
Rafael menghentikan langkahnya ketika melihat seorang gadis yang duduk di bangku taman sendirian. Taman belakang memang jarang di lewati oleh mahasiswa, karena tempatnya berada di belakang perpustakaan. Rafael menyipitkan matanya, ketika dia mengenal tubuh gadis itu.
"Liora?"
Gadis itu tersentak kaget, Liora membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Rafael?" gumam Liora.
Rafael tersenyum, dia duduk di sebelah Liora. Rafael memerhatikan wajah Liora yang terlihat pucat. "Kenapa disini sendirian? Jennie mana?" tanyanya.
"Jennie baru saja pulang, aku lagi nunggu dosen pembimbing," jawab Liora.
"Kenapa harus disini? Nggak di kantin?"
"Kamu tau kan? Sekarang banyak mahasiswa-mahasiswi yang menatap aku dengan tatapan nggak suka," balas Liora berhasil membuat Rafael terdiam.
Rafael berdehem untuk menghilangkan kecanggungan nya. "Lio, aku tau perbuatan Alvin nggak bisa dibenarkan lagi dengan alasan apapun. Aku sebagai sahabatnya pun, merasa sangat kecewa kepadanya. Aku minta maaf atas nama Alvin, Lio," ungkap Rafael.
Liora menggelengkan kepalanya, "Enggak, jangan seperti ini, Raf. Ini biarkan urusan aku sama Alvin saja, terima kasih sudah peduli sama aku."
Rafael mengelus puncak kepala Liora, "Aku sama kamu, sudah kenal dari jaman SMA, Liora. Kamu tetap jadi Liora yang aku kenal," ujar Rafael tersenyum.
"Lio, gimana dengan pernikahan kamu? Kamu senang? Kenapa nggak kasih tahu aku sih kalau kamu nikah? Aku kan mau datang."
"Pernikahan aku baik, aku juga senang dengan pernikahan aku. Sorry ya, soalnya hanya kerabat terdekat yang datang, kalau bisa dibilang ini wedding private," jawab Liora yang tak enak hati.
"Gapapa nggak undang aku, yang penting kamu bahagia," ucap Rafael tersenyum tulus.
Liora mengangguk, "Terima kasih ya, Raf."
Rafael mengangguk, "Soal Alvin sama Lea jangan dipikirkan ya? Kamu lupakan saja semuanya. Lakukan saja apa yang kamu suka, jangan dengarkan mereka. Aku dan Jennie akan lindungi kamu."
Liora tersenyum manis, dia menatap Rafael dengan tatapan yang sulit di jelaskan. "Sekali lagi terima kasih, Raf."
"Mau peluk?" tawar Rafael.
Liora langsung memeluk Rafael dengan erat.
Rafael mengelus rambut panjang Liora, "Aku ikut senang atas pernikahan kamu, asal kamu senang aku pun senang. Jaga diri kamu, aku bakal lindungi kamu," lirih Rafael.
...****************...
"Sial!"
BRAKKK!
Zelvin menggebrak meja membuat orang-orang yang ada di ruangannya langsung terkejut bukan main. Zelvin tiba tiba saja menajamkan tatapannya, membuat siapapun yang di ruangan ini takut. Apalagi sekarang keadaan Zelvin sedang emosi. "Siapa pria itu?" tanya Zelvin dengan nada yang sangat tegas
"Kami tidak tahu Tuan, yang jelas pria itu datang ketika nyonya Liora sedang duduk di taman," jawab salah satu pria berbadan besar itu, yang di angguki oleh temannya.
"Brengsek!" umpat Zelvin.
Zelvin berdiri dari duduknya, dia langsung meninggalkan ruangannya dengan perasaan yang sangat emosi.
Griffin yang melihat atasannya keluar dari ruangan dengan wajah yang terlihat emosi pun heran.
"Tuan an--"
"Gantikan saya meeting jam 4!" potong Zelvin lalu melangkahkan kakinya dengan cepat.
Semua karyawan yang melihat Zelvin berjalan dengan tergesa-gesa ditambah wajahnya yang terlihat emosi pun takut untuk menyapa bos mereka. Di kantor, banyak sekali rumor jika Zelvin itu bos yang killer. Makannya mereka takut, apalagi wajah Zelvin selalu terlihat tegas.
Zelvin terus berteriak memanggil istrinya, tapi hasilnya nihil, istrinya tak kunjung datang. Zelvin pun mencari keberadaan Liora di setiap sudut mansion nya, tapi tetap saja tidak ada. Liora tidak ada di mansion.
PRANGG!
__ADS_1
Zelvin menendang guci yang menjadi pajangan rumah. Guci tersebut ini telah hancur karena ulahnya. Zelvin tidak peduli dengan seberantakan apa keadaan mansion nya kini, yang dia pikirkan hanya satu yaitu Liora.
"Astaga! Kak Zelvin kenapa?" celetuk Liora yang membuat Zelvin langsung membalikkan badannya. Zelvin menampilkan seringai yang selalu membuat Liora merasa tidak enak. Perasaan Liora menjadi tidak tenang, apalagi melihat keadaan rumah yang berantakan. Banyak sekali pecahan kaca yang bertebaran.
"Sudah melayani pelanggannya, hem?" tanya Zelvin sinis.
"Pelanggan? Pelanggan apa Kak?" tanya Liora bingung.
Zelvin berjalan mendekat ke arah Liora, dengan gerakan cepat Zelvin menarik rambut Liora membuat Liora mendongak menatap wajah Zelvin. Zelvin pun menendang pintu, membuat pintu itu tertutup rapat dengan menimbulkan suara yang keras.
"Awww sakit Kak!" jerit Liora.
"Saya pikir, kamu berbeda dengan mantan istri saya. Tapi nyatanya, kalian sama. Sama-sama murahan!" bentak Zelvin dengan tatapannya yang tajam.
"Saya juga berpikir, kamu adalah gadis baik. Tapi kini saya merubah pikiran saya, apakah kamu masih pantas disebut gadis?"
Liora menetaskan air matanya, dia tidak tahu kesalahan dimana yang dia lakukan sehingga Zelvin marah seperti ini. Jujur saja, saat ini Liora benar-benar lelah dengan masalah yang dia hadapi.
"Dan lagi, saya khawatir ketika kemarin kamu menangis. Saya kira kamu ada yang mengganggu mu di kampus, tapi nyatanya you are b*tch, Liora!" ucap Zelvin menghina Liora.
BRUGH!
DUG!
Zelvin mendorong tubuh kecil Liora sehingga gadis itu tersungkur di lantai dan keningnya terkena ujung meja sehingga mengeluarkan darah segar yang membuat Liora meringis kesakitan. Tubuh Liora bergetar hebat, karena ini adalah perbuatan Zelvin yang paling kasar menurutnya.
Zelvin berjongkok tepat di hadapan Liora yang sedang menunduk.
"Saya menyesal punya istri seperti kamu. Dan, saya malu punya istri seperti kamu!" bentak Zelvin.
Dengan mata yang memerah, hidung yang merah, Liora mendongak, menatap Zelvin. Zelvin bisa melihat jelas darah di kening Liora terus mengalir.
"Menurut kamu, aku mau jadi istri kamu? Sama kak, aku juga nggak mau. Tapi aku harus apa, kak? Orang tua aku yang maksa aku. Mommy sama Daddy yang minta aku nikah sama kamu. Asal kamu tahu ya kak, pernikahan ini juga merenggut kebahagiaan dan masa depan aku, kak. Selain kamu yang menderita, aku juga sama kak. Aku menderita!" ungkap Liora.
PLAK!
Liora memegang pipinya yang ditampar sangat kencang oleh Zelvin. Dia merasa sangat perih di ujung bibirnya, dan darah keluar dari ujung bibirnya. Liora semakin menangis.
"Berani kamu melawan saya?! Siapa kamu hah? Gadis sialan! Jal*ng! umpat Zelvin.
Liora memejamkan matanya ketika mendengar Zelvin terus memberikan makian kepadanya. Tubuh Liora semakin bergetar, dia takut dengan Zelvin yang seperti ini.
Zelvin memaksakan Liora untuk berdiri, dia menarik Liora menuju kamarnya. Tanpa dia sadari, kaki Liora menginjak pecahan kaca membuat darah menetes di sepanjang jalan menuju kamar.
Zelvin mendorong tubuh Liora ke atas ranjang. Dia naik ke atas ranjang, lalu melepaskan dasinya dan mengikatkan ke tangan Liora.
"Kak aku mohon sudah..." mohon Liora
"Sudah? Kemana keberatan kamu tadi? Kamu sudah nggak berani melawan saya lagi?" ejek Zelvin.
CUP!
Zelvin mencium bibir Liora dengan sangat brutal, bahkan dia terus menggigit bibir bawah Liora.
"Katakan kalau kamu milik saya!"
Liora terus terisak di sela sela ciuman Zelvin. Dia menangis tanpa suara, dia takut saat ini.
"KATAKAN KEANNA!" bentak Zelvin.
"Kak.."
Zelvin melepaskan ciumannya. Dia menyeringai melihat penampilan Liora yang sangat berantakan. Namun seringai itu begitu menyeramkan dimata Liora.
"Kak Zelvin!" jerit Liora ketika Zelvin mencekik lehernya membuat Liora kesulitan bernapas.
__ADS_1
'Apa ini hari terakhirku di dunia? Daddy, Liora merindukanmu, Liora sudah tak tahan lagi di dunia yang kejam ini,' batin Liora lirih.
"Kamu milik siapa?"
"Kak.." lirih Liora yang kehabisan napas.
"Kamu milik siapa?"
"Ka-kamuh."
Zelvin langsung ambruk di tubuh Liora, dia menghirup aroma tubuh Liora yang selalu memabukkan. Zelvin mencium leher Liora. "Kamu milik saya Liora, jangan ada lelaki manapun yang menyentuh kamu, selain saya. Kamu milik saya, Keanna."
"Saya tidak suka ketika kamu memeluk pria lain dengan erat. Itu hanya untuk saya mengerti?"
Beberapa detik menunggu jawaban dari Liora, tapi tetap tidak ada suara apapun. "Keanna, kamu mengerti?"
"Kean--" Ucapan Zelvin terhenti ketika melihat Liora yang memejamkan mata nya.
Zelvin menepuk-nepuk pipi Liora, "Liora, wake up. Liora!" melihat tidak. Ada respon apapun dari Liora membuat Zelvin semakin panik.
...****************...
"Istri anda kelelahan. Dia juga dehidrasi, saya akan berikan resep obat, tolong tebus di apotek terdekat," jelas dokter yang datang ke mansion Zelvin.
Dokter memberikan kertas yang berisikan resep obat kepada Zelvin, Dokter itu pun pamit pulang setelah memeriksa Liora.
Zelvin menatap Liora yang tertidur pulas di atas ranjangnya. Zelvin mengusap wajahnya frustrasi melihat keadaan Liora yang benar benar lemah di atas ranjang.
"Maafkan saya, Keanna," gumam Zelvin.
Dia berjalan keluar dari kamarnya, Zelvin menatap darah yang sudah mengering di sepanjang jalan menuju kamarnya. Kenapa dia tidak sadar jika kaki Liora berdarah?
Pada akhirnya, Zelvin selalu mengulang kembali kesalahannya. Membuat Liora bersedih dan takut. Zelvin sangat sulit mengendalikan emosinya meskipun dia sudah sering meminum obat penenangnya.
Emosinya selalu tentang Liora, apalagi ketika melihat Liora berpelukan dengan erat dengan laki-laki di foto itu. Sialan. Zelvin tidak ingin membayangkan itu lagi.
Zelvin menelepon asistennya untuk membelikan obat yang sudah dokter resep kan tadi, dia juga meminta tukang kebersihan datang kerumahnya. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar, Zelvin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mandi, Zelvin langsung menghampiri Liora yang masih memejamkan matanya. Zelvin membaringkan tubuhnya disebelah Liora, dia mengusap kening Liora yang di perban.
"Maafkan saya," gumam Zelvin. Zelvin memeluk Liora dengan erat, dia tidak memperdulikan rambutnya yang masih basah. Dia mengecup kening Liora.
"Saya akan berusaha untuk bisa mengendalikan emosi saya."
"Jangan dekat dengan pria lain, Keanna. Saya selalu takut dengan perselingkuhan."
Liora membuka matanya dengan perlahan. Dia merasakan pusing yang amat sakit di kepalanya, dia juga merasa nyeri di kakinya dan bibirnya terasa perih. Liora menatap ke samping, dia melihat wajah damai Zelvin yang sedang tidur sambil memeluknya dengan erat.
Tanpa sadar, Liora meneteskan alir matanya mengingat kejadian tadi. Perlakuan Zelvin sangat kasar, lemah sekali Liora yang tidak bisa melawan Zelvin.
Liora terisak, membuat tidur Zelvin terusik. Zelvin langsung bangun dan melhat Liora yang menangis kembali. Liora menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Keanna ...," panggil Zelvin dengan suara yang lirih. Zelvin merasa bersalah, apalagi ketika mendengar tangisan Liora seperti ini.
"Apa yang sakit? Saya panggilkan dokter lagi?" tawar Zelvin
Liora tidak menggubris, dia terus terisak.
"To-tolong ti-tinggalkan ak-aku se-sendiri," pinta Liora disela-sela isakan nya.
"Tapi, kamu harus makan dulu setelah itu minum obat," ucap Zelvin.
Tidak ada respon apapun dari Liora, membuat Zelvin membuang napasnya. "Baiklah, saya akan keluar," ujar Zelvin mengalah.
...----------------...
__ADS_1