
"Serius mau ke kantor? Udah sehat?” tanya Liora untuk sekian kalinya.
Zelvin berdiri di depan Liora, dia memegang kedua bahu istrinya. "Sayang, jangan khawatir ya? Klien kali ini penting banget bagi aku. Kalau proyek nya nggak dapat, perusahaan kita bisa rugi nantinya," jelas Zelvin.
Sejelas apapun Zelvin menjelaskannya, Liora tetap tidak paham dengan dunia bisnis ini. Liora menghembuskan napasnya, dia terlihat khawatir dengan kondisi Zelvin. Meskipun, Zelvin sudah terlihat baik-baik saja. Tapi pria itu tetap mengeluh sakit.
"Kegiatan kamu hari ini mau kemana?" tanya Zelvin.
"Mau ke tante Krystal. Terus ke Mama," jawab Liora.
Zelvin mengangguk, dia mengecup kening Liora sebelum pamit. "Kalau ada apa-apa kamu telepon ya,” ucap Zelvin sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar dari mansion nya.
"Kak Zelvin!" teriak Liora.
Zelvin langsung menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya, dia terkejut melihat Liora yang duduk di lantai dengan memegang perutnya seperti kesakitan. Zelvin langsung berlari ke arah Liora, dia menghampiri Liora yang meringis kesakitan.
"Liora, kamu kenapa?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak tau, perut aku sakit banget kak,” ringis Liora terus memegang perutnya. Tanpa berkata apapun, Zelvin langsung menggendong Liora membawanya ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Selama di perjalanan rumah sakit, Liora terus mengeluh kesakitan membuat Zelvin semakin khawatir.
"PAK CEPET!" Perintah Zelvin.
Pak Rocky hanya mengangguk. Dia menginjak gas untuk mempercepat laju mobilnya. Setelah sampai di rumah sakit, Liora ditidurkan di brankar dan di dorong untuk menuju IGD. Zelvin menunggu Liora di luar ruang IGD karena Liora sedang di tangani oleh Dokter.
Zelvin tidak tenang sebelum mendengar kondisi Liora. 15 menit sudah berlalu, dokter masih belum keluar dari ruang IGD. Tapi, tak lama kemudian seorang dokter wanita keluar dari ruang IGD.
“Gimana keadaan istri saya?” tanya Zelvin.
“Kondisi istri Tuan, baik. Tapi, saya menyarankannya untuk periksa ke Dokter kandungan. Nyonya Liora sudah saya berikan obat pereda nyeri. Jadi, biarkan dia istirahat terlebih dahulu, anda boleh menjenguknya," terang Dokter itu, tak lama kemudian Dokter itu pamit.
Zelvin mematung ditempat, Liora hamil? Apakah itu maksud dari Dokter tadi? Zelvin harus memastikannya, dia akan membawa Liora ke dokter kandungan untuk mengeceknya.
Zelvin masuk ke dalam untuk melihat kondisi Liora. Liora terlihat lemas, dia sedang istirahat.
Zelvin mengelus kening Liora, tapi Liora membuka matanya dan menatap Zelvin. “Kak?” panggil Liora dengan suara lemas.
“Kenapa bangun, hem? Dokter bilang kamu harus istirahat dulu," ujar Zelvin.
“Aku kenapa?" tanya Liora.
"Dokter bilang kamu kelelahan, tapi Dokter juga nyaranin buat kamu periksa ke Dokter kandungan," jelas Zelvin.
Liora mengerutkan keningnya, "Apa aku hamil?"
“Liora, Dokter kandungan kan bukan hanya untuk periksa kandungan saja. Kamu tadi perutnya sakit kan? Makanya Dokter nyaranin ke dokter kandungan biar di USG," jelas Zelvin.
Liora mengangguk, "Mau peluk," pintanya dengan merentangkan tangannya.
__ADS_1
Zelvin tersenyum tipis, dia langsung memeluk Liora. Dia mengelus puncak kepala Liora, "Istirahat dulu, Keanna."
Liora hanya menurut.
...****************...
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Zelvin
Dokter itu tersenyum ke arah Zelvin, “Selamat Tuan, anda akan menjadi seorang ayah," jawab Dokter itu membuat Liora dan Zelvin terkejut
"Maksudnya, istri saya hamil?" tanya Zelvin.
Dokter itu mengangguk, "Iya, Tuan. Dan untuk Nyonya Liora diusahakan jangan terlalu kelelahan ya? Kondisi kandungan anda sangat lemah. Kesakitan yang tadi anda rasakan itu karena perut anda kram. Usia kandungan anda jalan 3 minggu, Nyonya."
Liora tersenyum, "Baik Dok,"
"Selalu makan yang sehat-sehat dan bergizi, saya akan buatkan resep obatnya," ujar Dokter itu kembali. Liora menoleh, dia melihat raut wajah yang berbeda dari Zelvin.
“Ini, Nyonya."
"Terima kasih dokter, kita permisi."
Mereka keluar dari ruang dokter kandungan. Liora menggandeng tangan Zelvin, dia mengelus pelan lengan Zelvin.
"Kamu kenapa? Nggak seneng dengar aku hamil?" tanya Liora.
“Kak?”
“Saya senang Liora," ucap Zelvin menegaskan.
Saya? Liora mengerutkan keningnya semakin aneh. Mereka duduk dulu untuk menunggu obat, selama menunggu obat tidak ada percakapan apapun. Zelvin sibuk dengan pemikirannya sedangkan Liora terus memikirkan sifat Zelvin yang mendadak berubah.
Setelah mengambil obat di bagian farmasi, Zelvin mengantarkan Liora pulang terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke kantor. Diperjalanan pulang pun, tidak ada percakapan apapun membuat Liora heran dengan pria di sampingnya ini.
"Kak?"
Zelvin menatap Liora. "Kenapa?"
"Sudah sampai, aku ke dalam ya. Kamu jangan terlalu capek--”
"Saya mau lembur, jangan tunggu saya." potong Zelvin.
"Kak, kamu kena--"
"Cepat sana keluar!" usir Zelvin ketus.
Deg!
__ADS_1
Liora langsung keluar dari mobil dengan menahan air mata yang ingin keluar. Jangan nangis di depan Zelvin. Itu adalah yang berusaha Liora lakukan.
Liora langsung berjalan menuju kamarnya, dia menangis karena sifat Zelvin yang kembali seperti dulu. Liora tetap Liora, dia berusaha untuk positif thinking. Mungkin saja Zelvin banyak kerjaan yang membuatnya seperti itu, bukan karena kabar kehamilannya. Liora yakin itu.
Drrtt Drrtt...
Liora melihat ponselnya, telepon masuk dari Mama Mertua nya.
"Halo, Ma?"
"Mantu cantiknya Mama, katanya mau kesini. Jadi?" Tanya Marissa
"Ma, sepertinya nggak jadi deh. Aku lagi kurang enak badan, aku baru pulang dari rumah sakit, Ma."
“Ya ampun. Kamu sakit apa, sayang?" tanya Marissa khawatir.
"Aku hamil."
“APA? SERIUS? LIORA COBA ULANG LAGI!” pekik Marissa membuat Liora menjauhkan teleponnya karena terkejut dengan suara Marissa.
“Aku hamil, Ma." Ulang Liora
“Ya Tuhan terima kasih. Mama akan punya cucu baru! Liora, Mama kesana ya sekarang, tunggu ya!" girang Marissa.
"Ma?"
"Jangan protes, Mama lagi seneng!"
Tut.
Liora terkekeh pelan dengan respon dari Mama mertua nya. Marissa memang sangat menantikan cucu dari Liora, bahkan dia selalu menanyakan hal itu. Tapi, bukan hanya Marissa yang menantikan kehadiran seorang bayi dari rahim Liora, tapi semua orang. Sedangkan Zelvin? Liora tidak ingin stress karena memikirkan itu. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kandungannya nanti.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk," jawab Liora
"Permisi Nyonya, ini teh hangat untuk Nyonya. Tadi Tuan Zelvin kirim saya pesan untuk memberikan teh hangat dan buah buahan untuk ibu," terang bi Maria.
Hah Zelvin? Hal itu membuat Liora menarik ujung bibirnya,
"Terima kasih, Bi. Oh iya, Mama mertua saya mau datang, saya minta tolong untuk membuat samgyetang buat makan malam, beliau suka itu," ujar Liora.
Bi Maria mengangguk, "Baik, bibi permisi ya. Kalau ada apa-apa panggil bibi atau Ara ya Nyonya," ucap Bi Maria.
Liora mengangguk, "Iya bi."
...----------------...
__ADS_1