
Hujan untuk hari senin. Suasana kota Seoul menjadi lebih sejuk karena hujan turun begitu deras dari pagi hingga saat ini. Banyak orang-orang yang mengeluh dengan kehadiran hujan ini, karena aktivitas mereka terganggu. Jalanan yang selalu padat, kini menjadi sepi karena turun hujan. Banyak orang-orang yang lebih memilih berteduh, dibanding menikmati hujan ini.
Seperti Liora. Gadis itu bangku koridor sambil menatap hujan di depannya. Mata nya melihat awan yang gelap, seperti nya memang tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Liora tersenyum, ingatannya kembali ke masa lalu dimana dirinya sangat membenci hujan tapi kini hanya hujan lah yang membuatnya tenang.
Satu orang yang berhasil membuatnya menyukai hujan. Alvin. Si pria penyuka hujan. Astaga, Liora tetap saja mengingat pria itu. Terlalu banyak kenangan bersama pria itu sehingga melupakannya saja sulit, kebaikan pria itu tidak bisa ditutup dengan perilaku buruknya. Alvin baik, itu adalah faktanya.
Liora membuang nafasnya, ternyata sesakit ini rasanya ketika mengingat Alvin. Ingatannya kembali dimana Alvin sangat kecewa kepadanya. Liora sangat merasa bersalah. Liora tidak ingin apapun, tapi dia hanya ingin Alvin menerima permintaan maafnya. Itu saja sudah cukup.
DUARRR!
Liora tersentak kaget dengan suara petir dan kilatan cahaya di depan matanya. Liora menatap koridor yang hanya ada beberapa mahasiswa.
Liora menyipitkan matanya, ketika dia melihat Alvin yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Liora tersenyum tipis ketika Alvin bermain dengan air hujan, pria itu tidak ada takutnya meskipun guruh sangat besar.
Setidaknya dengan hujan, Liora bisa melihat wajah ceria Alvin. 'Terimakasih hujan, kau membuat gelap menjadi bersinar untuk sesaat,' batin Liora.
"Liora!"
Liora menoleh, dia menatap seorang pria tinggi yang berlari untuk menghampiri nya.
"Iya, ada apa?"
"Pulpen kamu, tadi ketinggalan di kelas," ucap Tommy.
Liora mengambil pulpen itu, "Thanks, Dam."
Tommy mengangguk, "Aku pergi ya," ucapnya pamit.
Liora mengangguk, "Jangan lari, licin, nanti kamu bisa jatuh," peringat Liora.
Tommy mengacungkan jempolnya, lalu berjalan menjauh dari Liora.
Liora menoleh, dia sudah tidak mendapati Alvin yang berdiri sambil bermain hujan. Kemana pria itu? Namun tatapan Liora tak sengaja melihat flashdisk yang tergeletak di lantai.
Liora berjalan, lalu mengambil flashdisk itu. 'AL' tulisan yang tertera di flashdisk itu. jelas Liora tahu arti itu, 'Alvin Liora'. Alvin yang menulis nama itu tepat di hadapannya.
"Aku cari Alvin saja kali ya?" gumam Liora.
Liora melangkahkan kakinya untuk mencari Alvin. Gedung fakultas kedokteran sangat mewah, Liora pernah beberapa kali kesini dan dia yakin gedung ini paling bersih.
"Alvin," panggil Liora.
Alvin membalikkan badannya, dia sedikit terkejut dengan kehadiran Liora di gedung jurusannya.
Liora menyodorkan flashdisk ke Alvin, "Ini flashdisk kamu terjatuh, lain kali hati-hati. Pasti ada file-file tugas disini," tutur Liora tersenyum.
Melihat tidak ada respon dari Alvin, Liora menarik tangan Alvin lalu menyimpan flashdisk di telapak tangan Alvin. "Aku pergi, permisi," pamit Liora.
Liora melangkahkan kakinya Keluar dari gedung kedokteran. Alvin hanya bisa menatap sendu punggung Liora yang semakin jauh melangkah.
Drtt! Drtt! Drrtt!
"Halo, Ma,"
"Sayang, kamu dimana?"
"Masih di kampus, kenapa ma?"
"Emmanuel rewel, Lio. Dia mau sama kamu, sama Moana saja nggak mau. Kesini ya nak."
"Tapi Ma, ini masih hujan. Aku--"
"Mama suruh sopir Mama saja ya? Kasian Emmanuel."
"Iya, Ma. Liora akan kesana."
"Ya sudah tungguin sopirnya datang ya sayang?"
"Baik Ma."
Tut!
...****************...
__ADS_1
"Gimana Emmanuel, Ma?" tanya Liora kepada Marissa yang baru saja keluar dari kamar Emmanuel.
"Lagi bobo, dari tadi dia cari kamu terus, sepertinya dia lagi pengen sama kamu. Jadi sedikit rewel," jelas Marissa.
Liora sedikit bernapas lega, "Syukurlah kalau dia tidur, dia harus banyak istirahat."
"Dingin nggak, sayang?" tanya Marissa.
Liora mengangguk, "Sedikit, Ma."
"Mama buatin teh hangat ya? Moana saja tadi pulang sekolah merengek kedinginan meskipun nggak kehujanan."
Liora terkekeh, "Nggak usah Ma, lagian wajar saja dingin, kan lagi hujan," ucap Liora.
"Serius?" tanya Marissa.
Liora mengangguk untuk meyakinkan Marissa. "Serius, Mama cantik. Aku mau ke kamar Emmanuel saja, mau jagain Emmanuel takutnya dia minta sesuatu."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa panggil saja mama ya? Kalau nggak mama, Moana ada di kamarnya."
Liora mengangguk. Setelah kepergian Marissa, Liora masuk ke dalam kamar Emmanuel. Liora melihat anak kecil itu tidur dengan pulas.
"Kasian banget jagoan aku ini," gumam Liora .
Emmanuel terbangun ketika tidurnya terusik, dia merasa ada seseorang yang menatapnya. "Tante?"
Liora tersenyum, "Ya anak manis, Tante disini."
Emmanuel tersenyum, "Tante kemana saja?" tanya Emmanuel.
"Tante kan kuliah, Nuel."
"Tante nggak menginap disini?"
"Kamu mau Tante menginap?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk membuat Liora keheranan. Sifat Emmanuel sedikit berubah, dia tidak terlalu kaku lagi dengan Liora. Bahkan dia menampilkan ekspresi bermacam-macam, tidak seperti dulu. Emmanuel seperti sedikit mulai menerima kehadiran Liora, semoga ini menjadi awal yang baik.
"Tante nggak bisa, Nuel. Nanti Daddy kamu marah kalau Tante nggak ada dirumah, kamu yang harus semangat sembuhnya. Kalau kamu sembuh, Kita pulang ke rumah," ucap Liora dengan nada yang lembut.
"Bukan gitu, Nuel. Kamu tahu daddy kamu seperti apa, dia udah mirip macan kalau marah. Tante takut," cicit Liora membuat raut wajah seolah-olah takut dengan wajah Zelvin ketika marah.
Emmanuel terkekeh melihat ekspresi Liora. "Ya sudah, gapapa deh Tante."
"Tapi tante usahakan akan menginap deh, tapi nggak janji, cuma Tante akan usahakan."
"Terimakasih tante," ucap Emmanuel.
"Sama-sama, sayang. Oh iya, kamu harus sembuh cepat pokoknya. Tante lihat ada taman hiburan di dekat mansion kita, kamu nggak mau kesana?"
"Taman hiburan?" beo Emmanuel.
Liora mengangguk, "Iya, kamu nggak tahu?"
Emmanuel menggelengkan kepalanya.
Astaga, sebenarnya Zelvin pernah membawa bermain Emmanuel kemana saja sih? Kenapa banyak tidak tahunya?
"Seru banget pokoknya taman hiburan itu, ada permainan, banyak makanan, pokoknya seru deh. Makannya kamu harus cepet sembuh, biar kita main kesana."
"Iya, aku mau cepet sembuh, Tante."
"Bagus, itu baru anak Tante."
"Anak Tante?" tanya Emmanuel bingung.
Liora mengangguk, "Kamu sudah Tante anggap seperti anak sendiri."
"Tante pernah janji akan belikan aku odeng, tapi sampai sekarang nggak ada," kata Emmanuel sambil memanyunkan bibirnya.
"Ah itu, astaga tante minta maaf. Tante lupa, untung sama kamu diingetin. Makannya kamu harus cepet sembuh, biar nanti kita main ke kesana terus beli Odeng dan jajanan street food lainnya," ucap Liora.
"Iya tante," balas Emmanuel antusias.
__ADS_1
"Kamu cepat sehat ya?"
Emmanuel mengangguk pelan.
"Terus jangan rewel."
"Iya kalau ada Tante disini," ucap Emmanuel dan itu berhasil membuat hati Liora menghangat.
Setelah melihat Emmanuel yang tertidur pulas, Liora pun keluar dan berjalan menuju ke kamar Zelvin yang ada di mansion Ferdinand.
Tiba-tiba saja ponsel Liora berdering menampilkan nama Giovanno disana.
"Halo my sister."
"Ya Gio? Tumben telpon kakak, ada apa?"
"Aku telpon kakak karena rindu dan ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan ke kak Liora."
"What?" tanya Liora penasaran.
"Aku keterima di Harvard university!" seru Giovanno.
"Really?" pekik Liora. Dia senang mendengar adiknya bisa keterima di Harvard University, kampus impian Giovanno sejak dulu.
"Yeah, akhirnya belajar berbulan-bulan itu tidak sia-sia juga."
"Congratulation my brother, kakak turut senang mendengarnya."
"Thank you kak."
"Berarti kamu harus tinggal di Amerika Serikat?"
"Ya kak, tapi tenang saja. Aku akan menyempatkan untuk mengunjungi Mommy dan Daddy di New York," ucap Giovanno yang mengerti pikiran kakaknya.
"Baguslah. Kamu nanti disana belajar yang rajin, jangan melakukan hal yang aneh. Jangan sampai mencoreng nama baik keluarga Choi," peringat Liora.
"Siap sister."
...****************...
"Kamu masak apa?" Liora mengangkat wajahnya, dia menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak masak apa-apa, kak. Kak Zelvin lapar? Biar pesan delivery saja gimana?" usul Liora.
"Tolong buatkan saya nasi goreng kimchi saja," pesan Zelvin.
Liora berdiri dari duduknya, lalu dia berjalan menuju dapur untuk membuatkan Zelvin nasi goreng. Setelah sekian lama berkutik dengan dapur, akhirnya nasi goreng kimchi pun telah jadi.
"Terima kasih," ucap Zelvin ketika Liora menyimpan nasi goreng kimchi tersebut di atas meja makan. Zelvin langsung mengambil sendok, dan mulai memasukkan ke dalam mulutnya tapi...
Uhuk!
Uhuk!
"Kak Zelvin..."
Zelvin mengambil minumnya, lalu dia bernafas lega karena bisa menelan nasi goreng kimchi buatan Liora. Rasanya sangat asin, bahkan Zelvin tidak bisa berpikir, berapa sendok garam yang ditambahkan.
"Liora!" Zelvin menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu, keahlian kamu apa. Membuat nasi goreng saja kamu tidak becus ya?" sindir Zelvin.
Liora langsung menundukkan kepalanya.
"Saya mohon Liora, kamu mikir! Mikir! Saya tidak suka makan masakan luar, saya lebih suka makanan rumah. Tolong! Belajarlah masak. Itu saja! Apakah sulit?" bentak Zelvin.
"Kak Zelvin, maaf kalau nasi gorengnya tidak enak. Mau delivery?" tawar Liora
"Saya tidak ada selera makan. Terima kasih, nasi goreng asinnya. Kamu pantas menjadi pembunuh!" ucap Zelvin.
Deg!
"Gapapa Liora, kamu harus kuat," gumam Liora. Kata-kata Zelvin selalu saja menusuk di hati Liora.
__ADS_1
...----------------...