Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Awal kehidupan Liora


__ADS_3

Liora Keanna Choi. Gadis itu masih menggulung tubuh nya dengan selimut tebal. Udara pagi yang sangat dingin membuatnya malas untuk melakukan aktivitas, padahal jam terus berlalu kini sudah jam 7 pagi, karena di Korea Selatan akan masuk pada musim dingin.


TOK! TOK! TOK!


"Liora, bangun! Ini udah jam 7 pagi, kamu hari ini nggak kuliah, Lio?" tanya seorang wanita cantik yang ada di balik pintu. wanita itu adalah Krystal, adik sepupu Yuna dan Tante dari Liora.


Merasa tidak mendapatkan jawaban dari sang empu di dalam kamar, Krystal membuka kamar yang tidak di kunci itu. Krystal menggelengkan kepala nya melihat kelakuan sang ponakan yang masih terbelit selimut tebal.


"Lio, bangun! Kamu mau kuliah jam berapa? Ini udah jam 9, nggak akan kuliah?" tanya Krystal.


Mata Liora langsung terbuka sempurna. Jam 9? Benarkah? Liora langsung duduk dan mengucek matanya yang terasa perih.


"Serius tante? Ini jam 9? Aku ada presentasi sama dosen jam 9."


Krystal menahan tawa nya, dia hanya diam tidak menjawabnya.


Setelah kesadarannya terkumpul, Liora mendengus kesal ketika melihat jam ternyata masih pukul 7 pagi. Liora kembali merebahkan tubuhnya. "Tante Krystal jahil banget sih. Aku masih ngantuk Tan," gerutu Liora sambil menguap.


"Bangun! Tante sudah buat sarapan untuk kamu, hari ini Tante nggak ke butik jadi ayo sarapan. Sekarang cuci muka dan gosok gigi, setelah itu kebawah. Ngerti?"


"Iya tante," jawab Liora dengan malas.


Ya, Liora tinggal bersama Krystal, adik sepupu dari Mommy-nya. Krystal belum menikah sampai sekarang, wanita yang sudah berusia 39 tahun itu masih betah melajang akibat dirinya telah di sakiti oleh pria yang sangat dicintainya.


Pria itu adalah Levin, mereka telah berpacaran 3 tahun lamanya dan berencana ingin menikah, tapi sayang takdir berkata lain. Levin malah dijodohkan dengan wanita lain oleh orang tuanya. Levin yang notabennya di kenal sangat berbakti kepada orang tuanya pun mau tak mau mengikuti perintah mereka dan pria itu langsung memutuskan hubungannya dengan Krystal.


Hati Krystal sangat hancur dan juga terpuruk saat mengetahui Levin akan menikah dengan wanita lain, itu sebabnya Krystal masih trauma dan enggan untuk memiliki hubungan dengan pria manapun.


Liora memutuskan untuk tinggal bersama Krystal karena orang tuanya sekarang tinggal di New York City bahkan Giovanno, sang adik juga ikut bersama orang tuanya tinggal disana. Krystal memperlakukan Liora layaknya anak sendiri, dia sangat baik dan memiliki sifat keibuan, walaupun dirinya belum mempunyai seorang anak. Hal itu membuat Jayden dan Yuna percaya menitipkan Liora kepada Krystal.


Liora keluar dari kamar, dia berjalan menuju meja makan. Aroma masakan Krystal sudah tercium, membuat perut Liora tiba - tiba saja berbunyi.


"Lapar ya? Ayo makan yang banyak. Badan kamu itu seperti makin kecil saja, padahal selalu tante bikinin bekal, kok masih saja kurus ya?" heran Krystal.


"Kan makanannya nggak di cerna dulu, langsung jadi pup." jawab Liora asal.


Krystal berdesis, "Ish kamu, ini lagi di meja makan malah bahas itu. Sudah cepat makan, nanti keburu dingin."


Liora mengangguk. "Makasih tante sudah buatin Lio sarapan."


"Sama - sama, sayang."


Liora memakan makanannya dengan tenang. Berbeda dengan Krystal, dia menatap Liora dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang di dalamnya ada takut kehilangan keponakannya.


...****************...


Clover University.


"Pagi, Lio." Liora tersenyum manis ketika pria tinggi itu menyapanya. Alvino Lee, anak fakultas kedokteran, yang kini sedang berada di semester akhir. Alvin termasuk pria tampan di kampusnya, visualnya yang tidak pernah gagal membuat para kaum wanita berteriak histeris.

__ADS_1


"Pagi juga Al," balas Liora.


Alvin mengeluarkan coklat yang ada di tasnya. "Seperti biasa coklat untuk menyemangati hari kamu. Tapi setelah ini, jangan makan coklat banyak banyak ya? Soalnya nggak baik buat kesehatan," ucapnya sambil menasehati Liora.


Liora terkekeh, "Iya, Al. Aku makan coklatnya dari kamu saja kok."


Alvin tersenyum, dia mengelus kepala Liora. "Anak baik. Aku dengar sekarang ada presentasi ya? Ingat, jangan grogi, lakukan yang terbaik. Oke?"


Liora terkekeh. "Alvin... Kok aku jadi gemas sih?"


Alvin tertawa, dia menepuk kepala Liora dengan pelan. "Aku antar sampai kel--"


"Heh kalian berdua! Mesra-mesraan mulu dari kemarin! Liora ke kelas bareng aku! Kamu sana, pergi. Pacar kamu tuh nunggu di Lab," celetuk Jennie, gadis berwajah mungil dan berponi yang sangat barbar.


Pacar yang dimaksud Jennie adalah mayat. Padahal, hari ini Alvin tidak ada praktek di Lab. Pada dasarnya, gadis itu terlalu bar - bar dan menyebalkan.


"Jennie, kamu ini," tegur Liora merasa tidak enak kepada Alvin.


"Al, maafin Jenn--"


Alvin membungkukkan sedikit tubuhnya, dan mensejajarkan bibirnya dengan telinga Liora. "Aku tahu kelakuannya, jadi jangan merasa bersalah, Liora," bisik Alvin lalu menegakkan kembali tubuhnya.


"Ya ampun kalian ini! Liora, ayo kita ke kelas jangan bermesraan mulu. Bisa-bisa aku mati berdiri karena melihat kemesraan kalian berdua!" Jennie menarik tangan Liora untuk menjauh dari Alvin.


"Ishh Jennie... Al, aku duluan ya!" pamit Liora.


Gosip tentang Alvin menyukai Liora itu sudah tersebar luas. Alvin yang selalu melakukan semua terang terangan membuat mahasiswa lain beropini bahwa Alvin sedang melakukan PDKT, karena beberapa tahun dekat tidak ada kabar jadian dari mereka. Bukan Alvin tidak peka, tapi Liora yang selalu menolak ketika diajak berpacaran atau memperjelas status. Liora ingin tetap mengalir seperti itu dan waktu yang jawab. Alvin tidak masalah, selama Liora ada disebelahnya.


"Ya nggak lah, ngapain bosan? Alvin kan tampan, nggak seperti mantan-mantan kamu," ucap Liora menyindir Jennie dengan nada gurauan.


"Sialan kamu!" umpat Jennie membuat Liora terkekeh.


...****************...


"Ayolah ke parkiran. Sudah bisa mengendarai mobil masih saja mau diantar si Alvin," gerutu Jennie.


"So, memangnya kenapa? Kamu iri ya? Biasa nya nih orang marah-marah seperti kamu itu tandanya sedang iri," ucap Liora yang sangat suka membuat kesal sahabatnya itu.


"Iya aku iri. Puas?" sarkas Jennie. Liora langsung tertawa puas.


"Itu tuh si Alvin. Aku ke duluan ya Lio? hati - hati di jalan," pamit Jennie.


"Iya, Jen. Kamu juga hati-hati."


Liora berjalan menghampiri Alvin yang sudah berdiri di sebelah mobilnya. Alvin tersenyum dengan manis, membuat Liora tersipu malu.


"Hai, Al."


Alvin tersenyum, "Hai, gimana kuliahnya? nggak sulitkan presentasi nya?" tanya Alvin.

__ADS_1


Inilah yang Liora suka dari Alvin. Terkadang, kita membutuhkan, seseorang untuk menanyakan kabar kita. Kalimat 'apa kabar atau gimana hari ini' adalah kalimat sederhana namum cukup memberi kenyamanan. Dengan kalimat itu, kita merasa bahwa kita memiliki seseorang untuk menjadi sandaran.


"Susah banget. Dosennya sangat menyebalkan, dia beri pertanyaan yang benar-benar sulit. Boleh pindah jurusan nggak sih?" keluh Liora dengan wajah yang lesu.


Alvin memegang kedua pipi Liora dan tersenyum. "Jangan menyerah oke? Ini itu masih fase pahitnya jurusan, nanti juga ketemu manisnya. Mau jalan jalan?" tawar Alvin.


Liora mengangguk, "Mau banget."


Alvin membuka pintu mobilnya untuk Liora, "Silahkan masuk cantik."


Pipi Liora bersemu merah saat Alvin memujinya. "Thanks, Al."


Setelah bermain si timezone kini mereka sedang berada di sebuah kedai es krim yang menjadi favorit mereka, "Rasa coklat, untuk yang termanis." ucap Alvin sambil menyodorkan es krim ke Liora.


"Makasih, Al," ucap Liora tersenyum.


Alvin kurang suka memakan es krim makannya dia hanya menonton Liora makan es krim saja.


"Kenapa kamu itu cantik sih, anak siapa sih? Rasanya ingin berterima kasih sama orang tuamu karena telah melahirkan gadis secantik kamu," puji Alvin.


Liora terkekeh kecil dan lagi-lagi pipinya di buat merah oleh pujian Alvin, "Kamu bisa, saja."


Drtt drrtt drrtt...


Ponsel Liora bergetar, ia segera mengambil ponselnya dan mengerutkan keningnya ketika nama Krystal tertera di layar ponselnya.


"Tante Krystal, tunggu ya," ucap Liora dan di balas anggukan kepala oleh Alvin.


"Halo Tante, ada apa? Kok tumben telepon?" tanya Liora.


"Liora, Mommy dan Daddy mu datang. Kamu cepat pulang ya sayang."


Liora mengerutkan keningnya. "Mommy dan Daddy datang? Kok tumben nggak kabarin aku dulu?"


"Mungkin Mommy dan Daddy kamu lupa sayang, kamu cepetan ya pulang. Kita nungguin kamu."


"Iya, Tante."


Panggilan terputus, kerutan di keningnya terlihat jelas, "Ada apa, Liora?" tanya Alvin penasaran.


"Mommy sama Daddy ada di mansion, heran saja kok mereka nggak kabari aku dulu. Tumben banget, biasanya selalu minta jemput di bandara," terang Liora.


"Memangnya kamu nggak senang jika orang tua kamu datang?" tanya Alvin.


Liora menggelengkan kepalanya, "Aku senang, tapi ya hanya heran saja."


"Kalau senang, kita pulang. Temui orang tuamu."


Liora hanya mengangguk.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2