Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Poor William


__ADS_3

"Kalau gitu panggil Papa sama Yuna dulu untuk makan malam," ucap Jasmine menghampiri suaminya yang sedang membaca koran di ruang keluarga.


"Papa," panggil Jasmine.


"Iya sayang?"


"Ayo makan, makanannya udah siap," ucap Jasmine.


"Oke Ma," ucap Lukas bangun dari sofa.


"Yuna sudah di panggil?" tanya Lukas pada istrinya.


"Belum Pa, ini Mama mau panggil dia."


"Oh ya, itu bunga untuk siapa Ma?" tanya Lukas lagi setelah melihat buket bunga yang dibawa oleh Jasmine.


"Oh ini bunga untuk Yuna Pa," jawab Jasmine.


"Dari siapa?"


"Entahlah Pa, Mama juga nggak tau. Dari 3 hari yang lalu Yuna terus di kirimin bunga, tapi nggak ada nama pengirimnya. Yah, Mungkin saja orang itu adalah penggemar rahasianya Yuna," jelas Jasmine.


"Mama ini bisa aja, ya udah Papa duluan ke meja makan ya?"


"Iya Pa." Jasmine melangkah kan kakinya ke lantai dua menuju ke kamar putrinya.


TOK!


TOK!


TOK!


"Sayang makan malam dulu yuk," ucap Jasmine sambil mengetuk pintu kamar Yuna.


"Iya Ma," sahut Yuna dari dalam kamarnya, ia menuju ke pintu kamar dan membukanya.


"Ayo kita makan, kasian Papa udah nungguin tuh di meja makan," ajak Jasmine.


"Iya Ma," balas Yuna.


"Oh ya ampun, Mama sampai lupa. Ini ada kiriman bunga lagi untuk kamu sayang." Jasmine memberikan buket bunga Lily putih tersebut pada Yuna.


"Dari siapa lagi Ma?" tanya Yuna menerima buket bunga tersebut.


"Biasa dari pengagum rahasia kamu," goda Jasmine.


Yuna membuka kartu ucapan yang terselip di buket bunga tersebut.



'Ucapan maaf lagi?' batin Yuna. Ia menghela napas, Yuna tambah penasaran siapa yang mengirimkannya bunga selama ini.


"Kalau gitu Mama duluan aja ke ruang makan, Yuna mau taruh bunga ini dulu di kamar," ucap Yuna.


"Ya sudah kamu cepetan ya nak?"


"Iya Ma."


...****************...


Sudah seminggu ini William absen dari aktivitasnya di D'Warlords. Membuat Mike, sang manajer dan member D'Warlords lainnya khawatir dan mencarinya.


"William itu kenapa sih ponselnya nggak pernah di aktifin. Bikin aku khawatir aja. Kalau kayak gini terus, kalian show berenam bisa di komplain sama klien," ucap Mike khawatir dan gelisah dengan William yang tidak pernah bisa di hubungi.

__ADS_1


"Soalnya nggak sesuai dengan perjanjian isi kontrak. Emang William kenapa sih?" tanya William pada member D'Warlords lainnya.


"Tuh tanya Jayden," ucap David menunjuk Jayden menggunakan dagunya.


"Kok aku sih?" ucap Jayden tak terima.


"Mike, kamu ngerti nggak sih kita bayar kamu disini buat jadi apa? Manajer kan?" tanya Jayden. Mike hanya mengangguk.


"Kalau kamu manajer, kenapa sih kamu nggak becus banget ngurus satu anak itu aja?!" bentak Jayden. Mike sampai memejamkan matanya mendengar bentakan dari Jayden.


"Coba dong datengin mansion nya. Kalau perlu kamu seret tuh anak kesini. Gitu aja dibikin ribet!" lanjut Jayden.


"S-sekarang?" tanya Mike takut.


"Ya ampun. Nggak dua abad lagi! Ya iyalah sekarang!" bentak Jayden lagi, ia sangat greget bercampur geram dengan manajernya itu.


"Ya udah aku pergi dulu," ucap Mike, lalu pergi dari basecamp D'Warlords.


Mike, sang manajer datang ke mansion William atas permintaan dari Jayden.


TING NONG!


TING NONG!


Mike memencet bel mansion William, beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita membukakannya pintu.


"Ada William nya nggak Bi?" tanya Mike pada pelayan tersebut.


"Oh ada Tuan Mike, Tuan muda sedang membaca buku di ruang keluarga. Silahkan masuk." Pelayan tersebut mempersilahkan Mike untuk masuk ke dalam.


Lalu Mike masuk ke dalam mansion tersebut, ia langsung menghampiri William yang sedang membaca buku di ruang keluarganya. Laki-laki itu memang sangat hobi membaca buku, tak heran jika dia menjadi salah satu mahasiswa terbaik di Imperial College.


"Aduh ini dia orangnya yang di cari-cari. Kamu kemana aja sih Wil? Udah seminggu ini nggak ada kabarnya," tanya Mike.


"Sorry, soalnya aku lagi ada urusan," jawab William yang masih tetap fokus membaca buku tanpa menatap manajernya.


Wilson dan Emily tiba-tiba datang, mereka baru pulang dari Hongkong.


"Eh selamat siang tuan Wilson dan nyonya Emily," sapa Mike pada Wilson dan Emily dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Ya siang," jawab Wilson singkat.


"Kenapa sama William? Ada masalah apalagi dia?" tanya Emily.


"Oh, nggak kok Nyonya. Cuma masalah biasa, masalah idol grupnya," jawab Mike.


"Ada masalah apalagi sama D'Warlords? Cari sensasi apa sih? Kalau grup itu banyak masalah bubarin aja udah!" ucap Wilson ketus.


"Kalau Papa nggak tau apa-apa nggak usah ikut campur," sahut William masih setia membaca bukunya.


"Lancang kamu ya! Kenapa Papa tidak boleh ikut campur urusan kamu hah?! Kamu itu anak Papa!" bentak Wilson.


William langsung berdiri dari sofa dan menutup buku yang ia baca tadi. Ia tersenyum sinis ke arah papanya.


"Oh ya? Kalau anak, nggak mungkin Papa perlakukan William, seolah William itu patung yang cuma bisa Papa pajang di mansion megah ini!" ucap William dengan nada yang sedikit meninggi.


Wilson menghampiri William dan berdiri di depan putranya.


"Kamu udah berani ngelawan ya sekarang sama Papa? Kamu jangan pancing emosi Papa, sampai pukul kamu!" gertak Wilson, rahangnya pun kini sudah mengeras menahan amarahnya.


"Oh, Papa mau pukul aku? Pukul aja Pa." William menantang papanya sambil memajukan wajahnya ke arah Wilson.


"Nih pukul sampai Papa puas," lanjut William sepertinya yang tidak takut sama sekali dengan papanya.

__ADS_1


"Kurang ajar ya kamu!"


Wilson sudah mengangkat tangannya untuk melayangkan ke arah pipi putranya, namun dengan cepat William menahan tangan Papanya dan langsung ia menghempaskan nya.


"Wah udah berani ya kamu?!" Ketika William ingin di pukul lagi oleh Wilson, tapi langsung dilerai oleh Emily dan Mike.


"Sudah Pa!"


"Sudah Tuan!"


"Dasar anak kurang ajar! Tidak tau terima kasih sama Papa!" ucap Wilson emosi, napasnya pun sampai memburu.


"Sudah Pa sudah," ucap Emily sambil mengelus dada Wilson untuk menenangkannya.


Pertengkaran Wilson dan William terdengar sampai ke kamar Azura, mama kandung William.


"Aarrgghh, jangan sakiti William," teriak Azura sambil menutup telinganya.


Entah kekuatan dari mana Azura bisa berbicara dengan lancar seperti itu, atau jangan-jangan selama ini ia menyembunyikan hal itu pada keluarganya?


"Tolong jangan!" teriak Azura lagi sambil mendorong kursi rodanya hingga dekat dengan pintu kamarnya.


"Jangan sakiti anak saya! Jangan!" Azura berdiri dari kursi rodanya dengan perlahan dan mencoba untuk berjalan.


"Saya mohon jangan, hiks," ucap Azura terisak sambil berjalan dengan tertatih-tatih.


Ia berpegangan pada meja yang ada di dalam kamarnya dan tak sengaja Azura menjatuhkan sebuah guci yang ada atas meja tersebut.


PRANGG!


Karena sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, Azura terjatuh dan kepalanya terbentur dengan lantai, membuat Azura langsung tidak sadarkan diri.


"Mama?" William langsung berlari ke kamar mamanya yang berada di lantai 2, setelah mendengar suara benda yang terjatuh dan pecah berasal dari kamar Azura.


CEKLEK!


"Mama!" William sangat terkejut melihat mamanya tergeletak di lantai sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, sedetik kemudian ia segera menghampiri mamanya.


"Mama bangun!" ucap William sambil menggoyang-goyangkan lengan Azura.


"Ma please bangun, jangan tinggalkan William sendirian Ma hiks," ucap William terisak.


"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak William meminta tolong.


Beberapa pelayan pun datang ke kamar Azura.


"Tolong bantu angkat Mama saya dan bawa dia ke rumah sakit, cepat!" titah William.


"B-baik Tuan muda."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued.


...----------------...


__ADS_2