
Tahun pun telah berganti, sudah 2 tahun setelah kelulusan Yuna dari Imperial College, kini gadis itu telah bekerja di perusahaan sang Papa menjadi Direktur keuangan. Awalnya Yuna akan di angkat sebagai wakil direktur utama oleh Lukas, tapi ia menolak dengan alasan belum siap untuk menanggung semua beban dan tanggung jawab sebagai seorang wakil direktur utama di LKM Holdings Corporation.
Gadis itu semakin cantik, dewasa dan anggun, itu yang membuat Jayden semakin tergila-gila padanya.
Yuna pun pun kini mempunyai restoran yang ia beri nama "Eat And Love Restaurant". Yuna akan pergi ke restorannya pada saat hari weekend saja, sedangkan hari lain ia gunakan untuk pergi ke perusahan papanya.
Karena hari ini adalah hari Minggu, jadi Yuna sekarang berada di restorannya, gadis itu sangat jarang mengambil waktu liburannya.
"Kenapa ya Jayden nggk pernah hubungi aku? Sudah 1 bulan ini dia nggak pernah hubungi aku sama sekali," lirih Yuna. Inilah yang membuat Yuna galau beberapa minggu belakangan ini, Jayden tidak pernah menghubunginya sama sekali, bak hilang di telan bumi. Entah apa maksud dan tujuan laki-laki itu melakukan itu padanya.
"Apa aku ada salah sama dia? Aku telpon nggak pernah di angkat, aku kirim pesan pun nggak pernah di balas." Yuna terus bermonolog sendiri sambil melihat chat room nya bersama Jayden. Sungguh dirinya sangat merindukan laki-laki itu.
"Aku sudah mencoba bertanya pada Tante Eleanor dan dia bilang Jayden lagi sibuk kerja. Apa saking sibuknya dia kerja, sampai-sampai buat menghubungi aku susah banget? Padahal aku hanya butuh waktu dia, walaupun hanya sebentar," ucap Yuna lalu menghela napas berat.
"Buat aku selalu over thinking saja sama dia, aku berharap disana Jayden tidak pernah berpikiran untuk mengkhianati atau menduakan aku. Jangan sampai kepercayaan aku ke Jayden jadi hilang."
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu membuat Yuna sedikit tersentak.
"Ya masuk!" sahut Yuna di dalam ruangannya.
"Permisi Nona, maaf mengganggu," ucap Bora salah satu karyawan restoran masuk ke dalam ruangan Yuna.
"Ada apa Bora?" tanya Yuna.
"Ada 3 orang tamu sedang menunggu Nona di bawah, mereka berkata ingin bertemu dengan Nona," ujar Bora.
Yuna menaikan satu alisnya, "Siapa ya?"
"Maaf saya tidak tau Nona. Mereka tidak mengatakan siapa nama mereka, yang jelas mereka 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan," jelas Bona. Yuna semakin bingung dengan tamu-tamu ini, apa mereka adalah orang yang ia kenal?
'Siapa ya mereka?' batin Yuna.
"Ya sudah, katakan pada mereka untuk menunggu saya," perintah Yuna.
"Baik Nona, permisi," ucap Bora lalu keluar dari ruangan Yuna.
__ADS_1
Yuna pun bergegas menuju ke tamu-tamu yang sedang menunggunya itu. Betapa terkejutnya saat ia melihat siapa tamu-tamunya itu.
"William, Tante Azura dan kak Qiara?" pekik Yuna tertahan dan matanya seketika berbinar. Ia dengan cepat berjalan menghampiri tiga orang yang ia rindukan itu.
William dan Qiara sudah menikah dari tahun yang lalu dan kini Qiara sedang mengandung calon buah hati mereka.
"Tante Azura!" seru Yuna. William, Qiara dan Azura pun langsung berdiri dari kursi untuk menyambut Yuna.
"Tante apa kabar?" tanya Yuna sambil memeluk Azura.
"Kabar Tante baik sayang." Azura membalas pelukan Yuna.
"Syukurlah kalau Tante baik-baik saja."
"Kalau kamu bagaimana kabarnya?" tanya balik Azura. Yuna melepaskan pelukannya dan menatap Azura.
"Aku baik dan sehat, apalagi setelah melihat kedatangan kalian," ucap Yuna senang membuat ketiga orang itu tersenyum.
"Syukurlah Tante senang mendengarnya," balas Azura. Yuna mengangguk dan tersenyum, lalu melihat ke arah wanita cantik yang tengah hamil itu.
"Kak Qiara!"
"Aku baik kak. Kakak apa kabar?" tanya balik Yuna.
"Kabar kakak baik juga Yuna," balas Qiara tersenyum, wanita itu memang dikenal sangat lembut terhadap semua orang. Itu salah satu yang membuat William mencintai Qiara.
"Syukurlah lah kak, terus perut kakak ini udah berapa bulan?" Yuna mengelus perut Qiara yang terlihat sedikit membuncit.
"Sudah 4 bulan berjalan," jelas Qiara.
"Aku sudah nggak sabar liat bayi kalian lahir ke dunia," girang Yuna.
"Hai princess bar-bar, kok aku nggak ditanya kabarnya sih?" sahut William pura-pura kesal.
Yuna menepuk pelan dahinya, "Astaga kamu sampai kelupaan, kamu gimana kabarnya, Will?"
"Kabar aku baik-baik aja, seperti yang kamu liat. Yuna yang dulu aku kenal bar-bar dan galak kini udah jadi pengusaha sukses ya, sekarang udah punya restoran sendiri," puji William.
__ADS_1
Yuna tertawa kecil, "Kamu bisa aja, Will. Yang ada nih kamu tuh pengusaha sukses," balasnya.
"Kamu ini terlalu merendah ya jadi orang," ucap William. Ya walaupun setahu William, Yuna memang selalu rendah hati dari dulu.
"Apa sih? Nggak ya. Oh ya selamat ya Will, sekarang udah mau jadi calon Ayah aja," ucap Yuna yang ikut senang karena orang yang ia anggap seperti saudara sendiri itu sebentar lagi akan menjadi calon seorang ayah.
"Terima kasih Yuna. Terus kamu dan Jayden kapan menyusul kami?" tanya William menggoda Yuna. Yuna yang ditanya soal Jayden langsung merubah ekspresi menjadi sedih.
"Kenapa wajahmu berubah muram begitu? Kamu lagi ada masalah sama Jayden?" tanya William.
Yuna menggeleng, "Nggak Will, hanya saja Jayden sudah 1 bulan ini nggak pernah hubungi aku sama sekali," jelasnya. Ingin sekali rasanya William memeluk Yuna untuk menenangkannya, tapi ia harus menjaga perasaan istrinya.
"Yang sabar Yun, mungkin Jayden lagi sibuk banget di kantornya, makanya dia nggak ada waktu untuk menghubungi kamu," ucap William.
"Walaupun sibuk sama pekerjaannya, masa iya nggak ada waktu walau 1 menit saja untuk beritahu kabarnya ke aku?" lirih Yuna.
"Kamu yang sabar ya nak, Tante percaya kalau Jayden itu nggak akan berbuat macam-macam disana. Tante yakin dia orangnya sangat setia pada pasangannya," timpal Azura yang mengetahui bagaimana sifat Jayden.
Yuna mengangguk dan tersenyum kecil, "Iya Tan, semoga saja. Ayo kalian duduk lagi," suruh Yuna. Mereka bertiga pun kembali duduk di kursi masing-masing.
"Kalian mau pesan apa? Biar Yuna yang layani kalian," ucap Yuna sambil menaruh buku menu yang ia pinta di salah satu karyawannya tadi.
"Sayang mau pesan apa?" tanya William pada Qiara.
"Apapun yang penting kamu pilihkan untuk aku," jawab Qiara.
"Kakak mengidam makan sesuatu nggak?" sahut Yuna.
"Aku ngidam makan makanan yang ada di restoran kamu ini," ucap Qiara membuat Yuna tertawa.
"Kakak bisa saja."
"Kalau Mama mau pesan apa?" tanya William pada Azura.
"Semua makanan yang terenak di restoran ini," jawab Azura.
"Oke Ma. Kita mau pesan semua menu yang paling recommended di restoran ini," pesan William pada Yuna.
__ADS_1
Yuna mengangguk, "Baiklah kalau begitu mohon untuk di tunggu pesanannya," ucap Yuna. Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Yuna pergi ke arah kasir, setelah itu ke dapur untuk membantu koki disana memasak karena hari ini ia akan melayani ketiga tamu spesialnya itu dengan layanan prima.
...----------------...