
Di perusahaan milik mendiang Jordan yang bernama JnJ Group, Jayden yang sibuk melihat berkas-berkas di atas mejanya itu tergantung saat pintu ruangannya di ketuk.
"Ya masuk!" sahut Jayden.
Tak lama pintu ruangan tersebut terbuka dan masuklah Mark, asisten pribadi Jayden.
"Permisi Tuan, maaf mengganggu," ucap Mark.
"Ada apa ya Mark?" tanya Jayden.
"Ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Tuan," jelas Mark.
Jayden menaikan satu alisnya, 'Apa dia Yuna?' tanya Jayden dalam hatinya.
"Siapa Mark?"
"Maaf, kalau tidak salah namanya Renata, Tuan," jawab Mark.
"Renata?"
Jayden yang mendengar nama wanita itu langsung geram. Renata adalah anak dari teman bisnis mendiang Jordan, wanita itu sangat menyukai Jayden, sampai-sampai ia menyuruh ayahnya untuk menjodohkan dirinya dengan Jayden, gila memang!
"Ck, mau ngapain lagi sih wanita ular itu datang kesini!" gumam Jayden kesal.
"Suruh saja di masuk!" perintah Jayden pada Mark.
"Baik Tuan." Mark keluar dari dalam ruangan Jayden untuk menyuruh Renata masuk.
"Hai Jay," sapa Renata berlenggak lenggok menghampiri Jayden.
"Mau ngapain kamu datang kesini!" tanya Jayden ketus.
"Jangan galak-galak gitu dong Jay, aku datang kesini karena aku rindu sama kamu," jawab Renata dengan suara yang sengaja ia buat lembut.
Jayden berdecih, "Tidak usah basa-basi! Saya sedang sibuk dan tidak mau di ganggu, lebih baik kamu pergi dari kantor saya!" sentak Jayden mengusir Renata.
"Tapi Jayden--"
"Saya bilang pergi Renata!" sela Jayden dengan raut wajah marahnya.
"Dan pernah saya katakan ke kamu, kalau saya itu suah punya calon istri. Jadi saya harap kamu jangan ganggu saya lagi!" sambung Jayden. Ia sudah berulangkali mengatakan kepada Renata jika dirinya sudah memiliki calon istri, tapi wanita itu masih saja kukuh untuk mendekatinya.
"Berarti kamu mau Daddy aku cabut sahamnya dari perusahaan ini?" ancam Renata.
Jayden tersenyum miring, kehilangan satu partner bisnis tidak membuat dirinya jatuh bangkrut.
"Saya tidak peduli dengan itu, sekarang kamu pergi dari sini atau saya panggilkan security untuk menyeret kamu keluar?" ancam Jayden.
Renata berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya lalu keluar dari ruangan Jayden.
"Kamu yang sabar Jay, anggap saja ini ujian untuk hubunganmu dengan Yuna." Monolog Jayden sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Bukan hanya Renata saja yang mengejar-ngejar dirinya, tapi banyak sekali wanita dari kalangan pengusaha dan anak partner bisnisnya juga yang terang-terangan menggoda serta menyatakan cintanya pada Jayden, tapi dirinya tidak menanggapi bahkan menolak mereka secara mentah-mentah. Karena baginya Yuna adalah segalanya.
"Semoga saja Yuna tetap percaya sama aku," ucap Jayden menghela napas panjang.
Jayden pun kepikiran dengan gadisnya yang berada di mansion, ia berinisiatif untuk menghubungi Yuna, mungkin dengan cara itu hatinya kembali tenang.
"Halo Jay, ada apa? Kok nelpon?" tanya Yuna ketika telepon mereka telah tersambung. Jayden yang mendengarnya sedikit tak suka.
"Memangnya aku nggak boleh gitu nelpon kamu? Aku kan kangen sama kamu sayang," ucap Jayden.
__ADS_1
"Baru 4 jam kamu pergi, sudah kangen aja."
"Entahlah sayang, kamu itu seperti sebuah magnet yang membuat aku ingin selalu di dekat kamu," papar Jayden. Di ujung telpon sana Yuna tersipu mendengar ucapan Jayden.
"Cih dasar perayu ulung! Emang sekarang kamu nggak sibuk?" tanya Yuna mengalihkan topik pembicaraan.
"Lumayan lah sayang," jawab Jayden.
"Kamu lanjut aja kerjanya, biar cepet selesai," suruh Yuna.
"Ya sudah tunggu aku pulang ya?"
"Iya sayang, bye."
Yuna mematikan sambungan teleponnya tersebut. Benar saja, hati Jayden langsung tenang setelah mendengar suara Yuna. Jayden pun melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
Malam harinya, sekitar pukul 7 malam. Yuna dan Jayden sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara pesta ulang tahun partner bisnis dari Jayden.
Jayden telah siap dan kini sedang menunggu Yuna keluar dari ruang wardrobe. Tak lama gadis itu keluar mengenakan mini dress lengan panjang dengan leher rendah berwarna hitam, dipadukan dengan heels yang senada dengan warna dress-nya.
Jayden terpesona melihat penampilan Yuna malam itu, tapi juga ada rasa kesalnya karena dress yang dikenakan oleh Yuna itu sangat seksi menurutnya, apalagi bagian lehernya yang membuat kedua benda kenyal milik Yuna hampir terlihat.
Jayden segera menghampiri Yuna. "Sayang."
"Ya Jay?"
"Nggak ada gitu dress kamu yang lebih panjang dan tertutup sedikit dari itu?" tanya Jayden.
Yuna melihat dress yang ia kenakan, "Ini terlalu seksi ya sayang?"
"Banget. Sekarang lebih baik kamu ganti dress itu, aku nggak ingin tubuh kamu diliat sama laki-laki lain!" titah Jayden yang posesif pada Yuna.
"Tapi aku nggak bawa dress berwarna hitam selain ini. Kan ke pesta itu harus mengenakan dress code berwarna hitam," jelas Yuna.
"Waktunya nggak cukup sayang." Yuna harus memiliki stok kesabaran yang banyak menghadapi lelaki di hadapannya ini.
Jayden menghela napas berat, "Terus pakaian kamu gimana sayang?" Dirinya benar-benar tak rela jika Yuna dilihat oleh orang di pesta nanti.
"Sudah lah Jay, aku berpenampilan seperti saja dan nggak usah khawatir, kan ada kamu selalu disisi aku," rayu Yuna.
"Tapi kan--"
"Ih ayo sekarang kita berangkat." Yuna menarik tangan Jayden keluar dari kamar dan Jayden hanya bisa pasrah.
Ditempat pesta, Yuna dan Jayden menghampiri sang pemilik acara, ia bernama Jonas Ryder. Jonas pengusaha muda sama seperti Jayden.
"Hay Mr. Choi," sapa Jonas sambil memeluk Jayden gaya pria.
"Hay Mr. Jonas, bye the way happy birthday," ucap Jayden.
"Thank you Mr. Jayden," balas Jonas. Jonas menatap ke arah gadis cantik yang datang bersama Jayden.
"Siapa perempuan yang anda bawa itu?" tanya Jonas. Jayden yang mengerti pun memperkenalkan Yuna dengan bangga sebagai calon istrinya.
"Dia calon istri saya," ucap Jayden sambil merangkul pinggang Yuna dengan posesif. Jayden memang selalu menggunakan bahasa formal jika berbicara dengan semua rekan bisnisnya walaupun mereka seumuran.
"Really?" tanya Jonas masih tak percaya.
"Yeah."
"She look so beautiful," puji Jonas. Jayden tak suka dengan pujian Jonas terhadap gadisnya, sedangkan Yuna hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Hay perkenalan saya Jonas, partner bisnis dari Mr. Jayden," ucap Jonas sambil menyodorkan tangannya pada Yuna, dengan segera Yuna menjabat tangan Jonas.
"Saya Yuna, calon istri dari Jayden."
"Senang berkenalan denganmu, miss Yuna. Kalau gitu kalian nikmati pesta ini," suruh Jonas. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua menuju ke tamunya yang lain.
Di kejauhan tampak seseorang sedari tadi terus menatap ke arah Yuna, seperti harimau yang kelaparan melihat hewan buruannya.
"She so beautiful and sexy! That girl is my typa girl!" gumam pria itu.
"Kamu mau makan sayang?" tawar Jayden.
"Boleh, tapi aku mau minum sama snack saja," pesan Yuna.
"Ya sudah aku pergi ambilkan sebentar ya? Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana!" suruh Jayden. Yuna hanya mengangguk dan tersenyum.
Tak lama setelah Jayden pergi, tiba-tiba seorang pria menghampiri Yuna.
"Hay ladies!" sapanya.
"Ya?" Yuna bingung dengan kedatangan pria itu.
"Kamu kok sendirian saja?" tanya pria itu berbasa-basi.
"Saya tidak sendirian kok, Tuan," jawab Yuna. Perasaannya sudah merasa tak enak.
Pria itu manggut-manggut, "Oh seperti itu, jangan panggil saya Tuan, panggil saja saya Brandon. Apa kita boleh berkenalan?" Pria yang bernama Brandon itu menyodorkan tangannya ke arah Yuna. Saat Yuna hendak menjabat tangan Brandon, Jayden datang dan menghentikannya.
"Sayang," panggil Jayden.
"Mr. Jayden!" ucap Brandon terkejut.
Brandon Scott ini ternyata salah satu musuh Jayden dalam dunia bisnis dan pria itu terkenal playboy yang suka gonta-ganti pasangan.
"Oh anda Mr. Brandon," ujar Jayden sinis.
"Anda kenal dengan wanita ini?" tanya Brandon menatap Yuna.
"Of course, dia adalah calon istri saya," jawab Jayden merangkul pinggang Yuna.
"Calon istri?" Brandon lagi-lagi kaget dengan pernyataan Jayden.
"Hah, anda pasti berbohong kan Mr Jayden?"
Jayden mulai jengah dan geram dengan Brandon. "Ngapain saya harus berbohong dengan anda? Dan sebentar lagi kami akan segera menikah."
Brandon berdecih, "Dia baru calon istri anda, berarti saya masih bisa merebutnya dong! Dia itu terlalu sempurna untuk dimiliki oleh anda, Mr. Jayden," ucapnya tersenyum miring. Laki-laki itu memang sering memancing emosi Jayden.
Oke, ucapan Brandon membuat Jayden naik pitam, hingga rahangnya mengeras dan mengepalkan tangannya kuat sehingga buku-buku tangannya memutih.
"Brengs*k! Jangan berani macam-macam kamu, Brandon!" bentak Jayden, tangannya hendak melayangkan pukulan, tapi segera ditahan oleh Yuna.
"Jangan buat ribut disini sayang, please," lirih Yuna memohon.
Jayden mencoba untuk menahan emosinya.
"Kita pulang sayang," ajak Jayden.
"Tapi kan acaranya baru mau di mulai, Jay."
"Aku udah nggak mood lagi disini," ucap Jayden datar. Ia pun langsung menarik tangan Yuna untuk pergi dari pesta itu.
__ADS_1
...----------------...