
Tak sengaja mata William melihat ke arah rok yang di kenakan oleh Yuna dan rok tersebut sedikit terangkat, dengan segera ia langsung membuka jaketnya dan memberikannya kepada Yuna.
"Ini pakai."
"Untuk apa Wil?" tanya Yuna bingung.
"Untuk tutupin itu," jawab William sambil melihat ke rok Yuna yang tersingkap.
"Hehe makasih Wil," ucap Yuna cengengesan sambil mengambil jaket William tersebut dan menutupi pahanya.
"Kebiasaan ya kamu ini." William mengacak rambut Yuna.
Mike dan member D'Warlords lainnya melongo melihat interaksi William dengan Yuna. Tak terkecuali Jayden, ia semakin cemburu melihatnya. Rasanya Jayden ingin pergi saja dari taman tersebut, tapi gengsinya terlalu tinggi.
'Sial! Ngapain sih mereka pake adegan sok romantis-romantis gitu,' batin Jayden kesal.
"Ayo makan lagi Ma." William akan menyuapi Azura kembali.
"Wil boleh nggak aku yang suapi Mama kamu?" pinta Yuna.
"Ya boleh dong. Ini makanannya." William memberikan mangkuk bubur Azura pada Yuna.
"Tante aku suapi ya?" ucap Yuna. Azura hanya mengangguk ke arah Yuna.
Yuna menyuapi Azura dengan perlahan, itu membuat rasa suka William pada Yuna semakin bertambah besar.
'Tuhan bolehkah aku berharap jika ia adalah jodohku,' batin William tersenyum tipis melihat Yuna yang sedang menyuapi mamanya.
"Permisi Tuan muda," panggil salah satu pelayan yang tiba-tiba menghampiri William.
"Ya Bi ada apa?" tanya William.
"Makan siangnya sudah siap."
"Oh iya, terimakasih Bi," ucap William.
"Sama-sama Tuan muda. Kalau gitu saya permisi," ucap pelayan tersebut lalu pergi dari hadapan semua orang yang ada di taman.
"Guys kalian udah makan siang?" tanya William pada manajer dan teman-temannya. Yang di tanya semuanya hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu kita makan siang bareng ya?" ajak William.
"Oke William. Ayo guys kita ke ruang makan," ajak Mike ke member D'Warlords. Semuanya mengangguk, mereka pun pergi ke dalam menuju ke arah ruang makan.
Kini di taman hanya ada Yuna, William, Azura dan suster yang merawat Azura.
"Kamu udah makan?" tanya William pada Yuna.
"Belum."
"Makan yuk sama yang lain juga," ajak William.
"Nggak usah, nanti aja pas pulang aku makannya," tolak Yuna.
"Liat sekarang udah jam berapa?"
Yuna melirik ke arah jam tangannya. "Hampir jam 2," jawabnya.
"Nah itu pun udah telat waktu untuk makan siang. Pokoknya kamu harus makan disini, tidak ada penolakan!" ucap William tak terbantahkan lagi.
__ADS_1
"Dasar pemaksaan!" ucap Yuna sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bibir kamu jangan di gitu kan, udah kayak bebek tau nggak sih," ledek William.
"Ih kamu ini nyebelin banget," kesal Yuna sambil mencubit pinggang William.
"Aduh... Iya maaf-maaf," ucap William sambil terkekeh karena menurutnya cubitan Yuna itu tidak berasa sama sekali di tubuh atletisnya.
Diam-diam Azura menyunggingkan senyumnya, tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Sus tolong bawa Mama ke kamarnya ya?" titah William pada suster.
"Baik Tuan."
"Ayo kita pergi ke ruang makan," ajak William.
"Iya ayo." Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Yuna duduk diapit William sebelah kiri dan sebelah kanan diapit oleh Jayden.
Di atas meja makan sana sudah banyak makanan yang terhidang.
"Kok kalian belum makan?" tanya William heran.
"Kita lagi nungguin kalian berdua," sahut Felix.
"Ya udah ayo kita mulai makan," titah William.
Semuanya mengangguk dan mulai menyantap makanan yang ada di atas meja makan tersebut.
Di sela-sela makan David tiba-tiba membuka suaranya. "Yun, nanti jadi ya ceritain ke kita."
"Apa kalian tau, kalo Yuna itu sebenarnya orang kaya yang menyamar," celetuk Arthur.
UHUK!
UHUK!
Yuna langsung tersedak mendengar celetukan dari Arthur. Refleks Jayden dan William menyodorkan air putih untuknya.
Yuna melirik ke arah dua air putih di depannya yang disodorkan oleh dua laki-laki yang cukup berpengaruh dihatinya. Karena tak ingin menyakiti dan membuat salah paham Yuna lebih memilih mengambil sendiri air putih yang tersedia di dekatnya.
Jayden dan William sedikit kecewa karena air yang mereka sodorkan tidak di ambil oleh Yuna.
"Apa bener yang di katakan oleh Arthur itu Yun?" tanya Nathan.
"Heh, kalian kalau lagi makan jangan bicara!" ucap Jayden ketus.
"Nanti ya aku ceritakan ke kalian. Sekarang kalian lanjutkan makannya dulu, nggak baik makan sambil berbicara," ucap Yuna yang menenangkan kondisi.
William menatap ke arah Yuna. "Kamu serius akan cerita ke mereka?" tanyanya.
"Iya Wil, lambat laun juga mereka bakal tau siapa aku sebenarnya," jawab Yuna.
"Ya udah terserah kamu, gimana baiknya," ucap William pasrah.
"Jadi kamu tau siapa Yuna yang sebenarnya?" tanya Levin pada William. William hanya mengangguk.
"Wah kamu curang banget sih Wil, nggak kasi tau kita-kita," sahut David.
__ADS_1
William menghela napasnya. "Itu keinginan dari Yuna sendiri, suruh aku buat sembunyikan identitasnya yang asli," jelasnya agar teman-temannya itu tidak salah paham padanya.
"Wah parah sih!" ucap Levin kecewa.
"Sudah-sudah, nanti aja bicaranya lagi. Sekarang kalian lanjutkan makannya," titah William.
Semuanya langsung mengangguk kecuali Jayden, yang sedari tadi memasang wajah masam dan dingin. Kupingnya terasa panas mendengar interaksi antara Yuna dan William yang sangat akrab itu.
Setelah selesai makan, mereka semua langsung pergi ke ruang keluarga yang ada di mansion William, kecuali Mike yang pamit pergi ke perusahaan JC Entertaiment.
"Ayo Yun kamu cerita ke kita, siapa kamu itu sebenarnya. Apa benar kamu itu orang kaya?" Levin terus mendesak Yuna untuk menceritakan identitas aslinya.
"Ya, seperti yang kalian liat tadi," jawab Yuna santai.
"Wait wait. Seperti yang kalian liat tadi? Apa sih maksudnya Yuna?" tanya Felix bingung.
"Itu tadi Fel, Yuna datang kesini pake mobil Porsche Taycan yang harganya mencapai dua ratus limapuluh juta won itu loh," ucap Arthur semangat. Yuna hanya memutar matanya jengah mendengar ucapan Arthur yang menurutnya berlebihan itu.
"Serius kamu?" tanya Felix masih tak percaya.
"Ya, kalau kamu nggak percaya liat aja ke depan sana," timpal David.
"Wah keren sih, aku aja pengen banget beli mobil itu," ucap Felix.
"Jay, kok kamu biasa aja pas tau tentang identitas Yuna yang asli? Jangan bilang kamu tau lagi siapa sebenernya Yuna?" selidik Felix menatap Jayden.
"Nggak, aku nggak tau sama sekali," elak Jayden sedikit gelagapan.
"Terus kenapa kamu diem aja dari tadi?" tanya Nathan heran.
"Aku cuma lagi nggak mood ngomong aja," jawab Jayden dingin.
"Lah tumben banget," balas Nathan.
"Oh ya Yun, kenapa sih kamu sembunyikan ini semua dari kita?" tanya Felix penasaran.
"Iya bener, kita jadi nyesel udah pernah menghina kamu waktu itu. Maafin kita semua ya Yun," ucap David menyesal.
"Gapapa, aku udah maafin kalian semua kok," balas Yuna tersenyum tipis.
"Ya ampun kamu baik banget sih Yun," timpal Arthur yang kagum dengan kebaikan hati dari Yuna yang mau memaafkan mereka yang memiliki banyak salah kepada gadis itu.
"Sebenernya apa sih alasan kamu, makanya kamu sembunyikan identitas kamu yang asli dari kita semua?" tanya Nathan.
"Yah sebenernya alasan aku sembunyikan identitas aku yang asli itu, karena..."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.