
3 hari kemudian.
LKM Holdings Corporation.
Siang harinya, Jayden pergi menjemput Yuna ke perusahaan calon papa mertuanya dan mereka akan pergi ke butik Jasmine untuk fitting baju pengantin, memang calon ibu mertuanya itu lah yang membuatkan baju pengantin untuk mereka.
Jayden mengetuk pintu ruangan Yuna.
"Ya masuk!" sahut Yuna dari dalam ruangannya.
"Sayang," panggil Jayden setelah membuka pintu ruangan Yuna.
"Jay!"
"Pekerjaan kamu belum selesai juga?" tanya Jayden menghampiri Yuna.
"Sudah selesai kok, kita pergi ke butik Mama sekarang?"
"Kamu nggak makan dulu?"
Yuna menggeleng, "Nanti saja pulang dari butik Mama," ucap Yuna.
"Ya sudah, ayo kita pergi."
Yuna mengangguk, mengambil tas serta ponselnya lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ke basemen parkiran.
Jasmine Boutique.
"Selamat siang Nona, Tuan," sapa salah satu pekerja butik Jasmine.
"Siang Rami, Mama ada?" tanya Yuna.
"Ada Nona. Mohon di tunggu Nona, akan saya panggilkan Nyonya Jasmine," ucap Rami.
Yuna mengangguk, ia mengajak Jayden untuk duduk di sofa yang di depannya terdapat fitting room. Tak lama kemudian, Jasmine datang menghampiri mereka.
"Selamat siang anak-anak Mama," sapa Jasmine.
"Siang Ma," jawab Yuna dan Jayden serempak.
Jasmine duduk di samping Yuna.
"Mama kamu mana, Jay?" tanya Jasmine.
"Mama sibuk sekali di kantor, jadi Mama nggak bisa ikut ke sini," jelas Jayden. Ibu yang satu itu memang memiliki jam terbang yang super sibuk. Jasmine hanya bisa memaklumi calon besannya itu.
"Ya sudah gapapa nak. Oh ya sayang, Mama sudah membuatkan 3 gaun pengantin untuk pemberkatan pernikahan nanti dan dua gaun berwarna biru dan pink untuk pesta pernikahan seperti keinginan kamu waktu itu," ucap Jasmine.
"Wah, terima kasih Ma," ucap Yuna senang, ia sudah tak sabar menggunakan gaun-gaun tersebut. Bahkan dirinya meminta sang Mama membuat gaun untuk pesta pernikahan impiannya sejak dulu.
"Sama-sama sayang, ayo sana kamu coba dulu gaunnya dan pilih mana gaun yang terbaik," suruh Jasmine.
"Iya Ma."
Yuna masuk ke dalam fitting room untuk mencoba gaun-gaun tersebut dengan bantuan salah satu pekerja di butik Jasmine.
"Kamu juga nggak mencoba tuxedo kamu nak?" tanya Jasmine pada Jayden.
__ADS_1
"Nanti saja Ma, setelah Yuna selesai," jawab Jayden.
Jasmine mengangguk, "Ya sudah."
Beberapa saat kemudian, Yuna keluar dari fitting room dengan menggunakan gaun pengantin yang mempesona. Bagian bawah yang melebar dan menjuntai serta gaun tersebut mempunyai bagian leher rendah hingga memperlihatkan dua gundukan indah milik Yuna.
"Bagaimana Ma, Jay?" tanya Yuna. Jayden yang sedang memeriksa email di ponselnya itu mendongak menatap Yuna, matanya langsung terbelalak melihat gaun tersebut yang seksi menurutnya.
"Cantiknya," ucap Jasmine.
"Ganti!" ucap Jayden tegas.
"Memangnya kenapa sama gaun ini? Padahal kan cantik," tanya Yuna heran.
"Aku nggak suka, bagian dada di gaun itu terlalu rendah, sayang. Aku nggak mau itu kamu di liatin laki-laki lain!" tekan Jayden. Tidak mungkin Jayden membiarkan dua aset penting Yuna yang sebentar lagi akan menjadi miliknya itu dilihat oleh orang lain.
Yuna mendengus kesal, sedangkan Jasmine tersenyum mendengar ucapan Jayden yang posesif terhadap putrinya itu.
"Ganti saja gaunmu itu nak, turuti kata calon suami kamu," perintah Jasmine.
Yuna berdecak, "Iya-iya," ucapnya malas. Yuna kembali masuk ke fitting room untuk mencoba gaun pengantin lainnya.
Yuna keluarga dari fitting room, lagi-lagi Jayden menyuruhnya untuk mengganti gaun, karena gaun yang sekarang Yuna kenakan bahkan terlalu seksi dari gaun sebelumnya. Bagian lengannya berbentuk sabrina memperlihatkan leher jenjang serta dua gundukan kenyal Yuna yang sedikit menyembul keluar dan bagian bawahnya memiliki belahan yang cukup tinggi, membuat Jayden semakin frustrasi di buatnya.
"Ganti lagi sayang!"
Yuna berdecak, "Ish kamu ini!" kesal Yuna sambil menghentak-hentakkan kakinya, walaupun begitu ia tetap menuruti keinginan calon suaminya itu.
Jasmine hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari calon menantunya yang sangat posesif itu.
"Gimana gaun yang ini? Kalau kamu suruh aku ganti lagi, biar kamu saja yang pakai gaun pengantinnya!" ucap Yuna ketus.
Jayden tertawa kecil melihat Yuna yang ngambek itu, lalu ia menghampiri Yuna.
"Jangan ngambek dong sayang, gaun ini sangat cantik dan cocok dengan kamu. Aku suka dengan gaun yang ini," ucap Jayden.
"Kamu serius suka dengan gaun ini?" tanya Yuna memastikan. Gaun yang terakhir di coba Yuna ini, cukup berat daripada gaun lain yang ia coba tadi.
"Iya sayang aku menyukainya. Tapi aku lebih sukanya sama kamu sih," ucap Jayde sambil mencium bibir Yuna sekilas membuat sang empu merona malu, apalagi Jayden menciumnya di depan mamanya.
"Ih Jayden, aku malu sama Mama," bisik Yuna.
"Gapapa lah sayang, Mama mengerti kok," ucap Jayden santai.
"Ekhem ekhem! Mesra-mesraan nya nanti lagi, sekarang kamu ganti gaun untuk pesta," suruh Jasmine.
"Iya Ma."
Butuh waktu 2 jam Yuna dan Jayden mencoba, memilih dan memilah gaun serta tuxedo untuk pernikahan mereka nantinya. Setelah itu mereka berdua berpamitan pada Jasmine.
"Kalian langsung ke kantor lagi?" tanya Jasmine.
"Sepertinya nggak Ma. Setelah dari butik Mama, kita mau pergi makan siang, terus langsung pulang," jawab Jayden.
Jasmine manggut-manggut, "Ya sudah kalau begitu."
__ADS_1
"Kita pergi dulu ya Ma," ucap Yuna sambil mencium pipi Mamanya.
"Iya sayang, kalian hati-hati di jalan."
"Iya Ma."
Diperjalanan, Jayden tiba-tiba di telpon Arthur dan mengatakan jika laki-laki itu akan mengatakan sesuatu hal kepada mereka berdua sekaligus meminta bantuan kepada mereka. Jayden dan Yuna pun menyetujuinya, mereka akan bertemu di salah satu restoran.
Rosemary Restaurant.
Sambil menunggu Arthur datang, Yuna dan Jayden memesan makanan terlebih dahulu, mereka juga memesankan makanan untuk Arthur.
"Ada yang ingin di pesan lagi Tuan, Nona?"
"Itu saja," jawab Yuna.
"Baik kalau gitu mohon ditunggu pesanannya," ucap waiters itu.
Yuna dan Jayden hanya mengangguk.
Selang beberapa menit, Arthur datang sambil menggunakan masker dan kacamata hitam. Laki-laki itu kini seorang aktor yang sedang naik daun di kalangan netizen di hampir seluruh dunia.
"Hai Jayden, Yuna. Maaf aku lama datang," ucap Arthur duduk di kursi sambil membuka masker dan kacamatanya.
"It's okey, kita juga baru sampai kok," kata Jayden.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Yuna.
"Belum Yun," jawab Arthur.
"Kebetulan tadi kita pesankan kamu makanan, tapi maaf kita nggak tau makanan kesukaan kamu apa," ucap Yuna.
"Gapapa santai saja, aku pemakan segalanya kok," balas Arthur sambil terkekeh di akhir ucapannya. Yuna dan Jayden pun ikut terkekeh dibuatnya.
"Oh ya, tadi kamu mau minta bantuan apa sama kita berdua?" tanya Jayden.
"Begini loh guys, aku ada keinginan untuk melamar Deana saat kalian selesai pemberkatan nanti," ucap Arthur.
"Wah kamu serius, Thur?" tanya Yuna berbinar.
Arthur mengangguk, "Aku ingin hubunganku dengan Deana bisa ke jenjang yang lebih serius lagi," jelasnya dengan nada dan tampang serius.
"Senang sekali aku dengarnya," seru Yuna. Ia sangat bahagia sebentar lagi sahabatnya itu juga akan mengganti status seperti dirinya.
"Ayo lanjutkan rencana kamu," suruh Jayden.
Arthur mengangguk, lalu ia melanjutkan rencana yang akan dirinya lakukan nanti ketika melamar Deana.
"Apa kalian bisa bantuin aku?" tanya Arthur setelah selesai menjelaskan rencananya.
"Tenang saja, kita akan bantu kamu kok. Ya kan sayang?" Jayden menatap Yuna.
"Iya Thur, pasti kita bantu kamu kok. Apalagi ini juga demi kebahagiaan sahabat aku," timpal Yuna. Arthur mengembangkan senyum bahagianya, tak salah memang memiliki sahabat-sahabat seperti mereka.
"Thank you guys."
...----------------...
__ADS_1