Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Family time


__ADS_3

"Liora." Zelvin mengelus kepala Liora, dia menatap wajah damai Liora yang sedang tidur. Bibir mungil itu sedikit terbuka dengan nafas yang beraturan. Zelvin menatap meja yang berantakan, Zelvin menyipitkan matanya ketika melihat kertas yang banyak sekali coretan.


Zelvin mengambil kertas itu, dia terkekeh ketika melihat coretan besar di kertas itu Ternyata, skripsi milik gadis itu terdapat banyak coretan untuk direvisi. Seperti dari penggunaan kata yang kurang tepat, typo dan masih banyak lagi.


"Liora," panggil Zelvin.


Liora membuka matanya ketika merasa ada seseorang yang mengusik tidurnya, dia menyesuaikannya dengan pencahayaan dari ruangan ini. Mata Liora terbuka sempurna ketika di depannya ada Zelvin. Liora langsung bangun, dia duduk. Kania menatap Zelvin,


"K-kak Zelvin, sudah pulang?" tanya Liora dengan sedikit gugup.


Zelvin mengangguk, lalu duduk di sebelah Liora. "Keadaan putra saya bagaimana?"


"Emmanuel baik, kak. Dia udah nggak rewel seperti kemarin, cuma ya masih ada rewel sedikit. Besok jadwal Emmanuel buka jahitan, tapi aku minta Mama untuk sore saja ke rumah sakitnya biar aku juga ikut." jelas Liora.


Hari ini Zelvin lembur, dia sudah berkata saat pagi tadi. Bahkan dia juga melewatkan sarapannya karena ada pekerjaan yang menunggunya. Jam 11 malam Zelvin baru selesai dengan pekerjaannya, dia sampai di mansion pukul 12 malam dan melihat Liora tidur di sofa.


"Kenapa tidur disini?" tanya Zelvin.


"Ketiduran, sekalian nungguin kak dan ngerjain skripsi aku," jawab Liora.


"Pintu tidak di kunci, jendela terbuka dan pagar mansion terbuka lebar. Gimana kalau ada maling masuk? Apakah kamu bisa menjamin keselamatan kamu?" sentak Zelvin. Kebetulan hari ini penjaga keamanan di mansion nya tidak masuk dikarenakan sedang sakit.


Liora menundukkan kepalanya, lalu mengangkat wajahnya dengan tatapan sendu untuk meminta keprihatinan Zelvin.


Melihat tatapan itu, Zelvin lemah. Dia membuang wajahnya ke samping, lalu kembali menatap Liora. "Jangan ceroboh, saya tidak bisa menjamin keselamatan kamu. Tapi cobalah untuk mencegah hal yang tidak diinginkan," pesan Zelvin.


Liora hanya menganggukkan kepalanya.


"Sekarang tidur, bereskan semua ini," suruh Zelvin.


Lagi-lagi Liora hanya mengangguk.


...****************...


"Pakai jaket nya yang benar, Tante nggak tanggung jawab kalau kamu masuk angin," peringat Liora pada Emmanuel.


Emmanuel mengangguk, Liora membantu Emmanuel untuk menggunakan jaketnya. Liora mengusap kening anak itu. Hari ini, rencananya mereka akan pergi ke taman hiburan sesuai ajakan Liora waktu ini.


Keadaan Emmanuel sudah sangat membaik, bahkan anak laki-laki itu sudah kembali ke mansion Zelvin. Sesuai permintaan Emmanuel, Zelvin pun ikut menemani mereka seperti biasa dengan bujukan yang sangat sulit.


"Sudah siap?"


Emmanuel mengangguk, "Siap Tante."


"Jangan takut ya nanti naik wahananya, Tante akan tinggalin kamu kalau kamu takut," kelakar Liora.


Emmanuel dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Oke," balas Emmanuel.


Liora terkekeh, "Let's go! Daddy kamu sudah nunggu di depan."


Liora masuk ke dalam mobil, dia duduk di jok belakang begitupun dengan Emmanuel yang ikut-ikutan. Liora mengerutkan keningnya seolah bertanya 'kenapa kamu disini?'


"Aku mau sama tante Liora," putus Emmanuel.


Zelvin membuang nafasnya, dia sedikit berdecak lidah. Lagi dan lagi dirinya seolah olah menjadi supir. "Saya tidak akan berangkat sebelum salah satu dari kalian duduk di depan," ucap Zelvin tegas.


Liora menatap Emmanuel, "Nuel kamu--"


"Daddy, aku mohon. Aku mau duduk sama tante Liora." mohon Emmanuel.


Zelvin menatap putra nya dari kaca, dia memejamkan mata nya. "Terserah."


Mobil mulai melaju. Di dalam perjalanan tidak ada percakapan apapun, hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka. Liora membuang nafasnya, sepertinya Zelvin dan Emmanuel itu sama, sama- sama kaku.


Zelvin memarkirkan mobilnya ditempat yang telah disediakan. Mereka keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam taman hiburan, pengunjung malam ini cukup ramai.


"Ini yang namanya taman hiburan?" celetuk Emmanuel.


Liora menunduk menatap Emmanuel, "Iya, dulu Tante sering kesini diajak sama kakek Jayden waktu masih kecil," jelas Liora.


Emmanuel mengangguk, "Aku mau main itu."


Liora mengikuti arah tunjuk jari Emmanuel.


"Kamu mau naik komedi putar?" tanya Liora.


Emmanuel mengangguk "Ya sudah, biar Tante belikan tiket--"


"Biar saya saja, kalian tunggu," potong Zelvin.


Zelvin berjalan menuju kasir untuk membeli tiket. Dia membeli dua tiket, karena dia pikir Liora juga akan naik. Setelah membelinya, Zelvin menyodorkannya kepada Liora.


"Kok dua tiketnya?" tanya Liora heran.


"Siapa tahu kamu mau naik," jawab Zelvin dengan santai.


Liora membulatkan matanya, "Ih nggak mau, nggak mau," tolak Liora.


"Tante nggak mau naik itu?"


"Emmanuel, kalau tante naik itu nanti tante dianggap masa kecil kurang bahagia. Kamu saja ya sayang? Tiketnya ada dua, jadi kamu naiknya bisa lama," jawab Liora.


Emmanuel mengangguk, dengan senang hati menerimanya.


Liora menyerahkan tiketnya ke penjaga wahana, Emmanuel naik ke atas salah satu kuda setelah masuk dan semua komedi putar terisi, barulah wahana itu berputar.


"Kamu mau kemana?" tanya Zelvin.


Liora menunjuk pedagang ice cream, "Mau beli itu," tunjuknya.


"Ayo!" Zelvin menarik tangan Liora, lalu mereka membeli ice cream sesuai yang ditunjuk Liora.


Liora membeli ice cream coklat, setelah membeli mereka kembali ke tempat tadi untuk menunggu Emmanuel. Cukup lama, karena Emmanuel mainnya 2 kali.


Tangan Zelvin terulur ketika melihat Liora yang makannya belepotan, "Makan ice cream saja kamu tidak bisa seperti anak kecil," ucap Zelvin


Liora cemberut. Dia menatap pria yang di sampingnya. Jika boleh jujur, Zelvin terlihat berbeda malam ini. Apalagi dengan pakaian santainya. Celana levis hitam dan kaos putih. Bahkan dia tidak seperti pria yang hampir kepala tiga. Pahatan wajahnya dan tubuhnya sangat sempurna.


"Kak Zelvin," panggil Liora.


Zelvin menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Kakak tampan sekali," puji Liora.


"Ya saya tahu."

__ADS_1


"Ish, sombong!" cibir Liora.


Zelvin terkekeh pelan.


Emmanuel sudah turun dari wahana itu, wajahnya terlihat sangat ceria. Bahkan dia juga tersenyum dengan lebar. Liora memuji senyuman anak itu yang sangat indah.


"Sekarang mau naik apa?" tanya Liora.


Emmanuel terdiam, dia menatap wahana - wahana, "Itu," tunjuk Emmanuel.


Liora menoleh, "Ombak banyu?"


Emmanuel mengangguk.


"Let's go!"


Zelvin memberi tiket, lalu menyerahkannya ke penjaga wahana ombak banyu. Emmanuel sudah naik, tapi wahana belum di mulai menunggu penuh. Setelah penuh, ombak banyu mulai berputar.


"Anak saya aman kan?" tanya Zelvin yang sedikit was-was dengan keselamatan putranya.


Liora tersenyum merekah, "Aman kak, nggak usah khawatir."


Liora mengedarkan pandangan menatap ke sekeliling, "Aku mau itu," tunjuk Liora kepada pedagang permen kapas.


"Tidak, kamu tadi sudah makan ice cream," larang Zelvin.


"Tapi kak, aku kalau sama Daddy memang selalu beli itu," ucap Liora memelas.


"Oke," ucap Zelvin final. Dia pergi membeli gulali untuk Liora. Zelvin melihat Liora sangat bahagia malam ini, dari matanya terlihat, mata itu sangat indah.


"Makasih kak," ucap Liora senang.


Zelvin mengangguk. Emmanuel sudah turun dari wahana itu, dia menghampiri Liora dan Zelvin.


"Senang?"


Emmanuel mengangguk, "Senang sekali, Tante."


"Sekarang mau apa lagi?"


"Aku mau itu bareng Tante dan Daddy," jawab Emmanuel sambil menunjuk salah satu tempat wahana.


Liora membulatkan mata nya, rumah hantu? Astaga Liora sangatlah penakut.


"Hah? Nggak, nggak, nggak. Kalau kamu mau main kesana, sama Daddy kamu saja," tolak Liora.


"Tapi tante..." mohon Emmanuel


"Emmanuel, jangan memaksa orang!" ucap Zelvin.


Wajah Emmanuel langsung murung, Liora menjadi tidak tega, "Ya sudah, ayo kita kesana!"


Senyuman Emmanuel langsung mengembang.


"Kamu mau ikut kak?"


Zelvin mengangguk, "Tunggu disini, saya mau beli tiket dulu."


Liora dan Emmanuel mengangguk.


...****************...


Liora hanya diam. Sungguh, masuk ke rumah hantu adalah hal yang paling di jauhi oleh Liora Apalagi dia sangat penakut, Liora yakin dia akan sulit tidur. Dan tadi, Liora dengan jelas melihat kaum-kaum hantu yang menakuti mereka.


Tidak bukan mereka, tapi Liora. Karena Zelvin dan Emmanuel sama sekali tidak menjerit atau terkejut, mereka berdua tetap tenang seolah-olah ini hanya tipuan, meskipun nyatanya begitu. Bahkan Zelvin, sibuk untuk memberi ketenangan kepada Liora. Dia beberapa kali menegur Liora karena menjerit terlalu keras. Liora tidak peduli dengan teguran Zelvin.


Seperti saat ini, Liora sudah keluar dari rumah hantu. Tapi sulit untuk berbicara karena telah energi yang sudah di keluarkan. Liora dan Emmanuel duduk di bangku panjang yang tersedia, Emmanuel terus menatap Liora dengan tatapan bersalah.


"Minum dulu." Zelvin menyodorkan botol minuman ke arah Liora. Liora menerima nya dengan tangan yang masih bergetar.


"Tante, maafkan aku. Aku nggak nyangka ternyata reaksi Tante akan seluar biasa itu," sesal Emmanuel


Liora menoleh, dia mengerutkan keningnya. "Luar biasa bagaimana, Nuel?"


"Iya, aku nggak tau kalau Tante akan sangat takut seperti tadi. Maafkan aku tante."


Liora mengangguk, "Gapapa."


"Sekarang gimana keadaan kamu?" tanya Zelvin.


"Lebih baik dari tadi. Tapi aku heran deh sama kalian, kok nggak ada takut-takutnya sih? Padahal hantu nya seram seram loh," tanya Liora.


"Itu hanya bohongan Tante, untuk apa takut?" balas Emmanuel.


Zelvin mengelus puncak kepala Emmanuel mendengar balasan Emmanuel, dia bangga dengan sifat pemberani putranya.


"Yah kalian memang kuat, aku saja lemah," putus Liora.


Emmanuel tertawa, "Tante kita naik bianglala yuk?" ajak Emmanuel.


Liora mengangguk.


"Kamu masih kuat?" tanya Zelvin.


"Kuat kak, lagian cuma rumah hantu, nggak mempan bikin aku lemah," ucap Liora sombong.


Cuma rumah hantu? Padahal tadi yang hampir pingsan adalah Liora. Bahkan Zelvin sampai menahan tubuh Liora supaya gadis itu tidak terjatuh. Nggak bikin lemah? Tadi saja yang terkulai lemas adalah Liora, sampai-sampai tangannya bergetar.


Astaga, gadis itu menggemaskan. Zelvin tersenyum tanpa mereka sadari. Setelah memesan tiket, mereka naik ke bianglala. Liora dan Emmanuel sangat excited apalagi ketika mereka di atas, Liora dan Emmanuel bersorak gembira karena melihat indah kota Jakarta dari atas. Zelvin seperti mengasuh dua anak jika seperti ini.


"Pulau Jeju dari sini keliatan nggak ya?" tanya Liora.


"Keliatan Tante, itu warna nya merah." jawab Emmanuel membuat Liora terkekeh.


"Kalau Prancis dari sini keliatan nggak tante? Daddy sering ke Prancis soalnya." Kini giliran Emmanuel yang bertanya.


"Keliatan Nuel, itu yang hitam."


"Nggak keliatan," ucap Emmanuel.


"Ya kamu pikir saja, mana bisa Prancis keliatan dari sini," balas Liora membuat Emmanuel terkekeh.


Dengan bodohnya Zelvin, dia tetap mendengar ocehan Emmanuel dan Liora yang sangat absurd dengan obrolan yang random.


Mereka sudah turun dari bianglala

__ADS_1


"Kamu mau main bomb-bomb car?" tawar Liora.


Emmanuel mengangguk.


"Kak Zelvin belikan tiket dong," suruh Liora.


"Kamu menyuruh saya?" ucap Zelvin sinis.


Liora langsung nyengir kuda, "Kan dari tadi kakak yang beli tiket."


Zelvin menghela napas. "Kamu juga mau main?"


Liora menggelengkan kepalanya. Zelvin pun pergi membeli tiket.


Emmanuel naik ke atas salah satu mobil, dia melambaikan tangannya ketika ia mulai menyetir mobilnya kesana-kemari.


"Kak, aku mau--"


Brugh!


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh terhuyung ke depan karena seseorang menabrak tubuh Liora dengan keras. Dengan sigap, Zelvin menangkap pinggang ramping Liora supaya gadis itu tidak terjatuh.


Liora langsung berdiri tegak ketika menyadari posisi mereka, tapi tangan Zelvin tidak terlepas dari pinggangnya. Zelvin menatap orang yang menabrak Liora dengan tatapan tajam.


"Maafkan saya kak, saya nggak sengaja," sesal pria yang menabrak Liora.


"Saya--"


"Gapapa," potong Liora membuat Zelvin menatap tajam Liora.


"Gapapa kak, lagian aku nya juga baik nggak ada luka," ucap Liora lagi.


"Tapi dia nabrak kamu dengan keras, Keanna."


"Iya, tapi aku gapapa," kukuh Liora.


Zelvin menarik tubuh Liora supaya lebih mendekat ke arahnya. Dia mempererat rangkulan di pinggang Liora. Bahkan Zelvin bisa menghirup aroma tubuh Liora yang sangat khas.


"Kak Zelvin jangan gini, aku malu," cicit Liora.


"Saya tidak peduli!" ucap Zelvin tegas.


...****************...


TOK! TOK! TOK!


Zelvin membuka pintu kamarnya. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat gadis yang menggunakan piyama merah muda berdiri di depan pintu nya dengan wajah yang gelisah.


"Kenapa?" tanya Zelvin.


"Kak, aku takut tidur sendiri. Mau ke kamar Emmanuel, tapi dia tidurnya lampunya dimatiin. Aku takut," cicit Liora.


"Terus mau tidur sama saya?"


Liora menganggukkan kepalanya.


"Kalau saya khilaf, bagaimana?"


"Khilaf gimana?" tanya balik Liora.


Zelvin membuang napas kasar, "Kita itu sama-sama dewasa, memiliki nafsu, Liora. Lalu--"


"Kan kita pernah tidur bareng, kak," potong Liora.


"Iya tapi--"


"Pokoknya aku mau tidur sama kak, nggak mau sendirian."


"Masih takut, hem?" tanya Zelvin.


Liora mengangguk, "Aku masih kebayang wajah hantunya," keluh Liora.


"Ya sudah, masuk," titah Zelvin.


Liora langsung tersenyum senang. Dia masuk ke dalam kamar Zelvin yang sangat luas, dia langsung lari ke menuju ranjang Zelvin. Lalu menidurkan tubuhnya.


"Ayo, tidur kak!" ajak Liora dengan tingkah yang menggemaskan.


Zelvin berjalan menuju ranjang, dia menidurkan tubuhnya di sebelah Liora.


"Jangan dimatiin lampunya," peringat Liora.


Zelvin hanya mengangguk.


Liora memiringkan tubuhnya, dia melihat Zelvin sambil tersenyum. Zelvin menyelipkan tangannya dileher Liora, lalu menyimpan tangannya di pinggang Liora dan menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.


"Kira-kira kapan kamu sidang?" tanya Zelvin.


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak tau kak, skripsi saja masih sering di coret coret sama dosen."


"Kamu mau lanjut S2? Saya mampu membiayainya," tawar Zelvin.


Liora mendongak menatap wajah Zelvin, "Aku nggak tau kak, aku sudah lelah belajar. Sepertinya aku mau jadi pengangguran saja, boleh?"


Zelvin terkekeh pelan mendengar jawaban Liora, "Terserah. Uang saya mampu membiayai kamu sampai mati."


Liora berdecak sebal, ternyata jika malam, Zelvin mode sombong, hampir sama dengan sifat Daddy-nya, siapa lagi kalau bukan Jayden. "Sombong banget sih."


Zelvin tidak membalas ucapan Liora yang tadi.


"Lihat saya," perintah Zelvin.


Liora melihat Zelvin dengan tatapan bingung. Zelvin mendekatkan wajahnya, Sebelumnya dia tersenyum melihat wajah gugup Liora.


Cup!


Zelvin mencium bibir lembut Liora, dia ******* bibir Liora pelan. Zelvin memiringkan tubuhnya supaya lebih mudah. Liora tidak membuka bibirnya, Zelvin tahu Liora sangat gugup saat ini. Zelvin mengecup bibir Liora beberapa kali, dia menyukai bibir Liora yang manis.


Tangan Zelvin tidak bisa diam, dia mengelus perut rata Liora. Zelvin berpindah, dia mencium leher Liora.


"Kak.. Zelvinhh.." des*h Liora tertahan, tubuhnya terasa seperti tersengat listrik.


Zelvin menyudahinya, dia mengecup bibir Liora sebentar sebelum menarik Liora kedalam pelukannya. "Tidur, besok kamu kuliah."


Liora mengangguk, lalu mereka berdua pun mengarungi dunia mimpi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2