
Setelah selesai melakukan ritual mandi dan menggunakan pakaiannya, Jayden bergegas keluar dari kamar menuju ke ruang makan.
"Kok Mama sama Yuna belum makan sih?" tanya Jayden bingung melihat kedua wanita kesayangannya itu belum juga mulai makan.
"Mama dan Yuna lagi nungguin kamu sayang," jelas Eleanor.
"Ngapain harus nungguin Jayden, kalian duluan saja makannya," imbuh Jayden sambil duduk di sebelah Yuna.
"Gapapa sayang, biar kita samaan makannya," timpal Yuna.
"Ya sudah, sekarang kita makan," ucap Jayden. Yuna dan Eleanor mengangguk menyetujui. Mereka bertiga pun langsung menyantap hidangan makanan yang sudah tersedia di atas meja makan itu dengan khidmat tanpa suara yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu saja.
Setalah selesai makan malam dan mengobrol, tepat pada jam 10 malam, Eleanor pamit pulang pada putranya.
"Mama dan Yuna pamit pulang dulu ya nak? Soalnya sudah jam 10 malam," kata Eleanor.
"Mama aja ya yang pulang sendiri, biar Yuna tinggal di mansion Jayden aja," pungkas Jayden yang tak ingin jauh-jauh dari Yuna.
Eleanor menatap garang sang putra, "Enak saja, nggak boleh! Yuna pulang ke mansion utama sama Mama!" tolak Eleanor mentah-mentah. Bukannya kenapa, Eleanor hanya takut jika nanti akan ada sesuatu hal terjadi antara Jayden dan Yuna. Ia memang tau hasrat orang dewasa seperti apa, tapi Eleanor harus tetap menjunjung tinggi harkat martabat keluarga besar Choi dan Jung.
"Ayolah Ma, Yuna disini saja sama Jayden. Jayden kan masih kangen sama Yuna, masa Mama nggak ngerti sih!" Jayden terus memaksa sang Mama agar memberikan izin kepada Yuna untuk tinggal bersamanya. Sementara itu Yuna hanya diam mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Nanti kalau kamu apa-apakan Yuna bagaimana?" sewot Eleanor.
Kening Jayden berkerut, "Apa-apakan Yuna? Maksud Mama apa?" tanyanya bingung.
"Kamu itu sudah dewasa nak, pasti kamu tau apa yang Mama maksud tadi."
Jayden mencerna ucapan sang Mama, sedetik kemudian ia mengerti apa maksud dari perkataan Eleanor.
"Ya ampun Ma, tenang saja Jayden nggak bakal apa-apakan Yuna. Kalaupun Jayden sampai apa-apakan Yuna, Jayden juga bakal tanggung jawab kok," papar Jayden. Toh, memang sudah lama ia ingin menikahi Yuna, jadi untuk tanggung jawab, Jayden dengan senang hati melakukannya.
"Jayden! Kamu jangan macam-macam deh kamu!" ucap Eleanor yang greget sambil menarik telinga Jayden membuat sang empu meringis kesakitan.
"Aduh sakit Ma! Iya-iya Jayden cuma bercanda aja kok tadi."
Eleanor pun melepaskan jeweran di telinga Jayden. Jayden langsung mendengus dan mengelus telinganya yang kini sudah memerah.
"Dasar anak nakal!"
"Mama," rengek Jayden membuat bulu kuduk Eleanor berdiri dibuatnya.
"Apa sih Jay? Mama jadi merinding dengar kamu panggil Mama kayak gitu," ucap Eleanor.
"Boleh ya Yuna tinggal disini sama Jayden. Please Ma," ujar Jayden seraya mengeluarkan puppy eyes andalannya. Eleanor menghela napas panjang, ia paling tak bisa melihat wajah memelas putranya itu.
"Memang Yuna mau tinggal sama kamu?" tanya Eleanor menatap Yuna, diikuti Jayden juga menatap ke arah kekasihnya itu.
"Pasti mau lah, ya kan sayang?"
Yuna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, gadis itu juga ingin berlama-lama bersama Jayden.
"Tuh kan Yuna saja mau!" seru Jayden. Eleanor pun mengalah.
"Ya sudah kalau begitu, Mama pulang dulu. Sayang kamu hati-hati disini ya? Jangan sampai kamu nanti di terkam sama harimau kelaparan," pesan Eleanor pada Yuna sekaligus meledek putranya.
Yuna terkekeh dengan ucapan Eleanor, sedangkan Jayden mendelik ke arah Mamanya, lelaki itu merasa dianaktirikan oleh Mamanya sendiri.
"Iya siap Tante. Kalau dia berani macam-macam, nanti Yuna bakalan pergi ninggalin dia sendirian disini dan nggak akan pernah menghubungi dia lagi," canda Yuna.
"Jangan gitu lah sayang!" ucap Jayden tak terima.
"Nah bagus tuh nak, biar dia nggak berani berkutik! Ya sudah Mama pulang dulu." Eleanor mencium pipi Jayden dan Yuna sebelum benar-benar pergi.
"Mama hati-hati dijalan," pesan Jayden.
"Iya nak."
Kini hanya Yuna dan Jayden yang berada di ruang tengah, Jayden menarik tangan Yuna agar lebih dekatnya. Lalu ia membawa tangan Yuna melingkar di perutnya.
"Mau tidur sekarang sayang?" tanya Jayden.
Yuna mendongakkan kepalanya, "Tapi aku lupa bawa baju ganti Jay, gimana dong?" tanyanya.
"Kamu tenang saja, nanti kamu bisa pakai baju aku," ucap Jayden menenangkan.
Yuna hanya mengangguk.
"Terus nanti aku tidur dimana?" tanya Yuna.
"Ya tentu saja tidur bersamaku sayang," jawab Jayden membuat Yuna tersentak dan langsung melepaskan pelukannya.
"Hah apa? Nggak mau! Nanti aku tidur di kamar tamu saja!" tolak Yuna mentah-mentah.
"Ya sudah aku juga bakal tidur di kamar tamu tempat kamu tidur!" tandas Jayden. Gadisnya itu memang tidak peka, padahal dirinya ingin bermanja-manja melepaskan kerinduan udah 2 tahun tidak pernah bertemu.
__ADS_1
"Kok gitu?"
"Kamu ini nggak paham banget sih, aku kan ingin berlama-lama sama kamu, melepaskan kerinduan ini," ucap Jayden sedikit kesal.
"Nggak, nggak! Nanti kamu malah berbuat yang macam-macam lagi!" sanggah Yuna. Ia mempunyai pendirian yakni, no s3x before married.
"Sumpah aku nggak bakalan berbuat yang aneh-aneh kok sayang," ujar Janji berjanji sampai mengangkat kedua jari tangannya.
"Janji?" Yuna tidak yakin jika dua orang dewasa berbeda jenis kelamin di dalam satu kamar tidak akan melakukan sesuatu hal.
"Promise sayang. Ya paling hanya cium dan peluk kamu kok," imbuh Jayden.
Yuna menghela napas panjang, "Ya udah ayo kita ke kamar kamu."
"Yes! Ayo sayang." Jayden berdiri dan menarik tangan Yuna dengan semangat menuju ke kamarnya.
"Kamar kamu udah dibersihkan, Jay?" tanya Yuna.
"Sudah sayang."
Sesampainya di kamar Jayden, ternyata benar saja semua dekorasi-dekorasi itu sudah di bersihkan. Jayden mengajak Yuna ke ruang wardrobe untuk memilih baju ganti.
"Mau pakai baju apa sayang?" tanya Jayden.
"Aku mau pakai kemeja kamu aja, Jay."
"Mau warna apa?"
Yuna melihat warna kemeja-kemeja Jayden yang akan ia kenakan, "Hem, yang putih saja."
Jayden mengangguk lalu mengambilkan Yuna kemeja putih miliknya. "Ini sayang."
"Terima kasih sayang."
"Sama-sama sayang," balas Jayden mengelus rambut Yuna.
"Aku mau ganti baju dulu." Yuna hendak pergi namun ditahan Jayden.
"Mau kemana? Ganti baju disini aja," suruh Jayden membuat Yuna melotot kan matanya, bukannya takut Jayden malah gemas melihat Yuna seperti itu.
"Jangan macam-macam deh!"
"Hahaha, iya aku hanya bercanda sayang. Ya sudah sana ganti baju kamu dulu."
Yuna mengangguk, melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. 10 menit kemudian setelah mengganti pakaian, cuci muka dan sikat gigi, Yuna pun keluar dari kamar mandi.
Yuna berjalan menghampiri Jayden yang tengah duduk di sofa kamar dan fokus pada laptopnya, lelaki itu sedang mengerjakan pekerjaannya yang belum ia selesaikan di kantor. Bahkan Jayden tidak menyadari jika Yuna sudah keluar dari kamar mandi.
"Banyak banget ya kerjaannya sampai harus mengerjakannya juga dirumah?" tanya Yuna seraya duduk di samping Jayden.
"Iya gitu deh sayang," jawab Jayden melirik ke arah Yuna. Ia sampai susah meneguk ludahnya saat melihat penampilan Yuna yang terlihat seksi dimatanya. Sial, gadis itu menggoda iman dan membuat gairah Jayden jadi meningkat saja.
"Kamu mau menggoda aku ya sayang?" tanya Jayden sambil menaruh laptopnya di atas meja.
Yuna mengerutkan keningnya, "Sejak kapan aku godain kamu? Memangnya tadi aku nari striptis di depan kamu? Nggak kan," ucapnya polos.
Jayden menghela napas kasar, apa gadisnya itu benar-benar polos atau hanya berpura-pura saja?
"Sini deh sayang." Jayden menarik tangan Yuna membawanya duduk di pangkuannya.
Kini Yuna duduk di pangkuan Jayden, dengan duduk menyamping.
"Kamu mau ngapain sih!" protes Yuna.
"Kamu nggak sadar, kalau cara berpakaian kamu itu sudah membuat aku tergoda, hem?" kata Jayden mengeluarkan suara rendahnya, mencoba menahan hasratnya. Ia memeluk perut Yuna dan menaruh dagunya di pundak gadis itu.
"Kamu saja sih yang cepet tergoda, orang aku tidur juga sering pakai baju kayak gini kok," bantah Yuna.
"Ya memang bener aku cepat tergoda, tapi hanya sama kamu," kata Jayden mengecup telinga Yuna membuat sang empu merinding seperti ada sengatan listrik yang terkena pada tubuhnya.
"Awas deh, aku mau berdiri!" Yuna memberontak dan hendak berdiri dari pangkuan Jayden. Damn! Itu membuat Jayden semakin frustasi dibuatnya.
"Diam sayang! Kamu buat dibawah jadi semakin berdiri," ucap Jayden serak.
"Apanya yang berdiri?" tanya Yuna tak mengerti.
"Kamu benar-benar nggak tau?"
Yuna mengangguk polos.
"Itu loh junior aku yang lagi kamu duduki sekarang," jelas Jayden.
Yuna yang mengerti pun langsung memukul dada Jayden, "Ih mesum!"
Jayden menahan tangan Yuna yang memukuli dadanya, "Makanya diam sayang."
__ADS_1
Yuna pun langsung diam tak berani berkutik, salah kaprah dia bisa tidak virgin lagi, ups.
"Aku mau tidur Jay," ujar Yuna.
"Iya ayo kita tidur sayang." Tanpa basa-basi Jayden langsung menggendong Yuna ala bridal menuju ke ranjangnya.
"Jayden, ngapain sih gendong aku segala!" protes Yuna.
"Ussttt diam sayang, tadi katanya mau tidur,,x imbuh Jayden.
"Ya tapi nggak perlu kamu gendong juga, aku bisa jalan sendiri!" pungkas Yuna.
"Udah diam aja!"
Yuna mendengus kesal dan menuruti perintah Jayden untuk diam. Jayden membaringkan tubuh Yuna di atas king size bed miliknya. Jayden merangkak naik ke atas tubuh Yuna, ia menindih tubuh gadisnya itu membuat Yuna was-was.
"Jayden kamu ngapain sih! Sana deh!" Yuna mendorong tubuh Jayden yang berada di atasnya.
"Aku kangen kamu sayang," ucap Jayden mengelus rambut Yuna.
"Terus?
Mata Jayden terfokus pada bibir ranum milik Yuna, tanpa berlama-lama lagi Jayden mencium bibir gadisnya yang sangat candu itu. Sementara itu mata Yuna terbelalak sempurna mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu.
"Eeummpt Jay ..." Yuna memukul-mukul punggung Jayden, berharap laki-laki itu melepaskan ciumannya.
Yuna terus memberontak tapi Jayden memeluknya sangat erat membuat Yuna tidak bisa berkutik dan hanya bisa pasrah. Jayden terus mencecap serta ******* bibir manis Yuna, ia mengigit bibir Yuna hingga mau tak mau Yuna membuka mulutnya, lidah Jayden pun dengan leluasa menerobos masuk mengabsen rongga mulut dan gigi gadisnya.
Setelah cukup lama mencium bibir Yuna, Jayden pun melepaskan pagutan bibirnya namun ia malah beralih mengecup basah dan mengigit kecil Yuna membuat sang empu menggelinjang sakit serta kegelian.
"Emhh Jay ..."
Tangan Jayden pun tak diam, ia meraba-raba tubuh Yuna membuat Yuna terkesiap dan otaknya mulai menyehatkan akal pikirannya.
"Jayden stop!"
Jayden yang mendengar teriak Yuna pun tersadar akan kelakuannya, ia langsung berguling tidur ke samping kiri Yuna.
"Astaga, maafkan aku sayang, tadi aku khilaf," sesal Jayden sambil memeluk Yuna.
Yuna memiringkan tubuhnya menghadap Jayden, tangannya terulur mengelus pipi kekasihnya itu.
"Jangan di ulangi lagi ya," ucap Yuna sangat lembut.
Jayden mengangguk dan membawa Yuna lebih dekat padanya, "Kalau sudah deket kamu suka nggak nahan sayang," balasnya.
Yuna berdecak dan mendorong tubuh Jayden membuat pelukan mereka terlepas.
"Kamu ini! Makanya nikahin aku dulu!"
Jayden tersenyum miring, "Oh jadi kamu nantang aku nih ceritanya?
"Oke, besok pagi aku suruh anak buah aku untuk jemput Mama dan Papa kamu kesini, terus lusanya kita menikah," ucap Jayden serius.
"Hah? Ya jangan buru-buru seperti itu juga dong!" balas Yuna sedikit terbata-bata. Lelaki itu memang suka nekat.
Jayden menaikkan satu alisnya, "Tadi kamu suruh aku untuk segera nikahi kamu!"
"Ya tapi nggak besok lusa juga kali nikahnya! Aku juga kan masih kuliah!" kesal Yuna.
"Masih lama sayang," rengek Jayden.
"Sabar sayang, aku kan kuliahnya tinggal 1 tahun lagi," ucap Yuna lembut sambil mengelus pipi Jayden.
"Kan gapapa kuliah walaupun sudah menikah."
"Ya tapi kan setelah selesai kuliah aku juga mau kerja dulu, Jay." Yuna ingin membantu perusahaan Papanya setelah selesai kuliah nanti.
"Kamu nggak usah bekerja! Biar aku yang menafkahi kamu. Kamu dirumah saja jadi ibu rumah tangga, melayani aku dan ngerawat anak-anak kita kelak!" terang Jayden.
"Tapi kan aku pengen banget rasain gimana rasanya di dunia kerja!" Yuna kesal dengan ucapan Jayden tadi.
Jayden menghela napas kasar, "Oke aku turuti kemauan kamu, tapi setelah kamu hamil nanti, kamu harus resign dari pekerjaan kamu!"
"Iya bawel banget sih kamu! Eh kok udah bicarakan hamil segala? Menikah saja belum!"
"Makanya tadi aku ajak nikah nggak mau!"
"Ya tapi nggak besok lusa juga kali nikahnya, tunggu tinggal 2 tahun lagi baru kita nikah!"
Yuna memancing emosi Jayden, "Apa-apaan 2 tahun? Itu sangat lama sayang! Apa aku harus membuat kamu hamil dulu baru kamu mau nikah cepet?!" ancam Jayden.
Yuna langsung melotot kan matanya, "Jangan macam-macam deh kamu!"
"Sudah kah aku tidur aja! Malas ladenin kamu!" Yuna langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan tidur membelakangi Jayden.
__ADS_1
...----------------...