Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Bertemu Dia


__ADS_3

Liora menuruni anak tangga nya dengan di bantu oleh Yuna, takut jatuh katanya. Liora menjilat bibirnya pelan untuk menghilangkan kegugupannya. Dengan langkah yang pelan, Liora melihat beberapa orang yang sudah memenuhi ruang tamu mansion Krystal. Apakah itu yang akan menjadi keluarga baru nya?


"Astaga? Ini Liora ya? Dari kecil kamu itu udah cantik. Sekarang makin cantik, dikasih makan apa sih, Yun?" heboh wanita setengah baya menggunakan pakaian dengan warna yang senada dengan Liora. Apakah ini kebetulan?


Yuna terkekeh, "Bisa saja deh kamu Sa," balas Yuna


"Serius ih, iya kan Pa? Cantik banget kan Liora ini?"


Pria setengah baya itu mengangguk. "Dari kecil dia tuh selalu cantik, Ma."


"Benar sekali, Pa. Liora, sini duduk sama tante," ajak Marissa.


Liora melangkahkan kaki nya untuk mendekat wanita itu, dan dia duduk disebelah Marissa. Marissa terus mengelus tangan Liora.


"Makin cantik saja kamu, sayang. Tunggu sebentar ya, putra Tante lagi di jalan. Soalnya macet. Kamu masih ingat dengan Tante? Yang rumahnya disebelah rumah kakekmu waktu di Busan. Ingat?"


Dengan polos, Liora menggelengkan kepalanya. Kejadian itu sudah lama, sudah 10 tahun yang lalu kakeknya meninggal jadi maklum kalau Liora lupa.


Marissa terkekeh, dia mengelus punggung Liora. "Maklum kalau lupa, soalnya sudah lama. Sekarang kuliahnya semester berapa?"


"Semester 6, Tante."


Perbincangan terus berlanjut. Yang awal mula nya hanya sekedar basa basi, tapi kini dua keluarga itu sedang membahas inti nya yaitu pernikahan. Mereka sedang membahas tanggal pernikahan yang bagus untuk Liora dan calonnya.


Liora menggigit bibirnya, rasa penasaran terhadap pria yang dijodohkan nya semakin tinggi, apalagi pria itu tidak kunjung datang.


Ponsel Marissa berbunyi. Marissa segera mengangkatnya.


"Halo Vin, yah kok gitu? Tapi ini sudah di tungguin loh ya udah deh, kamu hati-hati kalau ada apa apa kabari Mama ya?" Marissa menutup teleponnya. Tatapannya berubah menjadi tidak enak karena putranya tidak bisa datang.


"Ada apa, Sa?" tanya Yuna.


"Putra ku nggak bisa datang hari ini, ada gangguan di perjalanannya. Tapi dia titip permintaan maaf, karena tidak bisa hadir," jawab Marissa. Semuanya mengangguk mengerti, pria yang akan di jodohkan dengan Liora memang seorang workholic.


...****************...


"Alvin," panggil Liora.


Alvin menghentikan langkahnya, dia tersenyum menatap Liora yang berjalan ke arahnya. "Hai Liora, kok kesini? Kalau ada perlu kamu bisa hubungi aku, ini jauh loh dari fakultas kamu terus kesini," tanya Alvin.


"Kamu udah selesai kuliahnya?" tanya balik Liora.


Alvin mengangguk, sedetik kemudian Alvin mengerutkan kening nya karena raut wajah Liora yang terlihat seperti frustrasi. "Sudah. Lio, are you okay?"


Melihat Liora yang hanya diam, Alvin bisa memahami situasi ini meskipun dia tidak tahu permasalahannya. Alvin memegang tangan Liora, lalu membawa Liora ke taman yang cukup sepi. Alvin mengajak Liora untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia.


"Kamu kenapa, Liora?" tanya Alvin.


Liora memeluk Alvin. Dia menangis di pelukan Alvin, menumpahkan kebimbangan yang dia rasakan. Alvin mengelus punggung Liora, berharap bisa memberikan ketenangan.

__ADS_1


"Gapapa, nangis saja," ucap Alvin dengan lembut.


20 menit lamanya Liora menangis, kini gadis itu sedang mengusap jejak air matanya. Hidungnya memerah, pipinya pun sama. Pada saat seperti ini, Alvin masih memuji kecantikan Liora.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin.


"Baju kamu basah, Al." Itu bukan jawabannya, itu pengalihan pembicaraan dari pertanyaan Alvin. 


Alvin mengelus rambut Liora, "Gapapa kalau nggak mau cerita, itu hak kamu. Tapi ingat, aku disini, ada untuk kamu. Kalau mau nangis datang saja, aku masih ada banyak baju untuk dijadikan tempat kamu menangis."


Liora mengangguk, "Terima kasih, Alvin."


Tangan Alvin terangkat, mengelus pipi Liora untuk menghilangkan jejak air mata. "Kamu tetap cantik meskipun nangis, aku suka."


Liora tersipu, wajahnya semakin memerah. "Al, kalau misalnya aku nikah sama orang lain gimana?" Pertanyaan itu membuat Alvin terdiam, tapi beberapa detik kemudian dia menghela napas.


"Kalau kamu nikah dengan orang yang kamu cintai, jelas aku ikut merasa senang. Tapi aku merasa gagal kepada diriku, mendapatkan apa yang aku cintai saja, aku gagal," ucap Alvin seperti nada sedikit tak rela disana.


Liora mengangguk. Dia mencintai Alvin, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Liora tahu perasaan Alvin, tapi dia belum ingin mengingat hubungan dengan seseorang tapi kini malah dirinya yang diikat dengan pernikahan.


"Alvin!" teriak seorang pria yang berlari ke arah mereka.


"Apa?" tanya Alvin.


"Kamu di panggil prof. Jack, ditunggu di ruangannya buat revisi tugas," jawabnya.


"Iya nanti aku nyusul."


"Al, kamu temui saja dosennya. Aku mau pulang," ucap Liora.


"Tapi kamu gimana nanti pulangnya?"


"Aku bisa naik taksi atau bus."


"Oke, tapi hati - hati, kabarin aku. Mau aku panggilkan taksinya?"


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, aku bisa sendiri," tolak Liora. Alvin hanya manggut-manggut, ia pamit lalu pergi meninggalkan Liora sendirian di taman.


Liora langsung menghentikan langkahnya ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya. Liora menyipitkan matanya, heran dengan mobil di hadapannya.


Tak lama kemudian, seorang pria dengan pakaian formal keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.


Liora terdiam, menatap pria yang menggunakan kacamata hitam itu menghampirinya. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, menampilkan wajah yang tampan dan nyaris sempurna itu. Tubuh yang tinggi, kulit putih bersih, alis yang tebal, bulu mata lentik dan bola mata yang indah berwarna hazel Liora menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya.


"Hai, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Liora dengan kikuk.


"Masuk mobil." Suara berat itu terdengar tidak ingin di bantah.


Liora mengerutkan keningnya, "Sorry ya, anda jangan macam macam, gini-gini aku juga bisa bela diri. Mobil saja bagus, tapi gunanya buat culik orang!" kesal Liora.

__ADS_1


"Saya Zelvin Harell Park, pria yang dijodohkan dengan anda."


Liora membulatkan matanya. Apakah dia? Jika benar dia, masa iya dia duda anak satu tapi tidak terlihat seperti duda. Pria di hadapannya ini sangat tampan dan berwibawa terlihatnya. Liora saja sampai terpesona.


"Jadi, masuk ke dalam. Orang tua saya dan anda sedang menunggu di butik," sambungnya.


"Beneran? Anda nggak bohong kan?"


"Silahkan masuk," ucap Zelvin dengan penekanan di setiap katanya.


Liora menurut saja. Pikirnya, jika dia ingin menculik Liora rasanya tidak mungkin ada penculik yang seniat ini. Menculik dengan mobil sport keluaran terbaru, itu tidak mungkin kan?


Tidak ada percakapan selama di perjalan, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Liora pun tidak ingin memulai percakapan, aura di dalam mobil terlihat menakutkan membuat Liora segan untuk bertanya.


Mobil berhenti di sebuah butik terbesar di Jakarta. Zelvin keluar dari mobil diikuti oleh Liora. Zelvin melangkahkan kakinya menuju butik, Liora hanya mengikuti Zelvin dari belakang.


"Nah, pasangan ini sudah datang. Liora, Zelvin, sini sayang," suruh Marissa.


Liora mendekat, dia berdiri disebelah Zelvin. "Mama, sudah siapkan baju yang cocok untuk kalian, kalian bisa memilih nya mana yang cocok di kalian."


"Iya Liora, ayok Mommy bantu kamu," ajak Yuna


Liora pun hanya mengangguk.


Setelah fitting baju, Marissa dan Yuna sepakat meninggalkan Liora dan Zelvin berdua supaya mereka bisa lebih dekat. Bahkan pekerjaan Zelvin pun di handle oleh Papanya.


"Kita mau kemana?" tanya Liora memecahkan keheningan.


"Jemput anak saya," jawab Zelvin singkat.


Liora mengangguk, "Boleh nyalain musik? Biar--"


"Saya tidak suka musik," sela Zelvin.


"Oh begitu, baiklah."


Mobil yang dikendarai Zelvin berhenti di depan sekolah, Seoul Internasional School. Ada beberapa murid yang sudah keluar dari kelasnya bersama orang tua mereka. Zelvin keluar dari mobilnya, Liora pun ikut keluar.


"Daddy!" Anak laki laki berlari menghampiri Zelvin yang berdiri di depan mobilnya. Liora menatap Zelvin, tidak ada senyuman di bibir pria itu, tidak seperti anak laki laki itu.


"Daddy, sudah pulang dari Prancis? Kok nggak bilang aku? Aku rindu dengan Daddy. Apa Daddy ketemu Mommy?" tanya anak itu.


Zelvin hanya diam. "Masuk mobil, kita makan di restoran kesukaanmu." Terlihat raut wajah kesedihan di wajah anak itu. Ada apa ini?


Dengan raut wajah yang sedih, anak itu masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku depan.


Zelvin akan masuk ke dalam mobil, tapi tangannya di cekal oleh Liora. "Om, eh kak Zelvin, kenapa pertanyaan anak tadi nggak di jawab? Dia bertanya, raut wajahnya ter--"


"Jangan campuri urusan saya." tegas Zelvin.

__ADS_1


Liora melepaskan cekalan tangannya, dia langsung terdiam. "Maaf."


...----------------...


__ADS_2