Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Perubahan, Penyesalan dan Perasaan


__ADS_3

“Morning.”


Liora baru saja membuka matanya, dia dikagetkan dengan keberadaan Zelvin disebelahnya yang baru saja selesai mandi. Liora menarik selimut hingga ke atas kepala, dia berniat kembali tidur tapi selimut yang ditarik oleh Zelvin membuatnya harus membuka mata selebar-lebarnya.


“Kak Zelvin apaan sih! Masih ngantuk, jangan ganggu aku dulu,” pinta Liora ingin menarik selimut, tapi Zelvin malah menjauhkan selimut dari jangkauan Liora.


“Kakak ihhh ...,” rengek Liora.


“Mandi dulu, ini udah jam 8 kamu belum sarapan.” ucap Zelvin, dia duduk di sebelah Liora, mengusap surai indah milik Liora. “Sekalian ganti perban luka kamu,” sambungnya.


“10 menit lagi ya?” pinta Liora.


Zelvin menggelengkan kepalanya. “No! Ayo bangun.”


Liora bangun dari tidurnya, dia menatap Zelvin yang hanya menggunakan handuk di bawahnya. “Kamu pakai baju.”


“Nggak, saya harus memandikan kamu.”


Liora menatap tajam Zelvin. “Nggak ya! Aku masih bisa mandi sendiri.”


“Ingat kata dokter, lukanya jangan sampai terkena air. Jadi saya dengan senang hati mau memandikan kamu,” ucap Zelvin.


“Aku yang nggak senang hati!” ucap Liora sewot.


“Saya suami kamu.”


“Iya, tapi nggak gitu juga, kak.”


“Ayo mand—”


“Nggak mau! Panggil saja pelayan disini.”


“Keanna...”


“Kak—"


“Nurut ya, sayang?”


Liora langsung terdiam. Mulutnya seolah-


olah sulit untuk membantah lagi, jika Zelvin seperti ini, Liora tidak kuat. Sayang? Ini pertama kalinya Zelvin memanggilnya seperti itu. Liora mengulum senyumannya, pipi nya terasa panas karena menahan rasa malu.


“Let's go!”


Zelvin langsung menggendong Liora dengan perlahan, dia membawa Liora ke kamar mandi dan mendudukkannya di sebelah wastafel. Liora mengalungkan tangannya dileher Zelvin, dia menyembunyikan wajahnya di dada Zelvin. 


"Keanna ...,” panggil Zelvin dengan lembut.


“Tunggu kak, aku malu.”


Zelvin mengangguk. Dia menyimpan tangannya di punggung Liora, dia mengelus punggung Liora dengan 2 lembut.


“Kita punya beberapa hari lagi disini, mau jalan-jalan?” tanya Zelvin memecahkan keheningan.


Liora mengangkat kepalanya, dia  menatap Zelvin. Dia mengangguk, “MAU!”

__ADS_1


Zelvin tersenyum, dia mengelus rambut Liora. “Sekarang mandi ya? Jangan malu, saya suami kamu atau kamu mau liat milik saya?”


Liora membulatkan matanya, dia memukul lengan Zelvin. “Kak Zelvin ih!”


Zelvin tertawa, “Keanna, saya izin membuka ya,” ucap Zelvin dengan lembut.


Liora mengangguk. Zelvin membuang nafasnya perlahan, sebelum membuka satu persatu pakaianLiora. Senyum Zelvin sedikit terukir ketika melihat Liora yang terus memejamkan mata nya karena malu, wajahnya benar benar merah membuat Zelvin gemas.


Zelvin menelan ludahnya. Kulit Liora , benar benar putih dan bersih, membuat Zelvin harus menahan sesuatu yang membuatnya sesak. Hey, ingat dia pria normal! Apalagi sudah lama sekali Zelvin tidak pernah menyentuh wanita.


“Wajah kamu dari tadi merah terus, kenapa?” tanya Zelvin.


Liora cemberut, dia menatap Zelvin dengan sinis. “Aku malu tahu!”


Zelvin terkekeh, dia mengelus kepala Liora pelan. “Ngapain? Saya suami kamu.”


“Ya tapi—”


“Sabar ya, nanti saya tagih hak saya.” potong Zelvin.


Liora memukul Zelvin dengan pelan, "Apaan sih!"


Zelvin terkekeh. Dia telah selesai mengganti perban di kaki Liora, luka nya sudah membaik mungkin butuh beberapa hari untuk pulih. Zelvin membuang nafasnya, melihat banyak luka di tubuh Liora membuatnya benar- benar merasa gagal menjaga istrinya. Zelvin memang selalu gagal.


Zelvin menatap Liora dengan lekat. Kali ini, Zelvin benar-benar bersyukur mendapatkan istri seperti Liora. Zelvin tahu, dia telat menyadari nya. Mengingat kesalahannya yang berbuat kasar kepada Liora, selalu membuatnya menyesal, karena dia sendiri pun tidak bisa mengendalikan itu. Liora selalu sabar, apapun keadaannya dia selalu mengalah. Meskipun melawan, dia tetap mengalah. Istrinya lemah, butuh perlindungan. Dan Zelvin, ingin menjadi pelindung istrinya.


Zelvin menarik Liora ke dalam pelukannya. Dia memejamkan matanya, merasakan hangatnya pelukan Liora. Zelvin merasakan ketenangan ketika Liora membalas pelukannya dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Tubuh kecil yang saat ini ada di dalam pelukannya benar benar membuat perasaannya bergetar.


Zelvin tidak menyesal ketika perasaannya mulai tumbuh kepada Liora. Dia berani mengatakan bahwa dia mencintai istrinya. Tapi, hanya malu saja. Bahkan entah sejak kapan, senyuman Liora selalu ingin dilihatnya terus menerus.


“Keanna,” panggil Zelvin lembut.


“Saya nggak tau harus bilang apa, tapi saya harap kamu merasakan apa yang saya rasakan saat ini.” Zelvin melepaskan pelukannya, dia menyimpan kedua tangannya di pundak Liora dan nata menatap bola mata indah milik Liora.


“Saya nggak tahu harus melakukan apa, tapi saya benar benar-tidak ingin kehilangan kamu,” sambungnya.


Liora menahan senyumannya, dia menatap Zelvin dengan teduh.


“Terima kasih karena kakak sudah mau berubah,” ucap Liora.


Zelvin menggelengkan kepalanya. “Nggak. jangan berterima kasih. Harusnya dari dulu saya berubah untuk istri cantik seperti kamu.”


“Kamu ngejek aku ya?”


Zelvin mengerutkan keningnya, “Ngejek? Saya tidak mengejek kamu.”


“Sekarang aku banyak luka, pasti nanti berbekas jadi mana mungkin aku masih cantik,” ujar Liora.


Zelvin tersenyum tipis, tangannya menepuk pundak Liora pelan, karena gemas dengan jawaban Liora. “Mau berubah jadi buruk rupa pun saya tetap sayang kamu.”


“Jadi kamu mau aku buruk rupa?”


Dengan cepat Zelvin menggelengkan kepalanya. “Nggak, maksud saya—”


“Maksud saya apa? Kamu itu ya, jadi kamu mau aku benar-benar jelek gitu?” tanya Liora dengan tatapan yang berubah sinis.

__ADS_1


Tangan Zelvin turun, dia mengelus kedua lengan Liora untuk menenangkan istri nya yang terlihat kesal. “Keanna, kamu kenapa? Kok jadi sensitif gini? Reddays?” tanya Zelvin.


Liora langsung terdiam. “Astaga. Sepertinya iya deh kak, soalnya kak beliin aku pembalut!”


“Ha?” beo Zelvin.


Liora berdiri dengan pelan, dia menundukkan kepala nya untuk menatap kursi yang tadi ia duduki. “Tuh kan udah bocor! Kak beliin ih!” paksa Liora.


Zelvin mengangguk pelan. Dia mengelus kepala Liora, menuntun Liora untuk duduk kembali.


“Kamu duduk dan tunggu saja ya? Saya cari pembalut.”


“Tanpa sayap ya, kak.”


Zelvin mengangguk. “Datang bulannya suka sakit nggak? Biar sekalian beli obatnya.” 


Liora mengangguk.


“Diam saja disini, jangan banyak gerak, luka kamu belum sembuh sepenuhnya. Saya panggil Alice untuk menemani kamu,” tutur Zelvin.


"Iya kak."


...****************...


“Masih sakit?” tanya Zelvin


Liora mengangguk, dia memiringkan tubuhnya lalu menatap Zelvin dengan tatapan kesakitan. “Sakit banget, kak.”


“Kita ke rumah sakit ya?”


Liora menggelengkan kepalanya, “Nggak mau. Beberapa jam kemudian juga pasti hilang sakitnya.”


“Tapi sekarang kamu kesakitan,” ucap Zelvin.


Liora bersikukuh tidak ingin. Di memegang perutnya.


“Tunggu sebentar.”


Zelvin turun dari ranjang, dia berlari keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa warm water zak di tangannya.


“Maaf ya,” ucap Zelvin sambil menempelkan kompresannya di perut Liora.


“Kamu kok dapet ini, dari mana?” tanya Liora.


“Tadi, pas saya bingung tiba-tiba ada Alice terus ngasih itu karena di saat datang bulan dia selalu pakai itu,” jelas Zelvin.


Liora mengangguk, “Lumayan sih kak,” ucap Liora.


“Serius?”


Liora mengangguk. “Ini udah mendingan.”


“Kalau gitu, nanti saya beli untuk persediaan kamu haid.”


Liora tersenyum kecil.

__ADS_1


“Haid nya jangan lama - lama ya? Saya mau ambil hak saya.”


...----------------...


__ADS_2