Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Zelvin Cemburu


__ADS_3

Sialan. Zelvin terus mengumpat di dalam hatinya. Dia sudah 2 jam menunggu Liora pulang, namun tidak ada tanda-tanda kepulangan dari gadis itu. Apalagi waktu terus berjalan, membuat Zelvin sedikit cemas dengan keadaan Liora. Zelvin juga sudah mengirim pesan kepada Juno, tapi pria itu tidak membalasnya.


Zelvin duduk di sofa. Tangannya terkepal erat menahan emosi yang ingin meledak, napasnya tidak beraturan, kini pikirannya kacau, apalagi Liora tidak membalas pesannya. Zelvin berusaha untuk menenangkan pikirannya, supaya emosinya sedikit terkontrol. Dia menatap kopi yang kini sudah dingin di depannya.


Tuk


Tuk


Tuk


Suara langkah kaki itu membuat Zelvin langsung berdiri dan menatap orang itu. Liora. Sedikit merasa lebih tenang ketika melihat gadis di depannya dengan keadaan baik - baik saja. Zelvin melangkahkan kakinya, dia mendekat ke arah Liora. Tangannya terulur untuk menyentuh kedua pipi Liora, dia mengelus pelan pipi yang lembut sedikit dingin ini.


“Kamu kemana saja, hem?” tanya Zelvin . dengan suara yang serak.


Liora menarik napasnya, dia sedikit menghembuskan napasnya pelan. Liora melepaskan tangan Zelvin yang ada di pipinya, dia berjalan menuju meja makan yang diikuti oleh Zelvin di belakangnya. Liora menyimpan makanan yang dia beli di meja.


“Aku beli makanan. Terserah mau dimakan atau enggak, buang saja kalau nggak mau.” cetus Liora. Dia ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Zelvin, namun tangannya ditahan oleh Zelvin.


“Temani saya makan,” pinta Zelvin dengan wajah yang penuh harapan.


“Aku lelah. Makan sendiri!” ucap Liora ketus.


“Saya mohon,” ucap Zelvin memohon. Liora tetap diam. Dia tidak akan lulus meskipun Zelvin memohon kepadanya. Tidak akan.


“Liora,” panggil Zelvin dengan lembut Liora tetap pada pendiriannya. Tidak akan luluh.


“Keanna,” panggil Zelvin lagi.


Serrrr. Roboh sudah pendirian Liora. Apalagi ketika Zelvin memanggilnya dengan panggilan itu, Liora tidak bisa menolak jika seperti ini. Apalagi suara lembut Zelvin membuatnya luluh.


Liora duduk di kursi. “Cepat, aku lelah!” ketusnya lagi. Zelvin tersenyum tipis melihat kelakuan Liora.


“Tunggu, saya ambil piring,” kata Zelvin, dia langsung mengambil piring. Zelvin duduk di sebelah Liora. Dia membuka makanan yang di bawa oleh Liora, yakni Sushi. Makanan kesukaan gadis disebelahnya.


Zelvin menoleh, menatap Liora. “Kamu sudah makan?” tanya Zelvin


“Sudah.”


Zelvin memakan makana tersebut. “Enak. Kamu pintar milih restorannya,” puji Zelvin.


“Bukan aku, tapi Juno,” balas Liora.


Zelvin berhenti mengunyah. “Sama siapa kamu makan?”


“Juno. Dia yang merekomendasikan.”


Zelvin membulatkan matanya. Sialan. “Berdua?”


Liora mengangguk, "Iya."


Uhuk!


Uhuk!


Liora langsung mengambil minum untuk Zelvin dan menyodorkannya kepada Zelvin.


“Terima kasih,” ucap Zelvin.


“Kenapa makan sama Juno sih? Dia cuma tour guide kamu, bukan teman kamu. Jadi, jangan berlebihan!” ujar Zelvin tegas, namun Liora hanya diam tidak membalas ucapan suaminya.


“Liora!” panggil Zelvin.


“Apa?” tantang Liora.


“Besok kamu jangan pergi kemana-mana, ikut saya ke kantor!” putus Zelvin yang tidak ingin di bantah.


“Loh? Nggak mau. Aku sudah buat jadwal sama Juno. Kamu nggak berhak ngatur-ngatur aku, awas!”


Liora berdiri dari duduknya, baru saja melangkahkan kaki nya, tangannya sudah ditarik oleh Zelvin yang membuatnya duduk di atas pangkuan Zelvin.

__ADS_1


“Kak ih!”


“Diam!” bentak Zelvin.


Zelvin menatap gadis di depannya yang mendadak menunduk, tidak seberani tadi. “Bagus. Cancel, semua jadwal kamu sama Juno, ganti lusa. Dan, kamu sama saya.”


“Nggak mau. Kamu kesini hanya untuk urusan bisnis. Kita nggak sejalan, aku kesini untuk liburan. Jadi jangan ikut campur!” bantah Liora.


Zelvin membuang napasnya tepat di wajah Liora. “Kamu berani membantah saya?” tanya Zelvin.


“Kalau begitu, selama 2 pekan ini kamu jangan keluar atau kemanapun. Tetap di kamar!” tegas Zelvin


Liora membulatkan matanya. “Apa? Nggak mau. Kamu nggak bisa gitu dong, kamu nggak ada hak atas aku—”


“Tidak ada hak? Heh ingat saya itu suami kamu.”


“Aku—”


“Kamu membantah saya pasti—”


“Oke, fine. Besok aku ikut kamu ke kantor, lusa kamu ikut aku tour sama Juno,” ucap Liora mengalah.


"No, hanya kita berdua. Tidak ada Juno!” bantah Zelvin.


“Ya sudah, aku pulang ke Korea saja kalau begitu.”


“Oke fine, Liora!” putus Zelvin kesal.


Zelvin memeluk Liora dengan erat. Dia menyimpan kepalanya di pundak Liora, menghirup aroma tubuh Liora yang menjadi candu. Perasaan sedikit tenang, namun gadisnya ini sering membantah dirinya membuat Zelvin harus mengontrol emosinya agar tidak berbuat kasar kepada Liora.


“Saya lapar, suapi saya,” pinta Zelvin.


“Nggak mau, makan aja pakai tangan sendiri,” tolak Liora.


“Keanna ...”


...****************...


Cup!


Cup!


Cup!


Zelvin terus memberikan kecupan di bibir gadis yang sedang tidur di pelukannya. Liora tidak terganggu sama sekali membuat Zelvin melanjutkan aksinya. Zelvin baru ingat, bahwa Liora sangat sulit untuk di bangunkan kecuali jika dia bangun sendiri. Dasar Liora kebo.


Zelvin gemas, dia menarik Liora untuk memeluknya dengan sangat erat. Liora tersentak kaget, dia langsung bangun karena pelukan Zelvin membuatnya sulit untuk bernapas.


“Lepasin kak!” celetuk Liora


Zelvin menggelengkan kepalanya, “Nggak, hari ini kamu terus sama saya.”


Liora memutarkan bola matanya. “Iya.”


“Jangan cantik-cantik, biasa saja. Karena kamu akan terus di ruangan saya. Mengerti?” perintah Zelvin.


“Iya," ucap Liora malas.


Zelvin melepaskan pelukannya, dia membalikkan tubuh Liora membuatnya berada di atas Liora. Zelvin menjatuhkan tubuhnya, menyimpan kepalanya di leher Liora. Zelvin menghirup aroma tubuh Liora. Candunya.


“Wangi. Kamu cantik. Dan, seksi,” puji Zelvin.


“Apaan sih, sana awas. Kamu berat!”


Zelvin menggelengkan kepalanya. “Nggak mau, mau gini.”


Liora berdecak, “Tapi kamu berat.”


“Nggak peduli!"

__ADS_1


“Kak Zelvin!"


“Saya rindu kamu.”


"Nyenyenye. Sudah sana berat!”


“Nggak mau!” kukuh Zelvin


“Tapi—”


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Ponsel Zelvin berdering, membuat Liora menoleh menatap ponsel Zelvin yang tergeletak di atas nakas. “Angkat,” perintah Zelvin.


Liora mengambil ponsel Zelvin, dia menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon dari Griffin.


“Halo,” ucap Liora.


“Selamat pagi, Nyonya Liora. Maaf mengganggu anda—”


“Kamu emang ganggu, Griffin!” potong Zelvin.


Liora mencubit pinggang Zelvin.


“Akhhh!” des*h Zelvin kesakitan dengan cubitan istrinya.


“Griffin, ada apa?”


“Eumm itu Nyonya, apa sih? Oh iya. Meeting lebih maju menjadi jam 9 pagi, karena ada kendala di klien yang tidak bisa datang dengan janji awal.”


“Iya." Zelvin yang menjawab.


Pria itu tiba-tiba mencium leher Liora, dia juga menggigit pelan leher putih Liora.


“Kakhhh!” des*h Liora tidak tahan dengan sensasinya


“Euu ka-kalau begitu, sa-saya tutup teleponnya Nyonya. Te-terima kasih.”


Tut!


Griffin langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menatap Alice di sebelahnya yang penasaran dengan percakapannya tadi. Griffin meneguk ludahnya dengan susah payah, tadi atasannya sedang apa ya?


“Griffin, kamu kenapa? Kamu dimarahin sama bos ya? Sabar ya, bos kita emang suka jadi singa kalau pagi-pagi. Bye the way, kamu dimarahinya gimana?” tanya Alice penasaran.


Griffin terus mengedipkan matanya.


“Kamu mau tau?”


Alice mengangguk. “Tarik napas dulu yuk, aku tau kalau kamu lagi tertekan tapi muka kamu bisa biasa saja nggak sih? Tegang banget. Yuk bisa yuk, pelan-pelan. Tarik napas terus buang ...”


Griffin pun menuruti saran dari Alice, dia menarik napas lalu membuangnya perlahan.


“Sepertinya tadi, bos kita lagi bikin bayi sama Nyonya.”


“Maksud kamu lagi bercocok tanam?” tanya Alice memastikan.


Griffin mengangguk.


“Wow. Gimana, gimana? Kamu dengar apa saja? Spill dong,” ucap Alice heboh ditambah lagi rasa penasarannya.


“Otak kamu Al, astaga!”


“Griffin ...," rengek Alice.


“Nggak ada. Sana kerja! Dimarahi, nanti nangis,” ejek Griffin.


Alice mendengus, "Sialan kamu!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2