
"Lio, harga kamu berapa?"
"Lio, suami kamu usianya berapa tahun?"
"Lio transfer-an aman?"
"Lio, sama aku aja yuk? Berapa harganya? Biar aku transfer sekarang nih!"
"Murahan!"
"Dasar wanita jal*ng!'
Liora mengepalkan tangannya. Selama dia berjalan di koridor, banyak sekali mahasiswa-mahasiswi yang melayangkan pertanyaan yang tidak senonoh kepada Liora. Bahkan banyak dari mereka menunjukan ketidaksukaannya terhadap Liora.
Ada juga perempuan-perempuan yang secara terang-terangan menghina Liora. Buku yang dia pegang di cekal dengan sangat erat untuk menahan emosinya. Liora mengangkat wajahnya, tatapannya tidak sengaja melihat Alvin yang jaraknya cukup jauh dari nya. Untuk kali ini, Liora lebih memilih membuang wajahnya dari pada menatap Alvin.
"Lio, si Alvin nggak mampu bayar kamu ya? Sama aku saja gimana?"
"Liora, mau berapa nih ditransfer nya?"
"DIAM!" bentak Liora sudah tidak tahan dengan ucapan-ucapan kasar yang orang-orang itu lontarkan kepadanya.
Napas Liora tidak beraturan karena dia sudah terlanjur emosi. "Kalian nggak tau malu apa hah? Kalian semua umur berapa sih? 3 tahun? 4 tahun? Kalau gitu pantas kalian semua bodoh. Sangat bodoh. Dengan otak bodoh kalian, kalian mudah percaya dengan berita yang tidak benar. Kalian seolah-olah bersikap kalian yang paling tahu dan benar dalam hidup aku. Nyatanya, kalian semua itu bodoh!" ucap Liora berapi-api.
"Apa kalian pernah meminta klarifikasi dari aku? Yang menjadi tokoh utama dalam gosip kalian itu aku. Apa kalian bertanya ke aku untuk meminta kebenarannya? Nggak kan? Lalu, untuk apa kalian bersikap seolah kalian maha tahu?"
Mereka semua terdiam, menatap Liora dengan tatapan yang mengejek. Tak lama kemudian, gelak tawa mereka terdengar dengan sangat keras. Mereka menertawakan Liora.
"Hahaha, kamu malu ya? Seenaknya ngatain kita bodoh. Kalau jal*ng ya udah sih, jangan bersembunyi dibalik batu. Gapapa Lio, yang melakukan itu bukan kamu saja kok di bumi ini," ejek salah satu mahasiswi itu.
DUG!
Liora kaget ketika seseorang melemparnya dengan susu kotak. Liora menoleh, dia menatap salah satu mahasiswi yang menggunakan blazer hitam.
"Sudah selesai pidatonya? Sudah selesai dramanya? Kalau berita itu nggak benar, untuk apa kamu marah? Bukannya kalau kamu marah, itu menunjukan bahwa berita itu benar?" sinis mahasiswi itu.
Liora tersenyum sinis, "Sini, gantikan posisi aku. Gimana--"
BYUR!
Liora terkejut ketika seseorang menumpahkan minumannya tepat di wajah Liora. Lea. Wanita itu tersenyum sinis ketika melihat penampilan Liora semakin kacau dan berantakan.
"Bukan kah kalimat itu selalu digunakan oleh orang yang lemah? Kamu minta kita gantikan posisi kamu? Maksud kamu kita semua harus menjual diri gitu? Sorry Lio, kita berbeda. kamu ja.lang, kita sih bukan." Lea melipatkan tangannya di dada.
"Benar seperti ucapan dia, kalau berita itu nggak benar, untuk apa kamu marah hem?" sinis Lea.
Liora langsung terdiam, dia tidak bisa lagi menahan air mata nya. Liora ingin menangis.
"Huuuuu!"
Kerumunan ini bubar ketika melihat Liora yang hanya diam sambil menundukkan kepala nya.
__ADS_1
Jika saja Jayden dan Yuna mengetahui ini, pasti mereka akan sangat murka dan bisa saja Jayden menghukum semua mahasiswa-mahasiswi yang menghina dan mencemooh putrinya. Tapi Liora tidak pernah menceritakan masalahnya kepada kedua orang tuanya, bahkan dia kuliah pun di kampus lain bukan di Imperial College kampus milik keluarganya.
...****************...
"Brengsek kamu Al! Bedebah sialan, kamu!" umpat Rafael kesal. Jujur saja, Rafael baru sekarang mengetahui gosip tentang Liora.
Rafael langsung di kaget kan dengan Liora yang di bully oleh mahasiswi dan mahasiswa di kampus, Rafael sendiri melihat keadaan Liora yang berantakan dan kacau. Dan Rafael, benar benar merasa prihatin. Tapi lebih prihatin lagi dengan sahabatnya yang sedang dekat dengan Lea, sebodoh itu kah?
Alvin menatap Rafael, dia melihat tatapan kemarahan dari Rafael. Ya, Alvin sudah menebak ini akan terjadi jika Rafael mengetahui semua.
"Secara nggak langsung, titik masalah Liora itu ada di kamu, brengsek. Kamu mikir nggak sih Al, sebelum bertindak? Kamu dekat dengan Lea terus cerita tentang pernikahan dia, secara disengaja kamu fitnah Liora dan menjatuhkan orang yang kamu cinta--"
"Aku nggak cinta sama dia." potong Alvin dengan tegas.
Rafael berdecih, dia menatap tajam Alvin. "Apa kamu bilang? Nggak cinta? Serius? Siapa yang tiap hari rela melewati kelas Liora, padahal kelas dia sama gedung kita jauh. Siapa yang selalu liatin Liora saat di perpus? Itu kamu sebut nggak cinta? Kamu sangat munafik, sialan!" sarkas Rafael.
Rafael mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Alvin. Di kelasnya, Alvin adalah mahasiswa terpintar yang selalu di banggakan oleh para dosen. Selain pintar, Alvin juga sangat rajin dalam tugas. Tapi untuk hal ini, Rafael nobatkan Alvin pria terbodoh yang dia kenal.
"Aku sangat kecewa sama kamu, Al. Aku kenal kamu lama, tapi untuk kali ini aku benar-benar kecewa sama kebodohan kamu."
"Liora gadis baik Al, jangan sakiti dia, aku mohon. Cukup jauhi dia saja, jangan seperti ini, aku nggak kuat liatnya, Al," ucap Rafael memohon.
"Aku, Jennie atau mungkin kamu, pasti kita merasakan kebaikan Liora. Aku mohon Al, kalau kamu kecewa, cukup jauhi dia saja, jangan siksa dia dengan seluruh mahasiswa," sambung Rafael membuat Alvin langsung terdiam.
...****************...
Liora merenung. Dia sudah lelah untuk menangis. Setelah pulang dari kampus dengan menggunakan bus, Liora segera membersihkan dirinya dan mengurung diri di kamar.
"Kak, kamu mau mandi dulu? Kamu sudah makan? Aku panaskan lagi ya makanan yang tadi siang?" tawar Liora.
Zelvin menatap Liora, dia mengerutkan keningnya ketika melihat mata Liora yang sangat sembab. Ada apa dengan gadis ini?
"Siapkan air hangat, lalu antarkan kopi ke ruang kerja saya," suruh Zelvin.
Liora mengangguk, dia segera menjalankannya. Disisi lain, Zelvin berusaha bertanya tanya kepada dirinya, karena mata Liora sangat sembab.
Untuk hari ini, Zelvin tidak melakukan hal aneh yang menyakiti hati Liora, karena terakhir kali mereka bertemu tadi pagi dan hubungan mereka baik-baik saja. Lalu sekarang? Zelvin tidak ingin terus bertanya-tanya, setelah selesai mandi, Zelvin segera ke ruang kerjanya.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk," sahut Zelvin.
Liora masuk ke dalam dengan membawa segelas kopi. "Ini Kak kopinya."
"Duduk!" titah Zelvin.
Liora mengerutkan keningnya heran, tapi dia tetap duduk di hadapan Zelvin.
"Kamu ada masalah?" tanya Zelvin menyelidik.
Liora menggelengkan kepala nya, "Nggak kok kak, ke--"
__ADS_1
Omongan Liora terpotong saat Zelvin tiba-tiba berdiri dari kursi nya dan berjalan mendekat ke arahnya. Zelvin memegang dagu Liora, lalu menariknya untuk mendongak. "Masih mau menyangkal? Mata kamu sembab, hidung kamu merah, atau mau saya bawa kaca kesini?" ucap Zelvin menatap tajam Liora.
"Kak..." lirih Liora.
"Kenapa, hem?"
Liora menatap Zelvin dengan berkaca-kaca, di keadaan seperti ini Zelvin merasa kasihan tapi dia juga memuji kecantikan Liora ketika menangis. Liora memeluk Zelvin, melingkarkan tangannya di pinggang Zelvin.
Zelvin mengelus puncak kepala istri kecilnya, entah apa yang Liora hadapi tapi perasaannya sedikit bergetar ketika melihat Liora menangis seperti ini. Liora semakin mempererat pelukannya.
Liora melepaskan pelukannya, dia menghapus air matanya dengan masih terisak.
"Keanna," panggil Zelvin dengan lembut, "Masih nggak mau cerita?"
Liora hanya terdiam.
"Gapapa, masih mau nangis? Atau kita jalan-jalan keluar?" tawar Zelvin.
"Jalan-jalan keluar," ucap Liora.
Zelvin mengangguk. 'Saya pastikan dia akan menderita karena membuat kamu bersedih seperti ini,' batin Zelvin
Makan. Makan adalah obat paling ampuh untuk segala kesedihan. Zelvin mengajak Liora makan di restoran favoritnya ketika jaman dulu. Ajakan Zelvin benar-benar membuat Liora sedikit menghilangkan kesedihannya, buktinya sekarang suasana hatinya mulai membaik.
"Masih mau nambah?" tawar Zelvin.
Liora menggelengkan kepala nya. Dia sudah menghabiskan 3 porsi pasta, sedangkan Zelvin hanya menatap Liora yang terus makan dan tidak ada kenyangnya. "Aku mau beli ice cream, tapi sebelum ke kedainya aku mau mampir ke toko buku dulu ya?"
Zelvin mengangguk menuruti permintaan istrinya itu.
Setelah Liora selesai, Zelvin segera membayarnya dan mengajak nya keluar dari restoran ini. "Ahk!" ringis Liora.
Zelvin memegang tangan Liora dengan erat supaya gadis itu tidak kehilangan keseimbangannya. "Ada apa?"
"Kaki aku sakit banget," adu Liora Zelvin berjongkok di depan kaki Liora, dia melepaskan sepatu Liora untuk memeriksa kaki Liora.
"Kenapa nggak pakai kaos kaki kalau pake sepatu ini? Kaki kamu lecet," ucap Zelvin.
"Hah? Masa?"
Zelvin membawa sepatu Liora, dia melepaskan sandalnya.
"Pakai sandal saya, kita cari sandal di depan untuk kamu."
"Terus? Kak Zelvin?"
"Gapapa nanti ada sandal cadangan di mobil, ayo." ajak Zelvin.
Liora mengangguk, dia memakai sandal Zelvin. Dia tersenyum dengan perilaku Zelvin yang sangat manis. Jika seperti ini, Liora rela bersedih setiap hari jika yang menghiburnya Zelvin.
...----------------...
__ADS_1