
"Kalian?"
Liora mengerutkan keningnya ketika membuka pintu rumah, dia di kagetkan dengan keberadaan Alice dan Griffin. Apalagi penampilan keduanya terlihat berantakan. Alice yang menggunakan piyama tidur, rambut berantakan dan dengan wajah yang di tekuk sebal. Sedangkan Griffin, pria itu hanya menggunakan kaos polos dan celana pendek.
"Selamat malam Nyonya Liora. Maaf kami mengganggu waktu anda, tapi suami anda mengganggu Waktu kami jika anda ingin tahu," ucap Alice dengan sedikit ketus.
"Ha? Maksudnya?" beo Liora bingung.
"Tuan Zelvin minta kami untuk membeli peralatan untuk camping besok. Ini cemilan dan peralatan untuk camping nya. Mau saya bantu bawa ke dalam atau disini saja?" tanya Griffin.
"Jadi kak Zelvin menyuruh kalian?" tanya Liora.
Alice mengangguk dengan cepat. Dia kesal kepada bos nya yang mengganggu waktu tidur cantiknya. Dia juga mengancam akan memecatnya jika tidak dituruti. "Nih ya Nyonya, Tuan Zelvin itu tadi ganggu tidur saya. Jujurly ya Nyonya, sebenarnya saya nggak mau karena ini bukan jam kerja saya. Tapi, dia maksa saya Nyonya," ucap Alice mengadu pada Liora.
"Kalian mau mengadu ke istri saya?" celetuk Zelvin yang tiba tiba saja ada di belakang Liora membuat Griffin dan Alice terkejut.
Alice seketika nyengir kuda, "Eh? Selamat malam Tuan Zelvin."
Zelvin memutarkan bola matanya malas, "Masukan ke dalam. Tolong masukkan ke dalam tas, harus rapi!" perintah Zelvin pada Alice dan Griffin.
"Hah? Gila kali ya, Tuan! Tuan nggak liat ini jam berapa? Jam 11 Tuan. Saya ngantuk. Besok saya harus kerja!" protes Alice, dia sudah benar benar tidak bisa sabar lagi. Sembarangan saja.
Griffin menyenggol Alice, "Ya ampun mulut kamu, Alice. Bisa diam nggak sih!" bisik Griffin.
"Besok kamu nggak usah kerja!" ucap Zelvin menatap Alice.
Alice mengerutkan keningnya, "Kenapa Tuan?"
"Kamu saya pecat!" ucap Zelvin ketus. Alice membulatkan matanya, dia tidak percaya dengan ucapan atasannya tadi.
"Hah? Ya ampun Tuan! Tadi itu saya cuma bercanda, iya saya bercanda. Iya Tuan, ini saya sama si Griffin mau menyiapkan semuanya."
"Nggak--" Alice memotong ucapan Zelvin dengan cepat.
"Nyonya bantu saya dong, masa saya di pecat. Tuan Zelvin nih nggak bisa diajak bercanda," ucap Alice menatap Liora dengan tatapan memohon.
"Kak Zelvin..."
Zelvin menoleh, menatap Liora. Tangannya menarik pinggang Liora untuk merapat dengannya, "Kalian cepat masuk ke dalam!"
"Tapi saya nggak di pecat kan, Tuan?" tanya Alice.
"Tanya istri saya," ucap Zelvin.
"Nyonya, saya nggak di pecat kan?" tanya Alice menatap Liora.
Liora menggelengkan kepalanya. "Kamu masih kerja disana."
Alice bernafas lega setelah senam jantung.
...****************...
"Jangan tidur ke jendela," ucap Zelvin sambil menarik kepala Liora untuk tertidur di pundaknya.
Liora mendongak, dia menatap dengan jelas wajah tampan Zelvin.
Kini Liora dan Zelvin sudah berada di dalam bus khusus untuk orang tua, Sedangkan Emmanuel dia berada di bus khusus untuk murid dan para guru-guru. Emmanuel sedikit rewel karena ingin bersama Liora, tapi gurunya berhasil membujuk Emmanuel.
"Mual?" tanya Zelvin ketika melihat wajah pucat Liora.
Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak, memangnya kenapa, kak?"
"Wajah kamu terlihat pucat."
"Aku memang nggak pakai make-up kak, tadi buru-buru soalnya. Pake lip balm saja nggak sempat," ungkap Liora.
"Kenapa?"
"Emmanuel selalu minta aku cepat-cepat padahal waktunya masih lama."
Zelvin menatap dengan lekat wajah Liora. Ingat, tanpa make-up. Dan Zelvin mengakui bahwa Liora sangat cantik. Wajahnya terlihat pucat, tapi tetap cantik. Pokoknya Liora cantik.
Liora mencari kenyamanan di pundak Zelvin. Zelvin yang memerhatikan Liora, dia mengelus kepala Liora untuk memberinya kenyamanan karena Zelvin terganggu jika Liora terus banyak gerak seperti ini. Sedikit cerita.
Kemarin, setelah Alice dan Griffin selesai menyelesaikan tugasnya. Zelvin kembali memberi tugas kepada sekertaris dan asistennya itu, yaitu mengerjakan skripsi Liora.
Gila bukan? Tapi meski begitu, Zelvin akan memberi bonus kepada mereka sebesar 10 juta yang membuat mereka terpaksa menganggukkan kepalanya. Sebut saja Zelvin gila. Itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
Padahal Liora masih mampu menyelesaikannya, tapi Zelvin malah menyuruh mereka dan melayangkan 20 juta dengan percuma.
Kembali lagi. Liora membuang nafas panjang karena dia sudah duduk di dalam bus selama 3 jam. Dia mulai jenuh, apalagi ketika melihat Zelvin yang tertidur pulas.
Liora berusaha untuk tidur tapi dia tidak bisa. Liora menatap Zelvin, dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh hidung mancung Zelvin, lalu turun kesamping untuk menyentuh pipi Zelvin.
SRT!
Liora terkejut. Tiba tiba saja tangganya di cekal oleh tangan besar milik Zelvin.
Zelvin membuka matanya, "Mau apa, hem?"
"Kamu tampan, kak," ucap Zelvin jujur.
"Saya tahu, lalu?" balas Zelvin dengan wajah angkuhnya.
Liora berdecak, "Nggak tau ah."
...****************...
"Kita berdiri kan tendanya disini?" tanya Liora untuk yang keempat kalinya.
Zelvin mengangguk, "Iya, Keanna."
Liora langsung terdiam ketika menyebutkan dengan nama itu. Rasanya, sulit untuk membalasnya. "Kita disini saja, biar tenda Emmanuel terlihat dari sini dan juga ini nggak jauh dari murid lainnya," tutur Zelvin sambil memasangkan tendanya.
"Kamu bisa, kak?"
Zelvin mengangguk, "It's easy, Liora. Kamu liat saja Emmanuel, dari tadi dia tidak menghampiri kita."
"Emmanuel lagi main sama teman-temannya, kak."
Zelvin mengangguk. Akhirnya telah selesai, dia berdiri dan menepuk tangannya supaya tidak kotor.
"Selesai. Masuk ke dalam, bawa juga semua nya. Susun biar nggak berantakan," perintah Zelvin.
Liora mengangguk. Dia masuk ke dalam tenda sambil membawa tas mereka. Sebenarnya isi nya tidak banyak, hanya ada pakaian dan beberapa cemilan saja karena Zelvin melarangnya untuk membawa banyak barang. Zelvin masuk ke dalam tenda. Semua nya sudah rapih, Zelvin tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Kamu capek? Istirahat saja, nanti kalau ada apa-apa saya bangunin."
Liora mengangguk. Dia mengeluarkan bantal tiup yang di beli oleh Griffin. Zelvin mengambil alih bantal tersebut, lalu dia mengisi angin bantalnya.
Zelvin hanya mengangguk.
...****************...
"Mama Liora!"
Liora tersenyum melihat Emmanuel yang berlari ke arahnya. Liora dan Zelvin sedang duduk di atas carpet yang Zelvin minta dari salah satu guru Emmanuel.
Emmanuel memeluk Liora, "Aku suka , camping nya, sangat seru. Mama Liora gimana?" tanya Emmanuel.
"Sama seperti kamu, sayang." jawab Liora.
"Tadi aku bermain sama teman-temanku. Katanya, nanti malam akan ada api unggun. Mama mau liat?"
Liora menggelengkan kepala nya, "Enggak dulu ya? Mama mau disini aja, liatin kamu."
Emmanuel mengangguk, "Gapapa. Daddy, jagain mama Liora ya."
Zelvin mengangguk, tanpa disuruh pun Zelvin akan selalu menjaga Liora.
"Ya sudah, kesana lagi gih, kamu nggak malu diliatin teman-teman?" goda Liora.
Emmanuel menggelengkan kepala nya, "Enggak, ma. Aku rindu. Aku mau tidur sama mama, tapi bu guru larang aku," ucapnya lesu.
Liora memberikan senyuman manisnya. "Gapapa dong, ini kan namanya camping. Alasan mama ikut kamu itu biar bisa liat . kamu bahagia, bukan murung seperti ini. Gapapa ya? Mama sama Daddy kan tendanya ada di depan kamu."
Emmanuel mengangguk "Nanti jangan lupa pakai jaket ya, ada di tas kamu, dingin soalnya," pesan Liora.
Emmanuel mengangguk, lalu dia melambaikan tangannya sebelum menghampiri teman-temannya. Anak itu mulai menunjukan ekspresinya, tidak seperti dulu yang selalu jutek dan ketus. Liora senang atas perubahan Emmanuel.
"Kamu juga pakai jaket, ini mau malam, dingin," perintah Zelvin.
Liora mengangguk, dia masuk ke dalam tenda untuk mengambil jaket dan keluar lagi. "Lapar nggak?" tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepala nya, "Enggak, kak."
__ADS_1
"Serius? Kita bisa bikin mie,"
Liora mengangguk, "Nanti saja, aku masih kenyang, kak."
"Ya sudah."
Malam sudah tiba. Semua acara sudah diberhentikan, seluruh murid masuk ke dalam tenda nya masing-masing begitupun dengan para orang tua nya. Seperti Liora, gadis itu tidak bisa tidur akibat banyak suara yang dia dengar seperti jangkrik, dan lainnya.
"Tidur, Keanna," perintah Zelvin sambil memeluk Liora dengan erat, karena tubuh Liora sangat hangat untuknya yang sedang kedinginan.
"Nggak bisa, kak. Ini berisik," jawab Liora.
"Iya memang seperti ini kan kalau camping, memangnya kamu nggak pernah?" tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepala nya, "Aku nggak pernah, dari dulu Daddy nggak pernah mengizinkan aku karena aku akan susah tidur."
Zelvin bangun dari tidurnya, dia menatap Liora dengan lekat. "Kenapa nggak bilang? Kalau tau kaya gini, saya akan nyuruh Moana untuk ikut Emmanuel."
"Aku nggak mau bikin Emmanuel sedih,"
Zelvin membuang nafasnya, jangan lupakan kalau Liora itu tidak enakan. Zelvin tidur lagi, dia menarik pinggang Liora untuk mendekat. Liora mendongak untuk menatap Zelvin dan pada akhirnya
Cup!
Zelvin mencium bibir Liora. Dia ******* bibir Liora dengan lembut, sesekali menggigit bibir bawah Liora. Bibir Liora sangat manis, bahkan bibir ini telah menjadi candu, untuknya. Tidak ada bibir yang semanis dan selembut Liora.
Ciuman Zelvin berhenti, dia menatap Liora. "Kamu ganti lip tint?"
Liora mengangguk, "Iya."
Zelvin menarik ujung bibirnya, "Saya lebih suka yang ini. Sangat manis."
Zelvin kembali mencium bibir Liora.Ciuman Zelvin turun ke leher putih Liora. Dia memberikan beberapa kecupan, membuat Liora mendes*h tertahan.
"Emh kakhh sudah," pinta Liora.
Zelvin langsung berhenti, dia melihat wajah Liora yang semakin memerah. Sangat menggemaskan.
Zelvin langsung memeluk Liora dengan erat. "Tidur ya? Coba pejamkan mata kamu, bayangkan hal yang buat kamu bisa tidur," instruksi Zelvin.
Liora melakukannya, perlahan rasa kantuknya mulai menyerangnya. Dan akhirnya, dia berhasil tertidur. Zelvin terkekeh, katanya nggak bisa tidur. Tapi gini saja, sudah tidur. Astagaaaaa
"Kak!" panggil Liora.
Zelvin langsung membuka mata nya ketika mendengar teriakan Liora. "Ada apa?"
"Aku mau buang air kecil kak, anter," pinta Liora.
'"Sediri aja, Liora. Ini sudah malam, saya ngantuk," tolak Zelvin.
"Iya, karena ini udah malam makannya saya minta anter. Aku takut kak," cicit Liora.
Zelvin langsung duduk dengan mata yang sayu. Dia sangat ngantuk, tapi gadis-nya selalu mengganggu "Mau buang air kecil? Ayo!" ajak Zelvin
Mereka keluar tadi tenda. Liora menggandeng tangan Zelvin, karena suasananya yang membuat dirinya takut. Zelvin menatap tangannya yang besar di gandeng dengan tangan yang kecil.
KRAKK!
"Apa itu?" tanya Liora ketika mendengar suara.
"Kamu terlalu parno, itu bukan apa-apa, Liora."
Mereka sudah berada di toilet yang disediakan. Liora masuk ke dalam dan meminta Zelvin untuk menunggunya. Liora keluar, dia tersenyum. "Akhirnya, udah lega perut aku."
Mereka kembali lagi ke tenda. Sebenarnya, Liora tidak tega melihat Keadaan Zelvin. Dia yakin, pria itu sangat kelelahan karena dari tadi yang mengurus segalanya adalah Zelvin.
"Lio, mau ke hotel? Saya meminta supir untuk menyusul kita, dia ada di parkiran. Saya nggak tega liat kamu seperti ini," tawar Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya, "Enggak mau, aku janji nggak akan ganggu kak Zelvin lagi."
Tangan Zelvin terulur untuk merapikan rambut yang berantakan. "Bukan masalah mengganggu, tapi kamu terlihat kurang nyaman."
"Aku nyaman!"
Zelvin memutarkan bola matanya malas, "Oke, sekarang tidur."
Liora mengangguk nurut.
__ADS_1
...----------------...