
“Liora, dasi saya dimana?” tanya Zelvin.
“Di lemari kak,” jawab Liora.
“Nggak ada.”
“Masa sih? Kemarin aku sendiri yang simpan di lemari, coba cek yang bener deh,” perintah Liora sambil merapikan seragam sekolah Emmanuel.
Zelvin menutup lemari, dia menatap Liora yang sibuk dengan Emmanuel. “Jadi, menurut kamu mata saya nggak benar?” tanya Zelvin sinis.
Liora sudah selesai dengan seragam Emmanuel, “Sudah, setelah ini ke kamar terus ambil tasnya ya? Mama udah siapin buku-bukunya, lalu ke meja makan kita sarapan. Ngerti?” tanya Liora.
Emmanuel mengangguk, “Terima kasih, Ma,” ucap Emmanuel, lalu keluar dari kamar orang tuanya. Liora berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Zelvin yang berdiri di dekat lemari dengan wajah yang di tekuk kesal.
Tangan Liora terulur untuk merapikan kemeja hitam milik Zelvin, dia juga membenarkan kerah baju Zelvin yang berantakan, “Nah, udah rapi,” ucap Liora.
Liora membuka lemari. “Kamu nyarinya jangan di lemari pakaian, ya pasti nggak ada dong. Mau pakai warna apa?”
“Hitam,” jawab Zelvin.
“Kok hitam? Abu saja ya?”
Zelvin mengangguk saja.
Liora mengambil dasi berwarna abu-abu untuk dikenakan Zelvin. “Nunduk dulu, kak, kamu ketinggian,” perintah Liora. Zelvin terkekeh, dia mengelus pelan rambut Liora lalu menundukkan kepalanya. Zelvin menatap Liora dengan lekat. Liora benar-benar cantik. Liora menggunakan dress rumahan, dengan riasan wajah yang natural. Dia mengikat rambutnya menjadi satu.
“Selesai. Sekarang rambutnya rapihin dulu, biar semakin tampan,” suruh Liora.
“Rapihin,” pinta Zelvin
Liora mengambil sisir, lalu merapikan rambut Zelvin.
Liora tersenyum, “Sudah. Ayo, sarapan. Pasti Emmanuel nungguin,” ajaknya.
Zelvin menahan tangan Liora untuk tetap di tempatnya. Dia memegang kedua pipi Liora, mengelusnya pelan.
Cup!
Zelvin mencium kening Liora, “Terima kasih sudah membantu saya dan Emmanuel. Pagi ini kamu sangat cantik,” ucap Zelvin memuji Liora.
Liora tersenyum, dia memegang kening yang dicium oleh Zelvin. Tapi dengan cepat dia mengambil kesadarannya lagi. Pipi Liora memerah karena manahan salah tingkah. “Apaan sih kak, ayo!”
...****************...
“Liora?”
Liora mengangkat kepalanya, dia tersenyum kepada wanita di depannya. Liora mengangguk pelan, “Iya kak, silahkan duduk.” ucap Liora.
Erica, mantan istri Zelvin. Wanita itu duduk di hadapan Liora. “Sudah lama ya? Maaf saya telat datangnya. Kamu tahu kan Seoul kadang suka macet?” gurau Erica.
Liora terkekeh pelan, “Iya kak, nggak heran sih.”
“Gimana liburan di Inggris kemarin?” tanya Erica untuk memecahkan keheningan diantara mereka.
“Seru kak,” jawab Liora seadanya.
Erica terkekeh pelan. “Liora, kemarin saya dengar Emmanuel dapat masalah. Boleh saya tahu masalahnya?”
Liora menjelaskan semua nya tanpa ada yang disembunyikan. Raut wajah Erica yang langsung berubah membuat Liora yakin bahwa wanita di depannya ini sangat menyayangi Emmanuel.
“Kak Erica kalau mau lihat Emmanuel bisa ke mansion kak Zelvin,” tutur Liora.
Erica hanya tersenyum. “Mana berani sih, Lio. Nama saya sudah jelek di keluarga suami kamu, tapi gapapa itu memang murni kesalahan saya. Tapi, terima kasih sudah menjadi ibu pengganti yang baik untuk Emmanuel. Saya titip Emmanuel ya, Liora?”
“Tanpa kak Erica bilang gitu pun aku bakal jaga Emmanuel, kak,” balas Liora tersenyum.
“Liora, sekarang gimana kondisi Zelvin?”
“Kak Zelvin sepertinya mulai membaik, kak. Dia mulai bisa mengontrol emosinya, dia juga sudah jarang marah,” jawab Liora.
“Syukurlah, kemarin juga dokter Mark menjelaskan kalau kondisi Zelvin semakin membaik. Dia udah nggak mengkonsumsi obat, perlahan Zelvin pasti bisa sembuh total,” jelas Erica.
Liora mengangguk. “Iya semoga, kak.”
“Liora, boleh ceritakan apa saja yang Emmanuel suka sekarang?”
Liora tersenyum, dengan senang hati dia menceritakan semua kesukaan Emmanuel. “Akhir-akhir ini dia suka makan hotteok isi krim dan kacang merah, kak. Emmanuel juga sudah banyak tersenyum, dia mulai terbuka. Aku sempat nawarin buat les melukis, tapi dia tolak karena takut kak Zelvin tahu.”
Erica dengan excited mendengarkan semua penjelasan Liora. Membayangkannya membuat dia iri kepada wanita di depannya.
“Liora tolong ya, sesekali kasih saya foto Emmanuel. Saya rindu banget sama anak saya.”
“Kak?”
__ADS_1
Erica menggelengkan kepalanya. “Gapapa Liora, saya baik kok. Hanya rindu saja, boleh ya?”
Liora mengangguk. “Iya, kak. Tapi, kita jika kita ketemuan lagi seperti ini, saya akan bawa Emmanuel—”
“Jangan bikin suami kamu marah, Lio. Cukup kirim foto Emmanuel saja,” suruh Erica.
Liora mengangguk.
...****************...
“Hey!”
Liora melebarkan senyumannya ketika melihat Zelvin baru pulang kerja. Dia merentangkan kedua tangannya, sambil menatap Zelvin yang berjalan ke arahnya.
“Peluk,” pinta Liora
Zelvin terkekeh pelan, dia menarik Liora ke dalam pelukannya. Lalu mengangkatnya dan mendudukkan Liora di atas pangkuannya. Zelvin menepuk pelan punggung Liora, sedangkan wanita ini sedang menyembunyikan wajahnya di dada Zelvin.
“Kenapa?”
Liora menggelengkan kepalanya. “Katanya mau pulang jam 5 sore, tapi kenapa pulang nya jam 8 malam?” protes Liora.
“Maafkan saya. Alice sakit, jadi saya handle pekerjaan sendiri,” jelas Zelvin agar istri tidak marah padanya.
Liora mengeratkan pelukannya. “Aku tadi masak buat kak Zelvin, tapi sekarang makanannya sudah aku kasih ke orang. Kamu laper?” tanya Liora.
Zelvin melepaskan pelukannya untuk menatap wajah Liora. Zelvin menyelipkan anak rambut yang menghalangi pemandangannya. Zelvin menggelengkan kepalanya, “Belum. Kamu sama Emmanuel udah makan?”
“Tadi Moana main kesini, makanya aku nggak nganterin makan siang untuk kamu. Emmanuel ikut sama Moana, jadi aku sendiri di mansion,” jelas Liora.
“Jadi, pertanyaan saya?”
“Apa?”
“Kamu udah makan?”
Liora menggelengkan kepalanya, “Belum, aku mau makan sama kak Zelvin.”
“Kalau gitu, ganti pakaian kamu, kita makan malam diluar,” perintah Zelvin.
“Serius kak?” tanya Liora dengan antusias.
Zelvin mengangguk. “Anterin ke kamar,” pinta Liora Cup!
...****************...
Don't go yet — Camila Cabello mengalun dengan indah di dalam mobil. Tidak ada percakapan apapun diantara mereka, hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka. Kediaman mereka, masing - masing merasakan perasaan yang sama. Nyaman. Itulah yang mereka rasakan saat ini.
“Dingin ya?” Itu lah pertanyaan pertama yang dilontarkan Zelvin ketika berada di dalam mobil.
Liora menganggukkan kepalanya, “Sedikit, tapi gapapa soalnya pakai jaket,” jawab Liora
Malam ini memang dingin. Tapi, Liora tidak ingin mengeluh karena cuaca buruk ini. Saat ini, Liora benar benar ingin merasakan hal belum ia rasakan dengan Zelvin. Night Drive dengan ditemani obrolan ringan.
“Mau makan di restoran mana?” tanya Zelvin
“Aku mau ke restoran Indonesia, mau makan bakso,” jawab Liora dengan cepat Zelvin menoleh, dia mengerutkan keningnya.
"Kamu suka makanan Indonesia?"
Liora mengangguk, "Iya kak, dulu aku pernah bareng Daddy, Mommy dan Giovanno ke Indonesia, tepatnya ke Bali. Hampir setiap hari kami makan makanan khas Indonesia, aku sangat suka makanan Indonesia, terutama bakso," jelasnya.
Zelvin mengangguk, menyetujui keinginan Liora. “Mau sekalian mampir ke mansion Papa nggak?”
Liora menggelengkan kepalanya. “Lain kali aja deh, ini udah malam. Lagian, jam segini pasti Mama sama Papa udah siap-siap tidur,” jawab Liora.
Zelvin mengangguk saja. Dia mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Liora, lalu tangannya turun memegang tangan Liora “Ada yang mau diceritain tentang hari ini?"
Liora menjilat bibirnya yang tiba - tiba saja terasa kering. “Kak ...,” panggil Liora dengan suara lirih.
“Hem? Ceritakan saja,” suruh Zelvin.
“Tapi jangan marah ya?”
Zelvin mengangguk.
“Tadi aku ketemu kak Erica, mantan istri kamu. Kak, aku minta maaf karena nggak ngasih tahu kamu.”
“Ya, terus?”
“Kita ketemuan di coffe shop langganan aku, terus kita ngobrolin tentang Emmanuel. Kak Erica rindu Emmanuel, aku juga nyuruh dia ketemu sama Emmanuel, bagaimana pun Emmanuel harus tahu bahwa kak Erica adalah ibu kandung dia. Aku takut, di lain waktu Emmanuel lupa gama ibu kandungnya,” sambung Liora
“Kamu nggak senang jika Emmanuel menganggap kamu adalah ibu kandungnya?”
__ADS_1
“Aku senang, tapi bagaimanapun Emmanuel harus tahu siapa wanita yang berjuang melahirkannya. Dibalik kesalahan kak Erica, dia tetap ibu nya Emmanuel. Kak, aku minta maaf."
Zelvin mengelus tangan Liora. “Harusnya saya yang minta maaf. Maaf ya, saya belum siap untuk cerita. Lain waktu ketika saya siap, saya cerita ke kamu semuanya."
Liora tersenyum dengan respon Zelvin, lalu mengangguk pelan. “Iya, gapapa.” Liora menepuk pelan punggung tangan Zelvin.
“Saya nggak akan larang kamu ketemu dia, tapi kabarin saya ya? Saya takut kamu kenapa-napa,” ungkap Zelvin.
“Iya, Kak.”
Obrolan ini, di lanjut dengan gurauan ringan dari Liora. Sesekali Zelvin tersenyum ketika melihat Liora yang sangat serius dengan ceritanya.
Mobil Zelvin berhenti tepat di depan restoran makanan Indonesia. Liora dan Zelvin keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran tersebut.
“Pak, saya pesan bakso dua sama es teh manisnya 2,” pesan Liora dengan semangat
“Eh Nona Liora ya? Putri kesayangannya Nyonya Yuna dan Tuan Jayden?” tebak waiters itu. Yah, restoran ini memang langganan Yuna dan Jayden.
Liora mengangguk. “Iya,”
“Udah lama nggak makan kesini sama Nyonya Yuna dan Tuan Jayden. Orang tuanya gimana keadaannya, sehat?”
“Sehat, Pak.”
“Syukurlah. Kalau gitu dibuatin dulu ya pesanannya Nona Liora sama suami,” ucap waiters itu.
Liora duduk disebelah Zelvin. Dia menyandarkan kepala nya di bahu Zelvin,
“Laper,” keluh Liora. Tangan Zelvin menarik tangan Liora, lalu memainkan jari jari Liora yang kecil.
“Sabar, sebentar lagi. Kecil banget sih jari-jari kamu,” ucap Zelvin.
"Ya namanya jari-jari milik perempuan kak," balas Liora.
Tidak Jama kemudian waiters itu datang kembali mengantarkan dua mangkok bakso dan dua gelas es teh ke meja mereka.
“Silahkan dinikmati,” ujar waiters itu.
“Makasih Pak,” balas Liora.
Waiters itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Itu apa?" tanya Zelvin saat melihat Liora akan menuangkan cairan merah ke dalam bakso miliknya.
"Ini sambal, chili sauce."
“Jangan pakai itu pasti sangat pedas,” peringat Zelvin
"Lah? Kalau gitu nggak enak dong,” imbuh Liora. Dia memang begitu menyukai makanan pedas.
“Nggak peduli.”
“Kak Zelvin ...,” rengek Liora
Zelvin menghela napas, “Iya sudah, pakai sedikit saja.”
Liora tersenyum dan mengangguk.
...****************...
Malam ini benar benar membuat Liorq merasa bahwa Zelvin adalah miliknya. Perlakuan lembut Zelvin membuat perasaannya bergetar. Semoga, Zelvin selalu seperti ini kedepannya.
“Kamu mau punya anak berapa?” Pertanyaan Liora yang tiba - tiba membuat Zelvin terkejut. Dia lagi menyetir, untung saja jalanan cukup sepi jadi dia udak membahayakan pengendara lain karena Zelvin langsung menginjak rem karena terkejut.
Zelvin menginjak gas lagi. Untuk pertanyaan itu, Zelvin belum berpikir di benaknya. Anak dari Liora? Bahkan Zelvin tidak pernah terpikir sampai kesana.
“Kok nggak di jawab?" tanya Liora.
“4 cukup? Tapi saya mau punya anak kembar,” jawab Zelvin.
“Kembar? Aku juga mau. Dulu Mommy punya teman dan anaknya kembar, gemes banget,” timpal Liora.
Zelvin mengangguk. “Kenapa?”
“Gapapa, tadi Jennie suruh aku tanya seperti itu ke kamu.”
Benar kan, jika Liora bertanya yang aneh-aneh pasti berasal dari sahabatnya.
“Kita mau pulang? Kamu nggak mau beli sesuatu?”
“Mau keliling, boleh?”
Zelvin mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Liora.
__ADS_1
...----------------...