Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Hari terakhir Honeymoon


__ADS_3

Aktifitas sebelum kembali ke Korea Selatan adalah menikmati bioskop hening di atas air. Selama 5 hari memang belum cukup bagi Jayden dan Yuna.



Namun mereka puas dengan liburannya, karena selama mereka ada disini, semuanya terasa sangat sempurna. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain, pekerjaan dan juga masalahnya.


Sayang sekali, besok mereka berdua harus kembali ke Korea Selatan dan mengurus pekerjaan masing-masing yang sudah sangat menumpuk. Setelah kembali mereka berharap kehidupannya akan selalu membahagiakan seperti saat ini.


"Jay," panggil Yuna dengan kedua mata yang masih fokus melihat ke depan layar.


Jayden hanya berdehem sembari mengeratkan rangkulannya dan mengelus tangan Yuna.


"Terima kasih untuk semuanya, aku sangat bahagia sekali karena keinginanku untuk kesini bisa kesampaian juga," ucap Yuna senang.


Jayden tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa saat dengan senyuman manis yang tidak akan pernah ia lupakan.


Jayden menarik dagu Yuna agar ia bisa melihat wajah cantik istrinya. Kedua bola mata Yuna terlihat sangat bersinar dalam kegelapan, bahkan cahaya bintang dan bulan yang bersinar di atas langit Maldives terkalahkan olehnya.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu." Jayden mengelus pipi Yuna dengan sangat lembut. "Terima kasih kamu telah bersedia menikah dengan pria arogan dan sombong yang sangat menyebalkan ini. Pria ini sangat beruntung memilikimu dalam hidupnya," sambung Jayden.


Tangan kiri yuna terangkat menyentuh wajah Jayden, "Aku bersumpah, bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku tidak akan pernah menyesal memberikan seluruh hidupku ini untukmu."


"Aku akan selalu dan tidak akan pernah lupa berdoa kepada Tuhan agar memberikanku kesempatan untuk terus bisa membahagiakanmu hingga akhir. Aku berterima kasih kepada-Nya karena telah menciptakan malaikat cantik sepertimu di dunia ini, aku tidak akan pernah bosan untuk meminta agar kita selalu berjodoh di dunia, maupun di kehidupan selanjutnya," ucap Jayden dengan serius. Yuna tersenyum haru dan langsung memeluk tubuh Jayden dari samping.


Hari ini adalah hari kepulangan Yuna dan Jayden ke Korea Selatan. Mereka berdua kini sudah berada di perjalanan akan pulang, mereka baru saja di jemput ke Bandara oleh sopir pribadi keluarga Jayden.


Di tengah perjalanan, Yuna mengerutkan keningnya karena ini bukan jalan menuju ke mansion mertuanya.


"Ini kita mau kemana sayang?" tanya Yuna bingung.


"Aku mau kasi kejutan untukmu," jawab Jayden.


"Kejutan? Aku kan nggak ulang tahun," ucap Yuna.


"Ya anggap saja ini hadiah pernikahan dari aku untuk kamu," jawab Jayden tersenyum misterius.


Yuna semakin penasaran hadiah apa yang akan suaminya itu berikan kepadanya. Bahkan sekarang matanya ditutup Jayden menggunakan syal.

__ADS_1


Tak lama sampailah mereka di tempat yang di katakan sebagai kejutan untuk Yuna dari Jayden. Jayden memapah Yuna keluar dari mobil.


"Aku sudah boleh lepas syal ini?" tanya Yuna.


"Iya sayang, sini biar aku yang buka."


Jayden membuka syal yang menutup mata Yuna. Yuna membuka mata secara perlahan, sekarang di depannya ia melihat sebuah mansion yang hampir sama mewahnya dengan mansion milik mertuanya.


Yuna yang bingung pun menatap Jayden, "Apa maksudnya ini, Jay?"


"Ya ini hadiah untukmu, sayang. Mansion yang akan kita tinggali bersama anak-anak kita nanti," kata Jayden.


"K-kamu serius?" tanya Yuna dengan mata berbinar.


"Iya aku sangat serius sayang," jawab Jayden bersungguh-sungguh. Yuna tersenyum bahagia dan langsung berhamburan ke pelukan Jayden.


"Terima kasih, sayang."


"It's my pleasure honey, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu," imbuh Jayden seraya mengecup puncak kepala Yuna berkali-kali.


...****************...


Lagi-lagi Yuna mendengar suara yang mengganggu pendengarannya, dan suara itu berasal dari kamar mandi. Yuna segera turun dari ranjang lalu memilih untuk berdiri dengan gelisah di samping tempat tidur.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Terdapat Jayden yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkari pinggangnya. Namun fokus Yuna bukan pada badan Jayden, tapi wajah pria itu terlihat pucat.


"Pagi sayang," sapa Jayden menghampiri Yuna yang sedang berdiri di sisi ranjang, lalu memanggut singkat bibir istrinya.


Yuna menangkup wajah Jayden saat mereka melepaskan ciuman.


"Wajah kamu terlihat sangat pucat sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Yuna cemas sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Jayden. Dan benar saja, tubuh pria itu terasa hangat.


Bukannya menjawab, Jayden memilih untuk untuk di tepi ranjang, kemudian menarik tubuh Yuna agar duduk di pangkuannya.


"Aku gapapa, sayang. Aku hanya merasa sedikit pusing dan mual mungkin karena beberapa hari ini aku sering begadang."


"Kamu ini! Sudah sering aku katakan, jangan terlalu sering mengurusi pekerjaanmu! Kamu juga butuh istirahat, Jayden!" omel Yuna.

__ADS_1


Jayden tersenyum manis melihat sifat protektif istrinya. Ia sangat menyukainya, beberapa hari ini Yuna selalu memarahinya karena Jayden sering bekerja hingga larut malam tanpa memperdulikan kesehatannya.


"Walaupun aku sakit, yang penting ada kamu yang akan merawat ku," kekeh Jayden.


"Tapi aku nggak mau kamu sakit!" Yuna memukul bahu Jayden karena merasa kesal.


Namun rasa kesal Yuna berubah menjadi cemas ketika ia melihat perubahan dari raut wajah suaminya. Jayden terlihat seperti sedang menahan sesuatu.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Yuna panik.


Jayden mengangkat tubuh Yuna untuk turun dari pangkuannya. Lalu ia berlari ke arah kamar mandi yang disusul oleh Yuna.


Jayden ternyata memuntahkan sesuatu di wastafel. Yuna semakin panik, ia memijat tengkuk Jayden dengan begitu lembut. Lagi-lagi Jayden memuntahkan cairan bening.


"Ini nggak bisa dibiarkan, kita harus ke rumah sakit, Jay. Hari ini kamu jangan ke kantor!" kata Yuna seraya menguap punggung Jayden.


Setalah merasa baikan, Jayden membasuh mulutnya. Ia merasa sangat lemas saat ini, ditambah dengan kepalanya yang terasa pusing.


"Aku gapapa sayang. Aku harus ke kantor, karena hari ini aku akan bertemu dengan klien penting," jelas Jayden sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Yuna.


"Aku sudah memutuskan jika kamu tidak boleh bekerja! Kamu harus beristirahat, Jayden!" Yuna sangat bersikukuh agar hari ini Jayden tidak datang bekerja demi kesehatan pria itu.


Jayden tersenyum lalu mengecup kening Yuna sebelum keluar dari kamar mandi. Jayden pergi ke walk in closet untuk segera berpakaian. Yuna segera menyusul pria keras kepala itu.


"Kamu ini sangat keras kepala sekali!" kesal Yuna, yang saat ini sedang berdiri di pintu ruang wardrobe.


Jayden terkekeh, lalu memutar tubuhnya agar menghadap Yuna. "Aku baik-baik saja sayang. Kamu tenang saja, jangan khawatir," ucap Jayden sambil mengancingkan kemejanya.


"Aku akan membencimu jika kamu sakit karena pekerjaanmu itu!"


"Aku berjanji sayang, aku nggak akan sakit." Jayden merentangkan kedua tangannya meminta agar Yuna masuk ke dalam pelukannya.


Yuna pun melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang masih kesal. Lalu menghambur untuk memeluk tubuh pria yang sangat dicintainya itu.


"Jangan marah lagi. Belakangan ini kamu sering memarahiku, aku takut tekanan darah mu nanti bisa naik," goda Jayden sambil terkekeh.


Yuna mencubit pinggang Jayden yang membuat pria itu meringis, tapi sedetik kemudian ia terkekeh geli. Jayden memang sangat suka menggoda dan menjahili istrinya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2