
“British Museum ini salah satu museum tertua di dunia. Bangunan ini didirikan pada tahun 1753, namun pertama kali dibuka untuk publik enam tahun setelahnya adalah tanggal 15 Januari 1759 di Montagu House di Bloomsbury. Dan lagi, British Museum juga sempat mengalami perpindahan hingga di tahun 1997 menempati lokasi yang sekarang ini,” jelas Juno.
Liora menatap Juno yang sedang menjelaskan sejarah dari British Museum. Juno menjelaskan semuanya dengan rinci, bahkan dia juga selalu menjawab semua pertanyaan Liora dan menjelaskannya dengan jelas. Juno menjelaskannya dengan kalimat yang mudah sekali dipahami. Sambil mengelilingi British Museum yang sangat luas, ditemani dengan penjelasan-penjelasan dari Juno.
“Ini mumi dari mesir kan?” tanya Liora.
Juno mengangguk. “Yes, disini ada 140 mumi beserta dengan peti matinya.”
Liora membulatkan matanya takjub. Lalu tersenyum tipis, dia terus melangkahkan kaki nya mengelilingi museum. Museum ini sangat indah, apalagi banyak sekali bangunan bangunan bersejarah disini, banyak sekali peninggalan-peninggalan dari negara-negara asing disini.
“Ini dari Korea?” tebak Liora.
Juno mengangguk, “Tebakan anda benar Mrs. Park. British Museum Ini memiliki koleksi beberapa artefak kuno peninggalan dinasti Chosun dari abad ke 16 dan 17, salah satunya stempel kerajaan yang berbentuk kura-kura dan berlapiskan emas dan perunggu dibuat tahun 1547 untuk menghormati Ratu Munjeong, istri ketiga raja kesebelas Dinasti Chosun, yang diduga dicuri ketika berlangsungnya Perang Korea.”
“Wow, it's good,” puji Liora.
Juno hanya tertawa pelan. Mereka melanjutkan langkahnya untuk mengelilingi museum. “Disini juga, banyak sekali artefak yang berasal dari luar negeri yang membuat beberapa koleksi British Museum yang menjadi kontroversi. Ada banyak organisasi yang meminta British Museum untuk mengembalikan artefak-artefak ke negara asal. Contoh koleksi yang disengketakan adalah Benda Perunggu dari Benin, Batu Rosetta dari Mesir dan Marmer Elgin dari Yunani.”
Juno menundukkan kepalanya, menatap Liora yang menatapnya dengan serius, gadis ini terlihat sekali tertarik dengan setiap penjelasan dari Juno. Respon dari Liora pun sangat baik, dia selalu memuji setiap penjelasannya.
“Tapi, British Museum menolak mengembalikan barang-barang tersebut dengan alasan setiap museum harus mengembalikan barang koleksi maka tidak ada lagi yang bisa dipajang. British Museum juga berargumen kalau surat keputusan British Museum tahun 1963 secara sah menyatakan barang yang sudah masuk ke museum maka tidak bisa dikeluarkan. Seperti itu.”
Liora mengangguk paham, “Ck pantas saja disini banyak sekali peninggalan dari luar, ternyata nggak mau dibalikin,” celetuk Liora asal menggunakan bahasa Korea.
“Mrs. Park anda jangan bicara seperti itu, untung tidak ada yang mengerti dengan ucapan anda,” tegur Juno.
Liora tertawa kecil, "Aku hanya bercanda, Juno.”
“Mrs. Park sebentar lagi museum akan segera tutup, ada lagi yang ingin anda kunjungi hari ini sebelum langit berubah menjadi gelap?” tanya Juno.
Liora menggelengkan kepalanya, “Nggak ada, kamu punya rekomendasi untuk kita kunjungi hari ini?”
Juno tersenyum, “Kalau begitu, kita harus cari makan terlebih dahulu. Karena saya yakin anda lapar, benar?”
Liora terkekeh pelan, lalu mengangguk. “Setelah makan, boleh nggak kalau kita keliling-keliling dulu sebelum kembali ke mansion?” tanya Liora.
Juno mengangguk, “Tentu saja. Mrs. Park, jika anda memiliki list yang ingin anda kunjungi, boleh kirimkan ke saya lewat pesan. Biar saya yang menyusun semuanya.”
“Tapi aku gak punya nomor kamu,” balas Liora.
Juno mengeluarkan ponselnya, "Ketik nomor anda disini, nanti saya missed call,” ujar Juno sambil mengeluarkan ponsel dari jaketnya.
Liora menerimanya, jari nya lincah untuk mengetik nomornya.
“Oke, sekarang kita makan di tempat yang saya pastikan anda suka.”
Liora mengangguk.
...****************...
Night Drive di kota London benar benar indah, apalagi dengan ditemani alunan musik yang membawanya untuk rileks dan santai. Liora benar benar melupakan apa yang membuatnya sakit hari ini.
Hembusan angin menerpa wajahnya, Liora memejamkan matanya untuk menikmati ini, namun bayangan dimana ia berharap untuk liburan bersama Zelvin muncul di benaknya. 'Nggak boleh Lio, ingat itu hanya bercanda,' batin Liora yang berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak berharap terlalu jauh kepada suaminya.
Andai, jika Liora lebih memilih kembali ke Seoul tanpa persetujuan Zelvin. Dia pastikan, Zelvin akan marah sangat besar kepadanya. Namun, berada di sini pun membuatnya sedikit sesak. Untung saja, ada Juno yang menjadi tour guide nya, maka dirinya sedikit melupakan semua masalah.
Liora akan memanfaatkan waktu yang dia miliki dengan sebaik-baiknya, dia tidak boleh mengacaukan hari-harinya karena perkataan Zelvin atau ekspetasinya yang terlalu tinggi.
__ADS_1
“Mrs. Park anda ingin tahu sesuatu?”
Liora menoleh, dia menatap Juno yang sedang menyetir. “Apa?”
“Saya adalah sebenarnya juga orang Korea. Tapi, saya tinggal disini karena ikut dengan Ayah saya yang bekerja disini," ungkap Juno membuat Liora sedikit terkejut karena wajah Juno jauh dari kata wajah pria asia.
"Lalu Ibu mu?”
“Ibu saya selalu menolak untuk tinggal disini, dia tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya. Tapi meski begitu, saya dan Ayah sering pulang atau Ibu yang kesini untuk menjenguk saya dan Ayah,” jawab Juno menjelaskan
Liora mengangguk pelan, “Di korea kamu tinggal dimana?”
“Di Busan, Mrs. Park.”
“Berarti kamu bisa bahasa Korea dong?”
Juno terkekeh pelan, “Tidak terlalu, karena saya dibesarkan di negara ini. Walaupun begitu saya mengerti apa yang orang ucapkan dalam bahasa Korea, hanya saja untuk mengucapkan huruf-huruf hangeul sangat susah bagi saya.”
“Pantas saja kamu tadi mengerti yang aku ucapkan. Oh ya, dulu aku pernah tinggal di Busan mungkin hampir 3 tahun, disana ada rumah mendiang dari kakekku," jelas Liora.
Juno menoleh sekilas, lalu menatap ke depan lagi. “Benarkah?”
Liora mengangguk.
“Kebetulan sekali, Mrs. Park,” tutur Juno.
Liora terkekeh pelan, dia meminum kopi yang dia beli tadi. “Besok aku mau ke Kensington Gardens, Hyde Park, Trafalgar Sguare dan Harry Potter Studio Tour, gimana?”
Juno terdiam, sedetik kemudian dia mengangguk pelan. “Boleh. Kemanapun yang anda inginkan, saya akan wujudkan.”
“Liora Keanna Choi.”
“Wow, nama yang cantik untuk orang yang manis seperti anda,” puji Juno
“Jangan berlebihan, Juno.”
“Mrs. Park ini adalah pertama kali anda menyebut nama saya.”
Liora tertawa, “Benarkah?”
Juno hanya menganggukkan kepalanya.
...****************...
Liora baru saja masuk ke dalam mansion. Dia langsung menghentikan langkahnya ketika di ruangan utama ada Zelvin, Griffin dan Alice yang sedang membahas proyek yang akan mereka presentasikan besok.
Liora membuang napasnya, dia ingin melangkahkan kaki nya namun suara Alice yang menyapa nya membuat Liora kembali di tempat.
“Nyonya Liora, selamat malam,” sapa Alice.
Liora hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar nya. Melihat tingkah aneh dari Liora, membuat Alice mengerutkan keningnya. Alice memang tidak sedekat itu dengan Liora, namun perilaku berbeda dari Liora saat ini dapat Alice rasakan. Alice juga menatap atasannya, pria yang duduk di hadapannya itu mendadak wajahnya menjadi datar. Apakah mereka sedang bertengkar?
Zelvin kembali membahas materi yang akan mereka tampilkan besok. Namun, beberapa kali Zelvin didapati tidak fokus entah karena apa. Pria itu sesekali mengumpat karena pikirannya tidak tertuju kepada map di depannya.
“Besok pagi, kita bahas lagi. Saya lelah, kalian boleh istirahat!” putus Zelvin.
Alice dan Griffin mengangguk bersamaan. “Baik, Tuan.”
__ADS_1
Zelvin berdiri, dengan langkah yang lebar dia meninggalkan mereka dan menaiki anak tangga dengan cepat.
Liora telah selesai membersihkan tubuhnya. Kini, dia menggunakan piyama tidur panjang. Liora sedang mengeringkan rambutnya, karena dia tidak bisa tidur dengan rambut yang basah, padahal tubuhnya terasa begitu lelah dan ingin segera tidur.
Mengingat kembali. Melakukan perjalanan dengan Juno tidak membosankan, karena pria itu sangat asik bahkan selalu memberikan gurauan yang berhasil membuat Liora tertawa. Juno bukan seperti seorang tour guide tapi seperti seorang teman. Dan satu fakta lagi, selera humor mereka yang sama membuat mereka nyambung. Untuk besok, Liora sudah meminta Juno untuk menjemputnya sangat pagi karena dia ingin jalan-jalan seperti tadi. Sepertinya, Liora bisa menikmati liburannya meskipun semuanya jauh dari ekspetasinya. Tidak apa-apa.
Liora tersentak kaget ketika pintu kamar dibuka dengan suara yang keras. Zelvin masuk ke dalam kamar, dia menutup pintunya dengan pelan karena dia sadar Liora kaget karena ulahnya.
Tidak ada percakapan apapun diantara mereka, karena Zelvin langsung masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar suara gemericik air. Liora berjalan menuju ranjang, dia merebahkan tubuhnya. Baru saja ingin memejamkan matanya, suara pintu kamar mandi membuatnya kembali membuka matanya.
“Keanna,” panggil Zelvin.
Zelvin mendekati Liora, dia duduk disebelah Liora. Air di tubuhnya bercucuran dan mengenai wajah Liora yang sedang berusaha untuk tidur.
Liora berdecak lidah, dia bangun dari tidurnya. “Kak Zelvin, bisa nggak sih jangan ganggu aku? Aku mau tidur, aku lelah!” ucap Liora kesal.
Zelvin mengangguk pelan, “Saya lapar, dari pagi sampai sekarang belum makan. Tolong buatkan makanan untuk saya,” pinta Zelvin dengan lembut.
“Disini banyak banget pelayan, kamu bisa menyuruh mereka. Aku sangat lelah hari ini, jangan ganggu aku!” tolak Liora.
Liora ingin kembali menidurkan tubuhnya, namun Zelvin menariknya ke dalam pelukannya. “Jangan marah, Keanna.”
Liora melepaskan pelukan Zelvin, dia sedikit menjauh dari Zelvin. “Kamu basah. Kalau lapar, suruh pelayan kamu untuk buatkan makanan. Aku mau tidur,” ujar Liora kembali tidur.
Napas Zelvin tidak beraturan. Emosinya tiba-tiba saja naik, melihat Liora yang menolak untuk berdekatan dengannya membuat Zelvin sangat kesal. Zelvin langsung berjalan menuju lemari, dia memakai kaos.
Tanpa mengeringkan rambut terlebih dahulu, Zelvin langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Liora dari belakang. Dia berharap, emosinya mulai mereda dengan memeluk Liora. “Saya ingin marah, tapi kamu memang berhak marah sama saya, Keanna," gumam Zelvin.
...****************...
Pagi-pagi sekali, Zelvin sudah meminta Alice dan Griffin untuk membahas tentang proyek mereka. Akibat kemarin tidak fokus, jadi nya hari ini mereka harus bekerja lebih extra.
“Setelah meeting nanti, jangan lupa untuk buat salinan data nya. Saya tunggu email dari kamu, Alice!” perintah Zelvin.
Alice yang masih mengantuk, langsung membuka matanya. Dia mengangguk saja. “Baik, Tuan.”
Suara langkah kaki membuat perhatian mereka teralihkan. Seluruh pasang mata, kini menatap Liora yang sedang menuruni anak tangga dengan pelan. Zelvin mengerutkan keningnya, dia melihat penampilan Liora yang sangat rapi dan cantik, ditambah rambutnya yang digerai indah.
Liora melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa-gesa. Zelvin pikir, gadis itu akan menghampiri nya namun pikirannya salah. Liora berjalan melewatinya tanpa meliriknya sedikitpun.
“Sialan!” gumam Zelvin.
...****************...
“Penampilan anda sangat cerah, cocok dengan cuaca hari ini, Mrs. Park,” puji Juno
Liora tersenyum tipis, “Terima kasih, Juno. Bye the way, kenapa kamu pakai baju serba hitam?” tanya Liora.
Sebelum menjawab, Juno tersenyum terlebih dahulu. “Saya merasa tampan jika menggunakan pakaian hitam," Juno menaikkan sebelah alisnya.
Liora tertawa, “Kamu itu terlalu percaya diri sekali.”
Senyuman Juno langsung luntur, dia menatap Liora dengan datar. “Mrs. Park, anda sangat kejam.”
Sesuai dengan permintaan Liora kemarin malam, mereka akan mengunjungi tempat-tempat yang Liora inginkan. Juno terus melihat Liora tidak berhenti untuk tertawa dengan segala gurauannya membuat hatinya seketika menghangat.
...----------------...
__ADS_1