Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Peringatan Eleanor


__ADS_3

"Itu apa nak?" desak Lukas.


Yuna menghela napas panjang, ia pun menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya kepada kedua orangtuanya. Apalagi tentang alasan kenapa William mengatakan kepada para wartawan tadi, jika dirinya dan Yuna berpacaran.


Lukas dan Jasmine yang tadinya sangat antusias, kini mereka berdua langsung lesu mendengar cerita dari putrinya. Pupus sudah harapan melihat putri satu-satunya memiliki seorang kekasih.


"Kenapa nggak pacaran beneran aja nak?" tanya Lukas.


"Iya bener tuh Pa, padahal kalian itu cocok banget loh," timpal Jasmine membenarkan ucapan suaminya.


"Yuna belum mau pacaran Ma, Pa. Dan gara-gara berita itu, Yuri jadi nggak nyaman buat pergi kemana-mana!" kesal Yuna.


"Nanti kan bisa suruh anak buah Papa, buat jagain kamu sayang," ucap Jasmine coba menenangkan putrinya.


"Ish tau ah! Yuna ke kamar aja, mau istirahat. Capek!" ucap Yuna berdiri dari sofa dan langsung pergi ke dalam kamarnya.


Lukas dan Jasmine hanya geleng-geleng kepala melihat putrinya seperti itu.


...****************...


Ketika Jayden masuk ke dalam kamarnya, ia sangat terkejut melihat mamanya sedang duduk di ranjangnya sambil membawa sebuah majalah.


"Coba kamu jelaskan soal ini," titah Eleanor memberikan majalah tersebut pada Jayden, yang ternyata berisi tentang berita William dan Yuna.


Setelah mengambil majalah dari tangan mamanya, Jayden duduk di sofa yang tak jauh dari ranjangnya.


"Kenapa sekarang tiba-tiba William mengaku bahwa gadis itu adalah pacarnya? Padahal kemarin kamu bilang gadis yang bersama William itu bukan siapa-siapanya. Coba kamu jelaskan sama Mama!" ucap Eleanor.


"Lah kok Mama tanya sama aku sih, Mama tanya dong sama William!" kesal Jayden.


"Mama yakin pasti kamu ada sangkut pautnya dengan masalah ini kan?" tanya Eleanor menatap tajam putranya.


Jayden menghela napas. "Ma aku kan pernah jelasin sama Mama, aku sama William berantem itu bukan karena gadis itu," jelasnya.


"Lagian kalau William mengaku dia udah punya pacar, itu bukan urusan kita kan Ma?"

__ADS_1


"Memang bukan urusan kita, tapi ini urusan keluarga besar CHOI!" sentak Eleanor.


"Dan William itu adalah anggota keluarga kita. Nggak sepantasnya dia punya pacar dari keluarga biasa-biasa aja," lanjut Eleanor yang tak terima jika William memiliki kekasih yang berasal dari keluarga tidak mampu.


"Mama, William itu udah dewasa jadi terserah dia lah mau cari pacar kayak gimana," ucap Jayden tak terima jika mamanya ikut campur dalam urusan hati.


"Ini masalah serius Jayden, bukan main-main!" bentak Eleanor. Lalu ia berdiri dari ranjang putranya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Peringatan tadi tidak hanya berlaku untuk William, tapi juga berlaku untuk kamu, Jayden! Jadi, jangan buat malu keluarga kita hanya dengan berita murahan seperti itu," ucap Eleanor memberi peringatan kepada putranya.


"Dan Mama harap kamu tidak melakukan kesalahan, seperti yang William lakukan sekarang ini!" Setelah mengatakan itu Eleanor pun keluar dari kamar Jayden.


Jayden memikirkan dan merenungi semua ucapan yang dikatakan oleh mamanya tadi.


...****************...


Pagi harinya, Yuna akan berangkat ke kampus dengan tidak semangat, karena pasti disana banyak wartawan yang tengah menunggunya.


"Pagi Ma, Pa," sapa Yuna pada kedua orang tuanya yang berada di ruang makan. Lalu duduk di kursi makan.


"Pagi juga sayang."


"Kok muka kamu lesu gitu nak?" tanya Jasmine.


"Iya nak, biasanya kamu selalu bersemangat kalau mau berangkat ke kampus. Kamu kenapa nak? Lagi ada masalah?" timpal Lukas.


"Gimana nggak bersemangat Pa, hidup Yuna sekarang udah nggak aman lagi," ucap Yuna lesu.


"Hah nggak aman? Emang nggak aman kenapa sayang? Ayo cerita sama Mama Papa," pekik Jasmine yang terkejut dengan ucapan putrinya.


Yuna menghela napas, lalu menceritakan apa yang membuat dirinya seperti ini.


"Pokonya gara-gara berita kemarin itu hidup Yuna jadi nggak aman lagi. Yuna bakalan di kejar-kejar terus sama para wartawan dan fans dari D'Warlords yang nggak setuju sama hubungan Yuna dan William."


"Dari kemarin media sosial Yuna langsung diserbu sama fansnya mereka. Mereka bilang kalau Yuna itu nggak selevel dengan William, bagaikan langit dan bumi yang perbedaannya sangat jauh. Karena mereka itu taunya kalau Yuna itu orang biasa Ma, Pa." Yuna menceritakan dengan wajah yang sedih.

__ADS_1


Lukas dan Jasmine menatap iba Yuna, padahal dulu putrinya itu selalu di puja-puja dan dibanggakan, kini menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan hinaan dan cacian.


"Makanya tunjukkin diri kamu yang sebenarnya nak! Biar mereka nggak meremehkan kamu. Mereka meremehkan kamu, sama saja mereka juga meremehkan Mama dan Papa!" ucap Jasmine geram.


"Perkataan Mama kamu bener nak, tunjukkin dirimu yang asli. Agar mereka nggak meremehkan dan merundung kamu lagi," timpal Lukas yang juga ikut geram.


Yuna menghela napasnya. Ada benarnya juga perkataan dari kedua orangtuanya, pikirnya.


"Iya Ma, Pa tenang aja. Secepatnya Yuna bakal bongkar identitas Yuna yang asli."


Lukas dan Jasmine tersenyum mendengar ucapan putrinya, itulah yang ditunggu-tunggu oleh mereka yakni putrinya itu menunjukkan identitasnya yang asli.


"Nah gitu dong, Mama sama Papa kan seneng dengernya. Iya kan Pa?" Lukas hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui ucapan istrinya.


"Oh ya, apa perlu Papa suruh anak buah Papa buat ngejagain kamu?" tawar Lukas.


Yuna menggeleng. "Nggak usah Pa, Yuna masih bisa ngejaga diri sendiri kok."


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi Papa atau Mama ya?"


"Iya siap Pa," jawab Yuna.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued.


...----------------...


__ADS_2