Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Sarapan bersama


__ADS_3

30 menit pun berlalu, Jayden dan Yuna sampai di depan JCH Group. Jayden turun dari mobil, berjalan cepat membukakan pintu mobil untuk Yuna.


"Makasih sayang," ucap Yuna tersenyum.


"Sama-sama sayangku, ayo kita masuk," ajak Jayden dan di balas anggukan kepala oleh Yuna, tak lupa Yuna membawa paper bag bawaannya sedangkan Jayden membawa tas kerjanya di tangan kiri dan tangan kanannya menggenggam tangan Yuna. Sebelum masuk, Jayden memberikan kunci mobilnya kepada security untuk memarkirkan mobilnya di basemen parkiran.


"Pak Sam, tolong parkir kan mobil saya di tempat biasa," titah Jayden.


"Baik Tuan."


"Terima kasih," ucap Jayden. Security yang bernama Sam itu terperangah mendengar ucapan terima kasih terlontar dari mulut Jayden untuk pertama kalinya.


"Sama-sama Tuan." Sam sampai terbata-bata membalas ucapan atasannya itu.


Saat sudah di dalam gedung JCH Group, Jayden dan Yuna menjadi pusat perhatian para karyawan disana. Ada yang kagum, terpesona, iri kepada Yuna bisa dekat dengan Jayden yang notabennya sangat sudah untuk didekati.


"Siapa gadis yang di gandeng oleh Tuan Jayden itu?"


"Mungkin saja kekasih dari Tuan Jayden."


"Cantik sekali, kekasihnya Tuan Jayden."


"Iya mereka sangat cocok. Sama-sama tampan dan cantik."


Seperti itulah bisik-bisik dari para karyawan tentang Yuna dan Jayden. Kedua sejoli itu hanya diam, membiarkan orang-orang itu bergosip tentang hubungan mereka.


Bahkan beberapa karyawan menyapa mereka dan dibalas senyuman oleh Yuna sedangkan Jayden sama sekali tidak menanggapi sapaan karyawannya, terkesan dingin dan datar.


"Sayang, lepaskan tanganku. Nggak enak dilihatin sama karyawan-karyawan kamu," bisik Yuna.


"Terus kenapa kamu nggak balas sapaan mereka sih?" lanjut Yuna menanyakan sikap Jayden kepada karyawan-karyawannya.


"Udah kamu diam saja sayang. Aku memang seperti itu di kantor, jadi mereka sudah terbiasa," jelas Jayden.


"Ih kamu ini, harus balas dong sapaan mereka. Walaupun hanya dengan senyuman, agar mereka merasa dihargai," kata Yuna menasehati Jayden.


Jayden membuang napas, "Iya sayang, akan aku coba."


"Nah gitu dong."


Jayden dan Yuna masuk ke dalam lift khusus para petinggi kantor, tangan Jayden memencet tombol yang menuju ke lantai 15, disana lah ruangan Jayden berada.


Ting!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, mereka berdua keluar dengan Jayden merangkul pinggang Yuna.


"Jangan begini, Jay. Aku malu!" Yuna mencoba melepaskan tangan Jayden dari pinggangnya tapi laki-laki itu menghiraukannya dan malah semakin mengeratkan rangkulannya.


Bisik-bisik karyawan kembali terjadi di lantai 15 saat melihat wakil direktur utama merengkuh pinggang seorang gadis.


"Selamat pagi Tuan dan Nona--" Ucapan Robert, asisten sekaligus sekretaris Jayden terhenti saat akan menyapa gadis yang bersama atasannya tapi sialnya ia tidak mengetahui namanya.


"Kenalkan Robert, dia Yuna calon istri saya," jelas Jayden memperkenalkan Yuna sebagai calon istrinya. Yuna dan Robert terkejut dengan penuturan Jayden.


"Ah ya, selamat pagi Nona Yuna," sapa Robert.


"Pagi juga Robert," balas Yuna tersenyum manis. Robert cukup terpana melihat senyuman Yuna dan Jayden tak suka itu. Laki-laki itu dengan cepat berdehem keras agar Robert tersadar dari keterpanaan nya kepada Yuna.


"Ma-maaf Tuan," ucap Robert terbata-bata sambil menundukkan kepalanya.


"Jaga mata kamu, Robert. Jangan sampai gaji kamu bulan ini saya potong," ancam Jayden.


"Baik Tuan, maafkan saya."


Jayden segera menarik tangan Yuna dengan sedikit kasar ke dalam ruangannya.


"Kamu menyakiti tanganku. Jay. Lepasin!" suruh Yuna dan Jayden langsung melepaskan genggamannya.


"Sakit ya sayang? Maaf aku nggak sengaja," sesal Jayden seraya mengambil dan meniup tangan Yuna yang sedikit memerah.


"Aku cuma nggak suka kamu dilihatin sama Robert! Haish ingin ku congkel bola matanya!" geram Jayden.


Yuna geleng-geleng kepala, tangannya terulur mengelus pipi Jayden, "Udah jangan marah, kamu lapar kan?" tanya Yuna. Jayden menganggukkan kepalanya seperti anak kecil.


"Ayo sarapan dulu, biar ada tenaganya waktu waktu kerja nanti," ajak Yuna sambil menarik tangan Jayden untuk duduk di sofa. Yuna membuka satu-persatu kotak makan yang di dalamnya terdapat nasi dan beberapa lauk terlihat sangat menggugah selera.


"Kamu juga belum sarapan kan sayang?" tanya Jayden.


"Iya belum, soalnya tadi takut kamu telat."


"Kalau gitu kita sarapan bersama ya?" kata Jayden dan Yuna hanya mengangguk, ia juga sangat lapar saat ini. Yuna menyendok kan nasi dan lauk lalu menyodorkannya pada mulut Jayden.


"Aaaa ayo makan." Hati Jayden menghangat diperlakukan seperti itu oleh Yuna, sudah lama ia merindukan perhatian seperti itu. Jayden segera memakan makanan yang disuapi Yuna.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Yuna.


"Enak banget sayang, ini semua masakan kamu?" tanya balik Jayden.

__ADS_1


"Nggak semua, ada juga yang dibantuin bibi Beatrix," jelas Yuna. Jayden hanya manggut-manggut mengerti. Ia mengambil alih kotak makan dan sendok dari tangan Yuna.


"Sekarang giliran kamu makan." Jayden menyodorkan nasi dan lauk yang telah ia ambil menggunakan sendok ke arah mulut Yuna. Yuna tersenyum dan memakan makanan suapan dari Jayden. Dan terjadilah peristiwa suap-suapan antara mereka hingga makanan pun habis tak bersisa.


"Ah kenyangnya," ucap Jayden sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Makasih ya sayang udah masakin aku," lanjutnya.


"It's my pleasure," balas Yuna sembari membereskan kotak-kotak makanan tersebut dan memasukkan ke dalam paper bag.


"Sayang," panggil Jayden.


Yuna melirik ke arah Jayden, "Ya sayang?"


"Aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Jayden.


"Apa?" tanya Yuna.


Jayden mengambil dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil dari dalam tas kerjanya lalu memberikannya kepada Yuna.


"Ini untuk kamu."


"Ini untuk aku?"


"Iya sayang, coba buka," suruh Jayden.


Yuna mengangguk, ia membuka kotak pemberian Jayden itu dan ternyata berisi sebuah kalung yang sangat cantik, permata dari kalung tersebut terbuat dari berlian dan jangan di tanya berapa harga dari benda yang berkilauan tersebut.


"Cantiknya," puji Yuna pada kalung tersebut.


"Lebih cantikan kamu sayang," sahut Jayden.


"Kamu ini!" Yuna memukul pelan tangan Jayden, tapi wajah gadis itu memerah karena tersipu mendengar ucapan Jayden tadi. Jayden terkekeh gemas melihat Yuna.


"Sini aku pakaikan kalungnya."


"Iya." Yuna memberikan kotak kalung tersebut pada Jayden. Kemudian Jayden memakaikan kalung tersebut pada leher jenjang Yuna.


"Makasih sayang."


"Sama-sama love."


Mata Jayden dan Yuna saling menatap lekat satu sama lain, lama kelamaan Jayden mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna. Yuna yang mengerti pun memejamkan matanya, saat bibir mereka mulai bersentuhan, tiba-tiba seseorang datang sambil berdehem keras dan membuat kedua insan itu mengurungkan kegiatannya.

__ADS_1


"Ekhem!"


...----------------...


__ADS_2