Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Hadiah dari Zelvin


__ADS_3

Liora menatap Alvin, dia sedikit membasahi bibirnya yang terasa kering. Satu hal yang baru Liora sadari, ada perasaan berbeda ketika dia berada di dekat Alvin. Entah, karena hubungan mereka yang ada masalah atau memang sudah waktunya perasaan ini berubah dengan seiringnya waktu.


"Harusnya kamu ngerti Al, selama aku dekat sama kamu, aku cinta sama kamu. Tanpa kamu sadari, meskipun aku sudah menikah. Tapi di pikiran aku tetap kamu, kamu dan kamu. Bahkan, disaat menikah pun dunia aku masih tertuju kepada kamu, Alvin. Kamu adalah orang yang selalu buat aku merasa bersalah setiap aku mengingat pernikahan aku. Sakit, ya Al," ungkap Liora.


Alvin menatap Liora, tatapan teduh itu masih menjadi favoritnya namun kali ini berbeda, tatapan itu tersirat kekecewaan meskipun Liora mengatakan sudah memaafkannya.


"Seperti yang kamu bilang, aku bahagia sama suami aku. Seperti yang kamu lihat cara dia melindungi aku, bikin aku merasa aman. Alvin, jika kamu adalah pria yang menyakiti aku. Maka, suami ku adalah pria yang mampu membuat ku bahagia," sambung Liora.


Liora menarik bibirnya untuk tersenyum mengingat perilaku Zelvin yang berubah, Pria itu menjadi lebih lembut dan memperlakukan Liora dengan baik.


Alvin membuang napasnya. Munafik, jika Alvin mengatakan tidak sakit mendengar ucapan itu. "Kamu mencintai dia?" tanya Alvin.


Liora menarik ujung bibirnya lebih lebar, "Tidak ada alasan untuk aku nggak mencintai kak Zelvin, Al."


Alvin mengangguk. Sial. Ini sakit. Sangat sakit.


"Alvin, aku berhenti untuk mencintai kamu. Duniaku, bukan kamu lagi Al, tapi suami ku. Aku harap kamu mengerti, ini terakhir kali kita berinteraksi seperti ini,” ujar Liora.


Dengan berat hati, Alvin mengangguk. "Lio, berarti sekarang kita berteman?"


Liora tersenyum tipis, dia mengetahui arti dari raut wajah Alvin. Pria itu belum sepenuhnya mengikhlaskan Liora dan pria itu masih mengharapkan Liora, namun Alvin terlihat sungguh-sungguh untuk belajar mengikhlaskannya.


Disisi lain. Zelvin mengepalkan tangannya melihat video yang dikirim oleh orang suruhannya. napas Zelvin menjadi berat, tatapannya berubah menjadi tajam, apalagi ketika melihat Alvin memegang tangan Liora-sambil berlutut di hadapannya.


"Sial!" umpat Zelvin kepada pria yang terus mengutarakan penyesalannya


"Tidak ada alasan untuk aku nggak mencintai kak Zelvin, Al."


Zelvin membulatkan matanya ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Liora. Zelvin mem-pause video nya, tiba-tiba saja seluruh emosinya menguap begitu saja.


Zelvin merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya, Zelvin menarik bibirnya untuk tersenyum tipis. "Tadi Liora bilang apa?" monolog Zelvin, dia memundurkan video tadi ke detik dimana Liora mengucapkan kalimat yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Zelvin tersenyum lebar. Dia terus mengulang kalimat itu, rasanya sangat senang ketika mendengar kalimat itu keluar dari bibir tipis Liora.


"Tidak ada alasan untuk aku nggak mencintai kak Zelvin, Al."


"Astaga Liora, kenapa kamu buat saya seperti ini," gumam Zelvin sambil terus tersenyum lebar dan memegang dada kirinya yang berdetak kencang. 


...****************...


"Alice, ada kak Zelvin?" tanya Liora kepada sekertaris Zelvin.


Alice berdiri dari duduknya, dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi penghormatan kepada istri atasannya.


"Selamat siang, Nyonya Liora yang hari ini sangat cantik. By the way Nyonya, selamat ya atas kelulusan sidang skripsinya. Mommy yang hebat," ucap Alice sambil tersenyum.


"Terima kasih, Alice. Kok kamu tahu?" tanya Liora.


"Nanti Mommy Liora tahu sendiri siapa yang repot dari tadi. Eh iya lupa menjawab, Tuan Zelvin ada di dalam Nyonya, Mommy juga sudah di tunggu sama yang lain," ujar Alice.


"Yang lain? Siapa?" beo Liora.


Alice hanya membalasnya dengan senyuman. Alice mempersilahkan Liora untuk masuk ke dalam ruangan atasannya.


"CONGRATULATION LIORA!" teriak orang-orang yang ada di dalam ruangan Zelvin dengan kompak. Liora tersentak kaget, dia memegang dada yang berdetak sangat kencang. Namun, detik berikutnya dia terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya.


"Mommy? Daddy? Tante Krystal?" Liora berlari menghampiri Yuna dan Jayden. Liora langsung memeluk Yuna dengan sangat erat, dia menyalurkan semua kerinduannya.


"Liora sayang, putri Mommy, selamat ya kamu berhasil. Mommy bangga sama kamu, kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu hebat, sangat hebat. Mommy sayang kamu," lirih Yuna sambil mengelus punggung putrinya yang sedikit bergetar.


"Aku juga sayang Mommy, rindu juga," balas Liora. Yuna melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata putrinya.


"Jangan nangis dong, ini kan hari bahagia kamu," tutur Yuna. Liora mengangguk dan tersenyum.


"Daddy nggak di peluk juga nih princess?" celetuk Jayden.


Liora tersenyum, dia memeluk Jayden dengan sangat erat. Jayden mengelus punggung kecil putrinya, "Selamat princess cantiknya


Daddy, kamu berhasil. Kamu hebat dan selalu hebat di mata Daddy. Liora, Daddy bangga sama kamu sampai nggak ada kata-kata yang tepat untuk mewakilkan kebanggaan Daddy sama kamu. Kamu hebat, princess Daddy. Kamu hebat."


Liora melepaskan pelukannya, "Aku sayang Daddy."


"Daddy lebih sayang kamu, terus bahagia ya sayang."


Liora mengangguk dan tersenyum cerah.


"Liora," panggil Krystal. Liora menoleh, dia tersenyum kepada wanita cantik yang disebelah Yuna.


"Tante Krystal," Liora memeluk tantenya dengan sangat erat.


"Hebat banget sih kamu, Tante bangga sama kamu."


Liora melepaskan pelukannya, "Terima kasih Tante."


Selain kedua orang tua Liora dan tante Krystal, di dalam ruangan Zelvin juga ada kedua orang tua Zelvin dan Moana. Mereka mengucapkan selamat atas kelulusan sidang skripsi Liora. Mereka memeluk Liora giliran. Liora sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang sangat baik dan peduli kepadanya.


Kini giliran Zelvin, pria itu tetap diam dengan wajah yang tenang. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Zelvin membuat Liora berdecak sebal.


Zelvin terkekeh, dia mengelus puncak kepala Liora. "Selamat, saya tahu kamu bisa. Saya bangga sama kamu." Zelvin menarik tubuh Liora untuk masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Mama Liora!" bentak Emmanuel.


Liora langsung melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya untuk menatap Emmanuel. Liora lupa dengan kehadiran putranya ini.


"Emmanuel sayang," panggil Liora.


"Mama nggak sapa aku, Mama lebih milih Daddy dari pada aku," adu Emmanuel dengan wajah cemberutnya membuat seisi ruangan ini dipenuhi gelak tawa karena gemas dengan kelakuan anak ini.


"Maaf, Mama lupa. Maaf ya?"


Emmanuel mengangguk, lalu dia memeluk Liora dengan erat. Sangat erat. "Mama aku nggak tahu mereka mengucapkan selamat untuk apa, tapi aku juga mau mengucapkannya. Selamat buat Mama."


"Terima kasih, Emmanuel."


Liora ingin menggendong Emmanuel, tapi...


"Jangan di gendong, Emmanuel berat," ucap Zelvin melarang Liora.


"Kak.."


"Nanti kamu bisa pegal-pegal, Liora."


Akhirnya Liora mengalah, dia tidak jadi menggendong Emmanuel. Benar juga, Emmanuel memang berat.


Liora tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi dengan kehadiran orang-orang tersayangnya. Semuanya berkumpul di ruangan Zelvin, walaupun tak semua karena nenek Jasmine, Oma Eleanor dan Giovanno, sang adik tidak ada disana, laki-laki itu memang sedang sibuk-sibuknya di dunia perkuliahannya.


Mereka sedikit berbincang, lalu mereka pergi ke restaurant yang sudah di booking oleh Zelvin. Liora sangat bahagia. Dia mendapatkan banyak hadiah.


...****************...


Zelvin keluar dari kamar mandi. Dia melihat Liora yang sedang membuka satu persatu hadiah yang dia dapati hari ini, wajahnya terlihat ceria, bahkan gadis itu tidak memudarkan senyumannya. Zelvin mengeringkan rambut nya dengan handuk sambil berjalan ke arah Liora.


Zelvin menyodorkan handuk ke hadapan Liora, "Keringkan rambut saya," perintah Zelvin.


Liora menghentikan aktivitasnya, dia menepuk tempat sebelahnya yang kosong. "Sini duduk dulu," pinta Liora lalu dia mengambil handuknya.


Liora berdiri di hadapan Zelvin, dia mengeringkan rambut Zelvin dengan telaten. Zelvin melingkarkan tangannya di pinggang Liora, dia menghirup aroma khas dari tubuh Liora.


"Kamu mau tau sesuatu, Lio?" tanya Zelvin.


"Apa?"


"Tadinya, saya mau marah sama kamu karena kamu tadi berani berduaan dengan Alvin," terang Zelvin membuat Liora membulatkan matanya.


Liora ingin bertanya, tapi dengan cepat Zelvin memotongnya. "Saya tahu semua tentang kamu, Liora. Liora, saya memang tidak suka ketika kamu berdekatan dengan Alvin, apalagi tangan kamu sampai di pegang pria itu. Tapi, semua emosi saya hilang ketika kamu mengatakan ..."


"Liora, ini terakhir kali saya melihat kamu berduaan dengan pria itu. Jika lain kali kamu seperti itu, saya tidak bisa memaafkannya. Mengerti?"


Liora mengangguk, "Aku mengerti. Kak Zelvin, aku minta maaf karena berduaan sama Alvin tanpa mengabari kamu. Aku hanya ingin memutuskan hubungan yang aku bangun sama Alvin meskipun tanpa status, aku mau semuanya selesai."


"Sekarang sudah selesai?" tanya Zelvin.


Liora mengangguk, "Sudah."


"Itu artinya tidak ada alasan lagi kamu bertemu atau berduaan dengan dia, paham?"


Liora mengangguk, "Iya, aku minta maaf."


"Saya maafkan."


Liora telah selesai mengeringkan rambut Zelvin. Dia ingin duduk disebelah Zelvin, namun Zelvin menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuannya.


"Liora, lihat saya," pinta Zelvin karena Liora terus menundukkan kepalanya.


Liora menggelengkan kepalanya untuk menolaknya.


"Keanna," panggil Zelvin dengan lembut Liora mengangkat wajahnya, dia menatap Zelvin. Jika sudah memanggilnya dengan seperti itu, Liora tidak bisa menolaknya.


"Liora, saya tahu, diantara kita tidak ada cinta. Tapi, saya mau berusaha untuk membangun cinta diantara kita. Keanna, ayo kita berusaha untuk saling mencintai," ajak Zelvin dengan sungguh sungguh.


"Kak ..."


Zelvin mengelus rambut Liora yang lembut, "Saya serius, ini awal untuk kita, Liora. Saya mulai belajar menerima takdir, menerima kehadiran kamu, menerima semuanya."


Liora tersenyum dan mengangguk. "Ayo!"


Zelvin menarik Liora dalam pelukannya. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Liora, tempat ternyaman ketika dia merasa lelah adalah pelukan Liora. Liora memejamkan matanya ketika merasakan ciuman basah Zelvin lehernya. Pria ini selalu mengambil kesempatan untuk menciumnya.


"Kak sudahhh ..." pinta Liora.


Zelvin langsung menghentikannya, dia menatap Liora. "Mau buka semua hadiahnya?"


Liora mengangguk.


"Mau di pangkuan saya atau du--"


"Duduk di kursi saja," potong Liora, dengan cepat Liora turun dari pangkuan Zelvin, dia duduk di sebelah pria itu. Liora kembali membuka kado.

__ADS_1


Zelvin berdiri dari duduknya, dia berjalan menuju pintu balkon yang terbuka. Dia menutupnya karena udara malam ini sangat dingin, apalagi Liora menggunakan piyama tidur lengan dan bawahan yang pendek. Zelvin kembali dan duduk disebelah Liora.


"Tante Krystal, kasih aku dress, cantik nggak?" tanya Liora.


Zelvin mengangguk, "Iya cantik."


Liora melanjutkan membuka kado yang lain.


"Ini apa?" tanya Liora kepada kotak kecil yang bentuknya seperti permen. Zelvin langsung mengambilnya, dia terkejut dengan alat kontrasepsi pria.


"Sialan. Siapa yang kasih ini?" tanya Zelvin.


"Jennie sama Rafael."


Benar dugaan Zelvin, kedua teman Liora itu sedikit liar dan ganas.


"Buka yang lain," suruh Zelvin.


Liora mengangguk, dia membuka kado dari mertua nya. "Hah?" beo Liora ketika melihat kado dari mertuanya.


"Ini dari siapa?" tanya Zelvin.


"Mama sama Papa," jawab Liora.


Zelvin memijit pangkal hidungnya ketika melihat kado yang Liora dapatkan sedikit gila. Mama dan Papanya memberikan lingerie yang bahannya sangat tipis. Sialan. Pikiran Zelvin sekarang kemana mana. Tadi alat kontrasepsi sekarang lingerie.


"Buang saja. Masih mau lanjut buka kadonya atau besok?"


"Aku mau buka semua kadonya."


Zelvin mengangguk menuruti kemauan Liora.


"Itu dari siapa?" tanya Zelvin sambil menunjuk kado yang berwarna pink, warna kesukaan Liora.


Liora menundukkan kepalanya, "Al-Alvin."


Zelvin mengangguk, "Gapapa, buka saja."


Liora membuka kado dari Alvin. Dia mengerutkan keningnya ketika Alvin memberikan buku 'Cara menjadi istri yang baik' dan Terima kasih, wanita hebat.'


"Buku itu cocok untuk kamu baca," ucap Zelvin.


Liora mengangguk, lalu dia beralih ke kado paling kecil dari kedua orang tuanya. "Kunci?"


Zelvin mengangguk, "Daddy kasih mobil ke kamu, katanya itu janji dia ketika kamu lulus, dia mau kasih mobil."


Liora menerbitkan senyumannya, "Terus mobilnya sekarang dimana?"


"Ada di garasi," jawab Zelvin.


"Aku mau lihat."


"Besok saja."


"Tapi--"


"Mobilnya nggak akan lari, Liora."


Liora mengalah, dia menatap Zelvin. "Kado dari kak Zelvin, mana?"


Zelvin berdiri dari duduknya, dia berjalan menuju lemarinya dan mengambil kotak yang dia simpan di tumpukan baju. Zelvin menyodorkan kotak itu kehadapan Liora, lalu kembali duduk.


"Ini apa?"


"Buka," perintah Zelvin.


Liora membuka kotak itu, namun dia terkejut dengan isinya. "Hah, surat tanah?"


Zelvin mengangguk, "Saya sudah membeli mansion, atas nama kamu. Menurut saya, mansion ini terlalu kecil untuk kita tinggali."


"Kecil dari mananya? Ini besar kak, kenapa harus pindah?"


"Saya mau."


Liora mengangguk saja, percuma berdebat dengan suaminya yang keras kepala.


"Tiket ke Inggris?" Liora terkejut melihat ada tiket di dalam kotak tersebut selain surat tanah.


Zelvin mengangguk, "Ayo kita liburan,"


Liora tersenyum senang, "Serius?"


Zelvin mengangguk.


"Kok hanya dua tiket? Untuk Emmanuel mana?" tanya Liora.


"Itu kita pergi honeymoon, Lio."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2