
"Kamar kamu disana dan itu kamar saya." tunjuk Zelvin kepada pintu yang saling bersebelahan.
Liora mengerutkan keningnya, ada Kerutan keheranan di dahi nya. Ia menatap Zelvin, sedikit mendongakkan kepalanya. "Kita pisah kamar?"
Zelvin menunduk, menatap mata coklat cerah itu. "Kamu ingin sekamar dengan saya?"
"Kata Mommy, pasangan suami-istri itu harus sekamar," ucap Liora polos.
Zelvin membuang nafas panjang. "Saya tidak mau tidur dengan orang asing," ucap Zelvin tegas.
Orang asing? Dua kata itu berhasil membuat Liora ingin menangis. Pernikahan mereka kini berusia 3 minggu, selama 3 minggu itu mereka habiskan bersama di mansion orang tua Zelvin. Dan saat ini, Zelvin membawa Liora ke mansion nya. Tapi Zelvin masih menganggapnya orang asing. Apakah pernikahan ini di mata Zelvin hanya mainan saja? Apakah dia tidak tahu arti kata 'istri'?
"Kak Zelvin bu--"
"Saya capek. Saya mau ke kamar, koper kamu bawa saja sendiri." Zelvin langsung melangkahkan kaki nya menuju kamarnya.
Liora mendorong kopernya menuju ruangan yang ada disebelah kamar Zelvin. Liora berdiri di ambang pintu. Ruangan yang akan menjadi kamarnya ini terbilang cukup besar, tapi jika dibandingkan dengan kamarnya di mansion Krystal dulu, kamarnya disana lah yang lebih besar dari ini.
Di kamar ini hanya ada ranjang king size, satu lemari, satu meja belajar dan ada rak rak kecil. Apakah benar ini kamarnya? Jika dilihat dari luar, kamar Zelvin terlihat sangat elegan. Liora masuk ke dalam, dia mulai menyusun pakaiannya yang hanya sedikit. Dia sengaja membawa sedikit pakaian, nanti jika membutuhkan lagi dia akan kembali ke rumah Krystal.
"Rindu tante Krystal, rindu juga kamar aku, mampu nggak ya aku tinggal disini?" monolog Liora.
Malam harinya, Liora telah selesai menyiapkan makan malam. Dia tidak memiliki keahlian dalam bidang memasak seperti Mommy-nya, walaupun begitu Liora masih bisa memasak beberapa makanan meskipun rasanya masih dipertanyakan.
Karena selama di rumah Krystal, dia selalu dilarang memasak, makanya Liora jarang memasak jika tidak mendesak. Liora melangkahkan kakinya menuju kamar Zelvin.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Zelvin, makanan sudah siap. Kak Zelvin nggak laper? Dari tadi diam terus di kamar, ayo makan, kak!" ajak Liora.
Zelvin membuka pintu kamarnya dia menatap gadis yang menggunakan piyama hello kitty, apakah gadis itu memiliki banyak motif kartun piyama? Liora berubah menjadi kikuk saat melihat tatapan Zelvin.
"Eem.. Kak Zelvin makanannya sudah siap."
Zelvin mengangguk, lalu dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan diikuti oleh Liora dari belakang, Liora duduk di sebelah Zelvin.
"Kak Zelvin mau makan pakai lauk apa? Biar aku ambilkan," tawar Liora
"Saya bisa sendiri." Liora mengangguk, dia menunggu reaksi Zelvin saat mencoba mencicipi makanannya. Tapi...
BRUGH!
Tiba tiba saja Zelvin menjatuhkan sendok dan garpu di atas piring sehingga menimbulkan suara yang nyaring.
Zelvin langsung mengambil air putih yang ada di sebelah piringnya dan meminumnya hingga habis "Kamu bisa masak nggak sih? Asin tau nggak rasanya. Kalau nggak bisa bilang! Kita delivery saja!" bentak Zelvin dengan tatapan mata yang tajam Liora menggigit bibirnya takut, melihat Zelvin yang marah seperti ini. Matanya tajam, tangannya yang terkepal dan aura yang membuatnya semakin takut kepada Zelvin.
"Kak Zelvin... Maafkan aku," cicit Liora tanpa mengucapkan apapun, Zelvin meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamarnya.
BRAK!
Pintu kamar ditutup dengan sangat keras membuat Liora gemetar ketakutan.
"Mommy... Tante Krystal..." gumam Liora.
Zelvin keluar dari kamarnya. Dia mengedarkan pandangan nya di setiap ruangan, menatap rumahnya yang terlihat sepi. Tatapan tertuju kepada pintu disebelahnya, pintu yang tidak ditutup dengan rapat.
Zelvin melangkahkan kaki nya, dia membuka pelan pintu kamar itu. Dia langsung melihat Liora yang sedang tertidur di ranjangnya, tak lama kemudian Zelvin langsung menutupnya dengan rapat.
Zelvin melangkahkan kaki nya menuju dapur untuk mengambil minum. Langkah Zelvin berhenti ketika meja makan, meja makan itu masih ada makanan-makanan yang tadi. "Dia nggak makan?" gumam Zelvin.
__ADS_1
Zelvin mengambil air putih danĀ meneguknya hingga habis. Zelvin kembali lagi ke kamarnya, melanjutkan pekerjaannya yang banyak tertunda.
Liora keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Hari ini, dia akan kembali masuk kuliah setelah beberapa minggu ambil cuti. Liora banyak sekali ketinggalan mata kuliahnya, dia ingin lulus cepat jadi harus mengejar hal yang tertinggal.
Langkah Liora berhenti ketika melihat Zelvin yang sedang berada di dapur. Zelvin membalikkan badannya ketika merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Pria itu menatap Liora yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Kemari lah dan sarapan!" suruh Zelvin Liora berjalan, dia berdiri di sebelah pria yang sedang menyiapkan roti dengan selai coklat itu.
"Ini makan! Hari ini saya antarkan kamu kuliah," ucap Zelvin dan Liora mengangguk, gadis itu duduk dan memakan roti yang di siapkan oleh Zelvin tadi.
Zelvin memperhatikan Liora makan. Liora tergolong cantik untuk gadis seusianya. Rambut hitam panjang, kulit putih bersih, hidung mancung dan mata yang sipit. Zelvin sangat menyayangkan nasib gadis di depannya yang dijodohkan dengannya.
"Ayo antarkan aku kuliah kak, masih ada yang harus aku kerjakan di kampus," ajak Liora dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Zelvin.
Selama diperjalanan tidak ada percakapan apapun diantara keduanya. Liora sibuk dengan pikirannya dan Zelvin sibuk menatap ke depan. Liora menoleh, menatap Zelvin dari samping.
"Kak Zelvin mau kerja?" tanya Liora.
Zelvin mengangguk.
"Pulangnya duluan aku atau kak Zelvin?"
"Kamu."
"Jadi nanti aku pulangnya sendiri?"
"Kamu mau saya jemput?"
Liora dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksudnya, maksud aku--"
"Saya ada meeting, kemungkinan pulangnya malam. Tolong jemput Emmanuel dirumah Mama saya, dia akan tidur dirumah saya," tutur Zelvin memotong ucapan Liora, pria itu memang sangat suka memotong pembicaraannya.
"Tadi subuh, dia langsung ke rumah Mama."
Liora hanya manggut-manggut.
"Ada pengasuh Emmanuel juga, kamu bisa bertanya ke dia tentang Emmanuel. Saya harap kamu bisa beradaptasi dengan keadaan asing ini."
"Kak, Emma-"
"Sudah sampai," potong Zelvin.
"Aku belum selesai ngomong lho. Kak, Emmanuel--"
"Ingat kata kamu ada yang harus di kerjakan di kampus kan?" peringat Zelvin.
"Iya, tapi aku mau nanya kalau--"
"Liora, kerjakan tugas kamu!"
Liora terdiam. Liora? Ini pertama kalinya Zelvin memanggilnya namanya. "Liora?" beo Liora
"Nama kamu Liora Keanna Choi kan?" tanya Zelvin.
Liora mengangguk, "Yang lain panggil kamu Liora."
Liora tersenyum. "Aku pamit, kak. Bye!" Liora segera keluar dari mobil Zelvin dan berlari menuju ke dalam kampusnya.
Zelvin menarik ujung bibirnya. "Liora.." gumam Zelvin.
__ADS_1
"Liora!"
Liora menghentikan langkahnya ketika melihat Alvin yang berlari ke arahnya. Dia memaksakan untuk menerbitkan senyumannya untuk Alvin, rasanya sangat sulit untuk bertemu pria itu di keadaan seperti ini. Ada perasaan asing yang dia rasakan. Liora tersentak kaget ketika Alvin tiba tiba memeluknya.
"Aku rindu banget sama kamu, Liora," gumam Alvin pelan tepat disebelah telinganya.
Alvin melepaskan pelukannya, dia menatap Liora. "Sudah selesai liburan bareng keluarganya?" goda Alvin.
"S-sudah,"
"Katanya liburan, tapi kok kamu makin kurus. Berapa minggu kita nggak ketemu? Kok kurus?" tanya Alvin heran.
"A-aku diet, iya diet."
Alvin terkekeh, mengusap kepala Liora. "Buat apa diet, Lio? Badan kamu sudah kecil gini jangan diet ya Lio, cintai tubuh kamu. Oke?"
Liora hanya mengangguk dan tersenyum.
Alvin menggenggam tangannya, lalu melangkah kaki nya bersama. "Aku antar ke kelas ya. Tadi aku lihat Jennie nungguin kamu di depan kelas," ucap Alvin.
Liora mengangguk, "Iya Al."
"Lio, sepertinya kamu harus ngejar target ya? Soalnya kamu banyak mata kuliah ketinggalan. Mau aku bantuin?" tawar Alvin.
"Memangnya kamu nggak ada praktek, Al?"
Alvin menggelengkan kepalanya. "Nggak ada untuk bulan ini, jadi mau bantuin kamu." jawab Alvin sambil memamerkan gigi putihnya. Menggemaskan.
Liora tersenyum, "Nanti selesai kuliah, aku mau ke perpustakaan. Mau ikut?"
Alvin mengangguk dengan cepat. "Mau!" jawabnya dengan semangat
Liora mengangkat tangannya, menepuk - nepuk pipi Alvin. "Gemes banget sih."
Liora menatap Jennie yang menunggunya di depan kelas. Tatapan Jennie berbeda, jelas Liora tahu arti dari itu semua. Jennie, adalah satu satu nya yang mengetahui pernikahannya dengan Zelvin. Jennie juga sempat ingin datang ke pernikahan Liora, tapi dilarang karena tidak enak dengan keluarga Zelvin.
"Capek aku liat kalian. Sana kamu pisah guru asli kamu udah nunggu di ruang praktek." usir Jennie
Alvin berdecak lidah. "Aku
rindu sama dia, Jen. Si doi nggak masuk berminggu-minggu."
"Berlebihan banget sih, sana!" Jennie mengusir Alvin dengan mendorong pria itu dengan pelan.
"Ck, iya, aku pergi. Nanti ketemu ya Lio, bye!" Alvin meninggalkan mereka berdua.
Jennie menatap Liora yang terlihat semakin kurus. Matanya terlihat sayu seperti menandakan bahwa dia tidak baik-baik saja.
Jennie segera memeluk Liora, "Lio, are you okay?" tanya Jennie Liora menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin aku baik baik aja, Jen."
Jennie melepaskan pelukannya, "Gimana dengan keluarga baru kamu? Suami kamu?"
Liora memaksakan untuk tersenyum. "Mereka baik. Su-suami aku, aku nggak tau gimana ngejelasinnya. Dia...dia menakutkan, Jen."
Jennie memegang erat lengan dingin Liora, "Kamu kuat, aku yakin!"
Liora hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
...----------------...