
Zelvin menyimpan makanan yang dia bawa di meja nakas, lalu duduk di pinggir ranjang sambil menatap wajah damai istrinya yang masih tertidur. Dari semalam, dia tidak menganggu Liora, memberikan gadis itu waktu untuk sendiri supaya dia bisa menenangkan pikirannya untuk berbicara membahas suatu hal.
Tangan Zelvin terulur untuk menyelipkan anak rambut yang mengganggu pemandangannya. Liora cantik. Sangat. Penampilannya natural, tatapannya selalu teduh dan menenangkan, dan lagi senyumannya yang manis.
Tidur Liora terusik karena merasa tidak nyaman. Liora membuka matanya perlahan, lalu terkejut dengan kehadiran Zelvin yang sedang menatapnya. Liora duduk menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
Zelvin membenarkan rambut Liora yang berantakan, lalu sedikit mengusap kepala Liora. "Morning. Gimana tidurnya, hem? Apa tidur kamu nyenyak?"
Liora tidak menatap Zelvin, tatapannya lurus ke depan. Liora mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Zelvin.
Zelvin tersenyum, dia menarik tubuh Liora untuk duduk di pangkuannya. Zelvin melingkarkan tangannya erat di pinggang Liora. "Masih tidak ingin berbicara dengan saya? Tapi saya ingin bicara--"
"Bicara apa lagi sih, kak? Kamu selalu nggak dengerin penjelasan aku dulu. Kamu selalu bertindak sesuka kamu ketika kamu kesal dan melampiaskan semuanya ke aku," potong Liora dengan sedikit menaikkan nada suaranya
Zelvin tersenyum, dia mengecup kening Liora. "Saya minta maaf."
"Kak Zelvin selalu minta maaf dan menyesal setelah melakukannya, tapi selalu di ulangi lagi!" protes Liora dengan berani.
Zelvin hanya bisa terdiam. Karena itu adalah faktanya. Zelvin tidak bisa mengelak, karena emosinya selalu memuncak ketika bersangkutan dengan Liora dan akan melampiaskannya kepada Liora.
"Laki-laki yang peluk aku itu teman aku kak kalau kamu mau tahu. Aku sama dia itu nggak ada apa-apa, we just friend," tutur Liora.
"Hanya teman?" tanya Zelvin memastikan.
Liora mengangguk dengan yakin, "Iya, hanya teman."
Zelvin membuang napasnya, dia menyimpan kepala nya di ceruk leher Liora, sesekali mencium leher putih itu. "Saya percaya, maafkan saya."
"Makannya jangan asal marah dulu kak, kamu bisa tanya ke aku kapan pun tanpa harus emosi. Aku mohon, jika ada kesalahan atau apapun itu tolong kita bicarakan dulu. Aku takut kalau kamu marah seperti kemarin. Daddy saja nggak pernah marah ke aku dan dia nggak pernah kasar ke aku," ucap Liora dan membanding-bandingkan sikap Zelvin dengan Jayden.
Zelvin semakin mempererat pelukannya, brengsek sekali dirinya. "Maafkan saya."
Liora mengangguk, "Iya, dimaafin."
Zelvin tersenyum tipis, dia mengangkat wajahnya lalu menarik tengkuk Liora dan mencium bibir manis istrinya itu.
Cup!
"Saya sudah pesankan makanan buat kamu, ini makan," suruh Zelvin setelah melepaskan ciumannya.
...****************...
"Jadi dia yang sekarang lagi ngincar Rafael?"
"Sumpah ya, dia itu murahan banget."
"Nggak dapat Alvin, sahabatnya pun sikat!"
"Muka polos, padahal aslinya jal*ng!"
Seperti ini lah. Setelah berita yang tidak baik muncul, Liora sering sekali mendapatkan cacian, sindiran dan hujatan dari mahasiswi di kampusnya. Bahkan mereka secara terang-terangan menunjukan kebenciannya, mereka juga meneror Liora di semua sosmed nya. Makannya, Liora sedikit takut untuk membuka akun media sosial nya.
Jennie menggenggam tangan Liora. Jennie tersenyum untuk memberikan dukungan kepada sahabatnya, Liora sangat bersyukur memiliki Jennie di setiap masalahnya. Jennie selalu ada disebelah Liora, bahkan dia tidak peduli mau ikut dibully pun.
Prok!
Prok!
Prok!
"Masih punya muka 10 kuliah disini?" tanya Lea yang tiba tiba saja datang dan membuat kerumunan di lorong kampus.
"Kenapa aku harus nggak kuliah?" balas Liora menatap datar Lea.
Lea tertawa sinis. "Liora.. Liora.. Dasar perempuan bodoh! Aku bakal pastikan kamu nggak akan lulus sidang. kamu tau aku kan?"
Ya, Liora tahu gimana karakter gadis di depannya. Terlalu ambisius untuk melakukan apapun, termasuk dalam hal buruk seperti ini.
__ADS_1
"Dan aku, nggak takut," balas Liora. Lea semakin tertawa lantang mendengar balasan Liora yang tidak ada takut.
"Nggak dapat pacarku, sekarang kamu mau deketin sahabat pacarku. Lio, kamu se-murahan itu ya? Suami Kamu nggak memuaskan kamu atau sekarang suami kamu jatuh bangkrut?" ejek Lea membuat Liora mengepalkan tangannya kuat.
"Gapapa Lio, kita semua tahu kok. Berapa perjam nya? Dua juta? Tiga--"
Liora ingin menampar Lea, tapi tangan besar itu menahan tangannya untuk tidak menampar Lea. Alvin. Pria itu yang menahan tangannya. Alvin mengeratkan tangannya di pergelangan Liora, Liora yakin pasti tangannya memar karena ulah Alvin.
"Jangan pernah sentuh gadisku sedikit pun, atau kamu berurusan denganku!" ancam Alvin dengan semakin mengeratkan tangannya di pergelangan Liora.
"Kamu itu gadis murahan. Nggak pantas sentuh gadisku!" ucap Alvin dengan tegas sebelum menghempaskan tangan Liora.
Liora memejamkan matanya. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa pria yang di depannya adalah bukan Alvin-nya. Alvin-nya telah hilang, Liora harus bisa menghadapi ini. Alvin-nya telah mati.
Liora tersenyum, bukan senyuman ramah yang sering dia tunjukan. Tapi senyuman kekecewaan atas perilaku seseorang, "Dan aku juga nggak mau disentuh sama orang bodoh," balas Liora. Mendengar balasan Liora yang menurut Jennie sangat benar.
Jennie terkekeh, "Aku masih pantau kegoblokan kamu, Alvin," ucap Jennie sinis.
Plak!
Liora menoleh ke samping akibat tamparan yang di berikan Alvin sangat keras. Liora memegang pipi nya yang terasa panas, apalagi sudut bibirnya yang terasa nyeri.
"Sialan brengsek kamu, Alvin?" teriak Rafael ketika melihat dengan langsung Liora yang ditampar oleh Alvin.
Bug!
Bug!
Bug!
Rafael terus menghajar Alvin tanpa memberi ampunan kepada Alvin. Rafael tidak memberi kesempatan untuk Alvin membalasnya, dia terlanjur terbawa emosi. Sangat brengsek sahabatnya ini.
"RAFAEL SONG, BERHENTI SEKARANG JUGA!" teriak Jennie ketika melihat Rafael yang seperti kesetanan memukul Alvin.
Rafael langsung terdiam. Dia menunduk, menatap Alvin yang tak berdaya di bawahnya. Rafael menggelengkan kepala nya. "Aku kecewa sama kamu, Al," gumam Rafael lalu berdiri.
Rafael berjalan ke arah Liora, dia menatap pipi putih gadis itu yang memar. Sudut bibir gadis itu pun terlihat luka. "Sakit?" tanyanya khawatir.
Rafael mengerutkan keningnya, "Sudah biasa gimana? Kamu sering dapat tamparan?"
"Maksud aku, sakit dari tamparan ini nggak bisa melebihi sakitnya di hati aku," jelas Liora gelagapan.
Lea berdiri tepat di hadapan Liora dengan tatapannya yang tajam. "Liora kamu sudah berani main-main sama aku. Akan aku pastikan kalau kamu nggak tenang di kampus ini dan kamu nggak akan lulus sidang!" ancam Lea sebelum membawa Alvin ke unit kesehatan kampus.
"Dan aku pastikan semua keluarga kamu bangkrut!" teriak Jennie membalas ucapan Lea.
"Berisik Jennie!" tegur Rafael.
...****************...
Zelvin mengepalkan tangannya ketika mendengar kabar buruk tentang Liora. Ternyata ini alasan gadis itu menangis di pelukannya. Zelvin pun tidak mengetahui akun media sosial gadis itu, makanya dia tidak tahu jika akun media sosial gadis itu dipenuhi komentar buruk.
"Berani sekali pria itu," gumam Zelvin geram.
Zelvin berdiri dari duduknya, "Hilangkan semua komentar jahat di media sosial istri saya!" perintah Zelvin pada Griffin sebelum dia keluar dari ruangannya.
"Eh Tuan Zelvin mau kemana?" teriak Alice ketika melihat atasannya keluar dari ruangannya dengan wajah yang tidak bersahabat.
Zelvin tidak merespon, dia tetap berjalan seolah olah dia tidak mendengar teriakkan itu.
"Ya ampun, aku punya bos sifatnya sudah seperti setan saja!" gumam Alice sambil mengelus dadanya.
"Aku adukan kamu nanti ke Tuan Zelvin," ancam Griffin yang baru saja keluar dari ruangan atasannya.
Alice tersentak kaget, dia membulatkan matanya ketika melihat kehadiran Griffin. "Kamu kelamaan gaul sama Tuan Zelvin, jadi menyebalkan," sungut Alice.
Griffin langsung terkekeh.
__ADS_1
"Eh, muka Tuan Zelvin keliatan marah, apa ada masalah di dalam tadi?" tanya Alice penasaran.
"Ibu bos cantik di bully di kampusnya." jawab Griffin .
Alice mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Entahlah, aku juga nggak tau penyebabnya. Kalau kamu mau tau, tanya saja ke orang suruhan Tuan Zelvin. Tapi, yang aku selalu dengar itu nama Alvin, Alvin gitu, pasti dia penyebab utamanya."
"Alvin?" beo Alice sepertinya dia sedikit mendapatkan pencerahan.
Griffin mengangguk, "Tuan Zelvin belum nyuruh apa-apa ke aku, dia hanya menugaskan aku untuk menggantikan dia meeting."
Alice terkekeh, "Gaji buta kamu, kerjaan dikit, gaji besar!" ejeknya.
Griffin tertawa lepas, dia menyentil kening Alice. "Heh mulutnyaaaaa..."
Alice cemberut, "Sakit tau," keluh Alice saat Griffin menyentil dahinya.
"Menurut kamu meeting itu mudah, kalau aku salah, Tuan Zelvin marah. Itu lebih berat."
...****************...
"Liora!"
Semua yang berada di unit kesehatan kampus dikagetkan dengan seseorang yang berada di ambang pintu dengan menggunakan pakaian formal. Suara serak yang memanggil Liora itu membuat keadaan UKM menjadi hening.
Zelvin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Liora yang duduk di brankar. Jennie sedikit memundurkan langkahnya dan memberi jarak kepada pria itu. Jujur saja, Jennie terkejut dengan keberadaan suami Liora.
Dia pernah melihat pria itu di foto yang Liora kirimkan, tapi sekarang Jennie melihatnya secara langsung. Dan benar saja, suami Liora sangat tampan meskipun dia duda.
Rafael menatap Jennie untuk meminta penjelasan dari pria yang ada disebelah Liora, tapi Jennie hanya mengangguk saja dan Rafael tidak mengerti dengan kode itu.
Tangan Zelvin menyentuh bibir Liora, bekas tamparannya yang kemarin saja belum hilang, kini ditambahkan dengan tamparan pria itu. "Sakit?" tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya, dia masih terkejut dengan keberadaan Zelvin yang tiba-tiba di kampusnya. "Gapapa kak," jawab Liora berusaha meyakinkan Zelvin.
"Gapapa gimana? Saya liat kamu ditampar di depan semua nya, kamu--"
"Kok kak Zelvin tau?" potong Liora dengan wajah polosnya.
Melihat wajah Liora yang menggemaskan seperti itu, membuat Zelvin tidak tahan untuk mencium bibir gadis itu.
Cup!
"Saya selalu tahu apapun itu," ucap Zelvin Jennie dan Rafael saling melempar pandangan melihat pasutri di depannya. Rafael meneguk ludahnya, sialan Liora berhasil membuat Rafael panas dingin.
"Ekhem, Lio, aku sama Jennie tunggu di luar kalau ada apa-apa panggil aja," celetuk Rafael langsung menarik tangan Jennie.
Zelvin mengerutkan keningnya, dia mengenal wajah pria itu. "Dia yang memelukmu bukan?"
Liora menganggukkan kepalanya
"Boleh kah saya memukuli nya? Sebagai balasan, kemarin saya jadi salah paham ke kamu," pinta Zelvin.
Liora menggeleng kepalanya, "Jangan kak, jangan seperti itu. Sudah ya?" ucap Liora memohon.
Zelvin memeluk Liora, "Maafkan saya atas perlakuan saya yang buruk. Maafkan saya." .
"Iya kak, aku maafkan."
"Kaki kamu masih sakit?" tanya Zelvin.
Liora mengangguk, "Iya, sakit. Tadi lukanya ke tekan, jadi sakit lagi."
"Sudah selesai dengan urusan kampusnya?"
Liora mengangguk, "Sudah."
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"
...****************...