Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Apakah aku boleh egois?


__ADS_3

Cuaca malam hari ini cukup dingin, karena itu Yuna pun mengenakan baju yang lumayan tebal ditambah dengan jaket bulu yang membalut tubuhnya.


Setelah mendapat pesan dari Jayden yang mengatakan jika laki-laki itu sudah di depan mansion nya, Yuna segera keluar dari kamar, sebelum itu Yuna izin terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya yang berada diruang keluarga.


"Ma, Pa."


"Hei sayang, kamu mau kemana? Kok cantik banget malam ini," tanya Jasmine ketika melihat penampilan rapi dan cantik dari sang putri.


"Yuna izin mau keluar sama Jayden, apa boleh?" izin Yuna.


"Boleh dong sayang," ucap Jasmine. Sementara Lukas hanya mengangguk mengizinkan Yuna pergi bersama Jayden.


"Kalau begitu Yuna pergi dulu ya Ma, Pa? Soalnya Jayden udah nungguin aku di depan," ujar Yuna.


"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan."


"Dan pulangnya jangan kemalaman," pesan Lukas dan dibalas anggukan kepala oleh Yuna, setelah itu ia bergegas keluar menuju ke depan mansion nya.


Seperti biasa Jayden menunggu Yuna di depan mobil sportnya. Dengan cepat Jayden membukakan pintu mobilnya untuk sang kekasih.


"Terima kasih sayang," ucap Yuna mengembangkan senyum manisnya. Jayden tertegun sebentar melihatnya, senyuman itu yang akan senantiasa ia rindukan nantinya saat dirinya berada di New York.


"It's my pleasure, honey," balas Jayden. Setelah itu diikuti Jayden masuk ke dalam mobil.


"Kita mau ke taman mana, Jay?" tanya Yuna.


"Aku mau ajak kamu ke taman dekat dengan mansion Nathan, disana juga sepi pengunjung," jawab Jayden. Yuna hanya manggut-manggut.


Selama di perjalanan Jayden yang biasanya banyak bicara menjadi pendiam tiba-tiba, lelaki itu tengah memikirkan tentang pembicaraannya dengan sang Mama tadi siang. Sementara itu Yuna merasa heran dengan kediaman Jayden.


"Jay," panggil Yuna sambil menepuk pelan paha Jayden.


"Eh iya kenapa sayang?" tanya Jayden cukup tersentak mendengar panggilan Yuna sambil melirik ke arah gadisnya sekilas.


"Kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi?"


"Aku nggak kenapa-napa kok sayang," elak Jayden mengeluarkan senyumnya agar Yuna percaya.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tibalah di taman yang akan di tuju. Terlihat disana memang cukup sepi pengunjung.


"Ayo kita duduk di kursi itu," ajak Yuna menunjuk ke kursi taman.

__ADS_1


Jayden hanya mengangguk menyetujui ajakan gadisnya itu.


"Oh ya, katanya ada yang ingin kamu bicarakan sama aku, apaan ya?" tanya Yuna penasaran.


"Tapi aku takut bicarakan hal ini ke kamu," lirih Jayden menatap lekat mata Yuna.


"Bicara saja, Jay. Aku kan penasaran," desak Yuna.


Jayden memejamkan matanya sejenak lalu menghela napas panjang sebelum ia bercerita. "Aku akan pergi ke New York."


Yuna terkejut mendengar ucapan Jayden tadi, "Hah, kapan Jay?"


"Besok ini dan jam 9 aku udah harus sudah berada di Bandara," imbuh Jayden.


"Memangnya kamu mau ada hal apa kesana? Kamu mau lanjut S2?"


"Bukan sayang, perusahaan Papa aku yang ada disana sedang kritis. Banyak petinggi di perusahaan melakukan korupsi besar-besaran membuat perusahaan Papa mengalami kerugian, maka dari itu aku dan Mama harus turun tangan," jelas Jayden.


Yuna terdiam sebentar, apakah dia boleh melarang Jayden untuk pergi? Apa dia boleh egois untuk kali ini?


"Terus sampai kapan kamu disana?" tanya Yuna dengan suara lirihnya. Matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Aku pun nggak tau sayang, sampai kapan aku disana. Mungkin sampai perusahaan Papa yang berada di New stabil, baru aku kembali kesini," jawab Jayden.


Air mata Yuna pun meluruh dan mulai terisak. Jayden yang melihat Yuna menangis langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Ingat, Jayden sangat tidak suka jika melihat Yuna menangis.


"Please, jangan nangis sayang," ujar Jayden sambil mengelus punggung Yuna.


"Apa aku boleh egois dan memintamu untuk tidak pergi?" isak Yuna. Jayden pun berharap agar dirinya tidak pergi ke New York, tapi apa? Perusahaannya disana benar-benar sedang membutuhkan dirinya.


Jayden melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Yuna dan kembali menatap lekat mata Yuna.


"Sayang dengerin aku, aku pergi ke sana hanya untuk sementara, sampai perusahaan Papa bener-bener stabil seperti semula. Aku pasti akan kembali sayang, percaya sama aku," ucap Jayden meyakinkan Yuna.


Yuna tidak membalas ucapan Jayden, tapi ia langsung memeluk tubuh kekasihnya itu.


"Please don't go," ujar Yuna lirih sambil menggelengkan kepalanya dan semakin terisak.


"Maafkan aku sayang," balas Jayden mengelus rambut panjang Yuna.


Yuna melepaskan pelukannya dan menunduk, entah mengapa hatinya merasa kecewa karena Jayden tak menuruti permintaannya.

__ADS_1


"Aku mau pulang, Jay," pinta Yuna.


"Kamu nggak pergi makan dulu? Atau pergi jalan-jalan lagi kemana gitu?" usul Jayden. Yuna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa menatap Jayden.


Jayden menghela napas panjang, "Ya sudah ayo kita pulang," ucapnya pasrah.


Mereka berdua pun pergi dari taman itu. Tadi Jayden yang terdiam selama di perjalanan sekarang giliran Yuna dan gadis itu hanya melihat keluar dari jendela mobil.


Jayden melirik ke arah Yuna, tangan kanannya terulur memegang tangan Yuna dan sesekali mencium punggung tangan kekasihnya itu. Sedangkan Yuna hanya bisa membiarkan tangannya digenggam serta dicium oleh Jayden dan ia tetap diam.


Tak lama, mereka pun sampai di pekarangan mansion milik keluarga Kim. Saat Yuna hendak membuka pintu mobil, dengan cepat Jayden mencegat tangannya.


"Tunggu sayang," ucap Jayden dan membawa Yuna ke dalam pelukannya. Yuna yang dipeluk itu langsung menangis kembali.


"Aku mohon, jangan diamkan aku. Aku paling tidak bisa jika kamu seperti itu," kata Jayden.


Yuna melepaskan pelukan Jayden, "Maaf jika tadi aku mendiamkan mu, Jay. Dan maaf tadi aku terlalu egois menyuruhmu untuk tidak pergi ke New York. Aku hanya takut kamu disana dekat dan suka dengan perempuan lain yang lebih baik dari aku, lebih sempurna, lebih dewasa dari aku," ujarnya panjang lebar.


Ternyata hal itu yang ditakutkan oleh Yuna, pikir Jayden. Hei, Jayden akan berpikir seribu kali jika ingin mengkhianati gadis secantik dan sebaik Yuna. Masa iya Jayden yang telah berjuang keras mendapatkan Yuna kembali dan pada akhirnya ia menyia-nyiakan gadis itu. Hell no, Jayden akan menjadi lelaki bodoh jika dirinya melakukan hal itu.


"Hey dengerin dan tatap mata aku sayang," suruh Jayden melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Yuna. Yuna pun menatap mata Jayden.


"Menurut aku, kamu adalah perempuan sempurna yang Tuhan berikan padaku. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan, karena telah menghadirkan perempuan seperti kamu di dalam hidupku ini dan aku tidak pernah berpikiran sama sekali untuk menduakan atau selingkuh dari kamu, sayang. Tolong percaya padaku," ucap Jayden sungguh-sungguh seraya menghapus jejak-jejak air mata Yuna dengan ibu jarinya.


"Aku janji, ketika aku kembali kesini, aku akan langsung melamar kamu menjadi istriku," lanjut Jayden.


"Kamu serius dengan ucapan mu itu?" tanya Yuna masih sesenggukan.


"Aku sangat serius dengan ucapanku ini, sayang. Karena aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya, memiliki anak-anak yang lucu dan hidup sampai akhir hayat bersama dengan dirimu," jelas Jayden mengelus pipi Yuna. Yuna tersenyum haru mendengarnya.


Jayden mulai memajukan wajahnya ke wajah Yuna. Yuna pun mulai memejamkan matanya, tak lama bibir mereka pun menyatu. Jayden tersenyum di sela-sela ciuman mereka, saat Yuna masih kaku saat ciuman.


Cukup lama mereka berciuman, Yuna memukul dada Jayden karena ia merasa pasokan oksigen dalam tubuhnya mulai menipis.


"Kamu mau mau bunuh aku?!" ucap Yuna galak, tapi di mata Jayden terlihat sangat menggemaskan.


"Maafkan aku sayang, soalnya bibirmu itu bikin aku kecanduan," balas Jayden sambil mengusap bibir Yuna yang basah akibat dirinya itu. Ucapan Jayden tadi membuat pipi Yuna seketika memerah.


"Ih dasar!" Yuna memukul pelan dada Jayden. Jayden terkekeh dan menarik tubuh Yuna membawanya kembali ke dekapannya.


"Rasanya aku ingin terus memeluk kamu seperti ini," lirih Jayden.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2