Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Makan Bersama


__ADS_3

Sampailah mereka di restoran tempat yang dituju. Sebelum itu Jayden telah memboking tempat VIP untuk mereka tempati.


Mereka berdelapan mulai memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, waiters pun dengan sigap mencatat pesanan mereka satu-persatu. Seperti biasa member D'Warlords juga memesan wine untuk diminum ketika merayakan hari spesial atau penting seperti sekarang ini.


"Coba aja ada William disini, mungkin lebih seru lagi," ucap Nathan tiba-tiba.


Ucapan dari Nathan tadi membuat Yuri menjadi sedih, Jayden yang melihat perubahan ekspresi dari Yuna itu langsung menggenggam tangan sang kekasih untuk menguatkannya, seperti mengatakan jangan bersedih.


"Iya bener banget tuh," balas David.


"Gimana ya keadaan William dan Mamanya sekarang?" sahut Arthur.


"Kalian tenang aja, aku yakin William dan Mama Azura pasti baik-baik aja disana," papar Jayden menenangkan teman-temannya. Semuanya hanya bisa mengangguk dan berharap jika William dan Mamanya dimanapun berada dalam keadaan baik-baik saja.


45 menit kemudian makanan pesanan mereka pun datang.


"Silahkan dinikmati Tuan-tuan dan Nona-nona, saya permisi dulu," ucap waiters itu undur diri.


Semuanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu waiters itu pun pergi dari meja mereka. Mereka mulai menyantap hidangan yang mereka pesan tadi, tak lupa mereka mengobrol dengan penuh canda tawa.


Saat selesai makan, tiba-tiba saja ponsel Jayden berdering dan nama sang Mama lah yang terpampang di layar ponselnya.


"Halo Ma."


"Halo nak, kamu masih di restoran?" tanya Eleanor.


"Iya Ma, aku masih di restoran sama yang lain. Memangnya kenapa ya Ma?" tanya balik Jayden.


"Kamu bisa pulang sekarang nggak, nak? Soalnya ada yang Mama ingin bicarakan sama kamu, soalnya ini penting dan mendesak sekali nak," ujar Eleanor dari suaranya terdengar panik.


"Memang Mama mau bicarakan tentang apa? Sampai mendesak kayak gitu?"


"Mama nggak bisa jelaskan lewat handphone. Lebih baik sekarang kamu pulang saja dan Mama akan menjelaskannya di mansion," ucap Eleanor.


"Ya udah Ma, secepatnya Jayden pulang," balas Jayden.


Jayden mematikan sambungan teleponnya, lalu terdiam memikirkan apa yang akan diberitahukan sang Mama kepada dirinya nanti.


'Apa ya yang akan dibicarakan sama Mama, sampai Mama bilang penting dan mendesak kayak gitu. Perasaan aku kok jadi nggak enak gini,' batin Jayden gelisah dan risau.


Yuna yang melihat Jayden terdiam seperti melamun itu langsung memegang tangannya dan bertanya, "Are you okay, honey?"


"Hah, iya aku gapapa kok sayang," ucap Jayden yang cukup tersentak.


"Kamu disuruh pulang ya sama Tante Eleanor?" tanya Yuna lagi.

__ADS_1


"Iya sayang, kata Mama tadi mau omongin sesuatu yang penting katanya," jelas Jayden.


"Ya udah, kamu pulang aja. Nanti biar aku pulang pakai taksi," ucap Yuna menyuruh Jayden untuk segera pulang.


"Nggak sayang, nanti biar Levin aja yang antar kamu pulang," balas Jayden tak suka jika sang kekasih menaiki transportasi umum, lalu ia menatap Levin.


"Vin, aku minta tolong nanti antar Yuna pulang ya?" kata Jayden.


Levin mengangguk, "Oke nanti aku antar Yuna dengan selamat hingga sampai di mansion nya." Levin yang dikenal pendiam sama seperti William, kini menjadi lebih terbuka dengan teman-temannya.


"Thanks Vin. Kalau gitu aku pulang dulu ya sayang," pamit Jayden sambil mencium kening Yuna. Teman-temannya yang jomblo hanya bisa menggigit jari melihat pemandangan itu.


"Iya Jay, kamu hati-hati dijalan," pesan Yuna.


Jayden tersenyum dan mengangguk, "Iya pasti sayang. Guys, aku duluan balik ya? Sorry nggak bisa lama, soalnya ada panggilan darurat dari Mama," jelasnya.


Semuanya mengangguk mengerti. Setelah itu Jayden berjalan cepat keluar meninggalkan restoran.


"Yuna, kamu mau pulang sekarang atau gimana?" tanya Levin.


"Sekarang aja Vin, soalnya Mamaku udah chat aku suruh pulang," jelas Yuna.


Levin mengangguk, mereka berdua pamit pulang pada ke teman-temannya yang lain. Setelah itu mereka berdua berjalan keluar dari restoran menuju ke parkiran mobil.


"Vin, aku boleh tanya?" ucap Yuna, saat ini ia dan Levin sudah dalam perjalanan.


"Kamu itu sepupunya Jayden ya?"


Levin mengangkat satu alisnya, ia mengira Yuna mengetahui tentang dirinya dari Jayden, "Iya aku sepupunya Jayden dari pihak Mamanya, jadi Papi aku itu kakaknya Tante Eleanor," jelasnya.


Selanjutnya Levin menjelaskan tentang Felix, Arthur, David dan Nathan yang juga masih dalam lingkup keluarga, hingga Yuna manggut-manggut mengerti, akhirnya rasa penasaran Yuna terbayarkan juga.


"Aku kira kamu udah tau tentang kami dari Jayden," ujar Levin.


"Aku selalu lupa untuk menanyakan itu. Kalau aku cari di internet, pasti nggak akan ketemu," imbuh Yuna.


"Iya soalnya itu privasi keluarga kami, jadi nggak sembarang orang yang mengetahuinya. Apalagi ini mengenai keluarga Choi," jelas Levin.


"Ya juga sih."


Tanpa sadar mereka sudah sampai di mansion milik keluarga Kim saking serunya mereka mengobrol.


"Kamu nggak mampir dulu, Vin?" tawar Yuna.


"Nggak usah Yun, kapan-kapan deh aku mampir," tolak Levin dengan cara halus.

__ADS_1


"Ya sudah aku masuk ya? Makasih udah nganterin aku pulang dan kamu hati-hati dijalan," ucap Yuna.


Levin mengangguk dan tersenyum, "Iya Yun."


Yuna keluar dari mobil Levin. Setelah itu Levin pun kembali mengendarai mobilnya keluar dari mansion milik keluarga Kim. Yuna masuk ke dalam mansion dan melihat sang mama tengah menonton televisi di ruang tengah.


"Mama."


"Eh sayang, udah pulang?" sambut Jasmine.


"Sudah Ma. Papa mana?" Yuna mencari keberadaan Lukas.


"Papa sedang tidur siang nak," jawab Jasmine.


"Kok Mama nggak tidur siang juga?" Yuna duduk di sebelah Jasmine.


"Mama nggak ngantuk. Gimana tadi acara makan-makan tadi?"


"Seru Ma, apalagi kalau ada William disana," ujar Yuna tersenyum getir.


"Kamu rindu dengan nak William?"


Yuna hanya mengangguk.


"Mama mengerti dengan perasaanmu, tapi ingat sekarang kamu sudah bersama Jayden, jadi kamu harus bisa menjaga perasaannya," nasihat Jasmine.


Yuna menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan sang Mama, dirinya harus menjaga perasaan Jayden. Bagaimana jika Jayden berada di posisinya sekarang? Yang mengharapkan wanita lain dan tidak bisa menjaga perasaannya. Oh no, Yuna tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.


"Ma, misalkan jika suatu hari nanti Yuna menikah dengan Jayden sebelum lulus kuliah, apa Mama akan mengizinkannya?" tanya Yuna.


"Of course, why not? Mama kan jadi tenang karena ada lelaki yang menjaga serta mencintaimu dengan tulus, Mama akan mengizinkannya," jelas Jasmine. Yuna tersenyum lega, tapi tetap saja dirinya menginginkan jika menikah nanti setelah ia lulus kuliah.


"Memangnya kamu akan menikah dengan Jayden saat masih kuliah ini?" tanya Jasmine.


Yuna menggeleng, "Nggak Ma. Ya walaupun Jayden pernah mengajak Yuna untuk menikah, tapi Yuna jawab aja ingin fokus terlebih dulu pada kuliah ini," jawabnya membuat Jasmine sedikit kaget ternyata Jayden pernah mengajak Yuna untuk menikah.


"Terus tanggapan Jayden bagaimana setelah kamu menjawab seperti itu?"


"Ya dia terima dengan ucapan Yuna itu walau sedikit terpaksa."


Jasmine tersenyum, "Sebelum kalian melangsungkan pernikahan nanti mumpung masih sangat lama, ada baiknya dari jauh-jauh hari kalian mempersiapkan diri dan belajar parenting, bagaimana cara menjadi istri dan suami yang baik, cara menjadi ayah dan ibu yang baik untuk anak-anaknya dan lain sebagainya. Pernikahan itu sangatlah sakral bukan untuk dibawa bermain-main," pesan Jasmine panjang lebar.


Yuna manggut-manggut mengerti, "Iya Yuna mengerti Ma, terima kasih atas nasihatnya," ucapnya sambil memeluk Jasmine.


"Sama-sama sayang."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2