Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Liora dan Givanno


__ADS_3

Semua orang sedang bercengkerama di ruang tengah mansion, mereka terlihat sangat asik dengan pembicaraannya.


"Kenapa wajah keponakan ku terlihat begitu mirip dengan mu?" tanya Jayden mengernyit. Yang saat ini sedang menggendong baby Daniel Choi, anak dari pasangan William dan Qiara.


"Jika dia terlihat seperti orang lain, berarti dia bukan anakku!" ucap William kesal.


Semua orang yang melihat tingkah Jayden dan William, hanya bisa terkekeh. Dari kecil mereka berdua memang di kenal tidak pernah akur Pasti selalu saja ada hal yang membuat mereka adu mulut. Namun semenjak Jordan meninggal, sifat Jayden langsung berubah drastis. Tapi sifat Jayden kembali saat ia telah mengenal Yuna.


Yuna tidak mengalihkan tatapannya, barang sedetikpun dari Jayden. Ia melihat Jayden yang begitu sayang kepada keponakannya itu. Jayden menggendong baby Daniel seperti seorang ayah. Yuna selalu di buat tersenyum oleh kelakuan Jayden. Pria itu sudah sangat cocok menjadi seorang Ayah untuk anaknya kelak.


"Lihatlah, sayang. Aku sedang berlatih menggendong, apa aku sudah berhasil?"


Yuna tersadar dari lamunannya karena pertanyaan suaminya. "Kamu terlihat masih kaku. Namun itu tidak masalah, nanti Kamu akan terbiasa!" Jayden menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Pria itu terlihat sangat senang sekali menggendong seorang bayi. Jayden terlihat sangat lucu.


"Nak, apa Kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Brianna yang berada di sisi kiri Yuna.


"Sudah Nek-"


"Baby girl, Nek! Aku sudah tidak sabar ingin segera memanjakannya!" potong Jayden dengan semangat.


Semua orang terlihat sangat bahagia mendengar hal itu. Terutama Justin dan William.


"Aku akan membuatkan kebun bunga serta Playground untuk cicit ku!" sahut Justin antusias.


"Sayangnya kakek sudah terlambat. Pria itu, sudah terlebih dahulu membuatnya!" Yuna menatap Jayden dengan sangat tajam.


Bagaimana tidak, disaat untuk pertama kalinya mereka mengetahui jenis kelamin sang anak, Jayden segera menyuruh Robert untuk mempersiapkan pembangunan sebuah Playground berada di samping mansion-nya.


Jujur, Yuna merasa kurang setuju dengan keputusan Jayden. Jayden sangat antusias sekali menyiapkan seluruh kebutuhan untuk calon putrinya itu.


Bahkan dia sudah menyiapkan kamar dengan setumpuk mainan serta boneka. Dan tentu saja, mainan itu berjumlah tidak sedikit dan juga tidak murah.


"Benarkah? Tapi tidak masalah. Aku akan tetap membuatnya di mansion ini. Jikalau cicit-cicit ku sedang berkunjung kesini, dia bisa bermain -denganku!" kata Justin.


Lagi-lagi Yuna dibuat tidak percaya. Like grandpa like grandson! Itu memang sangat benar sekali. Ia berharap, jika putri maupun putranya nanti tidak memiliki sikap yang sama seperti Jayden ataupun Justin.


...****************...


6 tahun kemudian...


Ruang kamar dipenuhi oleh suara desah@n dan er@ngan dari dua insan yang sedang memadu kasih. Mereka tenggelam dalam gairah cinta yang tidak pernah berkurang sedikitpun. Sudah banyak air mata yang terbuang dalam kehidupan rumah tangga mereka, namun mereka selalu saling menguatkan diri satu sama lain.


Berharap jika hari esok adalah hari yang membahagiakan bagi mereka. Tidak ada satu keluarga pun yang tidak memiliki masalah dalam rumah tangganya. Semua itu kembali lagi pada mereka yang bisa melewati masalah itu atau tidak. Tidak sedikit orang yang menyerah dengan cobaan rumah tangga mereka.


Tidak sedikit pula orang yang berjuang untuk mempertahankan rumah tangga mereka, walaupun harus banyak pengorbanan yang mereka lakukan. Bahkan diantara mereka terdapat orang yang berani mempertaruhkan nyawanya, hanya untuk mempertahankan rumah tangganya. Salah satunya adalah, Jayden.


"Aku mencintaimu, Yuna. Sangat."


Hal itulah yang selalu ia ucapkan di setiap harinya. Tidak pernah terlewat satu hari pun tanpa mengucapkan kata cinta itu, walau kini usia pernikahan mereka sudah 5 tahun lebih. Mungkin sebagian orang akan menganggap berlebihan, dan adapula diantara mereka yang beranggapan jika kebanyakan dari orang-orang yang sering mengucapkan hal itu pada akhirnya ia akan berdusta. Namun tidak bagi Jayden. Dia akan mempertanggung jawabkan apa yang dia ucapkan.


Tidak hanya lewat kata-kata, banyak sekali tindakannya yang selalu membuktikan jika dirinya memang sangat mencintai wanitanya.


Jayden mengerang nikmat di setiap hentakkan yang ia lakukan pada Yuna, agar dirinya bisa tenggelam lebih dalam pada diri Yuna.


Yuna tidak menjawab ungkapan cinta dari Jayden. Pikirannya sudah blank dipenuhi oleh kenikmatan yang pria itu berikan. Tidak perlu berkata, siapapun sudah mengetahui jika dirinya sangat mencintai suaminya itu.


"J-Jayden." Ucapan Yuna tersengal. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jayden, saat dirinya akan mencapai *******.


Yuna bergerak gelisah di bawah kungkungan Jayden. Pria itu terlihat sangat gagah di atas tubuhnya. Mendominasi atas dirinya. Jayden memagut bibir Yuna, ia mengeksplor bagian dalam dari mulut Yuna. Mereka saling membelit dan ******* satu sama lain.

__ADS_1


Terlebih ketika Yuna mencapai puncaknya, Jayden tetap tidak melepaskan cumbuannya. Hingga erangan Yuna tertahan oleh cumbuan Jayden.


Jayden tidak memberi jeda untuk Yuna agar bisa merasakan pelepasannya, ia semakin semangat untuk menggempur tubuh Yuna. Sebelum terdapat suara yang mengganggunya.


"Mommy! Mommy, buka pintunya! Mommy!" teriak seseorang dari luar kamar. Jayden dan Yuna bisa mendengar suara tangisan yang sangat nyaring dari arah luar kamar.


"J-Jayden. Hentikan. Dia menangis!" kata Yuna terbata.


"Wait a minute. Aku belum selesai!" sahut Jayden yang masih semangat menggempur tubuh Yuna.


Yuna sudah tidak bisa fokus untuk merasakan persetubuhan antara dirinya dan Jayden. Karena saat ini perhatiannya teralihkan pada suara tangisan yang semakin kencang.


"MOMMY, BUKA PINTUNYA! HUAAA...."


Yuna tersentak ketika mendengar sebuah pukulan pada pintu. Ia pun mendengar suara seseorang yang berusaha untuk menenangkan orang yang sedang menangis itu.


"Jayden. Hentikan! Aku harus segera menemuinya." Yuna mencoba untuk mendorong tubuh Jayden yang baru saja ambruk di atas tubuhnya. Namun Jayden enggan untuk beralih dari atas tubuh Yuna.


Lagi-lagi mereka mendengar teriakkan dan tendangan pada pintu kamar. Saat itu lah Jayden menjatuhkan tubuhnya ke arah samping Yuna.


"Aku pasti akan dimarahi olehnya!" gumam Yuna, seraya beranjak dari posisi tidurnya dan meraih bathrobe yang tergeletak di lantai, untuk segera ia pakai.


Jayden hanya terkekeh melihat kecemasan dari istrinya itu.


Yuna merapihkan rambutnya, menggunakan jari-jari tangannya. Sebelum ia membuka pintu kamar.


"MOMMY! HUAAAA...," teriak seorang anak kecil berusia 2 tahun, yang saat ini sedang berada di gendongan Marine.


"Maafkan saya, Nyonya. Namun Tuan Giovanno bersikeras ingin menemui Nyonya." Marine menundukkan kepalanya, merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Bi." Yuna segera meraih tubuh Giovanno dari pangkuan Marine. Setelah itu, Marine berpamit pergi dari hadapan mereka.


"Hay, Son! Jangan menyakiti Mommy mu!" kata Jayden, seraya mengecup pipi Giovanno. Namun, wajah Jayden segera di dorong oleh anak itu.


"Maafkan Mommy, Sayang. Kenapa kamu menangis, hem?" tanya Yuna dengan sangat lembut seraya menempelkan pipinya ke pipi chubby milik putranya. Giovanno mengerucutkan bibirnya, dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh air mata. Dan kedua pipinya yang memerah, hingga ia terlihat sangat lucu.


"Aku mau robot, Mommy!" teriak Giovanno.


Kening Yuna mengernyit. "Gio kan sudah memiliki banyak robot, sayang."


Giovanno menggelengkan kepalanya. "Kak Liora merusak robot ku! I hate her!" kesalnya.


Liora Keanna Choi merupakan anak pertama dari Jayden dan Yuna yang sudah berumur 5 tahunan, sedangkan Givanno Axel Choi, anak kedua mereka.


Jayden dan Yuna menaikkan kedua alisnya. "Gio, nggak boleh begitu sama kak Liora," ucap Yuna menasehati putranya.


"Daddy, belikan Gio robot! Please, Daddy!" Giovanno menoleh ke arah Jayden, dengan wajah memelas, Dan matanya yang berair, akibat tangisannya tadi. Berbeda dengan Yuna yang memperingati Jayden agar tidak menuruti keinginan anaknya.


"Oke, Daddy akan membelikan mu sebuah robot. But, kiss me first!" Jayden mendekatkan wajahnya ke arah Giovanno.


Giovanno dengan semangat, segera mengecup pipi Jayden.


"Good Boy! Nanti Daddy akan membelikannya untukmu!" ucap Jayden tersenyum, seraya mengambil alih Giovanno dari Yuna.


"Nope, Daddy. Aku ingin beli robot factory itu sekarang juga!"


Yuna membulatkan kedua bola matanya, karena saking shock mendengar permintaan putranya.


"Hey, sayang. Jangan seperti itu! kamu sudah memiliki banyak mainan. Jangan meminta hal yang an--"

__ADS_1


"Deal!" Potong Jayden seraya mengecup pipi merah Giovanno.


"Jayden!" bentak Yuna, menatap Jayden dengan tatapan yang menusuk.


"Yeay Daddy! I love Daddy! I love Daddy!" teriak Giovanno girang dengan kedua tangannya yang terangkat ke atas.


Jayden terkekeh melihat putranya. Ia memberikan hujanan kecupan pada wajah Giovanno.


"I love you so much, my Son! Nanti Daddy akan menyuruh paman Robert untuk menyiapkannya!" balas Jayden. Yang diangguki dengan girang oleh Giovanno.


"Jayden, kamu terlalu memanjakannya! Kamu selalu menuruti semua keinginannya. Itu akan berdampak buruk untuknya di suatu hari nanti!" Protes Yuna.


"Nggak masalah. Dia putraku. Dan aku sangat menyukai jika dia bermanja-manja padaku!" sahut Jayden.


Yuna memutar bola matanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan sikap suaminya itu.


"Kamu memainkan matamu?" Jayden menaikkan satu alisnya, seraya menatap Yuna.


Yuna hanya berdehem, sebelum mengalihkan pembicaraannya. "Lebih baik kamu ke ruang makan sekarang, sebentar lagi jam makan siang. Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."


"Baiklah, aku menunggumu di ruang makan!" Jayden mengecup kening Yuna sebelum dirinya dan Giovanno pergi dari kamar. Jayden menempatkan Giovanno di atas pundaknya.


Yuna hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar, seraya melihat punggung Jayden yang sudah menjauh darinya.


"Mommy, Daddy Liora pulang!" teriak Liora, membuat suaranya menggema di mansion itu.


"Hai princess!" sapa Jayden merentangkan kedua tangannya ke arah Liora. Liora pun dengan senang hati berhamburan ke pelukan Jayden dan Jayden langsung menggendong putrinya itu.


"Gimana main-main dirumah kakek?" tanya Jayden lembut. Sejak pagi tadi, Liora sudah di jemput oleh Lukas dan Jasmine untuk di ajak ke mansion mereka karena alasan rindu dengan cucu-cucu mereka, tapi sayang hanya Liora lah yang bisa diajak.


"Seru sekali Dad, nenek tadi membuatkan ku banyak sekali kue," ucap Liora girang membuat Jayden tersenyum mendengarnya.


"Terus kakek dan nenekku mana?" tanya Yuna yang datang bersama Giovanno di gendongannya.


"Kakek dan nenek tidak bisa masuk kesini, kata kakek tadi mereka akan pergi dan hanya menitipkan salam kepada Daddy sama Mommy," jawab Liora. Yuna dan Jayden hanya manggut-manggut.


"Liora tadi di rumah kakek sudah mandi?" tanya Yuna.


"Sudah Mom," jawab Liora mengangguk.


"Mom turun!" Givanno meminta Yuna menurunnya. Lalu pergi ke ruang tengah untuk bermain dengan mainannya yang baru saja di belikan oleh Jayden, sementara itu Liora menuju ke tempat kucing-kucingnya berada, gadis kecil itu sangat menyukai kucing sama seperti ibunya.


.


.


.


.


.


.


.


TAMAT.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2