Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Berita baik dan buruk


__ADS_3

Zelvin terdiam sambil menatap wajah damai Liora yang sedang tertidur di sofa, Zelvin melarangnya untuk pulang. Dia meminta Liora untuk tetap di kantornya dan menunggunya selesai dengan pekerjaannya.


Kilatan ingatan di masa lalu kembali hadir di pikiran Zelvin. Ingatan yang sangat Zelvin benci namun sulit untuk dilupakan.


Erica Han, atau sering sekali dipanggil Erica. Dia adalah istri pertama Zelvin, hubungan mereka terjalin karena perjodohan. Sama seperti Liora. Namun bedanya, mereka melakukan pendekatan terlebih dahulu sehingga Zelvin mencintai wanita itu. Sangat.


Erica, wanita yang baik, ceria dan selalu melakukan hal yang dia suka. Erica tidak suka di bantah, Erica tidak suka penolakan dan Erica sulit sekali untuk nurut. Bersama dengan Erica, wanita itu lebih dominan dari pada Zelvin. Wanita itu sangat berani kepadanya.


Zelvin menikah dengan Erica di usia 21 tahun, ketika dia baru saja lulus kuliah. Usia Erica berbeda 3 tahun dengan Zelvin, saat menikah Erica berusia 24 tahun. Wanita itu sudah dewasa, tapi tidak dengan pemikirannya.


Hubungan mereka bisa terbilang baik baik saja selama 3 tahun. Tapi setelahnya, mereka sering sekali bertengkar apalagi ketika Emmanuel sudah lahir. Mereka selalu meributkan hal-hal kecil apapun, Zelvin sering sekali mengalah, karena dia mencintai wanita itu.


Awalnya Erica meminta Zelvin untuk pisah ranjang, Zelvin pun menurutinya. Tapi dibalik itu, Zelvin malah memergoki Erica yang sedang tidur dengan kekasihnya. Tanpa berpikir panjang, Zelvin menceraikan Erica dan memperjuangkan hak asuh Emmanuel. Zelvin tidak tahu kabar wanita itu seperti apa sekarang. Zelvin ingin sekali melupakan wanita itu, berharap kehadirannya, hanya sekedar mimpi.


Zelvin berdiri dari kursi kerjanya, dia berjalan menghampiri Liora yang masih tertidur lelap. Zelvin memandangi wajah damai Liora, gadis di depannya terlihat lugu dan polos. Gadis yang selalu lembut ketika Zelvin emosi, gadis yang tidak pernah ikut emosi ketika Zelvin marah. Gadis baik, tapi sangat disayangkan hidupnya rumit karena masuk ke dunianya.


Zelvin menyelipkan anak rambut yang menghalangi pemandangannya. Tangan Zelvin terulur untuk mengelus wajah Liora, wajah yang selalu ceria dan memberikan ketenangan dengan senyuman manisnya.


Tangan Zelvin turun ke bawah, berhenti di bibir yang beberapa jam lalu dia rasakan. Bibir lembutnya selalu membuat Zelvin selalu ingin lebih. Entah, Tuhan sedang apa saat menciptakan Liora karena gadis ini terlalu sempurna untuknya.


Zelvin mendekat, dia mencium bibir mungil ini. Dia memejamkan matanya ketika merasakan napas hangat Liora menerpa wajahnya. Bibir Zelvin mulai bergerak, bibir ini begitu candu. Zelvin memberhentikan gerakan bibirnya, dia takut menganggu tidur Liora. Zelvin memberikan beberapa kecupan di bibir Liora selalu mengangkat tubuh Liora.


Zelvin membuka pintu ruangannya. Pekerjaannya telah selesai, waktunya untuk pulang. Banyak sekali pasang mata karyawan yang menatapnya.


Liora menatap ke sekelilingnya yang sepi. Dia heran, ketika dia bangun dari tidurnya, dia sudah berada di dalam kamarnya. Di pagi hari, keadaan mansion sangatlah sepi. Liora mencari Zelvin, tapi dia tidak menemukannya, apakah pria itu sudah berangkat kerja di pagi buta seperti ini?


Drtt! Drtt!


Liora membuka ponselnya, dia sedikit terkejut dengan Jennie yang menelponnya di pagi hari. Jarang sekali.


"Hal--"


"Liora! Ya ampun aku kaget banget, Lio. sumpah ih!" pekik Jennie heboh membuat Liora sedikit tersentak.


"Kenapa?"


"Kamu belum liat berita?"


"Berita? Berita apa?"


"Lio, kamu follow akun gosip kampus kita nggak sih?"


"Nggak, memangnya kenapa?"


"Astaga! Liora, sekarang kamu trending nomor satu. Si Lea sudah menyebarkan berita kalau kamu sudah nikah sama om-om dan kamu juga ngejual diri kamu ke om-om itu."


Deg!


Ini lah yang Liora takuti, ternyata yang selama ini Liora takuti benar terjadi. Lea, pembohong handal. Gadis itu tidak bisa dipercaya. Buktinya, sekarang dia yang menyebarkan berita ini.


"Aku sudah nebak ini bakal terjadi. Gapapa, aku sudah siap lahir batin."


"Sekarang kamu dimana?"


"Mansion suamiku."

__ADS_1


"Kirimin alamat mansion suami kamu! Aku kesana. Kamu lagi stress butuh teman curhat dan penasehat. Suami kamu ada nggak?"


"Iya, nggak ada, dia lagi kerja."


"Cepet kirim lokasi kamu! Aku on the way sekarang."


Tut!


Liora segera mengirimkan alamat mansion Zelvin kepada Jennie. Liora duduk di sofa, dia yakin pasti banyak orang yang berpikiran negatif tentangnya.


Tak selang beberapa menit, suara mobil berhenti di depan halamannya. Dengan kurang ajarnya, Jennie membuka pintu rumah dengan kasar dan dia hanya nyengir di ambang pintu.


"Sorry, aku pikir nggak ada kamu hehe," ucap Jennie cengengesan, dia langsung duduk di sebelah Liora.


"Setelah kamu mendengar berita dari aku tadi, apa yang kamu rasakan? Are you sad?" tanya Jennie.


Liora tersenyum tipis, "Siapa sih yang nggak sedih dengan berita yang nggak benar ini. Aku memang sudah menikah Jen, tapi aku nggak menjual diri."


Jennie mengelus pundak Liora, Jennie tahu Liora membutuhkan teman untuk bercerita. "Aku tahu ini nggak mudah buat kamu, tapi aku yakin kamu bisa menghadapi ini semua. Ingat! Aku selalu sama kamu. Selalu. Jadi jangan pernah kamu merasa sendiri ketika kamu berada di titik paling bawah, ya? Liora, kamu tau? Kamu wanita terkuat yang aku kenal setelah ibu aku. Kamu hebat melakukan ini. Jadi kita hadapi ya?"


Liora mengangguk. "Terima kasih, sudah mau jadi sahabat aku, Jen. Aku yakin setelah ini akan ada masalah yang lebih berat lagi, andai kamu menyerah jadi sahabat aku, bilang sama aku ya, Jen? biar aku ada persiapan dulu. Jangan seperti Alvin, aku nggak kuat," lirih Liora.


Jennie memeluk Liora, dia menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku disini sama kamu."


Liora membalas pelukan Jennie, "Terima kasih Jennie, kamu yang aku punya saat ini."


...****************...


"Mama Liora!"


"Mama Liora," panggil Emmanuel sekali lagi.


Liora berkaca-kaca, dia tidak menyangka dengan panggilan dari anak yang memeluknya. Liora berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan Emmanuel.


"Apa? Tante mau dengar sekali lagi?" pinta Liora.


Emmanuel tersenyum, "Bukan Tante, tapi mama Liora."


Liora tersenyum, dia langsung memeluk erat Emmanuel. Akhirnya, hati anak di depannya luluh. Panggilan yang selalu dia tunggu, kini terwujudkan. Hati Liora berdesir, dia merasakan hal yang luar biasa seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya.


"Hai, kak," sapa Moana.


Liora melepaskan pelukannya, dia menatap Moana. "Ini karena kamu?" tanya Liora.


Moana langsung nyengir kuda, "Sudah sepantasnya kakak di panggil seperti itu, kakak yang selalu merawat dia, mengkhawatirkan dia, memikirkan kebahagiaan dia meskipun dia bukan anak kandung kakak. Bukan kah itu termasuk tanggung jawab seorang ibu? Jadi kakak emang layak dijadikan ibu untuk Emmanuel," jelas Moana.


Liora tersenyum bahagia, saking bahagianya matanya menyipit. "Terima kasih banyak, Moana. Ini bener bener luar biasa. Sebagai balasannya, kamu mau apa? Kakak akan belikan," tanya Liora.


"Sebenarnya aku melakukan ini ikhlas banget, tapi karena kakak memaksa ya udah album BTS terbaru dong kak."


Liora terkekeh, "Sebutin saja harganya, nanti kakak transfer uangnya."


"Aaaa! Kakak ku ini memang baik banget. Terima kasih ya kak."


Liora mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Kalian ngomong apa?" tanya Emmanuel.


Liora menundukkan kepalanya, dia menggelengkan kepala nya. "Nggak ngomongin apa-apa..Tan--"


"Bukan Tante, tapi mama Liora, benar kan Nuel?" goda Moana.


Emmanuel mengangguk.


"Okay. Mama baru selesai buat kue, mau cobain?"


Emmanuel mengangguk, "Mau Mama."


Liora tersenyum lebar, dia menunjukan gigi rapi dan lesung pipi nya. Dia memiliki lesung pipi seperti Jayden. Sangat cantik.


"Tunggu ya sayang."


Emmanuel mengangguk.


Zelvin membuka pintu, dia mengerutkan keningnya ketika melihat Emmanuel yang sedang menggambar di ruang tamu dengan televisi menyala menampilkan kartun favorit nya. Zelvin melangkahkan kaki nya, langkah kaki Zelvin membuat Emmanuel berhenti menggambarnya.


"Daddy!" seru Emmanuel semangat Emmanuel berdiri dari duduknya, dia menghampiri Zelvin.


"Daddy baru pulang kerja? Gimana hari ini Daddy? Are you happy, Dad?"


Zelvin sedikit heran dengan Emmanuel yang sangat ceria, anak itu seperti ada yang beda. "Happy, you?" "


"Sangat bahagia, Dad."


"Why?"


"Because i have a new Mom," ucap Emmanuel.


"New mom? Sure? Siapa?"


"Mama Liora."


"Mama Liora? Kamu panggil Mama?" tanya Zelvin terkejut.


Emmanuel mengangguk.


"Thanks son!"


Zelvin langsung berlari untuk mencari keberadaan Liora. Dia langsung berhenti ketika melihat Liora sedang menyiapkan makanan dengan penampilan yang berantakan. Zelvin mengerti, gadis itu belum se-ahli mamanya jadi butuh waktu banyak untuk belajar lagi.


"Keanna," panggil Zelvin.


Liora menoleh, dia menatap Zelvin lalu tersenyum. "Do you happy? Karena sekarang Emmanuel memanggilmu dengan sebutan Mama?" tanya Zelvin.


Liora mengangguk, "Iya kak, aku kaget banget waktu dia manggil aku Mama."


Zelvin hanya mengangguk.


"Kak Zelvin tadi pagi kok udah nggak ada di rumah?" tanya Liora.


"Tadi saya ada meeting jadi buru-buru." Zelvin menatap Liora. Wajah gadis itu sangat terlihat jelas bahwa gadis itu sedang bahagia. Zelvin tahu, Liora sangat berharap panggilan itu dan sekarang sudah terwujud.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2