Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Inggris, London


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di kota yang menjadi tujuan mereka untuk liburan. Banyak hal yang sudah Liora rencanakan di kota ini bersama Zelvin, dia ingin melakukan semua nya bersama Zelvin.


Apalagi, Zelvin memperlakukannya dengan baik selama perjalanan mereka. Namun, satu fakta yang membuat Liora terkejut. Zelvin membawanya ke sebuah mansion mewah yang membuat Liora tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, Liora menatap Zelvin, sekaya apa suaminya ini?


“K-kak Zelvin?” panggil Liora.


Zelvin membalikkan badannya, dia menatap Liora yang masih tercengang. Zelvin mengelus rambut Liora, membenarkan anak rambut yang berantakan karena diterpa angin. “Kenapa, hem?”


“Ini serius punya kamu?” tanya Liora.


Zelvin hanya mengangkat alisnya sebelah sebagai jawabannya. Lalu, dia menarik tangan Liora untuk masuk ke dalam. Liora benar-benar tidak percaya dengan ini semua, mansion milik Zelvin sangat mewah dengan desain yang unik dan elegan.


“Hello, good evening Mrs. Park,” sapa pelayan yang berkerja di mansion Zelvin yang ada di London.


Liora tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dia menatap Zelvin dengan tatapan yang bingung,banyak sekali pelayan di mansion Zelvin dengan pakaian yang sama. Mereka menyapa Liora dan menyambut kedatangan Liora.


Setelah itu, Zelvin membawa Liora menuju kamar mereka. Dia sudah memerintah pelayan untuk membereskan semua pakaian mereka. Karena mereka akan tinggal disini selama 2 minggu.


“Kak Zelvin, kapan kamu beli mansion ini?” tanya Liora penasaran.


“Sebelum nikah sama kamu,” jawab Zelvin seadanya.


Liora mengangguk. Dia sudah membersihkan tubuhnya, kini dia sedang mengeringkan rambutnya karena perjalanan akan di mulai besok hari. Liora ingin menggunakan waktu yang dia miliki dengan sebaik mungkin disini. Namun, Liora heran ketika Zelvin tetap fokus kepada laptop yang ada di pangkuannya.


Liora merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia memejamkan matanya, menikmati sensasinya karena perjalanan mereka yang jauh membuat Liora merasa lelah.


Baru saja ingin memejamkan matanya, Liora merasa ada seseorang yang ikut masuk ke dalan selimutnya. Liora kembali membuka matanya, dia menatap Zelvin yang memeluknya dengan erat dan menyimpan kepalanya di ceruk leher Liora.


“Elus kepala saya, Lio,” pinta Zelvin.


Liora mengelus surai Zelvin yang lembut dan wangi. “Kak Zelvin, besok kita mau kemana?” tanya Liora.


“Tidur, Liora.”


“Tapi aku mau tahu—”


“Tidur!” ucap Zelvin tegas membuat Liora terdiam.


Zelvin mengeratkan pelukannya kepada Liora. napasnya tidak beraturan, karena saat ini perasaannya sedikit gelisah memikirkan esok hari.


...****************...


Liora keluar dari kamarnya. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk Zelvin, karena saat ini Zelvin sedang mandi. Liora sedikit heran dengan Zelvin yang terburu-buru, bahkan dia menyuruh Liora untuk menyiapkan pakaian yang formal.


“Good morning, Mrs. Park,” sapanya.


Liora tersenyum, “Morning, can you speak Korean?”


Wanita itu mengangguk, “Of course so, ada yang bisa saya bantu Mrs. Park?” tanya wanita itu menggunakan bahasa Korea.

__ADS_1


“Bisa perkenalkan diri kamu dulu?”


Wanita itu tersenyum,“Saya lupa memperkenalkan diri saya semalam. Mrs. Park saya Geena, yang akan mengurus dan membantu semua keperluan anda. Jadi anda tinggal panggil saja saya.”


“Oke—”


“Selamat pagi, Nyonya Liora,” sapa Alice.


Liora tersentak kaget. Dia membalikkan badannya, menatap Alice dan Griffin yang ada di hadapannya. Liora mengerutkan keningnya, mengapa Alice dan Griffin ada disini? Dan lagi, mereka tinggal di mansion ini juga, kenapa Liora baru tahu. Ada apa ini?


Suara langkah kaki yang mendekati mereka membuat Liora menoleh ke samping. Zelvin. Suaminya itu terlihat sangat rapi dengan pakaian formalnya, di tangannya juga terdapat beberapa map. Bukannya mereka akan liburan datang ke London?


“Alice, Griffin, tunggu saya di mobil!" perintah Zelvin.


Alice dan Griffin mengangguk, mereka meninggalkan Liora berdua dengan Zelvin. Kini tinggal mereka berdua yang masih terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Jadi, maksud kamu bilang honeymoon waktu itu apa?” tanya Liora membuka suara.


Zelvin menatap Liora, tatapannya itu terlihat kesedihan. Mata Liora bergerak gelisah menahan air mata yang ingin keluar.


“Liora, saya hanya bercanda, Dan juga, Saya tidak bisa melakukan itu dengan mu tanpa cinta. Kita belum memiliki perasaan apapun dalam hubungan ini, jadi kamu mau saya mengambil milikmu itu?”


Liora tidak percaya ini. Kenyataan yang benar-benar membuat Liora ingin kembali ke negaranya sekarang juga. “Jadi, alasan kamu bawa aku kesini apa?”


“Liora, saya tahu kamu belum sepenuhnya melupakan Alvin. Dibelakang saya, kamu masih bertemu dengan dia. Apalagi kalau saya jauh dari kamu?"


“Hanya karena itu? Kamu nggak percaya sama aku?”


Liora menggelengkan kepala tidak percaya. Dada nya tiba-tiba saja menjadi sakit ketika mendengar kebenaran ini. Ternyata, mereka datang kesini bukan untuk liburan tapi karena rasa takut Zelvin yang berlebihan. Liora ingin marah, tapi dia tidak bisa. Semua ekspetasinya hancur seketika, keinginannya untuk menghabiskan waktu dengan Zelvin kandas begitu saja. Bahkan rencana yang sudah ia rancang, lenyap seketika. Ternyata, pria itu hanya bercanda.


Kenapa Zelvin masih ragu dengannya? Selama ini, Liora berusaha untuk melakukan apa yang Zelvin minta, menjauhi semua yang berhubungan dengan Alvin, dan tidak membantah apapun. Apakah itu semua belum cukup untuk menggapai kepercayaan Zelvin?


“Excuse me, Mr. Park?”


Zelvin menoleh, dia menatap pria tinggi yang berdiri di depannya. “Come here, Juno.” Pria itu berjalan mendekat ke arah mereka.


“Liora, dia Juno. Dia yang akan menjadi tour guide kamu selama disini. Jadi, kamu bebas mau kemanapun asal bersama dia. Saya percaya dia,” jelas Zelvin.


Liora hanya diam, dia sangat malas untuk berbicara.


“Juno, jaga istri saya. Saya harus pergi, karena meeting akan dimulai. Istri saya belum sarapan, ajak dia sarapan,” perintah Zelvin sebelum berjalan keluar dari mansion.


Liora membasahi bibirnya yang tiba-tiba saja kering. Dia membuang napasnya, Liora harus kembali pada kenyataan bahwa jangan terlalu berharap berlebihan terhadap apapun karena sakitnya luar biasa.


“Mrs. Park, are you okay?” tanya Juno


"Yeah, i'm fine," jawab Liora sambil menyunggingkan senyum terpaksa.


“Sesuai perintah Mr. Park anda harus sarapan sebelum memulai perjalanan. Jadi, anda mau sarapan disini atau diluar? Karena saya memiliki rekomendasi tempat yang bagus untuk breakfast," ucap Juno menawarkan tempat untuk sarapan.

__ADS_1


“Di luar saja, sekalian liat liat suasana kota ini.”


Juno mengangguk, “Baiklah, mau langsung berangkat?” tanya Juno.


“Saya mau ambil tas dan siap-siap dulu biar nggak dekil,” jawab Liora.


Juno mengerutkan keningnya, “Dekil? Apa itu dekil?”


“Dekil itu semacam lagi jelek,” jawab Liora asal.


Juno menganggukkan kepala pelan, “But, saya tidak melihat kedekilan di diri anda Mrs. Park so, jangan katakan itu."


Liora tertawa pelan, “Saya ke atas dulu, kamu tunggu disini saja.”


Juno mengangguk, “Baik, Mrs. Park.”


...****************...


“Ini adalah restoran favorit Ibu saya, ketika dia berada disini, pasti dia selalu meminta saya untuk sarapan disini,” jelas Juno.


Juno membawa Liora ke restoran Ting, yang memiliki pemandangan indah. Liora selalu mengangguk sebagai respon dari semua penjelasan Juno. Juno itu sangat asik, bahkan mereka terlihat seperti seumuran karena Juno terlihat masih muda.


Juno mengajak Liora untuk duduk di dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan kota London di pagi hari. Pesanan yang mereka pesan sudah datang. Liora memesan banyak sekali makanan, membuat Juno sedikit tidak percaya. Liora memiliki tubuh yang kecil, tapi porsi makannya melebihi orang berbadan besar.


“Mrs. Park, apakah ini akan habis semua?” tanya Juno untuk memastikan saja.


“Tenang saja, aku tidak akan memesan banyak jika aku tidak mampu memakannya,” jawab Liora sambil melanjutkan makannya.


Juno tidak lagi bertanya. Dia menikmati sarapannya juga, karena kebetulan dia belum sarapan. Tidak ada obrolan apapun ketika mereka sedang makan, hanya sesekali Liora bertanya tentang lingkungan kota ini.


Makan pun telah selesai. Liora meminum kopinya, lalu mengusap bibirnya dengan tisu. “Kita mau kemana sekarang?” tanya Liora.


“Apakah ada tempat yang ingin anda kunjungi?” tanya balik Juno.


Liora terdiam. “Aku mau ke museum British bisa?”


Juno mengangguk. “Tentu saja, namun jaraknya sedikit jauh dari lokasi kita. Mungkin hanya 2 jam, tapi tidak apa-apa karena kita memiliki waktu yang banyak. Benar?”


Liora tersenyum lebar, lalu mengangguk. “Kalau gitu, ayo bayar. Kita langsung pergi saja.”


...****************...


Zelvin terdiam. Apakah kelakuannya keterlaluan? Tapi, Zelvin memang tidak ingin mengambil haknya tanpa ada cinta. Ya, Zelvin sedang berusaha untuk mencintai Liora, tapi bukan berarti Zelvin sudah berhak untuk mengambil haknya.


Jika mengingat ucapannya tentang honeymoon, Zelvin hanya bercanda saat itu. Tapi dia terkejut jika Liora menganggapnya serius. Zelvin benci dengan tatapan kecewa dari Liora. Apalagi ketika melihat Liora ingin meneteskan air mata. Sialan!


“Tuan, meeting akan segera dimulai. Tolong siapkan diri anda, saya dan Griffin ada di luar," ucap Alice yang baru masuk ke dalam ruang kerja Zelvin.


Zelvin mengangguk. Dia mengambil map berwarna merah disebelahnya. Bahkan, untuk fokus saja Zelvin sulit. Dia terus memikirkan Liora.

__ADS_1


“Fokus. Fokus. Fokus," ucap Zelvin menyemangati dirinya.


...----------------...


__ADS_2