Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Rencana Deana


__ADS_3

Sepulang kuliah, Deana sedang menunggu Jayden di tempat parkiran kampus, tepatnya di samping mobil milik laki-laki itu. Ia akan mengatakan sesuatu ke seniornya itu, tentunya berkaitan dengan Yuna.


"Ngapain kamu di samping mobil aku?" tanya Jayden yang baru tiba di area parkiran dan melihat salah satu sahabat dari gadis yang telah memenuhi pikirannya berada di samping mobilnya.


"Aku mau ngomong sesuatu ke kak Jayden," ucap Deana. Jayden menaikkan satu alisnya, sepertinya Deana akan membicarakan hal serius dengannya, karena itu Jayden menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


"Ya sudah, kalau gitu masuk ke dalam mobil aku. Nggak enak kalau ada yang liat."


"Iya kak." Jayden masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Deana.


"Kamu mau ngomong apaan ya?" tanya Jayden.


"Bukannya gue mau ikut campur urusan kakak sama Yuna. Tapi ini aku lakukan demi sahabat aku," ucap Deana. Deana mengambil napas dan menghembuskan perlahan sebelum ia melanjutkan ceritanya.


"Sebenernya waktu Yuna nolak kak Jayden itu, dia keliatan sedih banget, kak. Yuna yang selalu ceria dan bar-bar, jadi sering melamun dan nggak bersemangat. Sepertinya dia menyesal udah nolak kak Jayden," sambung Deana menjelaskan yang terjadi dengan sahabatnya itu beberapa hari ini.


"Kamu serius Yuna menyesal sudah menolak aku?" tanya Jayden menatap serius Deana. Jika benar seperti itu, Jayden harus lebih gencar lagi mendekati Yuna.


"Menurut pandangan aku sih begitu kak."


"Kamu yakin aku masih ada harapan buat mendapatkan hati Yuna lagi?" tanya Jayden lagi.


"Aku yakin kak Jayden masih ada harapan buat mendapatkan hatinya Yuna kembali. Kak Jayden harus lebih lembut dengan cara lembut untuk mendekati Yuna," jelas Deana. Karena selama ini cara seniornya itu salah untuk mendekati Yuna, seperti tidak ikhlas dan gengsi laki-laki itu terlalu tinggi.


"Tapi gimana caranya aku bisa deketin Yuna, coba? Dia aja selalu menghindar kalau aku mau ajak dia ngomong," ujar Jayden.


"Mau aku bantu deketin kakak sama Yuna nggak?" tawar Deana.


"Boleh, memang gimana caranya?" Tentu saja Jayden langsung menerima tawaran itu tanpa berpikir panjang.


"Besok kan weekend, aku besok mau pergi nonton film ke bioskop bareng Yuna di Time Square Mall dan kakak bisa ikut nyusul kita kesana. Tapi kalau kamu mau sih kak," ucap Deana.


"Oke besok aku nyusul kalian kesana. Oh ya, aku minta nomor handphone kamu, buat nanti aku hubungi kalau aku udah sampai disana," pinta Jayden.


"Nih ketik aja nomor kakak di ponsel aku, nanti biar aku aja yang hubungi, kak Jayden." Deana menyodorkan ponselnya ada Jayden. Lalu Jayden mengetik 11 digit nomor handphonenya di ponsel milik Deana.


"Nih udah." Jayden mengembalikan ponsel Deana.


"Oh ya, memangnya kak Jayden nggak takut ketahuan sama penggemarnya, kakak?" tanya Deana sedikit ragu dengan rencananya tadi.


"Tenang nanti aku bisa nyamar," jawab Jayden santai.


"Oke deh. Kalau gitu aku mau pulang dulu kak," ucap Deana.


"Oke, kamu hati-hati," pesan Jayden.


Deana mengangguk. "Iya kak." Deana keluar dari dalam mobil Jayden, sebelum itu ia celingak-celinguk terlebih dulu, takutnya nanti ada orang yang melihatnya berada di dalam mobil Jayden, bisa gempar seluruh kampus dibuatnya. Setelah menurutnya tidak ada yang melihat, Deana langsung berlari menuju ke mobilnya yang tak jauh dari tempat parkir mobil Jayden tadi.


...****************...


Setelah dari kampus Yuna memutuskan untuk pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Kini ia sedang berjalan untuk ke arah supermarket yang lumayan dekat dengan kampusnya.


TIN! TIN! TIN!

__ADS_1


Suara klakson mobil membuat Yuna menghentikan langkahnya dan melihat ke arah mobil tersebut.


"William?" Yuna melihat mobil tersebut adalah milik William. William langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Yuna.


"Hai Yun, kamu mau kemana?" tanya William.


"Aku mau ke supermarket depan sana," jawab Yuna.


"Aku antar kamu ya?" tawar William.


"Eh nggak usah Will, supermarket nya juga udah dekat kok," tolak Yuna, bukannya tak mau Yuna hanya tidak ingin terlalu sering merepotkan laki-laki itu.


"Gapapa, ayo aku antar. Sekalian aku antar kamu pulang."


Dengan berat hati Yuna pun menerima tawaran William. "Ya udah aku mau."


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, lalu pergi menuju ke supermarket.


"Mau beli apa di supermarket?" tanya William dengan mata yang tetap fokus ke depan.


"Aku mau beli bahan-bahan untuk membuat kue," jawab Yuna.


William menaikan satu alisnya. "Memangnya kamu bisa bikin kue?" tanyanya tak percaya.


"Iya bisalah, walaupun aku bar-bar kayak gini, aku tuh pinter masak dan bikin kue tau," jawab Yuna.


"Kalau begitu buatin aku makanan dong, supaya aku percaya kamu itu benar-benar bisa masak," balas William masih meremehkan kemampuan seorang Yuna Kim.


"Siapa takut! Nanti pulang dari supermarket, kamu main ke mansion aku ya? Aku masakin kamu sekaligus nanti bantuin aku buat kue."


"Memangnya kamu mau aku masakin apa?" tanya Yuna.


"Apa aja yang kamu buat pasti aku suka kok," jawab William apa adanya.


"Dih buaya rawa mulai mengeluarkan gombalannya," ejek Yuna.


"Heh aku bukan buaya ya!" Tentu saja William tidak terima dikatakan buaya oleh Yuna.


"Bercanda Will," balas Yuna cengengesan sambil mengangkat dua jarinya. William langsung mendegus kesal.


"Em gimana kalau aku masakin chicken cordon bleu, tapi apa kamu suka?" tanya Yuna mengusulkan makanan yang akan ia buat pada William.


"Kan aku udah bilang, apa aja yang kamu buat pasti aku suka kok," jawab William.


Yuna manggut-manggut. "Tapi nanti harus di habisin ya makanan yang aku buat itu."


"Iya tenang aja, pasti aku habiskan kok."


"Awas aja kalau nggak habis aku bakalan ngambek sama kamu," ucap Yuna memperingati. William tersenyum mendengar kecerewetan gadis di sampingnya ini, walaupun seperti itu William lebih suka Yuna yang cerewet dan bawel daripada melihat gadis itu sedih dan banyak diam.


"Oh ya, kamu mau buat kue apa?"


"Cheese cake, karena itu kue favorit aku," jawab Yuna.

__ADS_1


"Itu juga kue favorit aku," timpal William.


"Serius? Kok bisa sama ya?" tanya Yuna antusias.


'Mungkin kita berjodoh Yun,' batin William. Ingin rasanya ia mengatakan itu kepada Yuna.


"Nanti bikin cheese cake nya harus yang enak loh ya."


Yuna memutar matanya. "Iya kamu tenang aja, aku udah sering buat kue itu kok sama Mama. Pokoknya nanti kamu bantuin aku buat kue nya biar cepat jadi."


"Iya siap princess, pelayan mu ini siap membantu." Yuna tertawa mendengarnya.


"Apaan sih Wil."


William hanya tersenyum. Akhirnya sampailah di supermarket. Saat Yuna ingin mengambil troli belanja, namun ditahan oleh William.


"Biar aku aja yang bawa."


"Ya sudah." Yuna membiarkan William yang membawa troli belanja tersebut daripada harus berdebat.


"Sekarang kamu mau kemana dulu?" tanya William.


"Kesana, di bagian bahan-bahan kue." Yuna menunjuk ke arah lorong sebelah kiri.


"Ayo."


Yuna mengangguk. Mereka berdua pun beriringan menuju ke tempat bahan kue-kue itu berada. Yuna berjinjit untuk mengambil cream cheese yang berada di rak atas, namun keduluan William yang mengambilnya.


"Dasar pendek," ejek William.


Yuna mendengus. "Aku nggak pendek ya, rak lemarinya aja yang ketinggian."


"Ya-ya terserah kamu aja. Terus mau beli apa?"


Yuna melihat dan memeriksa semua belanjaannya, apakah ada yang harus di beli lagi.


"Sepertinya bahan untuk membuat cheese cake sama chicken cordon blue udah semua. Sekarang kita tinggal pergi bayar aja," ucap Yuna.


William mengangguk. "Ya sudah."


Seperti biasa, William si cowok royal yang membayarkan semua belanjaan Yuna. Walaupun Yuna sudah melarangnya, tapi William sangat kekeh untuk membayarkannya, mau tak mau ia pun membiarkannya. Setelah selesai membayar, mereka berdua keluar dari supermarket dan melanjutkan perjalanan menuju ke mansion milik orang tua Yuna.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2