Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Liora jatuh sakit


__ADS_3

"Tuan Zelvin, sarapan sudah siap," ucap Bi Moni.


Zelvin menatap Bi Moni, selama bertahun-tahun Bi Moni bekerja menjadi asisten rumah tangga di mansion ini. Bi Moni belum pernah melihat Zelvin tersenyum atau memasang wajah ceria. Meskipun, saat Emmanuel lahir, Zelvin tetap memasang wajah datar tanpa cahaya.


"Panggil yang lain. Saya tunggu di meja makan!" perintah Zelvin.


Bi Moni mengangguk, "Baik Tuan. Permisi."


Bi Moni meninggalkan Zelvin sendiri di meja makan, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Liora dan Emmanuel.


"Nyonya Liora." Bi Moni mengetuk pintu kamar Liora namun tidak ada sahutan.


"Nyonya Liora."


Tetap sama tidak ada sahutan dari Liora.


"Nyonya." Bi Moni memegang handle pintu yang ternyata tidak di kunci. Bi Moni mendorong pintu kamar Liora, yang sangat sederhana berbeda dengan kamar


Bi Moni mendekat ke arah Liora yang masih tertidur di kasur dan diselimuti selimut tebal. "Nyonya Liora," panggil Bi Moni.


Bi Moni memegang lengan Liora yang ternyata sangat panas. "Nyonya Liora demam?" pekik Bi Moni.


Dengan sulit, Liora membuka mata nya perlahan, dia tersenyum kepada Bi Moni. "Ada apa, Bi?"


"Nyonya Liora gapapa? Bibi disuruh tuan Zelvin untuk manggil Nyonya sama Tuan muda Emmanuel untuk sarapan," tanya Bi Moni.


Liora menggelengkan kepalanya pelan. "Gapapa, Bi. Panggil Emmanuel saja, aku nggak sarapan. Aku nanti saja ya sarapannya?" ucapnya dengan lemah.


"Tapi tubuh Nyonya panas sekali," ucap Bi Moni khawatir.


"Gapapa, Bi. Suruh Emmanuel sarapan ya, aku mau tidur lagi, paling nanti siang udah mendingan."


"Nyonya mau minum obat?" tawar Bi Moni.


Liora menggelengkan kepalanya.


"Atau Bibi kompres?"


"Nggak usah bi, aku mau istirahat saja. Bibi panggil Emmanuel saja, pastikan dia makannya banyak. Bekalnya juga."


Bi Moni mengangguk mengalah, "Baik Nyonya, tapi kalau ada apa-apa panggil Bibi ya Nyonya."


Liora hanya mengangguk lemah. 


Emmanuel duduk di sebelah Zelvin dengan pakaian yang sudah rapih untuk berangkat ke sekolah. Zelvin mengerutkan keningnya, kemana Liora?


"Dia mana?" tanya Zelvin.


Bi Moni mengerti dengan 'dia' yang dimaksud oleh Zelvin. "Nyonya Liora nggak mau sarapan, Tuan. Katanya nanti saja sarapannya," jawab Bi Moni.


Zelvin terdiam, dia langsung teringat kejadian semalam. Apakah karena itu? Jika benar, Liora sangat kekanak kanakan. Dia marah dan melewatkan sarapan.


Zelvin berdiri dari duduknya. "Urus Emmanuel!" tegasnya sebelum meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar Liora.


BRAKKK!


Zelvin membuka pintu kamar Liora dengan kasar dan menutupnya dengan keras. Zelvin melihat Liora yang masih diselimuti selimut tebal, padahal matahari sudah masuk di celah-celah jendela. Bahkan suara keras yang diakibatkan Zelvin tidak membuat gadis itu bergerak sedikit pun.


SRET!


Zelvin menarik selimut tebal itu dari tubuh Liora, membuat selimut itu terjatuh ke lantai. Reflek, Liora langsung membuka matanya ketika tubuhnya semakin dingin. Apalagi suhu AC yang rendah, membuatnya sangat kedinginan. Liora melihat Zelvin yang berdiri disebelah ranjangnya dengan tatapan tajam, Liora langsung duduk dari tidurnya padahal tubuhnya sangat sakit.

__ADS_1


"Sangat kekanak-kanakan sekali. Kamu melewatkan sarapan, hanya masalah sepele kemarin?! Astaga, gadis seperti apa yang dipilih Mama saya ini!" cetus Zelvin. Pria itu menarik tangan Liora dengan sekali sentakan untuk membuat Liora berdiri dari duduknya, tapi karena tubuh Liora yang lemah membuat gadis itu tersungkur di lantai dengan tangan yang masih di cekal erat oleh Zelvin.


Liora meringis ketika merasakan tubuhnya yang semakin sakit ditambah kepalanya semakin berdenyut. Zelvin semakin mengeratkan cekalan tangan Liora yang terasa sangat panas. Zelvin berjongkok, dia menempelkan punggung tangannya di kening Liora.


"Sial. Kamu demam!" Zelvin menatap tatapan Liora yang semakin melemah, bahkan seperti tidak ada tenaga. Zelvin mengangkat tubuh Liora untuk kembali berbaring di atas kasur.


Tubuh Liora menggigil, Zelvin langsung mengambil selimut yang tadi dia tarik. Zelvin juga mematikan AC supaya Liora tidak kedinginan.


"Hangat?" tanya Zelvin. Liora tidak menjawab, dia terus menggigil. Melihat kondisi Liora membuat Zelvin sedikit panik. Zelvin keluar dari kamar Liora, dia berjalan menuju dapur untuk menemui Bi Moni.


"Suruh supir antarkan Emmanuel. Sekarang buatkan dia bubur dan ambil obat demam, antarkan ke kamar. Saya minta air kompresan dan handuk kecil," pinta Zelvin dengan wajah yang tetap datar.


Bi Moni segera mengambil air kompresan serta handuk kecil, lalu menyerahkannya kepada Zelvin. Zelvin langsung kembali ke kamar Liora.


Zelvin mengompres kening Liora dengan handuk kecil tersebut. Sebelum menutup matanya, Liora tersenyum tipis melihat kepedulian Zelvin. Suaminya ini sebenarnya baik, tapi ya sedikit kaku. Liora memejamkan matanya sempurna, dia pun tertidur.


Liora membuka matanya, pemandangan yang dia lihat adalah Zelvin yang tertidur sambil duduk di kursi. Liora memaksa untuk bangun, pusing nya sedikit berkurang, dia menyipitkan matanya untuk melihat jam. Ternyata pukul setengah sembilan pagi.


"Kak Zelvin," panggil Liora Zelvin langsung membuka matanya, dia menatap Liora.


"Gimana kondisi kamu?"


"Baik, maaf aku merepotkan kak Zelvin."


Zelvin mengangguk, "Makan buburnya dan obatnya minum. Saya mau pergi kerja," perintah Zelvin sambil menunjuk nakas


Liora mengangguk. "Terima kasih, kak."


"Panggil Bi Moni kalau ada apa-apa."


...****************...


"Liora, badan kamu panas banget!" pekik Jennie ketika tidak sengaja kulit mereka bersentuhan. Jennie menatap wajah Liora yang terlihat pucat.


"Cuma demam."


Jennie membulatkan matanya, "Cuma kamu bilang? Kenapa nggak diam dirumah saja sih. Gimana kalau nambah parah? Kamu bisa ijin, Liora," omel Jennie.


Liora menggelengkan kepalanya. "Aku harus lulus cepat, Jen. Banyak materi yang harus aku kejar gara-gara cuti kemarin."


"Liora ..."


"Gapapa, aku kuat."


Dosen masuk ke dalam kelas. Jika Liora tetap fokus ke depan, memerhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi berbeda dengan Jennie yang terus memerhatikan Liora.


Wajah Liora sangat pucat, matanya sayu, apakah dia kurang istirahat? Beberapa jam kemudian, kelas sudah selesai. Liora dan Jennie keluar dari kelas dan mereka terkejut dengan keberadaan Alvin.


"Liora," panggil Alvin ketika melihat Liora yang sangat pucat.


"Kamu kenapa?"


"Sakit, Al. Dibilangin suruh istirahat dirumah, nggak mau. Ngeyel, katanya mau ngejar target soalnya ambil cuti kemarin," jawab Jennie sedikit gregetan.


Alvin menatap Liora dengan khawatir. Alvin menempelkan tangannya di kening Liora, "Kamu demam. Aku anterin kamu pulang ya? Kamu harus istirahat."


"Bawa saja, Al. Pastikan kalau dia selamat."


Liora hanya diam, rasanya sangat lemas untuk menjawab pertanyaan mereka. Tiba-tiba saja Alvin menggendong Liora, karena melihat Liora yang berjalan dengan lemas. Liora reflek melingkarkan tangannya di


leher Alvin.

__ADS_1


"Alvin, ih turunin. Aku malu!" cicit Liora.


"Kamu jalan saja lemas, gimana tadi kamu bisa ke kampus sih?" omel Alvin dan Liora hanya pasrah, dia menyembunyikan wajahnya di dada Alvin.


Liora menghirup wangi tubuh Alvin, parfum Alvin sangat khas jadi mudah sekali diingat. Alvin mendudukkan Liora di dalam mobil.


"Sudah nyaman?" tanya Alvin, Liora mengangguk Alvin menutup pintu mobil dengan pelan dan dia masuk ke dalam mobil, duduk disebelah Liora.


"Kita ke Dokter dulu ya? Setelah itu pulang," ajak Alvin.


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak mau, kamu kan calon Dokter masa nggak tau obat buat demam apa?" tolak Liora.


Alvin membuang nafasnya, "Ya sudah kita ke apotik setelah itu aku anterin kamu."


Liora hanya mengangguk mengiyakan ucapan Alvin.


"Al, antarkan aku ke rumah saudara aku aja ya? Jangan ke rumah tante Krystal. Aku lagi menginap disana," pinta Liora.


Alvin mengangguk, "Tante Krystal kemana memangnya?"


"Ada acara, jadi aku nginep di saudara aku," ucap Liora berbohong.


Alvin hanya mengangguk.


Liora menatap Alvin. Dia sangat merasa bersalah, andai Alvin mengetahui ini semua mungkin Alvin akan meninggalkannya. Liora belum siap.


Alvin itu sosok yang penting dalam hidup Liora, Alvin selalu ada kapanpun untuknya. Liora tahu, Alvin akan sangat marah atau bahkan kecewa kepadanya jika mengetahui dirinya sudah menikah membayangkannya saja membuat Liora sulit bernapas.


"Nanti obatnya diminum. Jangan lupa makannya juga, aku nggak mau kamu sampai melewatkan makan. Efek samping obatnya akan ngantuk, gapapa sekalian kamu istirahat. Aku lihat akhir-akhir ini kamu capek banget sama tugas. Kenapa sih, Lio?"


"Mommy selalu bilang ingin melihat aku cepat-cepat lulus, makanya aku aku ingin sekali cepat untuk lulus."


"Tapi nggak dengan ini caranya. Ini bikin kamu capek terus sakit. Semua tugas sudah kamu kerjakan atau belum saat kamu ambil cuti?"


Liora mengangguk, ia belum mengerjakan tugasnya tinggal beberapa lagi.


"Jangan dipaksakan Liora. Aku nggak suka. Jangan bikin aku khawatir. Jangan lewatkan sarapan, ingat kamu punya asam lambung!"


"Iya Alvin ..." 


"Jangan iya-iya saja. Lakukan! Setelah sampai, kamu harus langsung makan terus minum obat. Istirahatkan. Kalau kamu ada tugas, kirim saja ke aku. Aku bantuin!" omel Alvin. Liora terkekeh dengan segala ocehan Alvin selama diperjalanan menuju rumah.


"Alvin, jangan ngomel dong. Aku lagi sakit."


"Maaf, Liora."


Liora hanya mengangguk.


Mobil Alvin berhenti disebuah rumah yang terlihat Sederhana namun nyaman. Alvin menatap Liora. "Ini rumahnya?"


Liora mengangguk. Entah rumah siapa yang dituju oleh gadis itu.


Alvin menatap Liora, "Jangan sakit Liora, aku khawatir," pesan Alvin Liora mengangguk. Alvin keluar dari mobil, dia membantu Liora untuk turun dari mobil karena Liora menolak untuk di gendong lagi.


"Sampai sini aja, aku bisa masuk sendiri kok," ucap Liora.


"Tap--"


"Alvin.."


Alvin menghela napas panjang, "Iya, hati-hati."

__ADS_1


Liora mengangguk. Setelah kepergian Alvin, Liora segera menyetop taksi untuk membawanya ke mansion Zelvin.


...----------------...


__ADS_2