
William tengah duduk bersandar sambil membaca novel di sofa ruang keluarganya, Wilson dan Emily tiba-tiba menghampirinya.
"Pa pamit dulu sama William," suruh Emily pada Wilson.
Wilson mengangguk. "William," panggilnya.
William hanya diam tanpa menanggapi panggilan dari Papanya. Wilson hanya bisa menghela napasnya.
"Wiliam, Papa sama Mama mau pergi ke Hongkong selama seminggu, Papa ada urusan bisnis di sana," ucap Wilson.
"Papa minta tolong sama kamu selama Papa dan Mama pergi, kamu disini jangan bikin masalah, kalau kamu tidak ingin membuat keluarga kita menjadi malu," lanjut Wilson sedikit memberi peringatan pada William.
William lagi-lagi hanya diam tanpa menanggapi ucapan dari Papanya. Wilson kembali menghela napas dan geleng-geleng kepala melihat putranya seperti itu.
"Ya udah yuk kita pergi Ma," ucap Wilson sambil menggandeng tangan istri keduanya. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan mansion.
"Kalian pergi selamanya juga aku nggak peduli," gumam William beranjak dari sofa dan menaiki tangga menuju ke kamar mamanya.
William melihat salah satu pelayan di mansion nya akan membawa makanan untuk Mamanya.
"Bi, sini biar saya aja yang bawa ke kamar Mama." William mengambil alih nampan berisi makanan untuk Mamanya dari tangan pelayan tersebut.
"Baik Tuan muda, saya permisi dulu." William hanya mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar Mamanya dan meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja yang ada di dalam kamar tersebut.
William menghampiri Azura yang sedang melamun melihat ke luar jendela kamar sambil duduk di atas kursi rodanya.
Selain di diagnosis kena stroke, Azura juga di diagnosis terkena gangguan kejiwaan buntut dari ulah Wilson dan istri keduanya. Kini ia sudah bisa berbicara walaupun sedikit susah. Hampir setiap saat Azura selalu melamun, seperti sudah kehilangan arah hidupnya.
"Mama." William berjongkok di depan mamanya sambil menggenggam kedua tangan wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu. Azura tidak melihat ke arah William, ia terus melihat lurus ke depan.
"Ma, ada perempuan yang mirip banget sama Mama. Dia cantik, baik, dan ceria persis kayak Mama dulu," ucap William yang curhat pada mamanya.
"Nggak tau kenapa, William selalu nyaman kalau lagi sama dia.Tapi sekarang dia benci sama William. Dia kecewa, karena William udah bohongin dia," lanjut William dengan suara serak menahan tangisnya.
Azura hanya diam, namun air matanya jatuh dari pelupuk matanya sambil tetap melihat lurus ke depan. Mungkin ia juga bisa merasakan apa yang putranya itu rasakan saat ini.
"William nggak tau harus gimana Ma. William bingung. Cuma Mama yang paling ngertiin William," lirih William menaruh kepalanya di paha sang Mama.
"Cuma Mama yang bisa bikin William tenang." Setetes air mata jatuh dari mata William.
Azura hanya bisa meneteskan air matanya sambil mengelus kepala putra semata wayangnya.
'Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu nak,' batin Azura.
...****************...
__ADS_1
Member D'Warlords kecuali William tengah berkumpul di basecamp mereka selain di kampus.
Mereka sedang bersantai dengan kegiatan masing-masing. Levin, Felix dan David sedang sibuk memainkan ponsel. Nathan dan Arthur sedang bermain PS. Sedangkan Jayden sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
"Eh kamu berdua! Berisik banget sih!" sentak Jayden memarahi Nathan dan Arthur yang tengah ribut bermain PS.
"Kamu kenapa sih Jay?" tanya Levin heran.
"Iya tumben banget kamu jadi sensian gini Jay," timpal Arthur.
"Aku itu lagi mikir dan aku jadi keganggu tau nggak sih gara-gara kalian!" kesal Jayden.
"Kamu lagi mikirin apaan sih? Jangan bilang kamu lagi mikirin kejadian waktu di UKK itu ya?" goda Felix. Jayden hanya diam ketika mendengar godaan dari Felix.
"Jay, kamu cemburu sama William?" tanya David.
"Heh kamu jangan ngomong sembarangan ya!" Jayden bertambah kesal mendengar ucapan David, ia pun sampai melempar David menggunakan bantal sofa.
"Jangan pakai emosi gitu dong bro, biasa aja kali!" ucap David tak kalah kesalnya.
"Tapi emang iya kan Jay, kamu itu cemburu sama William? Kamu pikir kita semua nggak tau apa, keliatan kali dari sikap kamu selama ini. Kalau kamu itu memang suka sama Yuna," timpal Levin.
"Enggak kok. Siapa bilang aku suka sama Yuna. Nggak usah ngaco deh Vin!" elak Jayden.
"Ah, kalau jadi drama nih nanti judulnya bakal benci jadi cinta," celetuk Nathan.
"Udah deh gini aja Jay, mending kamu tembak aja si Yuna. Daripada kamu tahan kayak gitu, entar hati sama pikiran kamu jadi tambah nyut-nyutan lagi. Ya nggak bro?" ucap Felix sambil meminta persetujuan ke teman-temannya.
"Yoi bro," ucap semuanya serempak.
"Nyut-nyutan? Kamu pikir bisul apa pake nyut-nyutan segala!" kesal Jayden melempar Felix menggunakan bantal sofa.
"Wah lebih baik aku ketemu cewek-cewek aku dulu, daripada dapat amukan dari Jayden," ucap Felix beranjak dari sofa dan pergi untuk menemui para wanita yang di jadikan sebagai kekasihnya itu.
"Pergi sana jauh-jauh, jangan kesini lagi!" teriak Jayden kesal.
...****************...
Pagi harinya di Imperial College, Jayden berencana untuk pergi mencari Yuna di ruang kelasnya.
"Eh kalian!" Jayden mencegat Deana dan Kenzo yang baru keluar dari ruang kelasnya.
"Kak Jayden. Ada apa ya kak?" tanya Deana heran dengan keberadaan seniornya yang berada di depan kelasnya.
"Tumben kalian berdua?" tanya Jayden.
__ADS_1
"Emangnya kenapa kalo kita cuma berdua?" tanya balik Kenzo dengan nada tak suka.
"Yah, biasanya kan kalian bareng sama temen kalian yang satuan itu, siapa namanya?" Jayden pura-pura lupa dengan nama Yuna.
"Yuna kak," jawab Deana. Kenzo menatap jengah seniornya itu.
'Cih sok pura-pura lupa,' kesal Kenzo dalam hatinya.
"Nah ya Yuna. Kemana dia?" tanya Jayden.
Deana mengerutkan keningnya. "Dia lagi sakit, bukannya kak Jayden ada waktu dia di UKK?" tanyanya bingung.
"Emang dia masih sakit?"
"Iya, kan kamu yang buat Yuna sakit!" ucap Kenzo ketus.
Jayden sudah mulai mengeluarkan tanduknya ketika mendengar ucapan dari Kenzo. Ia menatap tajam ke arah Kenzo.
"Ish Kenzo apa-apaan sih kamu," bisik Deana pada Kenzo. Kenzo hanya mengangkat bahunya acuh.
"Maafin temen aku kak. Dia tadi cuma bercanda kok tadi," ucap Deana.
Jayden tak menanggapi ucapan Deana, ia langsung melengos pergi dari hadapan Deana dan Kenzo.
"Ck, bisa-bisanya si Yuna dulu mau nerima cowok kayak dia!" decak kesal Kenzo.
"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang kita ke kantin, aku udah laper banget nih," ucap Deana menenangkan Kenzo.
"Yuk, aku juga udah laper banget apalagi setelah bertemu sama laki-laki pengecut tadi," ucap Kenzo. Deana hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Lalu mereka berdua pergi menuju ke kantin kampus.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1
...----------------...