
Yuna langsung melihat ke belakang, ke arah orang yang memberikannya bucket bunga itu. Matanya terbelalak sempurna saat melihat orang itu adalah orang yang selama ini ia rindukan setengah mati.
"Jayden!" pekik Yuna.
"Hay my Queen," sapa Jayden tersenyum manis.
Yuna berdiri dan berjalan cepat menghampiri dan memeluk tubuh Jayden dengan begitu erat, menyiratkan rasa rindu yang besar kepada lelaki itu.
"Aku sangat rindu padamu, Jay," lirih Yuna.
"Aku lebih rindu padamu sayang," balas Jayden mengecup pelipis Yuna sambil mengelus punggung gadis itu.
"Kamu kemana saja? Kok nggak pernah hubungi aku?" tanya Yuna seraya melepaskan pelukannya dan memanyunkan bibirnya.
"Ayo kita duduk dulu, biar enak aku menjelaskannya," ajak Jayden.
Yuna mengangguk mengiyakan, lalu mereka berdua duduk berdampingan. Jayden menggenggam kedua tangan Yuna dan menatap lekat mata gadisnya.
"Maafkan aku, karena satu bulan aku nggak pernah menghubungi kamu sayang," ucap Jayden menyesal.
"Kenapa? Apa alasan kamu nggak pernah hubungi aku?" tanya Yuna dengan suara lirihnya.
"Kamu tau kan kalau 5 bulan belakangan ini aku menang tender proyek yang sangat besar?" tanya Jayden.
Keluarganya terutama Mama, kakek dan neneknya sangat bangga dengan Jayden, karena laki-laki itu mementingkan tender proyek yang menghasilkan hingga ratusan juta dollar, bahkan melebihi tender-tender yang di menangkan oleh mendiang Jordan dulu.
Yuna mengangguk, "Iya aku tau."
"Aku harus menyelesaikan proyek itu dalam kurun waktu 4 bulan, mau tak mau aku pun harus lembur hingga tengah malam. Dan 1 bulan belakangan ini aku benar-benar sangat sibuk, sampai aku nggak ada waktu buat istirahat dan sampai aku nggak ada waktu untuk menghubungi kamu," jelas Jayden.
"Aku melakukan itu agar proyek itu cepat selesai dan agar aku juga bisa segera kesini untuk bertemu dengan kamu sayang," sambung Jayden. Yuna akhirnya bisa bernapas lega, ternyata itu alasan Jayden tidak pernah menghubunginya, sudah saja ia berpikiran yang tidak-tidak.
"Apa kamu tau? Aku sampai berpikiran kalau kamu itu bosan denganku bahkan aku mengira jika kamu disana lagi dekat dengan wanita lain, hiks," ucap Yuna terisak. Jayden langsung membawa Yuna ke dalam dekapannya.
"Please jangan nangis sayang, hati aku selalu sakit melihat kamu menangis," lirih Jayden sambil mengelus punggung Yuna. Bukannya berhenti, tangisan Yuna pun semakin menjadi-jadi membuat Jayden semakin merasa bersalah, ia melepas pelukannya dan tangannya berada di kedua sisi bahu Yuna.
"Maaf karena telah membuat mu menungguku dan maaf telah membuatmu sampai berpikiran macam-macam tentangku. Tapi yang jelas disana aku nggak pernah berpikiran untuk mengkhianati atau menduakan kamu sayang, tolong percaya padaku," ucap Jayden lembut sambil mengusap air mata Yuna yang terus terjatuh.
Yuna mulai meredakan tangisannya dan mengeluarkan senyumnya, "Aku percaya padamu, Jay. Maafkan aku, karena aku sudah berpikiran negatif tentangmu disana," sesalnya.
Jayden menggeleng cepat, "No! Aku yang salah sayang, karena aku yang telah membuat kamu berpikiran seperti itu."
"I love you, Jayden," ucap Yuna tiba-tiba membuat hati Jayden berbunga-bunga.
__ADS_1
"Love you too honey," balas Jayden sambil mencium kening Yuna cukup lama sampai membuat Yuna memejamkan mata.
"Aku punya sesuatu untuk kamu," ujar Jayden.
"Apa?"
PROK! PROK!
Jayden bertepuk tangan dua kali untuk memanggil waiters di restoran tersebut. Tak lama seorang waiters datang membawa sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita berwarna putih di atasnya dan kotak tersebut berukuran cukup besar.
"Ini beneran untuk aku?" tanya Yuna.
"Of course, ini untuk kamu sayang. Ayo dibuka," suruh Jayden.
Yuna mengangguk lalu berdiri untuk membuka kotak tersebut. Ketika Yuna membukanya, ia sangat terkejut sampai menutup mulutnya setelah melihat isi dari kotak tersebut.
Saat Yuna hendak berbalik dan menanyakan tentang isi kotak tersebut pada Jayden, ia semakin terkejut melihat Jayden sedang berjongkok dibawahnya sambil membawa sebuah kotak yang berisi cincin.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Terima kasih untuk selalu sabar menungguku, selalu memberiku kekuatan selama ini. Karena itulah, malam ini aku memintamu untuk hidup hingga tua bersama denganku," ungkap Jayden dengan menatap Yuna dengan tatapan cinta. Mata Yuna kembali berkaca-kaca mendengar ucapan dari Jayden.
"Maukah kamu menjadi teman hidupku? Menjadi ibu dari anak-anakku dan mendampingi hidupku sampai usai waktu? Yuna Kim, will you marry me?" sambung Jayden berharap Yuna menerimanya.
Yuna langsung mengangguk cepat, ia pun sudah lama menunggu saat Jayden melamarnya dan akhirnya sekarang terjadi juga. "Yes I will."
"Iya aku mau jadi istrimu, Jayden Choi," ucap Yuna menekankan kalimat terakhirnya.
Jayden tersenyum bahagia, "Aku pakaikan ya cincinnya?"
Yuna hanya mengangguk.
"Cincin yang kemarin mau di lepas atau di biarkan saja?" tanya Jayden.
"Lepas saja, Jay."
Jayden pun melepaskan cincin yang pernah ia berikan dulu saat di New York pada Yuna dan memakaikan cincin yang baru.
Setelah terpasang, Jayden langsung memeluk Yuna. "Terima kasih sudah nerima aku, sayang.
Yuna hanya mengangguk dan semakin mempererat pelukannya.
"Akhirnya," ucap pria paruh baya keluar bersama dua wanita paruh baya.
Dua sejoli itu langsung melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Papa, Mama, Tante Eleanor!" seru Yuna.
"Jangan panggil Tante lagi dong sayang, panggilnya Mama seperti Jayden, ucap Eleanor meralat ucapan Yuna.
Yuna mengangguk dan tersenyum, "Baik Mama Eleanor."
Eleanor tersenyum mendengarnya, "Nah seperti itu dong kan senang Mama dengarnya. Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan jadi menantunya Mama," imbuh Eleanor sambil memeluk Yuna.
"Terima kasih Ma."
Eleanor pun melepaskan pelukannya.
"Selamat ya sayang," timpal Jasmine sambil memeluk Yuna sebentar, namun wajahnya terlihat sedih.
"Terima kasih Mama. Tapi kok wajah Mama seperti sedih gitu?" tanya Yuna.
"Mama hanya sedih, anak perempuan kecil Mama yang dulunya manja dan cengeng ini sekarang sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi istrinya Jayden," jelas Jasmine menampakkan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mama jangan sedih dong, Yuna kan jadi ikut sedih," ujar Yuna kembali memeluk Mamanya. Lukas pun ikut bersedih karena ia akan ditinggalkan oleh anak satu-satunya, anak yang ia dan istrinya besarkan dengan penuh kasih sayang. Namun ia harus berpura-pura tegar dan kuat agar putrinya itu tidak bersedih nantinya.
"Sudah-sudah jangan pada sedih lagi. Lebih baik sekarang kita bahas kapan anak-anak kita akan melangsungkan pernikahannya," ucap Lukas membuat Yuna melepaskan pelukannya. Lalu mereka berlima duduk di kursi.
"Gimana kalau pernikahan mereka dilangsungkan seminggu lagi?" usul Eleanor.
"Apakah itu tidak terlalu cepat, Ma?" tanya Yuna.
"Iya sepertinya itu terlalu cepat Ma, kita juga kan perlu menyiapkan acaranya dengan matang," timpal Jayden.
"Iya juga sih, terus gimana?" tanya Eleanor meminta usulan.
"Bagaimana kalau 2 minggu lagi? Biar kita ada waktu untuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan kalian," usul Lukas.
"Boleh tuh Om, Jayden setuju," ucap Jayden.
"Loh kok masih panggil kami dengan panggilan Om dan Tante sih? Panggil saja Mama sama Papa juga seperti Yuna." Kini giliran Jasmine yang meralat ucapan Jayden.
Jayden tersenyum dan mengangguk, "Baiklah Ma, Pa. Bagaimana sayang? Kamu mau kan acara pernikahan kita dilangsungkan tinggal 2 minggu lagi?" Jayden menanyai pendapat Yuna.
"Aku nurut kamu aja sayang," ucap Yuna tersenyum.
"Baiklah, berarti pernikahan Jaehyun dan Yuri dilangsungkan 2 minggu lagi," ucap final Eleanor dan dibalas anggukan oleh semuanya.
...----------------...
__ADS_1