Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Lukas Datang Ke Imperial College


__ADS_3

Baru saja Yuna keluar dari toilet, dia langsung dicegat oleh Jessie dan kedua temannya.


"Heh cewek kampung, kamu nggak usah besar kepala deh. Sok-sokan nolak Jayden, berasa cantik ya kamu?" ucap Jessie sinis sambil mencengkram dagu Yuna dan langsung di hempaskan oleh Yuna.


"Kamu itu maunya apa sih? Nggak apa kamu senang kalau aku nggak jadian sama Jayden," kesal Yuna, sepertinya ia selalu salah di mata Jessie.


Jessie tertawa jahat. "Tentu saja aku senang, senang banget malah. Tapi gue lebih seneng, kalau kamu itu cabut dari kampus ini!" Jessie mendorong bahu Yuna.


"Karena aku ingin kampus ini kembali normal kayak dulu lagi," lanjutnya.


"Maksud kamu apaan sih?" tanya Yuna.


"Maksud aku ya?" Jessie maju mendekati Yuna. Yuna pun mundur perlahan.


"Maksud aku itu kamu pergi dari kampus ini dan keluar dari sini!" ucap Jessie sambil mendorong tubuh Yuri hingga terjatuh.


"Apa-apaan kalian!" ucap seorang pria paruh baya namun terlihat masih sangat tampan diusianya yang masih 43 tahun, ia langsung datang menghampiri gerombolan gadis yang tengah merundung temannya dan orang yang di bully tersebut adalah orang tersayangnya.


"Papa," gumam Yuna, ia terkejut melihat keberadaan papanya di kampus. Yah, pria paruh baya itu adalah Lukas Kim, ayah Yuna.


"Kamu gapapa nak?" tanya Lukas khawatir sambil membantu Yuna bangun.


"Apa-apaan ini pak?! Kenapa ada pembullyan di kampus ini, kata anda kampus ini bersih dari masalah yang seperti gini!" sentak Lukas marah pada Albert, rektor Imperial College.


"Ma-maaf Tuan, saya tidak tau akan ada masalah seperti ini," ucap Albert bergetar ketakutan.


"Dan kalian bertiga, berani-beraninya merundung Yuna. Apa salah dia sama kalian hah?!" tanya Lukas emosi pada Jessie dan kedua temannya.


"Emangnya Tuan siapa, kok maunya bela cewek kampungan itu sih?" tanya Jessie.


"Cewek kampungan kamu bilang?!" Lukas semakin geram mendengar ucapan Jessie, tentu saja ia tak terima putrinya dikatakan seperti itu.


"N-Nak Jessie beliau adalah investor terbesar di kampus kita dan dia adalah Tuan Lukas Kim, Ayah dari nak Yuna," jelas Albert dengan wajah pucat pasi saat melihat wajah marah dari Lukas. Sontan ucapan Albert membuat Jessie, Pamela serta Jenni terkejut dan tidak percaya.


"What?" pekik Jessie dan Jenni.


"Pak Rektor pasti bohong kan?" tanya Pamela.


"Bapak serius Pamela, ngapain bapak bohong!" jawab Albert.


"Dia kan cewek kampungan dan miskin disini Pak, nggak mungkin punya orang tua kaya." Lagi dan lagi Jessie menghina Yuna. Rasanya Albert ingin menghilang saat ini juga, apalagi melihat wajah Lukas yang memerah dan tatapan yang tajam seperti ingin memakan orang hidup-hidup.


PLAKKK!


Lukas yang udah tak kuat mendengar putrinya di hina langsung menampar pipi Jessie dengan cukup keras.


"Jaga mulut kamu! Mulut kamu nggak pernah di sekolahin ya! Jangan bilang kalian bertiga selalu merundung anak saya disini?" bentak Lukas. Jessie dan kedua temannya langsung terdiam tak berkutik.


"Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini pak Albert. Saya harap Bapak bisa berlaku tegas sama mereka bertiga! Kalau tidak, kampus ini bisa saya buat bangkrut atau saya akan laporkan masalah ini ke Tuan Justin!" ancam Lukas.


"To-tolong jangan Tuan," pinta Albert memelas, jika masalah ini sampai ke telinga Justin Choi bisa tamatlah riwayatnya.


"Ayo kalian bertiga cepat minta maaf ke Yuna! Kalah tidak Bapak DO kalian dari kampus ini!" ancam Albert.


"Please jangan Pak," ucap Jenni memelas.

__ADS_1


"Iya jangan Pak, saya mohon," timpal Pamela. Sedangkan Jessie terdiam dan masih mencerna kejadian yang mengejutkan dirinya ini.


Kejadian ini bahkan menjadi tontonan banyak mahasiswa. Mereka pun sungguh tak percaya jika Yuna sebenarnya adalah anak dari pengusaha sukses dan kaya raya.


"Jika kalian tidak ingin di DO dari kampus ini, kalian harus minta maaf sama Yuri, sekarang!" perintah Albert. Pamela dan Jenni mengangguk, mereka berdua pun langsung meminta maaf ke Yuna.


"Yuna tolong maafin kita," ucap Jenni memohon.


"Iya Yun, kita janji nggak bakal usik kamu lagi," timpal Pamela.


Yuna menghela napas. "Iya aku maafin kalian berdua, asal kalian jangan berbuat seperti ini lagi di aku atau di orang lain!"


Pamela dan Jenni langung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya Yun, kita janji. Makasih ya udah maafin kita," ucap Jenni.


Yuna hanya mengangguk. Pamela dan Jenni pun langsung pergi meninggalkan Jessie yang masih diam mematung disana.


"Jessie kok kamu malah diam! Cepat minta maaf sama Yuna!" sentak Albert yang kesal melihat Jessie belum juga minta maaf ke Yuna.


"Kalau tidak Bapak keluarin kamu dari kampus ini!" lanjut Albert dengan mengancam Jessie.


Dengan terpaksa Jessie menghampiri Yuna sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan dari Lukas tadi.


"Maafin aku Yun, aku janji nggak bakal bully kamu lagi."


"Iya aku maafin kamu kok Jes, yang penting kamu benar-benar sudah nggak lagi berbuat seperti tadi di aku atau di orang lain," ucap Yuna yang sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain.


"Iya Yun."


"Maafkan saya Tuan, jangan buat usaha Papa saya hancur," ucap Jessie memelas, tubuhnya pun kini sudah bergetar ketakutan. Karena yang Jessie dengar jika Lukas Kim ini adalah salah satu orang yang berkuasa di Korea Selatan.


"Sekarang kamu pergi dari hadapan saya! Saya muak liat muka kamu dan ingat dengan perkataan saya tadi!" usir Lukas.


"B-baik Tuan." Jessie langsung lari terbirit-birit dari hadapan Lukas, Yuna dan Albert.


"Pak Albert kalau ada masalah seperti ini lagi, atau masalah yang lebih berat dari ini, tolong pelakunya di tindak lebih tegas lagi. Paham?!"


"Saya paham Tuan," balas Albert dengan tegas.


"Sekarang anda boleh pergi tinggalkan saya disini dengan putri saya."


"Baik Tuan." Albert pun pergi dari hadapan Lukas dan Yuna. Yuna pun mengajak papanya untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di lorong-lorong kampus.


"Kamu beneran gapapa kan princess?" tanya Lukas sambil mengelus rambut Yuna.


"Yuna beneran gapapa kok, Pa."


"Atau apa perlu Papa pindahin kamu ke universitas lain?"


Yuna menggeleng cepat. "Nggak usah Pa, Yuna udah betah banget kuliah disini." Lukas hanya bisa menghela napas panjang.


"Oh ya Papa ngapain disini?" tanya Yuna.


"Papa hanya ingin liat kondisi kampus ini, yah sambil jalan-jalan berkeliling di kampus ini," jawab Lukas.

__ADS_1


"Oh gitu."


"Apa kamu sering di bully sama mereka nak?" tanya Lukas.


"Nggak kok Pa, mereka itu hanya iri aja sama Yuna dan kalau pun Yuna di bully, pasti Yuna akan ngelawan mereka kok," jelas Yuna.


"Apa perlu Papa suruh bodyguard Papa untuk jaga kamu?" Lukas sangat khawatir jika putrinya akan mendapat masalah seperti itu lagi.


"Nggak perlu Pa."


"Tapi Papa takut kamu kenapa-napa, seperti kejadian tadi," lirih Lukas sambil memegang kedua tangan putrinya.


"Udah Papa tenang aja, Yuna bisa jaga diri kok," ucap Yuna mencoba meyakinkan papanya.


"Papa takut terjadi apa-apa sama kamu nak. Karena cuma kamu satu-satunya anak Papa." Lukas langsung memeluk tubuh Yuna. Yuna pun membalas pelukan papanya dengan erat, ia sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi dan memanjakannya.


"Makasih Pa, masih menyayangi Yuna sampai sekarang."


Lukas menguraikan pelukannya. "Kamu ini ngomong apaan sih nak? Tentu saja Papa akan selalu menyayangi kamu sampai kapanpun. Walaupun nanti kamu sudah memiliki suami dan anak, Papa akan selalu menganggap kamu seperti princess kecilnya Papa," ucapnya sedikit tak suka dan tak terima dengan ucapan Yuna.


"Yuna sangat sayang sama Papa." Yuna kembali memeluk Lukas.


"Papa lebih sayang sama kamu," balas Lukas sambil mengusap lembut rambut Yuna.


"Udah ah pelukannya, kalau mama liat nih pasti langsung cemburu," ucap Lukas bercanda. Yuna melepas pelukannya dan langsung terkekeh.


"Iya bener banget Pa, Mama itu orangnya cemburuan banget."


"Cemburu kan tanda cinta, princess. Berarti mama cinta banget sama Papa."


"Iya sangat benar sekali Pa," ucap Yuna memberikan kedua jempolnya.


"Oh ya Pa, Yuna sampai lupa. Kalau sekarang ada kelas ekonomi, Yuna ke kelas dulu ya Pa," pamit Yuna.


Lukas mengangguk. "Iya nak, kalau ada apa-apa telpon Papa!" titahnya.


"Siap, bye Pa." Yuna pun langsung berlari menuju ke kelasnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continued.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2