
Zelvin duduk dengan lemas. Keadaan Liora sangat drop, terpaksa harus melakukan tindakan operasi caesar, Tekanan darah yang tinggi dan kondisi yang sangat lemah, tidak memungkinkan untuk Liora lahiran normal. Banyak Sekali kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika di paksakan.
Yuna, dia tidak berhenti menangis. Selain karena kehilangan ibunya, dia juga sedih melihat putrinya harus di operasi. Jayden berusaha menenangkan istrinya, agar tidak terus menangis.
“Daddy!”
Zelvin menoleh, dia melihat Emmanuel berlari ke arahnya. Zelvin langsung memeluk tubuh kecil Emmanuel dengan erat, dia butuh pelukan saat ini. Banyak sekali ketakutan yang Zelvin rasakan saat ini. Dia ingin menangis dengan keadaan seperti ini karena istrinya berjuang sendirian di dalam sana.
"Mama baik-baik aja kan, Dad?" tanya Emmanuel.
Zelvin mengangguk, dia mengelus pundak Emmanuel. "Mama pasti baik - baik aja, Mama kan hebat," jawabnya.
Zelvin mendudukkan Emmanuel di atas pangkuannya. Dia menenggelamkan kepalanya di pelukan Emmanuel, Zelvin sangat takut sekarang. Seolah-olah mengerti dengan keadaan, Emmanuel mengelus kepala Zelvin dengan perlahan. Tangan mungil itu sesekali menepuk halus, berharap semuanya baik-baik saja.
3 jam berlalu, tapi operasi belum selesai. Zelvin semakin gelisah, bahkan kini tangannya terasa dingin.
'Keanna, ayok berjuang sayang,' gumam Zelvin di dalam hatinya. Ruang operasi terbuka. Zelvin langsung berdiri dan menghampiri dokternya.
"Dok, gimana keadaan istri saya?" tanya Zelvin Dokter melepaskan maskernya, dia tersenyum ke arah Zelvin.
“Selamat, Tuan. Anda memiliki putri yang sangat cantik. Dengan berat 2,8 kg dan panjang 49 cm," ujar Dokter itu seraya tersenyum.
Air mata Zelvin sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia tersenyum, "Terimakasih, Dok. Keadaan istri saya bagaimana?" tanya Zelvin.
"Kondisi istri anda sangat lemah, untuk itu memerlukan perawatan yang intensif. Istri anda akan kami bawa ke ruang ICU, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda," jelas Dokter lagi membuat jantung Zelvin mencelos.
Zelvin membuang napasnya dengan berat. Liora, dia harus berjuang sendirian lagi di dalam sana. Dokter pun pamit meninggalkan Zelvin dan keluarganya.
Zelvin menatap Marissa, dia memeluk Mamanya dengan sangat erat. Dia takut kehilangan Liora. "Gapapa, sayang. Mama yakin Liora kuat, dia pasti sembuh. Dia cuma butuh perawatan intensif saja, besok pasti usah sehat. Percaya ya? Istri kamu itu kuat,” tutur Marissa sambil mengelus punggung Zelvin.
"Zelvin, kamu harus percaya princess Daddy itu kuat. Dia nggak akan ninggalin kamu,” timpal Jayden.
Zelvin melepaskan pelukannya. Dia menatap Jayden, lalu mengangguk pelan, “Aku mau temui putri aku dulu, Ma. Titip Emmanuel," Zelvin melangkahkan kakinya meninggalkan keluarganya.
Zelvin tersenyum. Putrinya yang sedang tertidur, dia terlihat sangat cantik seperti Liora. Zelvin sangat bersyukur, putrinya lahir dengan keadaan yang sehat dan sempurna. Liora pasti akan bahagia melihat putrinya sudah terlahir ke dunia dengan selamat.
“Baby girl, doakan Mama Liora ya? Dia lagi berjuang di dalam sana. Bantu kuatkan Mama ya? Biar bisa ketemu Mama." Monolog Zelvin.
__ADS_1
Zelvin terkejut, ketika putrinya menangis. Pertama kalinya, dia mendengar suara putrinya dan pertama kalinya, dia melihat putrinya menangis. Apakah dia mengerti ucapan Zelvin? Apakah dia sedang menangisi Mamanya?
"Mohon maaf, Tuan. Silahkan anda keluar, kami akan mengecek kondisi putri anda," celetuk seorang perawat yang membuat Zelvin tersentak.
Mau tak mau Zelvin pun keluar dari ruang inkubator. Dia melangkahkan kakinya menuju ruang ICU, dia ingin sekali melihat keadaan Liora. Jika diizinkan, Zelvin juga ingin membawa putrinya kehadapan Liora.
"Ada perkembangan dari Liora, Mom?" tanya Zelvin.
Yuna menggelengkan kepalanya, "Dokter belum keluar dari dalam sana."
Zelvin beralih menatap Marissa, "Emmanuel kemana, Ma?"
"Ke kantin sama Moana, dia belum makan," jawab Marissa.
Zelvin duduk di sebelah Jayden. Jika di lihat, mata Ayah mertuanya itu menurun dengan sempurna kepada Liora. Hidungnya pun, sangat mirip dengan Liora. Zelvin terkekeh, istrinya cantik ternyata menurun dari Ayahnya. Tapi, kelakuannya lembut menurun dari Mommy-nya.
"Zelvin, gimana kondisi Liora?" tanya Krystal yang baru saja datang bersama Giovanno.
“Dia sekarang ada di ruang ICU, Liora buruh perawatan yang intensif, kondisinya sangat lemah," jelas Zelvin.
"Putri kami sehat, dia sekarang di ruang inkubator."
"Aku boleh lihat anak kakak nggak?" sahut Giovanno.
Zelvin mengangguk, "Tentu saja boleh."
'Liora, pasti mereka terpana lihat hasil kerja sama kita, ayo bangun sayang,' gumam Zelvin dalam hati.
...****************...
Setelah 2 hari Liora membutuhkan perawatan yang intensif, kini dia sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Lengkungan di wajah Zelvin tidak pernah luntur ketika mendapatkan kabar bahwa istrinya yang begitu sangat hebat. Dia berjuang sendirian di dalam sana, kini istrinya berhasil melewati itu. Keanna-nya sangat hebat.
Zelvin menunggu Liora bangun dari istirahatnya. Dia terus memandang wajah damai Liora, dia sangat merindukan istrinya. Karena 2 hari yang lalu, Dokter selalu membatasi Zelvin untuk bertemu dengan Liora.
Tangan Zelvin terulur untuk mengelus kening Liora, dia bersyukur memiliki istri seperti Liora. Liora membuka matanya perlahan, dia menatap Zelvin yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
Zelvin tersenyum, "Sudah bangun? Kakak panggil Dokter dulu ya" ucap Zelvin lalu di berdiri dan pergi keluar untuk memanggil Dokter.
Zelvin kembali bersama dengan seorang Dokter yang menangani Liora. Dokter pun memeriksa kondisi Liora dan dia mengatakan kondisi Liora kini sudah membaik. Kini mereka tinggal menunggu masa pemulihan setelah itu Liora boleh pulang. Setelah itu Dokter meninggalkan ruang inap Liora.
"Liora, kamu ingat sama aku kan?" tanya Zelvin.
Liora terkekeh pelan, lalu dia menggelengkan kepalanya. "Nggak," jawabnya dengan suara yang lemah.
Zelvin duduk di sebelah Liora, dia memegang tangan istrinya lalu mencium punggung tangan Liora. "Terima kasih sudah berjuang. Terima kasih sudah mau bertahan disini bersama kita. Kamu hebat, kamu ibu yang hebat. Aku bangga sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, Liora. Sakit rasanya liat kamu seperti kemarin. Tetap bertahan ya? Jangan menyerah, kamu punya kakak, Emmanuel dan putri kecil kita," tutur Zelvin dengan suara yang parau menahan air mata yang ingin keluar.
"Kak Zelvin..."
Zelvin menggelengkan kepalanya. "Aku nggak ngizinin kamu menyerah sayang, ayo kita berjuang membesarkan Emmanuel dan putri kita. Ayo kita lihat pertumbuhan mereka."
Liora tersenyum, tangannya terulur untuk mengusap air mata Zelvin yang membasahi pipi suaminya. "Terima kasih sudah jadi Daddy yang hebat untuk Emmanuel, suami yang hebat untuk aku dan Papa yang hebat untuk putri kita."
“Mau peluk, tapi susah," rengek Zelvin.
Liora terkekeh, dia merenggangkan tangannya lalu Zelvin memeluk Liora. "Aku sayang kamu. Cinta juga, cinta bangettttt.”
"Dih kok berlebihan banget sih, kak!" celetuk Liora.
Zelvin melepaskan pelukannya, dia menatap sinis Liora, "Kok gitu? Kamu nggak tau gimana rasanya jadi aku 2 hari yang lalu. Liat kamu nggak sadar, terus banyak peralatan medis di tubuh kamu terus putri kita nangis pengen liat Mamanya. Dan sekarang--"
"Kakak, kok jadi dramatis sih?"
Zelvin terdiam dengan wajah datarnya.
"Aku juga sayang kak Zelvin," ujar Liora membuat Zelvin menyunggingkan senyumnya.
"Kak, aku mau lihat baby kita boleh?"
"Boleh. Nanti kakak bawa ke sini ya?"
Liora tersenyum dan mengangguk. Dia sudah tidak sabar melihat wajah putri cantiknya itu..
...----------------...
__ADS_1