Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Kemarahan Zelvin (2)


__ADS_3

Liora duduk di bangku kantin yang kosong. Tatapannya tertuju kepada Alvin yang terlihat asik bersama teman-temannya, namun satu yang telah hilang dari Alvin yaitu senyuman lebar pria itu. Liora mengulum bibirnya, senyuman indah itu hilang karenanya.


Liora melipatkan tangannya di meja, lalu menyimpan kepalanya. Akhir-akhir ini, Liora sibuk dengan skripsinya. Tidak ada kalimat dukungan atau pertanyaan 'gimana hari ini?' atau 'kamu baik baik aja?' Liora merindukan itu dari seseorang, yaitu Alvin.


Liora memejamkan matanya, dia sedang menunggu Jennie yang sedang di ruangan dosen. Liora memutuskan ke kantin dan melihat Alvin, melihat wajah tampan itu berhasil membuatnya merasa bersalah.


"Maafkan aku, Alvin," lirih Liora.


Tanpa disadari, Liora terlelap karena lelah oleh tugas skripsi yang menguras waktu tidurnya. Diujung sana, Alvin menoleh untuk melihat Liora yang tertidur. Alvin membuang napas kasar, gadis itu berhasil mematahkan hati nya. Satu hal yang Alvin benci, dia benci menjadi perusak, apalagi perusak rumah tangga orang lain. Tapi ini Liora, gadis pertama yang menempati posisi teratas di hatinya.


"Kamu rindu kan sama dia?" tebak Rafael saat melihat pandangan mata Alvin ke arah Liora.


Alvin menatap Rafael, lalu membuang wajahnya. Tanpa dijelaskan, Rafael selalu berhasil menebak isi kepalanya.


"Dengan kamu marah-marah seperti ini, itu nggak akan bisa membuat sakit hati kamu hilang, Al. Aku tahu kalau Liora salah. Tapi, apa kamu pernah tanya alasan dia melakukan ini? Al, jangan pernah ambil keputusan sebelah pihak. aku yakin kamu bijak. aku percaya," sambung Rafael.


Alvin tersenyum sinis, "Percaya, Raf. Dia bukan milik aku."


Rafael menepuk pundak Alvin. "Ya, Liora bukan milik kamu. Bahkan dari dulu pun Liora bukan milik kamu, benar? Komitmen, itu nggak bisa mengikat kamu sama Liora, Al. Kapanpun, komitmen bisa berubah dengan seiring waktu. Kamu sama Liora pacaran? Bukan Al. kamu sama Liora itu hanya modal komitmen, apa itu cukup? Nggak kan?"


"Aku dengar dari Jennie, akhir-akhir ini Liora benar benar sedih. Dia selalu nangis. Apa kamu tega? Apa kamu nggak mau mendengarkan penjelasan dari dia dulu? Andai, pernikahan dia bukan keinginan dia, kamu mau apa?" ucap Rafael panjang lebar.


"Raf..."


"Aku tahu kamu sakit hati. Tapi cobalah damai, ikhlasin semuanya. Maybe, ini takdir kamu dan Liora. Disini kamu juga tersiksa kan? Coba pahami diri kamu sendiri, Alvin," kata Rafael.


Liora tiba-tiba saja terbangun. Dia melirik sekitarnya, ternyata dia masih berada di kantin. Liora memijit pangkal hidungnya yang terasa pening. Liora menatap Alvin yang menatapnya juga, Liora bisa melihat emosi Alvin dari tatapan tajam itu.


Tatapan sendu, wajah yang terlihat pucat, tubuh yang semakin kurus dan mata yang terlihat kelelahan. Itulah yang Alvin ambil ketika menatap dalam Liora.


Drrtt Drrtt Drrtt...


"Halo, Ma?"


"Liora, Emmanuel masuk rumah sakit," ucap Marissa, dari suaranya terdengar cemas dan sedih.


Liora membulatkan matanya. "Astaga, kok bisa? Tadi pagi Emmanuel baik baik saja kok Ma, kenapa bisa?"


"Tadi dia diserempet motor kurir pengantar makanan, Lio. Maafkan Mama yang ceroboh jagain Emmanuel."


Liora membuang napasnya untuk tetap tenang. "Sekarang Mama dimana?"


"Mama dirumah sakit St. Mary Yeouido."


"Ma, aku sekarang kesana ya."


"Hati - hati, sayang."


"Iya Ma."


Tut!


Liora memutuskan sambungannya. Dia langsung berdiri dan berlari menuju keluar kampus untuk mencari taksi.


"Lio, kamu mau kemana?" tanya Jennie sambil menahan Liora untuk berhenti berlari.


"Anak aku masuk rumah sakit. Aku duluan, sorry aku nggak bisa bantuin tugas kamu. Kirimin aja lewat email nanti aku bantu," jawab Liora lalu kembali berlari.


...****************...


"Mama!" Marissa berdiri dari duduknya, dia memeluk Liora, mencium kedua pipi menantunya.


"Kamu buru-buru ya datang kesini? Liora, kamu harus ingat keselamatan kamu," pesan Marissa.

__ADS_1


Liora mengangguk, "Itu nggak penting Ma, sekarang kondisi Emmanuel gimana? Apa kata Dokter?"


Marissa mengelus rambut Liora, "Emmanuel baik-baik saja, hanya luka memar di lutut dan keningnya dijahit."


"Di jahit? Astaga. Terus sekarang Emmanuel?"


"Emmanuel mau di bawa ke kamar inapnya, kita disuruh tungguin Emmanuel sadar dulu."


"Emmanuel nggak sadarkan diri?"


Marissa menggelengkan kepalanya, "Bukan nak, Emmanuel belum sadar karena masih efek dari bius."


Liora bernapas lega, setidaknya tidak ada luka serius pada Emmanuel. Marissa membawa Liora untuk duduk menunggu suster membawa Emmanuel ke kamar inap.


"Mama udah kabarin Zelvin, Papa dan Moana. Moana sebentar lagi ke sini," ujar Marissa.


Liora mengangguk, "Iya Ma."


Suster keluar dari ruang UGD. Dia membawa Emmanuel untuk dipindahkan ke kamar inapnya. Liora dan Marissa mengikutinya dari belakang. Setelah masuk ke kamar inap, suster memberi penjelasan terhadap luka di kening Emmanuel lalu pamit keluar.


"Emmanuel sayang, ada yang sakit?" tanya Liora.


Emmanuel hanya menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kalau ada yang sakit jangan di tahan ya? Bilang ke Tante, nanti biar Tante suruh Dokter buat kasih obat penghilang rasa sakit. Ngerti?" ucap Liora.


Emmanuel mengangguk.


"Sekarang kamu istirahat ya, jangan banyak ngobrol dulu," suruh Liora dengan suara lembutnya.


"Iya Tante."


Marissa sudah pamit pulang, kini di ruangan Emmanuel hanya ada Moana dan Liora. Mereka berdua terlihat asik berbincang-bincang membahas segala hal yang tidak penting, bahkan mereka tertawa karena Moana selalu menunjukan video-video lucu. Selera humor Liora dan Moana itu sama. Mereka berdua memang sefrekuensi!


BRAKKK!


Liora menatap pria yang menggunakan pakaian formal masuk ke dalam uangan. Dia Zelvin. Tatapannya sangat tajam, wajahnya mengeras sambil melangkahkan kaki nya mendekat ke arah Liora.


"Kak Zelvin?" gumam Liora.


SRET!


Zelvin memegang erat pergelangan tangan Liora, membuat Liora terkejut bukan main. "Ikut saya, Liora!"


"Kak Zelvin, mau bawa kak Liora kemana?" tanya Moana.


"Diam! Jangan ikut campur, kamu urus saja Emmanuel!" bentak Zelvin.


Zelvin menarik tangan Liora untuk keluar dari kamar inap Emmanuel. Zelvin terus menyeret Liora sampai ke parkiran, lalu membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Liora untuk masuk ke dalam mobil.


"Kak Zelvin," panggil Liora dengan lembut ketika Zelvin sudah masuk ke dalam mobil.


Zelvin menoleh, tanpa membalasnya dia langsung menginjak gas sehingga mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Zelvin tidak memperdulikan klakson dari pengendara lain, dia tetap fokus ke depan dengan wajah yang mengeras seperti menahan emosi.


Setelah sampai di halaman mansion, Zelvin keluar dari mobil dan membuka pintu mobil di sebelah Liora. Zelvin menarik Liora untuk keluar dari mobil.


"Kak Zelvin sakit," cicit Liora.


Zelvin masuk ke dalam mansion, dia tidak mendengar rintihan kesakitan Liora. Zelvin menendang pintu kamar Liora, lalu mendorong tubuh Liora sehingga tubuh kecil itu tersungkur di lantai.


Liora tidak mengerti dengan situasi ini, dia bingung kepada Zelvin yang tiba-tiba saja menyeretnya dengan kasar seperti ini. Ada apa ini sebenarnya?


"Saya nggak habis pikir sama kamu, Liora. Saya menitipkan Emmanuel kepada kamu, tapi kamu gagal untuk menjaga putra saya. Hal mudah seperti itu saja kamu tidak becus Liora! Gara-gara kamu tidak becus menjaga Emmanuel, saya kehilangan proyek saya. Saya rugi miliaran dolar gara - gara kamu!" bentak Zelvin menggebu-gebu.

__ADS_1


"Mama saya telpon, meminta saya cepat-cepat pulang karena putra saya kecelakaan. Sialan! Gitu saja kamu gagal Liora, kamu nggak pantas menjadi ibu dari Emmanuel!"


Liora menangis, dia takut dengan Zelvin yang marah seperti ini. Zelvin menarik tangan Liora untuk berdiri, dia mengapit kedua pipi Liora dengan jarinya. Kuku Zelvin tertancap di pipi Liora. "Dan satu lagi, kamu sangat rendahan. Ya! Kamu rendah. Saya benci kamu, Keanna."


Tanpa pikir panjang, Zelvin menarik tengkuk Liora untuk mencium bibir pucat itu. Dengan perasaannya yang bergemuruh, Zelvin menggigit bibir Liora sehingga bibir lembut itu mengeluar darah segar. Zelvin mendorong Liora, gadis itu tersungkur kembali.


Zelvin tersenyum sinis, dia mengusap bibirnya yang ada jejak darah Liora. Zelvin melihat jempolnya yang ada darah, Zelvin menajamkan tatapannya. Zelvin menjilat bibirnya, merasakan darah milik Liora.


Zelvin berjongkok di hadapan Liora, Liora terus menangis. Hidungnya memerah. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan kalimat, dia masih terkejut dengan situasi seperti ini. Bahkan sekarang bibirnya terasa sangat perih.


"Kamu tahu? Proyek saya lebih berharga dari pada kamu, Liora. Sialan! Saya benci kamu. Saya pastikan kamu menderita dengan ini semua." Zelvin menarik rambut Liora, supaya gadis itu mendongak untuk menatapnya.


"Kak Zelvin, aku mohon, aku takut," lirih Liora yang tidak di dengar oleh Zelvin.


Zelvin mendorong tubuh Liora untuk terbaring di lantai, lalu dia menindihnya. Zelvin menatap tajam Liora yang berada di bawahnya.


CUP!


Zelvin mencium bibir Liora, dia ******* kasar bibir mungil itu. Zelvin menggigit kembali bibir Liora, supaya gadis itu membuka lebar mulutnya. Lalu pria itu mengabsen mulut Liora, dia menghisap bibir Liora. Zelvin memperlakukan Liora begitu kasar, bahkan dia tidak mendengar rintihan kesakitan Liora. Berkali kali Liora memohon di dalam ciuman kasar ini, tapi Zelvin tetap tidak meresponnya.


Tenaga Liora terkuras, dia sangat lemah saat ini. Gadis itu hanya bisa menangis, berharap Zelvin memiliki belas kasihan kepadanya. Liora berharap penyiksaan ini berakhir. Bibirnya terasa sangat sakit.


Tatapan tajam itu tidak sengaja melihat tatapan sendu Liora. Tatapan itu terlihat begitu menyakitkan, air mata yang berlinang membuat Zelvin berdetak sangat cepat. Tatapan, tatapan yang benci Zelvin lihat. Pria itu langsung ambruk, dia tidak lagi menjadikan tangannya sebagai tumpuannya.


Zelvin menenggelamkan kepala nya dileher Liora, dia menghirup aroma Liora yang begitu menenangkan. Pria itu merasakan tubuh Liora yang bergetar dan isakan tangis Liora terdengar sangat jelas. Sungguh sangat pilu.


"Aku minta maaf, aku gagal menjaga Emmanuel. Ak-aku minta maaf. Ja-jangan seperti ini, ak-aku takut. Aku mo-mohon. Ak-aku--"


"Suttt, diam," potong Zelvin.


Zelvin bangkit, dia melihat Liora yang sangat berantakan. Dia melihat bibir Liora yang bengkak dan masih ada darah mengalir di bibir itu. Zelvin menggendong tubuh lemah Liora, lalu keluar dari kamar Liora.


Zelvin membawa Liora ke kamarnya, dia merebahkan tubuh Liora di kasurnya. Pria itu melepaskan sepatu Liora, lalu menyelimuti tubuh Liora sampai pinggang. Zelvin ikut merebahkan tubuhnya disebelah Liora, dia masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Liora yang masih bergetar.


"Tidur!"


Liora berusaha untuk menenangkan tubuhnya, dia memejamkan matanya. Zelvin semakin mempererat pelukannya, Zelvin menenggelamkan kepalanya di leher Liora.


"Maafkan saya," bisik Zelvin.


"Saya keterlaluan," sambungnya


Elusan tangan di kepala Liora, berhasil membuat Liora mengantuk. Akhirnya, setelah beberapa saat meminta Liora untuk tidur, napas gadis itu pun mulai teratur. Zelvin bangun, dia menatap bekas darah yang sudah mengering di bibir Liora.


Zelvin mengambil kotak P3K di lacinya. Zelvin membersihkan darah yang ada di bibir Liora tanpa mengganggu tidur gadis itu. Zelvin memberikan salep untuk bibir Liora supaya luka itu cepat sembuh.


"Maafkan saya, Keanna," gumam Zelvin.


Liora membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah wajah Zelvin yang dekat dengan wajahnya. Wajah tampan itu masih terlelap sambil memeluknya dengan erat.


Liora meringis bibirnya yang terasa perih. Zelvin terusik dari tidurnya karena mendengar ringisan Liora. Zelvin membuka matanya, dia melihat Liora yang sudah bangun.


"Sakit?"


Liora hanya terdiam sambil menatap Zelvin


Zelvin mengelus bibir Liora dengan lembut. "Maafkan saya."


Liora menggelengkan kepalanya. "Nggak, kakak jangan minta maaf. Aku yang minta maaf karena membuat kak Zelvin rugi miliaran dolar, maafkan aku kak," sesal Liora.


"Aku juga gagal menjaga Emmanuel, maafkan aku," sambung Liora Zelvin menarik tubuh Liora ke dalam pelukannya, dia mengusap rambut Liora. Lalu mengecup rambut Liora.


"Cepat bersiap, kita pergi ke rumah sakit. Hari ini putra saya pulang," perintah Zelvin.

__ADS_1


Liora mengangguk, "Le-lepas dulu," cicit Liora. Zelvin pun melepaskannya.


...----------------...


__ADS_2