
Selama di perjalanan pulang, Jayden hanya diam dengan wajah yang seperti menahan emosi, terlihat dari rahangnya yang masih mengetat dan lehernya mengeluarkan urat-uratnya yang menonjol keluar.
"Sayang," panggil Yuna lembut sambil menyentuh paha Jayden. Jayden masih diam dan tetap fokus ke depan.
"Please, jangan diamkan aku seperti ini. Maafin aku, kalau aku ada salah sama kamu," lirih Yuna.
Jayden menghela napas dan merutuki dirinya dalam hati, mengapa dirinya mendiamkan Yuna padahal gadisnya itu tidak salah apapun. Jayden menepikan dan memberhentikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi.
"Kamu marah sama aku?" tanya Yuna menatap sendu Jayden. Tanpa menjawab ucapan dari Yuna, Jayden langsung memeluk tubuh gadisnya itu.
"Maafkan aku sayang. Aku yang salah karena sudah mendiamkan kamu," sesal Jayden.
"Kamu sebenarnya kenapa?" tanya Yuna melepaskan pelukan Jayden.
"Aku hanya masih emosi saja sama perkataan Brandon yang tadi. Aku takut kamu direbut sama dia. Dia itu sangat terkenal playboy dan suka gonta-ganti pasangan," jelas Jayden.
"Sayang dengarkan aku." Yuna memegang kedua pipi Jayden sambil menatap lekat mata kekasihnya itu.
"Di hati aku hanya ada nama kamu saja. Aku sangat mencintaimu bahkan aku tidak pernah berpikiran untuk berpaling darimu, aku mohon percayalah padaku," ucap Yuna sangat lembut. Jayden mengangguk dan tersenyum, lalu membawa tangan Yuna dari pipinya untuk ia genggam.
"Iya aku percaya denganmu, sayang. Kamu juga harus percaya sama aku, kalau di hati aku hanya ada nama kamu. Tak ada sedikitpun dari pikiran aku untuk mengkhianati kamu walaupun kita saling berjauhan," balas Jayden tulus.
Yuna terharu mendengarnya, "Aku akan selalu berusaha untuk selalu percaya denganmu, Jay."
"Ahh dua hari lagi kamu akan kembali ke Korea. Apa nggak bisa kamu diam disini saja?" ucap Jayden berat hati jika Yuna akan kembali ke Korea.
Yuna tersenyum dan menggeleng, "Nggak bisa dong sayang, aku kan juga harus kuliah."
"Kenapa kamu nggak kuliah disini saja sih!"
"Mama dan Papa yang nggak kasi aku izin, Jay," imbuh Yuna.
Jayden mengerucutkan bibirnya, "Padahal kan ada aku yang jaga kamu disini."
"Mama dan Papa kan nggak bisa jauh-jauh dari anak semata wayangnya yang cantik ini," ucap Yuna dengan nada bercanda.
"Iya aku sangat tau akan hal itu sayang."
Tiba-tiba saja ponsel Jayden berdering, di layar ponselnya tertera nama Nathan disana.
"Siapa yang nelpon kamu, Jay?" tanya Yuna.
"Nathan. Ada apa ya dia nelpon aku?"
"Ya sudah cepat kamu angkat saja sayang, siapa tau penting," suruh Yuna.
Jayden mengangguk dan langsung mengangkat telpon dari Nathan.
"Halo, Jay."
"Ya Nath, ada apa? Tumben banget kamu nelpon aku," tanya Jayden. Jayden dan member D'Warlords lainnya sangat jarang saling menghubungi, sebab mereka juga sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Kamu nggak pulang ke Korea?" Bukannya menjawab, Nathan malah balik bertanya pada Jayden.
__ADS_1
"Maunya sih begitu, tapi pekerjaanku disini belum selesai. Memangnya ada apa?"
"Em aku sebentar lagi mau tunangan, Jay," jawab Nathan malu-malu, biasanya juga malu-maluin, ups.
Jayden terkejut sekaligus bahagia mendengarnya.
"What? Kamu akan bertunangan? Sama siapa?" tanya Jayden. Udah lama tak saling bertukar kabar, sahabatnya itu langsung memberikan kabar mengejutkan seperti ini.
"Aku akan tunangan dengan Diandra, Jay," jawab Nathan. Diandra Song, gadis yang Nathan sukai sejak masih duduk di bangku SMA, tapi Diandra sama sekali tidak pernah menanggapi bahkan menatap Nathan karena dulu gadis itu terkenal sangat dingin kepada orang terutama kaum laki-laki.
"Hah Diandra? Gadis dingin yang kamu sukai waktu SMA itu?" Lagi-lagi Jayden kaget dengan ucapan Nathan.
"Hehehe iya Jay, aku masih nggak menyangka akan dijodohkan dengan Diandra," jelas Nathan. Ia dan Diandra memang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.
"Syukurlah kalau kamu dijodohkan dengan gadis yang kamu sukai," ucap Jayden sambil mengecup punggung tangan Yuna yang ia genggam. Yuna yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum.
"Iya kamu sangat benar, Jay."
"Terus kapan acara pertunangan kamu akan dilangsungkan?" tanya Jayden.
"Empat hari lagi Jay," jawab Nathan.
"Aku minta maaf banget sama kamu, Nath. Sepertinya gue aku bisa ke acara pertunangan kamu dan Diandra. Belakangan ini aku benar-benar sedang sibuk di kantor," papar Jayden tak enak hati pada Nathan karena tak bisa datang ke acara penting bagi sahabatnya itu.
"Gapapa Jay, aku mengerti."
"Thanks Nath. Nanti biar Yuna saja yang mewakili aku disana."
"It's okey Jay, kalau gitu aku tutup ya panggilan ini? Soalnya aku mau antar Diandra ke butik."
"Kamu bisa saja. Ya udah aku tutup ya telponnya? Bye Jay, ingat jaga kesehatan disana jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan mu!"
"Iya thanks udah ngingetin aku Nath," balas Jayden dan panggilan mereka pun berakhir.
"Nathan mau tunangan Jay?" tanya Yuna.
"Iya sayang dan aku nggak bisa datang ke acaranya," jawab Jayden sedih.
"Memang acaranya kapan?"
"Tinggal 4 hari lagi, berarti hari Rabu besok," jelas Jayden.
"Kamu wakilkan aku ke acara pertunangannya Nathan ya sayang?" pinta Jayden.
"Iya Jay, aku pasti akan datang ke acaranya Nathan. Kalau kita nggak tunangan juga, Jay?" tanya Yuna dengan nada hati-hati.
"Kamu mau kita tunangan juga sayang?"
Yuna hanya mengangguk pelan, ia sangat menginginkan itu sejak dulu.
"Tapi aku maunya langsung menikahi kamu langsung sayang," ucap Jayden membuat raut wajah Yuna menjadi muram dan langsung menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Jayden menghela napas, "Sayang," panggilnya.
__ADS_1
"Hem?" Yuna tidak menatap Jayden.
Jayden mengangkat wajah Yuna, "Jangan muram gitu dong sayang. Bukannya aku nggak mau tunangan sama kamu, tapi aku maunya itu langsung menikah saja denganmu. Sebagai pengikat hubungan kita, aku punya sesuatu buat kamu."
"Apa?"
Jayden mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah dari dalam saku jasnya.
"Ini sayang." Jayden membuka kotak beludru tersebut.
"Cincin?" ucap Yuna tergagap, ia cukup terkejut melihatnya.
"Ya sayang. Ini sebagai pengikat untuk memberitahu semua orang, bahwa kamu itu sudah menjadi milikku. Aku pasang kan ya cincinnya?"
Jayden egois? Jayden tak peduli, yang terpenting Yuna menjadi miliknya walaupun belum sepenuhnya.
Yuna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Jayden memasangkan ke jari manis di tangan sebelah kiri Yuna. Yuna pun juga memasangkan cincin ke jari manis di tangan sebelah kiri Jayden.
"Aku pasti akan melamar kamu sayang, tunggu aku," ucap Jayden meyakinkan Yuna sambil menggenggam tangan gadisnya itu.
"Aku akan selalu menunggu lamaran dari kamu sayang," balas Yuna.
"Terima kasih sayang." Jayden mencium kening Yuna.
"Sekarang kamu mau kemana hem?" tanya Jayden setelah melepaskan ciumannya.
"Kita pulang saja Jay."
"Kamu nggak lapar sayang?" tanya Jayden.
Yuna mengangguk, tadi dirinya gagal menyantap hidangan di pesta ulang tahun Jonas. "Kamu juga lapar nggak?"
"Aku juga lumayan lapar sayang. Kamu mau makan apa? Biar sekarang kita pergi ke restoran."
"Nggak usah Jay, biar aku saja yang masak, gimana?" tawar Yuna.
"Kamu mau masak?"
Yuna mengangguk.
"Aku boleh request makanan nggak?" pinta Jayden.
"Boleh, kamu mau dimasakkan apa?" tanya Yuna.
"Karena aku kangen Korea aku pengen dimasakin masakan khas Korea. Mau itu Japchae, samgyetang, tangsuyuk atau yang lainnya juga boleh," pesan Jayden.
"Ya sudah nanti aku buatkan kamu salah satu dari masakan itu," kata Yuna.
"Asik, terima kasih sayang," balas Jayden senang.
"Sama-sama sayang, ayo sekarang kita pulang."
__ADS_1
Jayden hanya mengangguk dan melajukan kembali mobilnya menuju ke mansion nya.
...----------------...