
...LIORA KEANNA CHOI ADALAH WANITA MURAHAN YANG MENJUAL DIRINYA PADA PRIA BERHIDUNG BELANG...
Liora membuang napas panjang ketika membaca gosip terbaru dari akun gosip kampusnya. Dia kembali menutup ponselnya karena banyak sekali notifikasi masuk yang hanya untuk menghina atau mencacinya, membuat Liora malas sekali membuka akun media sosialnya.
"Aku nggak ngerti deh Jen, aku nggak pernah sekalipun bikin masalah sama Lea. Bahkan, meskipun kita sekelas kita nggak pernah ngobrol. Tapi kok akhirnya gini ya?" heran Liora.
"Emang sialan tuh anak, apalagi si Alvin brengsek banget!" timpal Jennie geram.
Banyak mahasiswi yang melewati Liora dan Jennie karena posisi mereka saat ini sedang duduk si bangku koridor. Tatapan mereka menunjukan ketidaksukaan, kebencian dan jijik membuat Liora menjadi merasa risih.
"Mau kemana?" tanya Jennie menarik tangan Liora ketika gadis itu ingin berdiri.
Liora tidak menjawab.
"Kamu nggak boleh merasa risih. Kamu harus tunjukan bahwa berita itu nggak bener, kalau kamu seperti ini mereka akan semakin yakin kalau berita itu bener. Angkat wajah kamu Liora, nggak perlu nunduk karena risih oleh tatapan mereka. Mereka pengecut kalau kamu mau bertindak!"
Liora duduk kembali. Entahlah dia harus mengucapkan apalagi kepada Jennie, gadis itu benar benar baik meskipun sifatnya yang kasar dan ceplas-ceplos. Dari jaman SMP, Jennie selalu memberikan perlindungan kepada Liora. Jennie benteng terdepan yang selalu membela Liora.
"Setelah urusan kampus selesai, kamu cepet cepet pulang. nggak usah diam di kantin. Hari ini aku ada janjian sama Rafael mau ke pameran." perintah Jennie
"Kalian mau kencan?"
Jennie terlihat malu, dia berdehem untuk menetralkan ekspresi wajahnya. "Bisa jadi."
Liora terkekeh, "Aishhh wajah salah tingkah kamu jelek banget deh, mau ngaca?"
"Sialan kamu!" umpat Jennie.
Liora langsung tertawa.
"Tapi serius, aku nggak bisa nungguin kamu, jadi kamu harus cepat-cepat pulang. Jaga diri kamu. Kamu nanti pulang sama siapa?" tanya Jennie.
"Paling nanti naik taksi di depan, tapi sebelum itu aku mau ke toko buku sebentar," jawab Liora.
"Jalan kaki?"
Liora menganggukkan kepalanya, "Iya."
"Toko buku itu kan lumayan jauh kalau kamu kesana jalan kaki, kenapa nggak sekalian saja ke toko bukunya pakai taksi?" usul Jennie.
Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak deh, sekali-kali jalan kaki, biar lebih sehat."
Jennie memutarkan bola matanya. "Terserah kamu deh, nyonya Park."
"Apaan sih kamu!" ucap Liora.
Jennie terkekeh. "Wajah salah tingkah kamu jelek, mau ngaca?" Jennie mengulang kalimat Liora yang tadi membuat gadis itu berdecak sebal.
Seperti ucapannya tadi, setelah urusan kampus telah selesai Liora berjalan sendirian menuju ke salah satu toko buku yang cukup jauh dari kampusnya, membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai disana, tapi Liora tidak mengeluhkan hal itu. Sedangkan Jennie sudah pamit pergi terlebih dahulu, karena sudah di jemput Rafael.
Di jalan yang cukup sepi orang, tanpa Liora sadari sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Di dalam mobil itu ada Lea yang mengendarai mobil dengan napas yang terburu-buru karena dirinya saat ini sangat emosi. Lea segera menginjak gas mobilnya karena menurutnya suasana di jalan itu cukup aman.
BRUGH!
DUK!
"Akhhh!" Liora langsung terjatuh akibat serempetan dari mobil Lea. Liora juga sampai terguling bahkan kepalanya membentur sebuah batu besar dengan keras membuat Liora menjerit kesakitan.
"Nyonya Liora!"
Sebuah mobil BMW hitam berhenti, dua orang berbadan besar serta menggunakan pakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut dan langsung menghampiri Liora. Saat mereka sedang mengikuti istri bosnya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menyalip mobil mereka dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Nyonya! Nyonya Liora! Bertahan ya nyonya!" ucap salah satu dari dua orang berbadan besar itu sambil mengangkat tubuh Liora dan memasukkannya ke dalam mobil, lalu dengan kecepatan tinggi membawa Liora ke rumah sakit.
...****************...
__ADS_1
"Sialan! Kalian nggak becus jaga istri saya!" ucap Zelvin emosi.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Zelvin meninju kedua bodyguard yang ditugaskan untuk memantau Liora. Zelvin melampiaskan seluruh emosinya kepada dua pria itu, karena dibalik itu semua, dia juga merasa gagal untuk menjaga Liora.
Griffin menarik tubuh Zelvin yang semakin buta karena emosi. "Sudah Tuan! Mereka bisa mati!" teriak Griffin.
Zelvin langsung berhenti. Dia menatap kedua bodyguard itu terkulai lemas di lantai sambil meringis kesakitan.
"Urus mereka!" perintah Zelvin.
Griffin mengangguk, dia memanggil suster untuk mengobati luka bodyguard ini.
Zelvin duduk di kursi dengan perasaan yang campur aduk. Sudah hampir 1 jam Liora berada di dalam ruang IGD namun Dokter belum juga keluar dari ruangan itu. Zelvin menyenderkan punggungnya, menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk tenang karena saat ini emosinya tidak beraturan.
CEKLEK!
Suara pintu terbuka. Seorang pria yang menggunakan jas putih keluar dari ruangan itu dan Zelvin langsung berdiri untuk menghampiri dokter itu.
"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Zelvin.
"Sekarang keadaan istri anda cukup baik. Benturan di kepalanya, membuat pasien mengalami luka cukup berat di keningnya. Dan juga, kaki kirinya terdapat pembengkakan, jadi saya harap pasien jangan terlalu banyak gerak. Yang lainnya, hanya luka goresan saja dan memar. Sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang rawat karena pasien belum siuman, mungkin beberapa menit lagi dia akan sadar," jelas Dokter itu.
Zelvin bernapas lega ketika mendengar kondisi Liora yang baik-baik saja, tidak ada luka serius apapun. "Terima kasih, Dok."
Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepala, "Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, Dok."
"Kak Zel-Vin"
Zelvin mengangkat wajahnya, dia menatap Liora. "Liora, ada yang sakit? Saya panggilkan Dokter dulu--"
Liora memegang tangan Zelvin, dia menggelengkan kepalanya. "Jangan, kak. Aku haus," ucapnya.
Zelvin langsung mengambil minum dan membantu Liora untuk minum. "Sudah?"
Liora mengangguk pelan. Zelvin duduk di kursi, dia menatap wajah Liora. "Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Cuma pusing dan sshh... kaki aku sakit," jawab Liora.
Zelvin mengelus punggung tangan Liora, "Kenapa tadi nggak minta jemput oleh sopir saja sih? Emmanuel kan bareng sama Moana."
"Aku nggak ingat kak, aku lupa kalau pak Patrick nggak jemput Emmanuel hari ini."
Zelvin membuang napas kasar, "Jangan seperti ini lagi, kamu bikin saya cemas. Saya belum ngabarin Mama, saking panik liat kamu."
Liora menatap Zelvin dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Astaga, jantungnya berdebar sangat kencang, pipinya pun terasa sangat panas padahal ruangan ini cukup dingin tapi Liora merasa panas. Liora mengulum bibirnya untuk menahan senyumannya. Ada apa ini?
"Saya kabarin Mama dulu ya? Tunggu dulu," perintah Zelvin dan hanya anggukan kepala sebagai balasan dari Liora.
...****************...
"Gapapa, Mommy. Aku baik-baik saja, aku hanya di serempet mobil kok, bukan di serempet pesawat," gurau Liora mencairkan suasana dengan Yuna yang menelponnya.
"Liora sayang, Mommy serius nggak lagi bercanda! Mommy, Daddy dan nenek Jasmine berangkat kesana sekarang ya?"
"Mommy dengarkan aku, aku serius gapapa. Lagian mama Marissa juga mau kesini. Aku juga hanya luka memar saja, tapi kepalaku pusing sedikit. Aku baik Mommy, jadi nggak usah ya?"
Terdengar suara helaan napas panjang di seberang sana, "Kamu nggak mau Mommy, Daddy dan Nenek jenguk? Kamu nggak tau Nenek sedari tadi khawatir sampai nangis dengar kamu kecelakaan!"
__ADS_1
"Mommy, jangan bilang seperti itu. Aku mau banget kalian jenguk, tapi aku tahu Mommy sama Daddy lagi sibuk dan nenek Jasmine keadaannya sekarang juga kurang sehat. Aku beneran gapapa kok, disini juga ada kak Zelvin."
"Ada suamimu disana? Coba berikan ponsel kamu ke dia," suruh Yuna.
Liora menyodorkan ponsel ke Zelvin, "Mommy mau ngobrol sama kakak."
Zelvin langsung mengambilnya, "Halo, Mom."
"Zelvin sayang, mantu Mommy yang paling tampan, titip Liora ya? Tolong jaga dia ya Vin, rasanya jantung Mommy mau copot saat dengar Liora kecelakaan diserempet mobil. Titip Liora ya Vin? Dia kalau sakit suka sedikit rewel dan manja. Jangan marahi kalau dia manja. Kalau sakit Liora lebih suka makan soup, bukan bubur." perintah Yuna.
"Baik, Mom. Maafkan saya yang gagal menjaga putri Mommy, maaf telah membuat putri Mommy terluka," ucap Zelvin yang benar-benar merasa bersalah tidak becus menjaga istrinya.
"Gapapa kok Vin, ini sudah takdir jadi siapa yang tahu, tapi lebih hati-hati ya jaga Liora," pesan Yuna pada menantunya.
"Baik Mommy."
Yuna pun ingin berbicara lagi dengan Liora. Anak dan ibu itu sangat asik berbicara di telepon, Liora sesekali terkekeh dengan gurauan dari Mommy-nya. Bahkan mereka berbicara sampai Liora merasa lelah dan tertidur sendirinya. Liora sangat dijaga oleh keluarganya. Bahkan, mereka memperlakukan Liora bak putri namun Zelvin malah membuat gadis itu menangis dan terluka.
Pintu ruangan terbuka menampilkan Marissa, Moana dan Emmanuel yang terlihat cemas. Langkah kaki yang awalnya tergesa-gesa kini menjadi pelan ketika melihat Liora sedang tidur.
Zelvin menghampiri Marissa dan mencium pipi sang Mama. "Gimana keadaan Liora, Vin?" tanya Marissa khawatir.
"Liora baik-baik saja Ma, hanya saja nggak boleh terlalu banyak bergerak," jelas Zelvin
"Nggak ada luka serius kan?" tanya Marissa lagi.
Zelvin menggeleng kepalanya. Marissa bernapas lega, namun dia juga meringis ketika melihat banyak memar dan goresan luka di lengan Liora.
"Kasian mantu Mama, pasti sakit. Kenapa kamu gagal jaga mantu Mama, hem?"
"Maaf Ma, aku pikir dia pulang dijemput sopir ternyata malah jalan kaki," sesal Zelvin.
Emmanuel menghampiri Zelvin, dia memeluk Zelvin. "Daddy, mama Liora baik-baik saja kan?" tanya Emmanuel.
Zelvin mengelus rambut Emmanuel, sudah lama dia tidak sedekat ini dengan Emmanuel. "Mama baik-baik saja."
Zelvin mengangkat Emmanuel, lalu mendudukkannya ke di pangkuannya.
...****************...
"Makan!"
Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak mau. Nggak mau. Nggak mau!" tolak Liora.
Zelvin terus membuang napasnya, berusaha untuk sabar kepada gadis di depannya. Mau emosi juga sulit, apalagi Liora sangat menggemaskan. "Makan ya? Kamu belum makan apa apa dari tadi," pinta Zelvin dengan lembut.
"Tapi nggak ada rasanya, kak!"
"Tapi kamu harus makan obat!" ucap Zelvin.
"Ya sudah, buang saja, akunya nggak mau makan makanan itu!" titah Liora dengan enteng.
"Liora, jangan buat saya marah!" tegas Zelvin.
Liora menatap Zelvin dengan tatapan sendu, dia berharap Zelvin membeli makanan dari luar. Namun, tatapan pria itu kini serius seperti tidak ingin di tolak. "Ya sudah," putus Liora dengan lesu.
Zelvin tersenyum tipis. Dia duduk disebelah brankar Liora.
Cup!
"Good girl, saya suapi. Buka mulutnya. jangan banyak protes," ucap Zelvin setelah mengecup puncak kepala Liora.
"IYA!"
...----------------...
__ADS_1