
Malam harinya di mansion milik orang tua Yuna.
Sedari pulang kuliah kemarin Yuna hanya bisa berbaring di atas ranjangnya. Sudah habis berapa bungkus tissue ia gunakan untuk membersihkan ingusnya yang terus keluar. Dan tissue bekas ingusnya tersebut, habis berserakan dimana-mana.
Tiba-tiba Jasmine masuk ke dalam kamar putrinya sambil membawa parcel buah dan sebuket bunga mawar merah dan pink yang cukup besar.
"Ya ampun Yuna! Kamar kok udah kayak kapal pecah gini sih nak," ucap Jasmine yang terkejut melihat keadaan kamar Yuna.
"Iya maaf deh Ma, nanti Yuna beresin sendiri kok," ucap Yuna lemas.
"Ya sudah. Oh ya kamu ada kiriman buah sama bunga nih," ucap Jasmine duduk di tepi ranjang Yuna sambil menaruh parcel buah dan buket bunga tersebut di samping putrinya.
"Dari siapa ya Ma?" tanya Yuna.
"Mama juga nggak tau nak, tadi pak John cuma bilang ini kiriman dari kurir dan kurirnya itu nggak bilang siapa pengirimnya," jawab Jasmine.
"Coba liat kartu ucapannya, siapa tau ada nama pengirimnya disana," titah Jasmine.
Yuna mengangguk, lalu mengambil dan membaca kartu ucapan yang ada di buket bunga tersebut.
"I'm sorry, siapa yang ngirim?" gumam Yuna, dibenaknya terus bertanya-tanya siapa pengirim bunga dan parcel buah tersebut.
"Siapa yang ngirim nak?" tanya Jasmine.
"Nggak ada nama pengirimnya Ma," jawab Yuna.
"Masa sih?"
"Iya beneran nggak ada Ma."
"Kalau nggak ada namanya, berarti kamu itu punya pengagum rahasia sayang," ucap Jasmine antusias.
"Mama aneh-aneh aja deh. Ya nggak ada lah Ma, siapa juga yang ngefans sama Yuna."
"Ih sembarangan! Anak Mama cantik kayak gini, masa nggak ada pengagumnya sama sekali sih. Pasti ada lah, kamu aja yang nggak tau," ucap Jasmine tak suka dengan ucapan anak gadisnya tadi.
Yuna hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Mamanya.
"Eh tapi nak, ngomong-ngomong siapa ya yang ngirimin kamu ini?" tanya Jasmine. Yuna hanya mengangkat bahunya.
"Kalau William... Ah nggak mungkin dia. Masa William ngirimin ini pake nyuruh orang segala. Oh ya, kok William nggak jenguk kamu sih nak? Kan kamu lagi sakit," tanya Jasmine yang tak pernah melihat William datang ke mansion nya untuk menjenguk Yuna yang sedang sakit.
"Eem mungkin dia lagi sibuk kali Ma," elak Yuna, tak mungkin ia menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya pada mamanya.
"Oh iya, Mama sampai lupa kalau William itu idol terkenal," ucap Jasmine sedikit terkekeh.
"Ya udah kamu istirahat ya sayang, biar cepat sehat," titah Jasmine.
"Siap Ma."
"Parcel buah ini Mama bawa ke dapur ya?"
__ADS_1
"Iya Ma," jawab Yuna.
"Good night dear," ucap Jasmine sambil mencium puncak kepala Yuna.
"Night too Mama," balas Yuna tersenyum.
Jasmine keluar dari kamar putrinya sambil membawa parcel buah untuk di taruh di dapur.
"Apa ini jangan-jangan bunga ini dari William ya?" tanya Yuna bermonolog sendiri.
"Tapi kalau emang dari William, kenapa dia nggak langsung aja coba minta maaf ke aku?"
"Kenapa harus sok-sok misterius gini? Nggak gentle banget sih jadi orang," kesal Yuna dengan si pengirim bunga dan parcel buah tersebut.
2 hari kemudian..
Pagi harinya Yuna bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, walaupun badannya belum fit 100%. Karena Yuna tidak ingin ketinggalan banyak pelajaran di mata kuliahnya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, seperti biasa Yuna memoles tipis wajah dan bibirnya dengan make-up. Kemudian Yuna langsung ke luar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Disana sudah ada Mama dan Papanya yang tengah sarapan.
"Pagi Ma, Pa." Yuna menyapa kedua orang tuanya.
"Pagi juga princess," balas Lukas.
"Pagi juga sayang, kok kuliah sih? Emang udah sembuh?" tanya Jasmine.
"Badan Yuna udah agak mendingan kok Ma," jawab Yuna.
"Beneran nak? Kalau masih sakit nggak usah masuk dulu, Papa takut nanti kamu pingsan di kampus," ucap Lukas yang masih khawatir dengan kondisi putrinya.
"Ya sudah kalau gitu kamu sarapan dulu nak, terus minum vitamin kamu," titah Jasmine pada Yuna.
"Iya Ma."
...****************...
Yuna berjalan menuju ke ruang kelasnya dengan langkah yang lemas.
"Aduh lemes banget. Ayo semangat Yun, kamu harus kuat!" Yuna menyemangati dirinya sendiri.
Yuna melihat William sedang membaca buku, di kursi besi panjang yang memang sudah disediakan oleh pihak kampus. Ia mencoba jalan lewat depan laki-laki itu.
'Ayo please! Please panggil aku kalau kamu emang berasa gentle. Panggil aku jika kamu ingin minta maaf Wil,' batin Yuna yang sangat ingin William memanggilnya.
William tidak melihat Yuna sama sekali, ia hanya fokus membaca bukunya. Ketika Yuna sudah melewatinya, William langsung menghadap ke belakang ke arah Yuna.
"Maafin aku Yun," gumam William, lalu ia beranjak dari kursi dan melangkah kan kakinya menuju ke taman belakang kampus. Karena memang laki-laki itu suka dengan suasana yang damai dan sepi.
"Yuna!" teriak Deana dengan suara melengking ketika melihat Yuna masuk ke dalam kelas. Kenzo hanya bisa menutup telinganya.
"Pagi guys," sapa Yuna lalu duduk di samping Deana.
"Pagi juga Yuna," balas Deana.
__ADS_1
"Pagi juga Yun, kamu udah sembuh?" tanya Kenzo yang kini sudah masuk kuliah kembali.
"Lumayan Ken, walaupun masih sedikit lemas," jawab Yuna.
"Kalau kamu masih sakit kenapa masuk kuliah sih?" tanya Deana.
"Ya aku nggak mau aja ketinggalan banyak pelajaran di mata kuliah." Deana dan Kenzo langsung geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Dasar si otak batu!" ucap Kenzo sambil mengacak rambut Yuna.
"Ih jangan di acak, jail banget sih kamu!" kesal Yuri cemberut. Deana dan Kenzo tertawa melihat ekspresi Yuna.
"Oh ya De, aku boleh pinjam nggak catatan mata kuliah yang kemarin?" tanya Yuna pada Deana.
"Ya tentu boleh dong, nanti ya aku kasi waktu istirahat."
"Oke siap."
...****************...
Malam harinya, Jasmine sedang menghidangkan makanan di meja makan di bantu oleh beberapa pelayan.
"Permisi Nyonya," ucap Hengky sambil sedikit membungkukkan badannya, ia salah satu security di mansion milik orang tua Yuna.
"Eh pak Hengky, ada apa ya pak?" tanya Jasmine.
"Ini Nyonya, ada kiriman bunga untuk nona Yuna," jawab Hengky sambil memberikan sebuket bunga Lily putih pada Jasmine.
"Wah, ini dari siapa ya pak?" Jasmine menerima buket bunga tersebut.
"Saya kurang tau Nyonya, bunga ini tadi di kirimkan oleh kurir. Dan kurirnya tidak bilang siapa nama pengirimnya," jelas Hengky.
"Ya sudah gapapa pak, terimakasih ya pak?"
"Sama-sama Nyonya, kalau gitu saya permisi dulu," pamit Hengky. Jasmine hanya mengangguk, lalu Hengky pergi dari hadapan Jasmine menuju ke pos penjagaan.
"Ini bunga dari siapa sih sebenarnya?" Benak Jasmine terus bertanya-tanya, karena sudah 3 hari ini putrinya terus dikirimi bunga berbagai macam jenis.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1
...----------------...