Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Kembali ke Korea


__ADS_3

Malam ini, Zelvin dan Liora sudah tiba di Korea Selatan. Mereka menghabiskan beberapa hari terakhir untuk liburan berdua, karena Alice dan Griffin telah lebih dahulu terbang ke Korea Selatan. Mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk liburan. Bahkan Liora, dia merasakan hal yang berbeda dari Zelvin. Perubahan sifat Zelvin benar benar membuatnya bergetar. Apakah Zelvin benar benar mencintainya?


“MAMA!”


Liora tersenyum senang melihat putranya yang berlari ke arahnya. Emmanuel memeluk Liora dengan erat, melepaskan semua kerinduannya.


Emmanuel melepaskan pelukannya. Liora menatap Emmanuel, rambut cokelat anaknya ini sudah panjang, hampir menutupi matanya. “Hey! Mama udah menyuruh kamu potong rambut lho. Kenapa masih belum disuruh potong?” tanya Liora.


Emmanuel melirik Marissa sekilas, lalu kembali menatap Liora. Emmanuel tidak menjawab, dia hanya menyengir menampilkan giginya yang rapi.


“Dia nggak mau cukur sama Mama, mau nya sama kamu. Gitu kan Nuel?” timpal Marissa


Emmanuel mengangguk, “Aku mau sama Mama potong rambutnya.”


Liora tersenyum, “Oke, besok ya?”


Emmanuel mengangguk semangat.


“Sekalian sama suami kamu juga, Mama gak suka liat Zelvin panjang rambutnya,” tambah Marissa menatap ke arah putranya.


Zelvin menatap Marissa, “Iya, besok aku potong rambut, Ma.”


Marissa terkekeh pelan, dia mengacungkan jempolnya. “Bagus.”


“Ya sudah, sekarang kalian ke atas untuk istirahat. Pasti lelah kan? Emmanuel, ayo Oma anter ke kamar,” ajak Marissa .


Emmanuel menggelengkan kepalanya, “Aku mau tidur sama Mama, Oma,” tolak Emmanuel .


“Mama Liora tidur sama Daddy!” sewot Zelvin tak terima.


Liora memukul pelan lengan Zelvin. “Ish, kita bisa tidur bertiga. Ayo, Mian kita tidur,” ajak Liora.


Emmanuel mengangguk.


“Mama, aku ke atas dulu ya.” pamit Liora.


Marissa mengangguk, “Iya sayang, istirahat ya?


Liora mengangguk.


Kepergian Liora, menyisakan Zelvin dan kedua orang tuanya.


Ferdinand terkekeh melihat wajah Zelvin yang ditekuk. “Belum gol juga, Vin?”


“Diem, Pa!” ucap Zelvin sedikit kesal.


“Kasian ya, Pa?” timpal Marissa meledek sang putra.


Ferdinand mengangguk.


Zelvin langsung berdiri, menyusul Liora ke kamarnya. Dia sangat malas jika sudah diledek seperti itu.


Zelvin keluar dari kamar mandi. Dia melihat Emmanuel sedang menceritakan hari-harinya kepada Liora, Emmanuel terlihat sekali sangat excited. Hal ini baru pertama kali Zelvin lihat, karena Zelvin tidak sedekat itu dengan Emmanuel. Zelvin menarik ujung bibirnya, Liora membuatnya merasakan hal yang belum ia rasakan.

__ADS_1


Zelvin melangkahkan kakinya, dia duduk di pinggir ranjang, membuat Liora dan Emmanuel menghentikan obrolannya. “Wangi banget, kak,” puji Liora


Zelvin menaikkan alisnya untuk  membalasnya.


“Kakak pakai baju dulu, udaranya lagi kurang baik, kamu nanti bisa sakit,” suruh Liora.


“Kamu ambilkan saya baju,” pinta Zelvin.


Liora membuang napasnya, “Nuel, tunggu ya, Mama ambil dulu baju buat Daddy,” ucap Liora.


Emmanuel mengangguk


“Kamu nggak nagih oleh-oleh ke Daddy? Biasanya kamu selalu nagih oleh oleh ke Daddy,” tanya Zelvin memecahkan keheningan diantara mereka.


Emmanuel menatap Zelvin. Dia menggelengkan kepalanya, “Nggak, karena Daddy nggak pernah beliin aku oleh-oleh, jadi untuk apa aku minta oleh-oleh ke Daddy? Mama Liora udah ngasih aku oleh-oleh,” ujar Emmanuel.


Jleb!


Zelvin membuang napasnya. Putranya sudah tumbuh besar, bahkan kini dia berani membalas pertanyaannya dengan sinis. Zelvin tidak menyalahkan Emmanuel, karena ini juga kesalahannya dulu. “Tapi, Daddy punya oleh-oleh untuk kamu,” ungkap Zelvin.


Emmanuel menatap Zelvin dengan tatapan yang tidak percaya.


“Liora, saya minta tolong! Tolong ambilkan paperbag dilemari saya!” suruh Zelvin dengan sedikit berteriak.


“Iya tunggu kak,” balas Liora.


Tak lama kemudian, Liora membawa kaos dan paperbag yang Zelvin suruh. Dia menyodorkan keduanya, tapi Zelvin hanya mengambil paperbag nya saja.


“Ini buat kamu, buka!” ucap Zelvin kepada Emmanuel. Emmanuel mengambilnya dan membukanya.


“Daddy! Terima kasih,” teriak Emmanuel ketika melihat oleh-oleh yang diberikan Zelvin. Zelvin memberikan mainan yang dia inginkan yaitu Marvel Legends Series War.


Zelvin tersenyum, dia mengangguk. Melihat itu, membuat Liora terharu. Dia menepuk pelan bahu Zelvin, dia memberikan jempolnya. “Daddy yang hebat!” gumam Liora. Zelvin mengelus pelan kepala Liora.


“Mama aku mau ke kamar, mau simpan ini dikamar aku dulu," ujar Emmanuel.


“Mau Mama antar?” tawar Liora.


Emmanuel menggelengkan kepalanya, “Aku hanya sebentar Ma, nanti aku balik lagi,” tolak Emmanuel, lalu dia turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.


Zelvin menarik tangan Liora untuk duduk di pangkuannya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang kecil Liora, lalu menyimpan kepala nya di bahu Liora. Zelvin menghirup aroma tubuh Liora yang selalu menjadi candunya.


“Kapan kamu beli itu? Kok aku gak tau?” tanya Liora


“Waktu kamu lagi belanja buat Emmanuel,” jawab Zelvin.


Liora mengangguk, “Ternyata, Emmanuel suka banget sama Marvel Pantes saja dia selalu minta nobar marvel."


“Nobar?” tanya Zelvin bingung.


“Nonton bareng maksudnya,” jawab Liora.


Zelvin mencium leher putih Liora yang menggoda imannya. Liora tersentak kaget, dia memejamkan mata nya untuk menikmati sensasi yang dibuat oleh Zelvin. “Kak Zelvinhh-”

__ADS_1


“Saya Daddy yang buruk ya?” tanya Zelvin di sela-sela aktifitas untuk membuat tanda di leher Liora.


Liora menggelengkan kepalanya. “Nggakh kamuhh Eughhh hebathh,” jawab Liora dengan susah karena menahan desahannya.


Zelvin menjauhkan kepalanya dari leher Liora. Dia menatap hasil karyanya yang bagus, Zelvin bangga dengan dirinya, ternyata dia pro dalam hal membuat tanda. Suara pintu yang dibuka membuat Liora reflek langsung berdiri dari duduknya dan menatap Emmanuel.


“Sudah, sayang?” tanya Liora.


Emmanuel mengangguk. Dia berlari menuju ranjang dan naik ke atas ranjang. “Ayo kita tidur, Ma.”


Liora mengangguk, dia ingin melangkahkan kakinya tapi Zelvin menahan tangannya. Zelvin berdiri dari duduknya, dia menarik ikat rambut Liora. Tangannya terulur untuk mengelap bekas kelakuannya tadi. “Sudah, sana tidur.”


Liora mengangguk.


Liora tidur di antara Zelvin dan Emmanuel karena mereka tidak ingin mengalah. Keduanya ingin tidur dekat dengan Liora. Posisi tidur Liora miring, menghadap ke Emmanuel, memeluk Emmanuel.


Sedangkan Zelvin, pria itu sibuk sendiri. Dia terus mengendus ngedus di leher Liora dengan tangan yang melingkar erat di perut Liora.


“I love you my little wife.” bisik Zelvin sebelum tertidur.


...****************...


Keesokan harinya, Zelvin mengajak Liora, Emmanuel dan tak ketinggalan Moana ke Mall, mereka akan family time disana.


“Gimana?” tanya Zelvin.


Liora mengangguk pelan, “Kakak tampan.”


“Ya saya tahu.”


Liora langsung memberikan tatapan tajamnya. Tapi memang iya, Zelvin tampan sekali. Dia seperti memiliki suami baru.


“Emmanuel mana?”


“Di timezone sama Moana,” jawab Liora.


Zelvin mengangguk, “Mau belanja?”


Liora mengangguk. “Mau!”


“Let's go!”


Zelvin memegang tangan Liora. Mereka mengelilingi mall untuk membeli keperluan Liora seperti make up, skincare dan pakaian.


“Ran, beli itu!” tunjuk Zelvin


Liora menatap benda yang ditunjuk Zelvin. Dia langsung menatap Zelvin dengan tatapan sinis, “Buat apa? Kamu mau aku masuk angin?”


Dengan cepat Zelvin menggelengkan kepala, “Bukan. Tapi, kamu akan seksi kalau pakai lingerie itu.”


“Kak Zelvin!” pekik Liora kesal.


Zelvin tertawa dengan keras melihat wajah Liora yang langsung memerah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2