma?" ucap Lukas berharap.


Berempat? Lukas, Jasmine dan siapa dia orang lainnya? Entahlah..


"Pasti berhasil dong Pa," balas Jasmine begitu yakin dengan rencananya akan berhasil.


Sementara itu Yuna pun menghampiri meja resepsionis.


"Selamat malam Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Apa ada meja yang sudah di reservasi atas nama Tuan Lukas Kim?" tanya Yuna.


"Oh ada Nona, mari saya antarkan."


Yuna hanya mengangguk. Lalu resepsionis itu mengantarkan Yuna ke tempat meja yang telah di pesan oleh Lukas ternyata berada di atas rooftop restoran.


"Ini tempatnya Nona, silahkan."


"Terima kasih."


"Terima kasih kembali, jika Nona butuh sesuatu silahkan panggil saja kami," ucap resepsionis itu.


Yuna hanya tersenyum dan mengangguk, resepsionis itu pun pergi meninggalkan Yuna sendirian. Yuna tiba-tiba tersadar, restoran ini sangatlah sepi pengunjung.


"Kok sepi banget sih restoran ini? Apa iya Papa booking restoran ini?" Monolog Yuna bertanya-tanya.


"Restoran ini mengingatkanku kepada Jayden. Apa aku ada salah sama dia? Sehingga sampai sekarang dia belum menghubungi aku atau Jayden memang sudah bosan berpacaran denganku?" lirih Yuna. Terus saja ia berpikiran hal yang tidak-tidak.


"Aku rindu denganmu, Jayden..."


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Yuna sedangkan gadis itu tidak menyadarinya karena Yuna duduk membelakangi orang itu dan seseorang itu datang sambil membawa sebuket bunga mawar merah yang lumayan besar.


"Ini untukmu," ucapnya seraya menyodorkan buket bunga tersebut.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2