
Pukul 6 pagi Yuna terbangun, biasanya dia sangatlah jarang bangun jam segini. Yuna meraba-raba nakas samping ranjang untuk mengambil ponselnya, dia melihat ada pesan masuk dari Jayden dan lelaki itu mengirim pesan pada pukul 1 pagi, entah apa yang dilakukan oleh Jayden sampai belum tidur di jam segitu. Yuna membuka pesan tersebut, seketika ia tersenyum saat membacanya.
From Jayden To Yuna :
Sayang, besok pagi kamu ada kelas jam 8 pagi kan? Aku jemput ya? Kita sama-sama pergi ke kampusnya, kebetulan aku juga ada kelas jam 8. See you tomorrow, love you.
Itulah isi pesan dari Jayden, Yuna tidak menjawab pesan tersebut dan memilih beranjak dari kasur lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka serta sikat gigi. Saat melihat dirinya di cermin, matanya masih sedikit sembab akibat ia menangisi William semalam.
Setelah itu Yuna keluar dari kamar, berjalan ke arah dapur, ia berinisiatif untuk membuatkan Jayden sarapan. Ah, dia memang pacar idaman.
Saat sampai ke dapur, ia melihat sang Papa sedang minum air disana, sepertinya Lukas baru saja pergi joging terlihat dari handuk kecil yang ia sampirkan di lehernya.
"Pagi Pa," sapa Yuna.
"Eh pagi juga princess Papa," balas Lukas tersenyum.
"Papa habis pergi joging ya?" tanya Yuna.
"Iya nak, kenapa?"
"Papa sendirian pergi joging nya?"
"Tadi Papa ajak Mama, tapi katanya Mama masih ngantuk. Ya udah Papa pergi aja sendirian joging nya," jelas Lukas. Yuna hanya manggut-manggut mengerti.
"Hari ini kamu ke kampus kan, nak? Masuk pagi?" tanya Lukas.
"Iya Pa, Yuna hati ini masuk jam 8," jelas Yuna.
"Mau berangkat sama Papa?" tawar Lukas.
"Nggak usah Pa, nanti Yuna berangkat sama Jayden, katanya dia yang akan menjemput Yuna," tolak Yuna halus.
"Akhirnya princess kesayangan Papa udah punya pacar juga," goda Lukas membuat Yuna tersipu malu.
"Papa apaan sih, seneng banget deh godain Yuna!" ucap Yuna pura-pura kesal.
Lukas tertawa, "Kapan-kapan ajaklah nak Jayden makan malam disini, Papa kan mau gitu ngobrol-ngobrol sama calon mantunya Papa," suruhnya. Yuna tersenyum dan mengangguk, ia tak perlu lagi meminta izin serta restu pada kedua orang tuanya mengenai hubungannya dengan Jayden, sebab mereka telah mengetahui siapa Jayden serta keluarganya.
"Iya nanti Yuna akan sampaikan kepada Jayden, Pa."
"Ya sudah kalau gitu Papa ke kamar dulu ya nak?" ujar Lukas sambil mengelus rambut Yuna.
"Iya Pa."
Setelah Luka pergi, Yuna mulai menyiapkan beberapa bahan membuat sandwich untuk sarapan Jayden nanti. Ia membuat itu agar lebih cepat dan gampang.
Yuna mengambil 6 helai potong roti gandum, lalu di atasnya ia taruh, dada ayam yang ia panggang tadi dengan di tambah beberapa bumbu, setelah itu di tumpuk lagi dengan telur dadar, sayuran, keju, saus tomat dan mayonaise.
Kurang lebih 30 menit Yuna selesai berkutat di dapur, akhirnya sandwich buatan selesai dibuat.
"Akhirnya jadi juga," ucap Yuna lega.
"Selamat pagi Nona," sapa Beatrix yang sepertinya baru keluar dari kamarnya.
"Pagi juga Bi," balas Yuna.
__ADS_1
"Nona lagi ngapain di dapur pagi-pagi gini?" tanya Beatrix.
"Biasa Bi, aku lagi buat sarapan untuk Jayden," jawab Yuna dengan jujur.
"Oh untuk Tuan tampan lesung pipi," imbuh Beatrix tersenyum sambil manggut-manggut. Wanita paruh baya itu memang sering memanggil Jayden dengan sebutan Tuan tampan lesung pipi.
"Kelak kalau Nona menikah dengannya, Bibi yakin pasti Tuan lesung pipi bahagia dan bangga punya istri seperti Nona. Udah cantik, baik, ramah, sopan dan pandai memasak lagi," sambung Beatrix memuji Yuna dan Yuna tidak suka jika sudah di puji secara berlebihan seperti itu, ia tak ingin besar kepala karena dirinya tau jika kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.
"Ah Bibi berlebihan sekali. Kalau gitu aku ke kamar dulu ya Bi, mau mandi," ujar Yuna.
"Iya silahkan Nona," balas Beatrix tersenyum.
Yuna pun langsung pergi menuju kamarnya dan bergegas untuk mandi. Selesai mandi, Yuna ke ruang wardrobe, memilih dan mengenakan pakaiannya. Ia memilih menggunakan kaos putih polos dengan luaran jaket jeans dan rok pendek berwarna hitam. Simple memang, tapi tetap saja Yuna akan terlihat cantik walaupun seperti itu.
Seperti biasa Yuna memoles wajahnya dengan make-up, setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Disana kedua orang tuanya sudah mulai sarapan.
Tak lupa Yuna menyapa mereka, lalu duduk di samping sang Mama. Yuna memilih sarapan dengan wafel yang disiram saus karamel.
Disela-sela sarapan, ponsel Yuna berdering tanda jika ada orang yang menelponnya.
"Siapa yang nelpon nak?" tanya Jasmine.
"Jayden, Ma," jawab Yuna.
"Ya sudah kamu angkat saja," suruh Lukas.
Yuna mengangguk, ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Jayden.
"Pagi sayang," sapa Jayden. Terdengar laki-laki itu seperti sedang di perjalanan.
"Sekitar 15 menit lagi aku sampai di mansion kamu. Kamu udah siap kan?" tanya Jayden.
"Iya aku udah siap kok."
"Ya sudah tunggu aku."
"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan."
"Iya sayang, bye."
Setelah itu Yuna segera mematikan sambungan teleponnya tersebut.
"Besok malam ajak nak Jayden untuk makan malam disini sayang," suruh Jasmine.
"Iya Ma, nanti Yuna sampaikan ke Jayden, semoga saja dia nggak sibuk," ucap Yuna.
"Iya nak, ayo lanjutkan sarapan kamu."
Yuna hanya mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatan sarapannya yang tertunda tadi.
Beberapa saat kemudian, Lukas pun pamit untuk berangkat bekerja. Tak lupa, ia mencium kening sang istri dan puncak kepala Yuna sebelum benar-benar ia pergi meninggalkan mansion menuju ke perusahaannya. Tak lama, Jasmine juga pamit untuk berangkat ke butiknya.
"Kalau gitu Mama juga mau berangkat kerja dulu." Jasmine beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Yuna dan mencium pucuk kepala putrinya itu.
"Mama hati-hati di jalan," pesan Yuna.
__ADS_1
"Iya sayang, bye."
"Bye, Ma."
Kini Yuna sendirian di ruang makan, saat hendak berdiri dari kursi, ponsel Yuna kembali berbunyi dan Jayden yang menelepon. Lelaki itu berkata jika dirinya sudah berada di halaman mansion.
Yuna segera mengambil tas serta kotak nasi yang berisi sandwich buatannya dan bergegas menuju keluar, ia tak ingin Jayden lama menunggunya.
Seperti biasa Jayden berdiri sambil menunggu Yuna di depan mobilnya.
"Hai sayang," sapa Yuna.
"Hai sayang. Eh kok pakaian kita bisa senada gitu ya? Coba liat deh, kamu pakai baju di dalamnya warna putih aku pun begitu, jaket warnanya sama. Celana aku dan rok yang kamu pakai aja warnanya sama. Sama-sama warna hitam," ucap Jayden menelaah pakaian yang ia dan Yuna kenakan dengan warna yang senada.
Yuna pun lalu melihat pakaiannya dan pakaian yang dikenakan oleh Jayden.
"Iya kok bisa sama? Padahal kita nggak janjian loh," ucap Yuna heran.
"Apa ini yang dinamakan jodoh?" tanya Jayden sambil menaik turunkan alisnya. Bibir Yuna tidak bisa tidak menyunggingkan senyuman saat mendengar ucapan Jayden tadi.
"Kamu bisa aja deh, ayo berangkat."
"Iya sayang."
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.
"Kamu udah sarapan?" tanya Yuna.
"Belum sayang," jawab Jayden sambil menatap ke arah Yuna.
"Kamu kebiasaan deh nggak sarapan dulu!" omel Yuna, tapi untungnya tadi ia sempat membuatkan Jayden sarapan karena Yuna tau pasti kekasihnya itu bakal tidak sarapan di mansion nya.
"Iya, soalnya tadi aku telat bangun sayang," jelas Jayden.
"Kebetulan aku buatin sarapan sandwich buah nih untuk kamu," ujar Yuna membuka kotak nasi bawaannya tadi.
"Wah pasti enak, makasih sayang. Ini kamu yang buat?" tanya Jayden.
"Iya aku yang buat," jawab Yuna.
"Pinter banget sih masak calon istriku ini," ucap Jayden sambil mengusap rambut Yuna membuat sang empu tersipu malu.
"Kamu mau makan sekarang, apa nanti pas sampai di kampus?" tanya Yuna.
"Hem, makan sekarang aja sambil aku nyetir, tapi kamu yang suapi ya?" pinta Jayden.
"Ya nanti aku suapi, lebih baik sekarang kita jalan, nanti takutnya kita telat."
Jayden mengangguk lalu mulai mengendarai mobilnya meninggalkan mansion Yuna menuju ke imperial college. Selama di perjalanan tangan Yuna menyuapi Jayden yang tengah menyetir itu.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Yuna was-was, takutnya sandwich buatannya tidak enak.
"Makanan buatan kamu selalu enak sayang," jawab Jayden membuat Yuna bernapas lega.
...----------------...
__ADS_1