
Ketika Yuna hendak akan pergi, tak sengaja matanya melirik ke atas meja. Disana ia melihat novel yang pernah ia berikan kepada Jayden waktu itu bahkan novel itu pernah ia buang ke tempat sampah. Jayden pun ikut melihat kemana arah tatapan mata Yuna.
"Itu kan novel aku," ucap Yuna mengapa sinis Jayden.
"Terus memangnya kenapa?" tanya Jayden sedikit gelagapan.
"Novel itu kan pernah kamu buang, kenapa masih ada di kamu?"
"Ya, kamu pernah kasi ke aku kan? Berarti novel itu milik aku dong," jelas Jayden membuat Yuna mendengus.
"Ya aku tau, tapikan itu novel pernah kamu buang kan? Lagian aku juga udah buang ke tempat sampah, kenapa sekarang itu novel ada di kamu?" tanya Yuna heran melihat novelnya yang pernah ia buang itu berada di Jayden.
Jayden menghela napas panjang, malam ini ia harus mencoba lagi untuk mengungkapkan perasaannya pada Yuna, semoga berhasil dan Yuna bisa menerimanya kembali.
"Oke kamu memang udah pernah buang novel itu. Tapi aku pungut lagi Yun, sama kayak perasaan aku sekarang ke kamu yang pernah aku buang kayak sampah, aku sangat menyesal melakukan itu padamu. Jika waktu bisa berputar kembali, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan perempuan seperti kamu," ujar Jayden menyesal sambil menatap lekat wajah Yuna. Mata gadis itu mulai sendu dan berkaca-kaca mendengar ucapan Jayden.
"Bahkan semenjak kamu dekat dan sering jalan sama William, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu, Yun. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri aku," sambung Jayden. Tangan laki-laki itu terulur menggenggam tangan Yuna.
"Maka dari itu aku ingin kita bersama kembali, Yun. Aku ingin kamu jadi pacar aku, pacar dalam arti yang sesungguhnya. Aku ingin kamu menjadi milik aku seutuhnya, aku jujur sekarang kalau aku sayang dan cinta sama kamu," ungkap Jayden panjang lebar.
Tanpa permisi air mata Yuna terjatuh saat mendengar ucapan Jayden yang membuatnya terharu.
"Apa ucapan kamu tadi itu serius?" tanya Yuna memastikan.
"Please Yuna, percaya sama aku. Kali ini aku benar-benar serius," jawab Jayden mencoba menyakinkan Yuna.
"Bukan itu, Jay. Maksud aku, memang kamu serius sayang dan cinta sama aku?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Yuna, Jayden malah membawa Yuna ke dalam dekapannya.
"Aku serius Yuna, aku sayang dan cinta sama kamu, karena itu aku selalu mencoba untuk mendekati kamu," jelas Jayden dengan tulus.
Yuna menguraikan pelukannya, "Jujur, sebenarnya perasaan aku ke kamu itu nggak pernah hilang, Jay. Walaupun aku pernah kecewa sama kamu dan aku selalu mencoba untuk menghilangkan perasaan aku ke kamu itu, tapi nggak bisa," ungkapnya. Hati Jayden langsung berbunga-bunga mendengar ungkapan
Yah, selama ini Yuna diam-diam masih menyukai Jayden tanpa sepengetahuan siapapun.
"Jadi kamu mau jadi pacar aku lagi?"
Yuna hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Kamu serius Yun?" tanya Jayden dengan mata berbinar-binar.
"Iya Jayden aku serius."
__ADS_1
Jayden kembali memeluk Yuna. Malam ini adalah malam paling bahagia bagi Jayden, gadis yang beberapa bulan ini ia kejar akhirnya Jayden dapatkan kembali.
Dari kejauhan William menatap kedua sejoli yang baru saja jadian itu dengan tatapan sedih.
"Semoga Jayden bisa menjaga Yuna dan semoga kalian berdua selalu bahagia," lirih William tersenyum getir. Ia memilih untuk pergi dari restoran tersebut daripada hatinya bertambah sakit dan sesak.
Jayden melepaskan pelukannya dan tangannya menghapus air mata Yuna.
"Jangan nangis lagi, nanti cantiknya luntur loh," goda Jayden membuat Yuna tersipu malu.
"Apaan sih Jay," ujar Yuna memukul pelan tangan Jayden.
"Aduh, iya-iya maaf sayang," balas Jayden terkekeh seraya mengelus pipi Yuna.
Jayden pun mengajak Yuna untuk duduk karena ia merasa dirinya sudah lapar dan pastinya gadisnya juga sama seperti yang ia rasakan.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Jayden.
"Jangan panggil aku sayang!" protes Yuna.
"Memangnya kenapa?" tanya Jayden bingung.
"Aku malu." Pipi Yuna berubah menjadi merah seperti kepiting rebus, Jayden terkekeh sekaligus gemas melihatnya.
"Ngapain malu coba, jugaan kita kan pacaran sayang."
"Gemes banget sih kalau cemberut kayak gitu," balas Jayden seraya mencubit gemas pipi Yuna.
"Auh sakit Jay!" kesal Yuna. Lagi dan lagi membuat Jayden jadi tertawa, sudah lama ia tidak merasakan seperti ini.
"Iya-iya maaf sayang, kamu sih bikin aku gemes aja." Yuna langsung mendengus kesal.
Jayden mengangkat satu tangannya untuk memanggil waiters restoran tersebut. Tak lama seorang waiters pria datang menghampiri meja mereka sambil membawa buku menu.
"Mau pesan apa Tuan dan Nona?" tanya waiters itu sambil menaruh buku menu di atas meja.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Jayden pada Yuna. Yuna membolak-balikkan buku menu tersebut.
"Saya pesan sirloin steak dan jus stroberi," pesan Yuna dan langsung di catat oleh waiters itu.
"Baik Nona, kalau Tuan?" tanya waiters itu pada Jayden.
"Samakan saja dan satu lagi, saya pesan es krim vanila tambah stroberi," jelas Jayden.
__ADS_1
"Baik Tuan, ada yang bisa saya bantu kembali?" tanya waiters itu setelah menulis pesanan Jayden.
"Cukup itu saja," jawab Yuna.
"Baik Tuan Nona, mohon untuk di tunggu pesanannya. Saya permisi dulu," pamit waiters itu dan mereka berdua hanya mengangguk.
"Sayang," panggil Jayden.
"Kenapa Jay?" tanya Yuna.
"Maafkan aku," ucap Jayden.
Yuna menaikkan satu alisnya, "Maaf untuk apa ya?" tanyanya bingung.
"Maaf aku nggak ada persiapan sama sekali untuk kencan kita malam ini bahkan tidak ada bunga maupun cincin," tutur Jayden yang merasa bersalah. Yuna menghela napas, ia mengira Jayden meminta maaf karena hal apa, eh tau-tau karena tidak membawa bunga atau cincin.
"Udah gapapa Jay, ini juga mendadak kan?" imbuh Yuna.
"Hem, kalau gitu kamu pakai gelang ini, jadi tanda jadian kita." Jayden melepaskan gelang favorit yang biasa ia pakai harga gelang tersebut mencapai puluhan juga dan ia akan memberikannya pada Yuna.
"Eh nggak usah Jay," tolak Yuna.
"Gapapa, sini tangannya aku pakaikan." Yuna mengangguk pasrah dan menyodorkan tangannya pada Jayden. Jayden memasangkan gelang tersebut pada tangan Yuna.
"Makasih Jay," ucap Yuna tersenyum, gelang tersebut sangat cantik di tangannya.
"Sama-sama sayang," balas Jayden. Ia terus menatap Yuna membuat sang empu jadi salah tingkah.
"Kok kamu ngeliatin aku gitu banget sih?" tanya Yuna.
"Iya soalnya kamu cantik banget malam ini, sampai pandanganku ini tak mau lepas dari kamu," jelas Jayden memang benar adanya.
"Ih bohong banget!" ujar Yuna pura-pura kesal padahal jantungnya berdegup kencang dan pipinya kembali memerah.
"Beneran sayang" Jayden mencium punggung tangan Yuna.
Tak lama datanglah waiters membawa pesanan mereka.
"Ayo dimakan makanannya," suruh Jayden.
"Ya Jay."
"Apa perlu aku suapi?" tawar Jayden dengan senyum menggoda.
__ADS_1
"Nggak usah, aku punya tangan sendiri!" ketus Yuna. Senyuman pria di depannya ini sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya. Jayden langsung terkekeh, ia tau gadisnya itu sekarang sedang malu. Mereka berdua pun mulai menyantap makanan pesanan mereka.
...----------------...