Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
My night


__ADS_3

Zelvin menarik bibirnya untuk tersenyum. Dia mengelus bibir Liora yang basah, selain itu pipi Liora pun memerah membuat Zelvin terkekeh. Dia yakin, istrinya sedang salah tingkah sekarang. Apalagi tangan Liora mendadak berkeringat, Zelvin menarik bibirnya untuk tersenyum lebar.


“Jangan bahas Erica ya? Ini bukan Waktunya. Kita bahas yang lain aja ya?” pinta Zelvin.


Liora mengangguk, dia menyimpan kepalanya di pundak Zelvin. Liora memejamkan matanya untuk menikmati angin malam yang membuatnya merasa nyaman. Tangan Zelvin melingkar di pinggangnya, memeluknya dengan erat yang membuat Liora merasa hangat.


“Aku rindu Mommy, Daddy, oma Eleanor, nenek Jasmine dan Giovanno,” gumam Liora, napasnya menjadi tidak teratur. Dia menahan air matanya untuk tidak jatuh.


“Akhir-akhir ini Mommy sama Daddy jarang kabari aku, kalau aku mau nanya kabar mereka, mereka selalu sibuk,” jelas Liora.


Zelvin menundukkan kepalanya, “Keanna,” panggil Zelvin dengan nada yang lembut. “Mau ke Macau?” tawar Zelvin.


“Ngapain?” tanya Liora bingung.


“Mommy sama Daddy lagi di Macau kan?”


Liora mengangguk, “Iya, tapi aku nggak mau. Aku hanya rindu saja. Dulu juga sering seperti ini, terus tante Krystal peluk aku erat banget, jadi--” Liora belum menyelesaikan kalimatnya tapi Zelvin sudah menariknya ke dalam pelukannya. Zelvin mengelus punggung Liora yang sedikit bergetar karena nangis.


“Gapapa sayang, aku disini,” bisik Zelvin. Liora memejamkan matanya untuk merasakan hangatnya pelukan Zelvin. Liora senang, setelah jauh dari Krystal, dia menemukan tempatnya untuk pulang. Zelvin selalu memberikan pelukan hangat untuknya.


Malam ini, malam yang benar-benar berarti untuk Liora. Malam yang akan selalu menjadi favoritnya karena dibawah ribuan bintang, Liora menjadi yakin bahwa perasaan Zelvin untuknya. Dan dia juga yakin, perasaannya bukanlah untuk Alvin lagi, tapi suaminya. Zelvin Harell Park.


Alvin adalah sebuah pelajaran bagi Liora, banyak sekali yang dia ambil dari masalah-masalahnya. Lea, terakhir kali dia mendengar berubah. Lea menjadi lebih pendiam. Liora berniat menjenguk gadis itu dengan SUAMINYA.


...****************...


Zelvin membuka matanya. Pemandangan Indah yang di lihat adalah Liora, dengan senyuman indah di wajahnya. Zelvin menarik bibirnya untuk tersenyum, dia mengelus pipi Liora.


“Pagi,” ucap Zelvin dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.


Cup!


Zelvin mengecup bibir Liora, lalu memeluknya dengan sangat erat. “Cantik banget,” puji Zelvin.


Liora tersenyum malu, masih pagi tapi


wajahnya sudah memerah karena pujian dari Zelvin. Liora menyembunyikan wajahnya di dada Zelvin yang tidak menggunakan baju.


“Dingin banget,” keluh Liora untuk mengalihkan pembicaraan mereka


Zelvin mengelus kepala Liora, “Ini sesuai request kamu lho, 18°C. Katanya, biar olahraganya nggak kepanasan kan?” goda Zelvin.


Liora langsung memukul dada bidang suami nya, membuat Zelvin meringis kesakitan. “Kamu ihh,” rengek Liora.


Zelvin tertawa, “Sakit, sayang.”


“Diam!”

__ADS_1


"Sayang?”


“Diam, kak!”


"Sayang, sayang, sayang."


Sudah, Liora tidak sanggup. Om-om tua ini mendadak menjadi anak muda alay, tapi sialnya ini membuat Liora tersipu malu.


“Sayang kamu,” sambungnya sebelum menarik selimut.


...****************...


“Pakai baju ini saja,” saran Liora


Zelvin menggelengkan kepalanya. “No, terlalu cerah warnanya.”


Liora membulatkan matanya. Hidup Zelvin benar benar tidak berwarna, masa hijau tua disebut cerah. Sehari-hari Zelvin hanya memakai kaos warna hitam atau abu-abu. Liora sudah bosan melihatnya.


“Pakai ini saja, ini nggak cerah. Bagus juga kok, ya?” pinta Liora. Zelvin berdiri dari duduknya, dia mengeratkan handuknya supaya tidak jatuh. Dia berjalan menghampiri Liora.


“Sayang, ini terlalu cerah, okay? Yang biasa saja ya? Di apartemen banyak kok baju aku sayang,” tolak Zelvin secara halus.


“Tapi aku mau kamu pakai baju ini, kak,” kukuh Liora tidak mau kalah.


“Kalau nggak cocok, gimana?”


“Deal?” tanya Zelvin sambil mendekatkan wajahnya ke arah Liora.


Liora mengangguk, “Deal.”


Cup!


Zelvin mencium bibir Liora dengan kecepatan kilat.


“Oke, udah deal.” Zelvin mengambil kaos berwarna hijau tua di tangan Liora. Dia langsung memakainya.


“Gimana?” tanya Zelvin.


Liora mengangguk, “Cocok, coba kamu ngaca, ganteng kok,”


Zelvin mengangguk, “Not bad, oke aku pake ini tapi celana—”


“Nggak, celananya juga aku yang milih. Sana duduk lagi,” perintah Liora.


Zelvin dengan pasrah duduk di kursi rias. Dia memerhatikan istrinya yang sedang mengobrak-abrik lemarinya. Wanita ini benar benar ajaib. Bahkan dari dalaman


pun Liora yang milih dengan alasan dia bosan mencuci dalaman Zelvin dengan warna yang sama.

__ADS_1


“Taraaa.” Liora mengangkat celana dibawah lutut yang dia temui.


Zelvin langsung berdiri, “Sayang, kamu yang bener saja. Oke, nggak masalah kalau celananya dibawah lutut tapi emang harus hijau neon gitu?” protes Zelvin melihat celana yang dipilihkan Liora terlalu terang.


Liora tertawa, “Terus kenapa ini ada di lemari ini?”


“Itu hadiah dari Moana. Dia bosan melihat aku pakai itu-itu terus,” jawab Zelvin.


“Nah, aku juga. Makanya kamu—"


“Keanna ...”


Liora langsung terdiam ketika Zelvin memanggilnya dengan suara yang lembut. “Iya kak, tunggu aku cari lagi.” Liora langsung mencari celana yang cocok untuk suaminya.


Zelvin terkekeh pelan, dia mengelus rambut Liora karena gemas. Dia membiarkan istri nya mencari lagi.


“Taraaa ini gimana?” tanya Liora membawakan kembali celana untuk Zelvin.


Zelvin mengangguk, “Nggak buruk, oke saya pakai ini ya?”


Zelvin langsung memakai celananya di depan Liora membuat Liora tersipu malu. Sialan. Pipi Liora gampang sekali memerah.


“Kok salah tingkah sih? Padahal sering liat,” ejek Zelvin.


“Diam deh kak!”


“Keringkan rambut aku, sayang,” pinta Zelvin.


Liora menyuruh Zelvin untuk duduk. Dia mengambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambut Zelvin. Liora baru sadar, dia mengerutkan keningnya. “kak,” panggilnya.


“Iya?”


“Aku baru sadar, kok meja riasnya warna pink? Kontras banget sama kamar kamu yang serba hitam putih,” tanya Liora heran.


“Mama bilang kamu suka warna pink, makannya aku beli saja warna ini biar kamar ini nggak buat kamu bosan. Setidaknya ada warna yang kamu sukai, meskipun hanya meja rias saja,” terang Zelvin.


“Berlebihan tau kak, padahal--”


“Nggak ada yang berlebihan, ini masih kurang,” potong Zelvin.


“Sayanggggg banget sama kak Zelvin,” ucap Liora dengan nada yang menggemaskan.


Zelvin tersenyum. “Sekalian pijit dong sayang,” pintanya. 


“Yeee malah keenakan.” Meski begitu Liora memijit bahu Zelvin setelah mengeringkan rambutnya. tangan kecil itu bergerak dengan semangat, membuat Zelvin merasa nyaman.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2