
Sedangkan di mansion Jayden, laki-laki itu tengah di periksa oleh Dokter pribadi keluarganya. Disana juga ada Felix yang menemani Jayden, ia duduk di sofa yang ada di kamar Jayden sambil memainkan ponselnya.
"Eh Jay, kok bisa sih kamu mukul William karena gara-gara dia nggak ada waktu sama kita? Atau gara-gara dia lagi deket sama Yuna?" tanya Felix penasaran dengan kejadian yang membuat dua sahabatnya itu bertengkar hebat.
Jayden hanya diam, dengan pikirannya yang terus gelisah dan bercabang kemana-mana. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu.
"Kamu itu cemburu sama Yuna? Atau kamu cemburu sama William?" ledek Felix dengan iringan tawa di akhir ucapannya. Mendengar ucapan Felix membuat Jayden kesal.
"Maksud kamu apa ngira aku cemburu sama mereka hah?!" bentak Jayden.
"Calm down bro, aku cuma bercanda," ucap Felix terkekeh.
"Mike mana lagi? Kebiasaan itu orang selalu saja telat!" ucap Jayden kesal.
Dokter yang sedang memeriksa keadaan Jayden hanya bisa menahan sabarnya, karena laki-laki itu sedari tadi tidak bisa diam.
Jayden mengambil ponsel dan langsung menelpon manajernya.
"Kamu dimana sekarang?!" sentak Jayden.
"Aku udah sampai, nggak sabaran banget sih," gerutu Mike sambil mematikan teleponnya. Dia sekarang sudah berada di dalam kamar Jayden.
Jayden mengusir Dokter yang sedang memeriksanya.
"Udah periksa nya, sekarang kamu keluar!" usir Jayden dengan suara meninggi. Dokter itu mau tak mau langsung keluar dari kamar Jayden dengan perasaan yang jengkel.
Mike menghampiri dan duduk di samping ranjang Jayden.
"Oh my God! Jay, kenapa muka kamu jadi kayak gini?" pekik Mike khawatir sambil memegang wajah Jayden, namun tangannya langsung dihempaskan kasar oleh Jayden.
"Heh, kamu nggak perlu tau ya muka aku ini kenapa! Kamu tau alasan aku manggil kamu kesini?" Mike hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku pengen kamu keluarkan William dari D'Warlords!" titah Jayden dengan tegas. Sontak Felix dan Mike terkejut mendengar ucapan Jayden.
"Kenapa William harus di keluarkan?" tanya William bingung.
"Bisa nggak sih kamu nggak perlu nanya! Atau kamu yang aku pecat jadi manajer D'Warlords?" ancam Jayden. Mike sangat takut dengan ancaman Jayden.
"Eh Jay, kamu nggak bisa gitu dong," sahut Felix.
"Kalau menyangkut sama D'Warlords, berarti member yang lain juga harus ikut campur. Kamu jangan ambil keputusan seenaknya sendiri gitu dong!" sambung Felix mengomeli Jayden.
"Betul kata Felix. Kenapa juga William harus di keluarkan dari D'Warlords?" tanya Mike penasaran.
__ADS_1
Felix menghampiri Jayden yang berada di ranjang.
"Begini deh Jay. Saran aku, kamu jangan ambil keputusan terburu-buru. Kalau kamu keluarin William dari D'Warlords, bisa ribet nanti urusannya," ucap Felix.
"Bahkan orang tua kita juga akan ikut campur. Mending kamu tenangkan diri dulu, lupain masalah kamu sama William. Gimana?" usul Felix.
Jayden tak menanggapi ucapan Felix, karena ia tak terima ucapan laki-laki itu. Jayden beranjak dari ranjang, lalu keluar dari kamarnya dan pergi entah kemana.
Sedangkan Yuna, dia baru sampai di mansion nya pada pukul 8 malam, tadi Yuna menyempatkan makan malam dulu bersama William di restoran milik Azura, mama dari William.
Yuna tengah berbaring di ranjang, ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kini sedang gelisah karena kejadian tadi.
"Jayden cemburu karena liat aku sama William? Masa sih?" Monolog Yuna.
"Apa itu berarti, Jayden ada perasaan sama aku?"
Yuna bangun dari tidurnya, lalu beranjak ke cermin besar yang ada di kamarnya. Ia sedang memperhatikan dirinya di depan cermin tersebut.
"Nggak, itu mustahil! Dimata Jayden kan, aku cuma cewek yang di jadiin bahan taruhan aja buat dia." Yuna menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikirannya tentang Jayden yang mempunyai perasaan padanya.
Yuna pun kembali ke tempat tidur, lalu mencoba untuk memejamkan matanya.
...****************...
Pagi harinya, Jayden yang masih tertidur, tiba-tiba kedatangan mamanya yang baru datang dari New York. Lalu wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu memasuki kamar putranya.
Sontak Jayden langsung terbangun dan merubah posisinya menjadi duduk karena terkejut mendengar suara mamanya.
"Mama!"
"Mama kapan datang ke Korea?" tanya Jayden dengan suara parau.
"Baru aja. Begitu liat berita tentang kamu dan William, Mama langsung mengambil penerbangan pulang ke Korea dan langsung ke mansion," jawab wanita paruh baya itu.
Eleanor Jung, nama wanita paruh baya itu. Semenjak suaminya, Jordan Choi alias papa dari Jayden meninggal dunia, Eleanor tinggal dan mengurus perusahaan Jordan yang ada di New York.
Jordan meninggal dunia ketika Jayden masih di kelas 1 sekolah menengah atas, karena sebuah kecelakaan. Kematian sang papa dan kesibukan sang mama membuat Jayden seperti sekarang ini yang sombong, angkuh dan arogan. Karena sebenarnya laki-laki itu membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang tercintanya.
'What berita aku sama William? Jangan bilang ada orang yang memvideokan perkelahian aku sama William kemarin? Terus mengunggahnya di medsos? Aarrgghh sial' batin Jayden geram.
"Kamu ada masalah apa sih sama William sampai harus berantem seperti itu?" tanya Eleanor. Ia sangat marah ketika melihat berita dari putranya yang bertengkar dengan William, sepupu dari Jayden sendiri.
"Bener-bener bikin malu saja. Ingat ya Jayden, William itu sepupu kamu. Dan meskipun hubungan Mama sama
__ADS_1
Papanya William tidak baik, bukan berarti kalian harus ikut bertengkar kan?" ucap Eleanor dengan tegas.
Jayden hanya bisa terdiam mendengar ocehan-ocehan dari mamanya.
"Sekarang permasalahannya apa? Masalah perempuan?" tanya Eleanor.
"Nggak kok. Bukan masalah perempuan," jawab Jayden.
"Lantas kenapa di berita disebut-sebut karena bertengkar itu karena seorang perempuan?" sentak Eleanor.
Lagi-lagi Jayden hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaan dari mamanya.
"Dia ada kan waktu kamu dan William berantem?" tanya Eleanor, dia sudah seperti hakim yang tengah menyidang seorang terdakwa.
"Iya emang sih Ma, tapi dia itu bukan siapa-siapa kok," jawab Jayden dengan nada malas.
"Beneran?"
Jayden berdecak. "Udah deh Ma. Aku sama William berantem bukan gara-gara dia!"
"Lantas gara-gara masalah apa?" Jayden bingung akan membuat alasan seperti apa agar sang mama itu percaya dengannya.
"Mama ingin masalah ini di selesaikan secepatnya. Kalau kamu tidak sanggup, berarti Mama yang harus turun tangan sendiri," ucap Eleanor yang membuat Jayden terkejut mendengarnya.
'Bahaya nih kalau Mama yang ikut turun tangan,' batin Jayden.
"Dan kamu tau kan konsekuensinya? Kalau Mama udah turun tangan?" ucap Eleanor menatap Jayden dengan tatapan yang mematikan.
Setelah mengatakan itu Eleanor pun keluar dari kamar putranya.
"Haish! Terus aku harus bagaimana sekarang?" ucap Jayden sambil mengacak rambutnya frustrasi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.