
Acara makan bersama pun telah selesai. Kini, Zelvin dan Liora sedang berada di balkon menatap langit yang gelap tidak ada bintang satupun dan udara malam yang dingin.
Zelvin memeluk tubuh Liora yang terbalut selimut tebal untuk mencari kehangatan. Zelvin menyelipkan anak rambut di telinga Liora, lalu mengecup leher putih Liora.
"Mommy sama Daddy kapan pulang?" tanya Zelvin
Liora menggelengkan kepalanya, "Aku nggak tau, tapi katanya secepatnya. Karena Daddy masih ada kerjaan."
Zelvin mengangguk, dia menyimpan kepalanya di pundak Liora. Wangi sekali tubuh Liora. Wanita itu selalu berhasil membuatnya mabuk.
Liora memutarkan tubuhnya, dia menatap Zelvin dengan tatapan yang sulit di artikan. Liora menggenggam tangan Zelvin sambil mengelus punggung tangan suaminya.
"Kak, kamu nggak suka aku mengandung anak ini?" tanya Liora langsung kepada intinya.
Zelvin menundukkan kepalanya. Napasnya terasa berat, sulit sekali untuk menjelaskannya. Tapi, jika tidak di jelaskan Liora akan semakin salah paham.
"Sayang, saya pengen banget punya anak dari kamu. Tapi, saya takut gagal jadi ayah seperti saya kepada Emmanuel. Kamu jelas tahu masa lalu saya seperti apa kepada Emmanuel? Perasaan bersalah saya kepada Emmanuel masih ada. Untuk Emmanuel, saya merasa gagal menjadi seorang ayah, Liora. Tapi dibalik itu, saya sangat ingin memiliki anak dari kamu." Tangan Zelvin meraba perut rata Liora.
"Disini, saya berharap ada makhluk kecil tumbuh dari sini, dari hasil percintaan kita. Tapi, saya selalu merasa takut. Saya takut gagal, saya takut tidak bisa mendidik anak saya, saya takut ..."
Liora memeluk tubuh Zelvin, memberikan ketenangan kepada Zelvin yang bergetar hebat. Napas Zelvin semakin tidak beraturan, dia manahan air mata supaya tidak terjatuh.
"Kak, kita pasti bisa mendidik anak kita. Kita, aku sama kamu. Jangan pernah merasa takut ya? Kamu tidak gagal jadi ayah Emmanuel, dia selalu bangga punya ayah seperti kamu. Kelak, anak kita juga pasti bangga punya ayah seperti kamu. Superhero mereka itu kamu," balas Liora meyakinkan suaminya.
Zelvin mengeratkan pelukannya. Dia menangis dalam pelukan Liora, "Saya mau anak ini, saya mau, Liora. Bayi ini, saya ingin dia terlahir ke dunia," ucap Zelvin.
Liora menepuk punggung Zelvin untuk memberikan ketenangan. "Ayo, kita jaga anak kita bersama-sama."
Zelvin melepaskan pelukannya. Dia menarik tengkuk Liora untuk mencium istrinya itu, Zelvin memejamkan matanya untuk menikmati ciuman ini dengan udara yang dingin.
Liora menepuk dada Zelvin untuk melepaskan pagutan bibir mereka. Liora menatap Zelvin, dia menggelengkan kepalanya. "Nggak mau cium."
"Terus maunya apa?"
“Aku mau spaghetti, tapi mau kamu yang bikin. Aku suka spaghetti buatan kamu."
Zelvin terkekeh pelan, "Let's go, baby."
Zelvin menggendong Liora ala koala menuju dapur. Dia mendudukkan Liora di kursi pantry sedangkan dia membuat spaghetti yang diinginkan Liora.
Liora menatap Zelvin yang lihai membuat spaghetti. Pria itu terlihat sangat tampan ketika sibuk dengan dunia nya, rambutnya yang sedikit panjang, kumisnya yang mulai tumbuh, membuatnya semakin mempesona.
Zelvin menyajikan spaghetti untuk Liora, tanpa berpikir lagi Liora langsung melahapnya. “Gimana rasanya?"
Liora mengacungkan jempolnya, "Enak banget, Kak!
Zelvin duduk di sebelah Liora. Liora langsung menyuapi Zelvin, “Enak ya?"
Zelvin mengangguk.
Liora memakannya hingga habis, membuat Zelvin tersenyum senang, “Setelah ini mau apa?" tanya Zelvin.
“Mau tidur tapi di peluk sama kamu," jawab Liora .
“I love you, honey." Zelvin menunggu balasan dari Liora, tapi wanita ini tetap diam. Dia mengecup bibir Liora.
"Sayang ...," panggil Zelvin dengan lembut.
"I love you too Mr. Park," balas Liora tersenyum.
"Mama Liora!" teriak Emmanuel Liora tersenyum ketika melihat anak itu sudah pulang dari rumah Neneknya. Liora memeluk tubuh Emmanuel dengan erat, mengelus punggung Emmanuel.
"Betah banget di rumah nenek, nggak kangen sama Mama?" tanya Liora.
Emmanuel melepaskan pelukannya, "Kangen dong!"
"Gimana? Seneng nggak ketemu mommy Erica?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk, "Seneng, Ma. Tapi Mommy mau ke Singapore, katanya Mommy mau tinggal disana."
"Kamu sedih?"
Emmanuel menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku ada Mama disini. Mommy bilang dia akan mengunjungi ku."
Liora tersenyum, anaknya ini sudah mulai memahami situasi yang dia hadapi. "Mama seneng kalau kamu seneng. Udah makan?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk. "Udah, tapi aku masih lapar. Masakan Nenek nggak seenak masakan Mama."
Liora terkekeh, "Ayo Mama buatin makanan buat kamu."
__ADS_1
Emmanuel mengangguk antusias, "Let's go, Ma!"
****************
"PR udah di kerjain?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk, "Sudah Ma."
"Udah gosok gigi?"
"Sudah."
"Sekarang waktu nya tidur," suruh Liora.
Emmanuel mengangguk. Anak laki - laki itu naik ke atas ranjangnya, menarik selimut sampai ke lehernya. "Mama, Nuel minta tolong nanti matiin lampunya ya," pinta Emmanuel.
Liora mengangguk, "Iya sayang. Selamat malam."
"Malam, Ma," balas Emmanuel.
Liora mematikan lampu kamar Emmanuel, lalu ia keluar dari kamar Emmanuel. Liora berjalan menuju ruang tamu untuk menunggu kepulangan Zelvin, katanya pria itu lembur lagi. Zelvin juga tidak bisa memastikan akan pulang jam berapa, tapi ia memastikan bahwa ia tidak akan pulang larut malam.
"Ini susunya, Nyonya. Kata tuan Zelvin Nyonya harus minum susu ini." ucap Bibi Maria dengan membawa susu lalu menyimpannya di meja.
"Terima kasih ya, Bi."
Bibi Maria mengangguk. "Nyonya mau ditemani?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Tidak usah, Bi Maria tidur aja udah malam."
"Baik Nyonya, kalau mau apa-apa panggil saya ya?"
"Iya, Bi." Liora meminum susu hamilnya. Dia menyelimuti tubuhnya karena udara malam ini sangat dingin, dia menonton drama di Netflix. Liora melirik jam, sudah pukul 9 malam tapi Zelvin belum pulang.
Tapi, tak lama kemudian pintu rumah di buka menampilkan suaminya yang baru pulang kerja. Zelvin tersenyum, dia berjalan menghampiri Liora lalu memeluk istrinya untuk mencari kehangatan.
"Dingin banget di luar," ucap Zelvin.
"Kenapa nggak pakai jaket? Aku udah simpan jaket di jok belakang lho," tanya Liora heran.
"Nggak sempat, sayang. Aku pulang meeting langsung pulang, malas ke kantor lagi," jelas Zelvin sambil duduk. Pria itu menatap Liora, lalu menyelipkan anak rambut yang menghalangi pemandangannya.
Liora mengangguk, "Sudah. Katanya kak Erica mau ke Canada, dia mau tinggal disana."
"Bagus lah!" celetuk Zelvin.
Liora langsung mencubit perut suaminya membuat pria itu meringis kesakitan. "Jangan gitu, dia tetep ibunya Emmanuel!" tegur Liora.
"Iya sayang, iya."
"Kamu mandi gih, aku udah siapin air hangat. Mau minum teh atau susu?" tawar Liora.
"Mau air hangat aja, sayang."
"Ya udah, kamu mandi nanti aku bawain air hangat ya?"
Zelvin mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar. Sedangkan Liora, wanita itu mengambil air hangat untuk suaminya. Liora masuk ke dalam kamar, dia menyimpan minum untuk Zelvin di nakas.
Lalu berjalan menuju lemari untuk menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya. Tak lama kemudian, Zelvin keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja.
Liora memalingkan wajahnya ketika Zelvin dengan berani memakai baju di depan Liora. Meski, dia sudah sering melihat tubuh Zelvin tetep saja itu selalu membuatnya malu.
"Sayang, sini!" panggil Zelvin Liora menghampiri suaminya. Zelvin langsung memeluk Liora, menikmati tubuh hangat istrinya.
Zelvin memutarkan tubuh Liora untuk menghadap cermin. Zelvin tersenyum, tangannya bergerak untuk mengelus perut rata Liora. “Masih rata ya?"
"Iya, kak. Kan baru jalan 4 minggu," jawab Liora.
Zelvin semakin mengeratkan pelukannya, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Liora. Dia menghirup aroma tubuh Liora, sangat wangi. "Sayang, kamu nggak ngidam?" tanya Zelvin.
Liora terdiam, "Belum deh, kenapa?"
“Gapapa, aku pengen direpotkan sama baby kita."
Liora terkekeh geli mendengar ucapan suaminya.
"Liora, aku sayang banget sama kamu. Tetep bareng aku ya? Kita bikin anak yang banyak, biar nggak sepi," tutur Zelvin membuat suasana disekitarnya mendadak berubah.
"Maaf kalau sifat aku yang masih kekanak-kanakan. Maaf atas semua kekurangan ku. Maaf, dulu aku sering kasar sama kamu. Maaf, atas semua perlakuan aku sama kamu. Tolong bantu aku, sayang."
__ADS_1
Zelvin menatap Liora di pantulan cermin. Liora sedang menahan air matanya yang sebentar lagi akan jatuh, sekali kedipan saja air mata itu akan terjatuh. Zelvin membalikkan badan Liora untuk menghadap ke arahnya.
"Dengerin aku. Aku pengen punya anak dari kamu, pengen banget. Apalagi kalau banyak. Tapi, aku takut gagal. Kamu tahu penyakit ku seperti apa, bahkan Dokter belum menyatakan sembuh total." Zelvin menatap Liora dengan lembut. Bola mata Liora begitu sejuk, tatapan istrinya selalu berbeda.
Zelvin menghapus air mata di pipi Liora, dia mencium keningnya. "Nggak boleh nangis, sayang," larang nya.
"Kamu, kamu bikin sedih," ucap Liora mengerucutkan bibirnya.
Zelvin terkekeh, dia langsung mendekap Liora dengan erat. Zelvin mengangkat tubuh kecil Liora, lalu berjalan menuju ranjang. Zelvin menidurkan Liora secara perlahan, lalu dia mengambil posisi tidur di sebelah Liora.
“Kata Dokter kita jangan main dulu. Kalau cuma ciuman, boleh nggak?" tanya Zelvin dengan menatap Liora membuat wanita itu salah tingkah.
Liora memukul dada Zelvin dengan pelan. “Kenapa harus nanya sih?" protes Liora
Zelvin terkekeh. Dia semakin dekat, Liora memejamkan matanya ketika merasakan bibir lembut Zelvin menempel di bibirnya. Zelvin mulai menggerakkan bibirnya perlahan dan Liora membalasnya.
Di sela-sela ciuman mereka, tangan Zelvin tidak bisa diam. Tangannya terus menari di tubuh Liora, membuat gadis itu sulit menahan desahannya.
"Eughhh.." desah Liora ketika Zelvin menggesekkan miliknya.
Zelvin melepaskan ciuman mereka, dia menatap wajah Liora yang berubah menjadi merah padam. Zelvin terus menggesekkan nya sambil menatap Liora. “Kak Zelvin uddahh," pinta Liora.
Zelvin tersenyum tipis, "Yakin?" tanyanya.
Liora mengangguk perlahan.
"Nggak mau sampai tuntas?" tanya Zelvin lagi dengan nada menggoda.
Liora terdiam. Dia terus mendes*h dengan gesekan yang dilakukan oleh Zelvin, napasnya semakin tertahan ketika sesuatu akan keluar. "Arghhh.."
Zelvin menyudahinya, tangannya kebawah lalu berhenti. "Basah sayang, boleh buka nggak?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak, nanti kamu kebablasan!" tolak Liora
Zelvin adalah Zelvin. Larangan seperti perintah baginya. Zelvin membuka celana Liora, lalu menarik selimut sampai pinggang Liora.
Zelvin tersenyum kepada Liora dengan wajah yang melas. "Janji, nggak akan ngapa-ngapain. Tapi, bajunya buka juga ya?"
"Kak Zelvin!"
"Keanna," panggil Zelvin dengan suara yang lembut.
"Nggak mau--" Belum sempat menyelesaikan omongannya, Liora kaget karena Zelvin membuka dengan paksa baju Liora. Zelvin tertawa melihat wajah kesal Liora.
"Jangan nolak suami Iho, dosa tau!" peringatnya. Zelvin tidur di lengan Liora, tangannya tak bisa diam di dada Liora. Zelvin terus bermain dengan dada Liora, sedangkan Liora hanya mengelus rambut halus Zelvin.
"Kapan kita mau bikin kamar buat anak kita?" tanya Zelvin.
"Kak! Kita saja nggak tahu jenis kelaminnya, nanti-nanti saja kita pikirkan itu!"
"Gapapa kita bikin dua kamar saja. Pertama, buat anak perempuan dan yang kedua buat anak laki-laki.”
“Kamu aw-Kak! Jangan di gigit.”
Zelvin menggigit gemas pucuk dada candunya itu, yang sayangnya sebentar lagi akan menjadi milik calon anaknya. “Gemes sih."
"Tidur!”
“Ini lagi coba buat tidur,”
"Ahhh!"
"Jangan mendes*h Liora, nanti aku nggak bisa nahan.”
Liora berdecak sebal. Dia melarang Liora untuk mendesah, tapi terus membuat tanda di dadanya.
"Terserah kamu, cepet tidur!"
Dengan jahil, tangan Zelvin turun kebawa lalu menekan nekan intim Liora. Liora membuka matanya lagi, “Kak tangannya ih!"
"Ini basah, ini buka aja ya?” usul Zelvin.
"Kalau kamu aneh-aneh lagi, aku tidur sama Emmanuel lho, Kak!" ancam Liora.
"Ish, iya sayang!"
Liora mengelus kepala Zelvin, dia mencium kening suaminya dengan lembut. "Selamat malam, Kak," ucap Liora sebelum dirinya tertidur
"Malam, Keanna."
__ADS_1
...----------------...