Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Sayang Kamu...


__ADS_3

“Kamu udah sarapan?”


Alice mengangguk, “Sudah Nyonya, tadi di kantin bareng Griffin.”


“Terus, Griffin nya mana?”


“Ke ruangan Juno dulu Nyonya, sekalian lihat kondisinya,” jawab Alice.


Liora mengangguk.


Tiba-tiba Liora mengerutkan keningnya, Zelvin belum ada kabar apapun. Bahkan, dari kemarin Griffin, berusaha menghubungi Zelvin namun ponsel pria itu tetap mati. Griffin juga sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Zelvin, tapi sampai saat ini belum ada kabar apapun. Liora hanya ingin mendengar kabar pria itu saja. Andai, Zelvin butuh waktu sendiri, itu tidak masalah, yang penting Liora tahu kabar suami nya.


“Mikirin Tuan Zelvin ya Nyonya?” tebak Alice


“Keliatan ya?” Alice terkekeh pelan, lalu mengangguk.


“Nyonya keliatan banget khawatirnya, tapi gapapa Nyonya, sebentar lagi kita akan dapat kabarnya Tuan Zelvin. Percaya deh.” tutur Alice sambil mengelus pundak Liora.


Liora mengangguk, “Semoga saja.”


“Nyonya Liora, udah makan?” tanya Alice.


“Hanya sedikit, makanan rumah sakit rasanya nggak enak dan hambar. Jadi saya makan buah aja,” jawab Liora.


“Kalau gitu makan obatnya ya? Dokter juga ngasih obat pereda nyeri.”


Liora mengangguk Alice menyiapkan obat untuk Liora. Dia mengurus Liora dengan sangat baik. Alice memperlakukan Liora seperti adiknya sendiri, dia bahkan tidak mau pulang karena takut Liora kesepian. Alice juga mengkhawatirkan kondisi Liora saat ini, apalagi boss nya itu belum ada kabar. Pintu kamar inap terbuka, menampilkan pria tinggi yang masuk ke dalam ruangan. Griffin. Pria itu membawa beberapa camilan yang dia beli saat keluar dari ruangan Juno.


“Saya beli cemilan untuk kalian. Tadi saya nanya dokter, katanya tidak ada makanan yang dilarang," ujar Griffin


“Kamu emang pengertian. Thanks ya!” ucap Alice dengan semangat. Dia langsung mengambil cemilannya.


“Ingat, itu berdua bukan buat kamu aja," peringat Griffin.


“Ck, iya bawel!”


Liora terkekeh melihat interaksi Griffin dan Alice yang menurutnya menggemaskan.


“Griffin, Juno gimana keadaannya?” tanya Liora.


“Ada luka di lengannya yang cukup parah, karena pecahan kaca, yang lainnya cuma lebam. Dan sebentar lagi, keluarga Juno akan datang untuk menjemputnya sekalian ingin bertemu dengan Nyonya Liora,” jelas Griffin.


“Bertemu saya? Ngapain?” tunjuk Liora.


Griffin mengangguk. “Saya tidak tahu, karena dia hanya bilang itu saja.”


“Terus, mobilnya gimana?”


“Saya sudah serahkan semua nya ke polisi, tinggal tunggu laporannya saja.”


“Kak Zelvin belum ada kabar?”


Griffin menggelengkan kepalanya. “Maaf Nyonya, sampai sekarang saya belum mendapatkan kabar Tuan Zelvin.”


Liora mengangguk, “Gapapa.”


Liora sudah bertemu dengan keluarga Juno. Tidak ada hal penting yang mereka bicarakan, karena Ayahnya Juno terlihat sibuk, maka dari itu dia buru-buru. Namun, Ayahnya Juno terlihat asik sama seperti Juno. Wajahnya pun sangat mirip dengan Juno, memiliki tinggi badan yang sama, dan dua dua nya sangat berkharisma.


“Ayahnya Juno ganteng ya Nyonya?” celetuk Alice membuat Liora dan Griffin langsung menatap Alice. Alice menarik ujung bibirnya, “Dia seperti sugar daddy,” tambahnya.


Griffin membulatkan matanya mendengar celetukan Alice. “Sugar Daddy , kepalamu! mata mu katarak ya?!" kesal Griffin.


Alice menatap Griffin, “Dih, nggak jelas kamu. Cemburu ya?”


“Mana ada! aku lebih ganteng kali!” kilah Griffin.


“Sudah, sudah. Kalian berantem terus. Griffin, udah ada kabar tentang kak Zelvin?”

__ADS_1


Griffin menggelengkan kepalanya. “Belum, Nyonya.”


Liora hanya tersenyum tipis, berharap suaminya itu bisa dihubungi.


...****************...


"Gimana keadaan kamu?" tanya Leonardo.


Zelvin terdiam sambil memakan sarapannya, tanpa menjawab pertanyaan Leonardo, membuat Leonardo berdecak lidah. Leonardo memutarkan bola mata nya, dasar tidak tahu diri.


“Ponsel aku mana?” tanya Zelvin.


“Di ruang tamu, semalam udah aku charger.”


“Thanks.”


Leonardo mengangguk. Suasana kembali hening, tidak ada percakapan apapun diantara mereka. Leonardo menatap Zelvin, pria itu menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan. Leonardo cukup mengenal Zelvin, hal seperti ini bukan lah hal baru.


“Vin, aku tahu kamu merasa gagal. Tapi jangan seperti ini, kamu nyiksa diri kamu sendiri namanya. Kamu mabuk sampai nggak sadar, itu nggak membuat semuanya kembali. Vin, nggak semuanya harus kamu miliki. Kamu harus belajar untuk merelakan sesuatu, karena dunia itu bukan tentang kamu saja,” nasihat Leonardo.


“Dapat atau nggak dapat sebuah proyek, itu hal yang wajar dalam dunia bisnis. Kamu itu sudah seperti orang yang baru setahun atau dua tahun masuk dunia bisnis tau nggak?! Ck, dasar cupu!” sarkas Leonardo menyambung ucapannya.


Zelvin tetap diam. Tidak ada respon dari pria itu membuat Leonardo geram. “Sekarang aku tanya. Istri kamu tahu nggak kalau kamu disini? Aku bisa tebak, kalau kamu nggak ngabarin istri kamu sama sekali. Kamu mikir nggak? Se-khawatir apa istri kamu sekarang, aku yakin pasti dia lagi nunggu kabar dari kamu,” ujar Leonardo.


“Liora—” gumam Zelvin.


Zelvin langsung berdiri dari duduknya. Dia berlari menuju ruang tamu untuk mengambil ponselnya.


“Sial!" umpat Zelvin ketika dia melihat banyak sekali notifikasi yang masuk dan ada ratusan panggilan yang tidak terjawab.


Zelvin membuka pesan dari Griffin. Dia membulatkan matanya. Liora kecelakaan? Astaga.


“Oh God!”


“Kenapa?” tanya Leonardo.


“Brengsek kamu. Aku ikut!”


Zelvin mengangguk.


Mereka segera keluar dari apartemen dan berjalan dengan cepat menuju basement. Mereka masuk ke dalam mobil dan Zelvin langsung menginjak gas menuju rumah sakit.


“Pelan-pelan saja, gila! Yang ada nanti kita bisa mati!” teriak Leonardo.


“Nggak bisa, Leon. Istri aku masuk rumah sakit!”


“Ya, ini salah kamu. Pelan kan laju kendaraannya sedikit.”


“Kamu diam saja!”


“Mana bisa! Aku takut mati, sialan!”


Zelvin semakin menginjak gas membuat Leonardo tak henti henti untuk berteriak.


...****************...


BRUGH!


“Liora!”


Semua yang ada di ruangan, terkejut dengan ulah Zelvin yang tiba-tiba membuka pintu dengan sangat keras. Zelvin berlari menuju istri nya yang duduk di atas brankar. Dia menatap Liora dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Kak Zelvin—” lirih Liora.


Zelvin langsung memeluk Liora dengan sangat erat. Dia mengelus punggung kecil Liora, perasaannya cukup tenang setelah melihat keadaan Liora yang baik baik saja. Zelvin semakin mengeratkan pelukannya ketika merasa tubuh Liora yang bergetar.


"Kak... Hiks.”

__ADS_1


Zelvin menunggu Liora merasa tenang, karena tangisan Liora semakin keras. Beberapa menit kemudian, tangisan Liora mulai reda, dia langsung melepaskan pelukannya. Menatap wajah Liora yang sembab. Zelvin menghapus jejak air mata di wajah Liora.


Cup!


Zelvin mengecup puncak kepala Liora.


“Jangan nangis lagi, ya?” pinta Zelvin, Liora langsung mengangguk patuh.


“Maafkan saya Liora, maaf saya gagal jaga kamu. Maaf saya telat mengetahui keadaan kamu. Maafkan saya, Keanna,” tutur Zelvin merasa sangat bersalah kepada istri kecilnya.


Liora menggelengkan kepalanya, dia mengelus lengan Zelvin. "Nggak, ini bukan salah kak Zelvin.”


“Mana yang sakit?” tanya Zelvin menatap beberapa luka yang ada di sekujur tubuh Liora, termasuk kepalanya yang di perban.


“Nggak ada.”


“Liora ...”


“Serius, ini udah nggak sakit lagi.”


Liora menampilkan senyuman manisnya. Tangan Liora terulur untuk membenarkan rambut Zelvin yang berantakan. “Kok berantakan gini?” tanya Liora


“Gimana nggak berantakan, saat tahu istrinya kecelakaan dia langsung ke sini. Nggak siap-siap dulu, di jalan saja ngebut,” potong Leonardo yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Liora.


Leonardo berjalan menghampiri Liora,dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman tapi Zelvin menepiskan nya.


“Pelit banget kamu,” gerutu Leonardo, “Saya Leonardo, teman kuliah Zelvin,” sambung Leonardo.


Liora mengangguk, “Liora.”


"Aduh, manis banget istri orang ya? Sorry ya, saya nggak datang saat pernikahan kalian karena ada urusan disini. Tapi, doa terbaik untuk pernikahan anda,” tutur Leonardo.


“Terimakasih, Kak--"


“Nggak ada panggil kakak-kakak an ya! Panggil Leonardo saja!” sewot Zelvin


“Iya. Terima kasih, Leonardo.”


Leonardo tersenyum, lalu mengangguk kecil.


...****************...


“Sakit?”


Liora menggelengkan kepalanya, “Sakit apanya? Jalan saja di gendong kamu,” balas Liora


Zelvin terkekeh, “Saya takut kaki kamu, sakit.”


“Kan kata dokter aku baik-baik saja, kakinya hanya bengkak saja. Kamu berlebihan tahu kak,” ucap Liora.


“Ya, wajar. Saya kan sayang—”


“Sayang?” beo Liora.


Zelvin terdiam. Dia meneguk ludahnya dengan susah payah.


“Sayang apa, kak?” tanya Liora.


“Kamu.”


“Apa?”


Zelvin mengacak-ngacak rambutnya, dia jadi gregetan sendiri melihat tingkah Liora yang terlihat polos. Zelvin menarik Liora ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Liora untuk meredakan rasa malunya. Zelvin semakin mempererat pelukannya.


“Sayang aku? Kamu sayang aku? Serius? kak?” tanya Liora.


"Diam. Saya malu, Liora!” bentak Zelvin, wajah bahkan telinga pria itu seketika memerah akibat malu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2