Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Bersama William


__ADS_3

Ditengah perjalanan William membuka pembicaraan agar tidak terlalu hening.


"Aku pikir kamu marah sama aku," ucap William menatap sekilas ke arah Yuna, lalu kembali fokus ke depan.


"Kenapa aku mesti marah sama kamu?" tanya Yuna menatap William bingung, karena ia tak pernah marah dengan William. Mungkin kalau kecewa ada, tapi Yuna sudah melupakannya.


"Ya aku kira kamu kesal dan marah gitu sama aku, karena aku kan juga termasuk member D'Warlords," jelas William.


"Aku malah ngerasa nggak enak sama Jayden karena udah mempermalukan dia di depan umum," timpal Yuna terbesit rasa bersalahnya pada Jayden.


"Jadi kamu menyesal nolak Jayden?"


"Ya nggak lah aku cuma nggak enak aja, Jayden kan gengsinya besar, masa aku permalukan dia di depan banyak orang," jelas Yuna.


"Beneran? Bilang saja kamu menyesal menolak Jayden." William mencoba mendesak Yuna, agar nanti ia bisa lebih mendekati gadis itu tanpa ada kata belum move on dari seseorang masa lalu.


"Apaan sih, ya nggak lah Will. Lagian nggak mungkin kan, aku terima dia kalau cuma karena terpaksa. Aku kan nggak suka sama dia," elak Yuna. Lain di mulut lain di hati.


"Udah ih nggak usah bahas dia, malas banget kalau udah ngebahas dia itu!" sambung Yuna agar William tidak membahas tentang Jayden.


William hanya menganggukkan kepalanya dan selanjutnya hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil sampai tiba di mansion Yuna. Lalu mereka berdua turun dari mobil. William membuka pintu belakang mobil dan mengambil dua plastik besar belanjaan yang mereka berdua beli tadi.


"Sini biar aku yang bawa," pinta Yuna, mana mungkin Yuna membiarkan William yang membawa belanjaan yang dibeli tadi, karena laki-laki itu yang membayar semua belanjaannya, tentu saja ia merasa tak enak hati.


"Nggak usah, biar aku aja yang bawa," ujar William.


"Tapi Wil-"


"Gapapa biar aku yang bawa, ini berat loh," potong William, justru karena berat membuat Yuna semakin sungkan kepada William. Ia pun hanya bisa menghela napas lalu mengangguk dan membiarkan William membawa semua belanjaannya.


"Sepi banget mansion ini, Mama sama Papa kamu kemana Yun? Apa mereka belum pulang kerja?" tanya William pada saat mereka sudah berada di dalam mansion.


"Tadi waktu masih di kampus, aku di chat sama Mama, Mama bilang mau pergi menginap di rumah nenek sama Papa juga," jelas Yuna.


"Terus mereka pulangnya kapan?" tanya William lagi.


"Besok siang mungkin mereka udah pulang," jawab Yuna.


"Oh gitu," balas William merasa lega, karena orang tua Yuna tak akan lama meninggalkan Yuna sendirian.


Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke dapur, disana Beatrix tengah membersihan dapur.


"Sore Bi," sapa Yuna dan William serempak.


"Sore juga Nona, Tuan," balas Beatrix ramah. Ia tersenyum melihat kebersamaan Yuna dan William, menurutnya mereka berdua sangat cocok.

__ADS_1


"Taruh aja belanjaan itu di atas meja sana Wil." Suruh Yuna sambil menunjuk meja pantry dapur. William hanya mengangguk.


"Nona dan Tuan habis belanja ya?" tanya Beatrix.


"Iya Bi, soalnya aku mau buat kue," jawab Yuna.


"Oh gitu, mau Bibi bantu?"


"Nggak usah Bi, ini ada asisten aku," ucap Yuna sambil melirik ke arah William dengan nada bercanda. William yang mendengar itu langsung terkekeh, sedangkan Beatrix hanya tersenyum.


"Iya Bi, nanti saya yang jadi asisten dari chef Yuna Kim," balas William.


"Ya sudah, Bibi mau ke kamar dulu. Kalau perlu bantuan apa-apa tinggal panggil Bibi aja ya?" ucap Beatrix ramah.


"Siap Bi."


Beatrix pun meninggalkan Yuna dan William berdua di dapur. Tiba-tiba kucing kesayangan Yuna yang bernama Coco mengeong sambil menghampiri mereka dengan menggosok-gosokkan badannya ke kaki William.


"Seperti kucing aku suka sama kamu Wil," ucap Yuna terkekeh.


William tersenyum, lalu menggendong Coco. "Lucu banget sih, kayak yang punya."


"Masa aku di samain kayak kucing," ucap Yuna cemberut.


"Ya kan sama-sama lucu," balas William. Yuna mendengus dan memilih menyiapkan alat-alat serta bahan-bahan untuk masakan mereka. William yang melihat Yuna sedikit kewalahan, langsung gerak cepat membantunya. Sebelum itu William melepaskan Coco terlebih dulu.


"Oke, pisahkan bahan untuk membuat cheese cake dan chicken cordon bleu, bisa kan Wil?" tanya Yuna.


"Iya bisa."


Setelah selesai menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dan semua bahan pun sudah tersedia di atas meja, Yuna pun mulai membuat cheese cake terlebih dahulu.


"Boleh minta tolong nggak Wil?" tanya Yuna.


"Boleh dong, minta tolong apaan emang?"


"Bukain bungkus tepungnya dong," ujar Yuna nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Oke." William menurut, kemudian menggunting sedikit ujung kemasan tepung.


"Terus kamu taruh di dalam mangkuk ini ya?" Perintah Yuna pada William sambil memberikan mangkuk berukuran sedang pada laki-laki itu.


"Ini Yun." William menyerahkan tepung itu pada Yuna yang tengah fokus mengocok telur. Namun diam-diam di jari-jari tangan William juga ada tepung, ia sengaja ingin menjahili Yuna.


"Makasih Wil-" Belum selesai Yuna berucap, ia dikagetkan dengan William mengoleskan tepung tersebut ke wajahnya.

__ADS_1


"William jahil banget sih!" kesal Yuna. William langsung tertawa puas. Yuna pun tak mau kalah juga, ia mengoleskan tepung itu ke pipi William sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa.


"Rasain, satu sama!" William hanya tersenyum melihat Yuna tertawa seperti itu, tanpa membalas lagi perbuatan gadis itu lagi. Menurutnya tertawa Yuna sangat cantik di mata William, sampai-sampai ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.


...****************...


Keesokan harinya, Yuna yang masih tertidur tiba-tiba terbangun akibat suara dering ponselnya. Tangannya meraba-raba meja mencari keberadaan ponselnya.


"Em ya halo, siapa ini?" tanya Yuna dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"Woy bangun, masih aja tidur!Mentang-mentang jadi tuan putri," sindir Deana. Yuna bedecak kesal.


"Berisik! Ngapain sih bangunin aku pagi-pagi gini?!"


"Ya ampun, ini udah jam 9 pagi Yuna. Ayo bangun! Kamu ingat kan janji kita mau pergi ke bioskop jam 10 nanti!" ucap Deana tak kalah kesal.


"Iya-iya gue inget, bawel banget sih kamu! Gangguin orang lagi enak-enak nya tidur juga."


"Jangan bilang semalam kamu begadang?" tanya Deana selidik.


"Em," balas Yuna kembali memejamkan matanya.


"Astaga Yuna!" teriak Deana membuat Yuna seketika membuka matanya.


"Deana jangan teriak-teriak gitu! Telinga aku tuli gara-gara kamu!" sentak Yuna.


"Kamu sih! Ayo bangun, terus mandi. Nanti jam setengah 10 aku udah berangkat ke rumah kamu. Pokoknya pas aku sampai, kamu harus udah siap!" titah Deana yang terus mengomel.


"Iya ini aku mau mandi, bye." Yuna mematikan sambungan telepon secara sepihak. Yuna yakin Deana disana tengah misuh-misuh karena Yuna mematikan teleponnya sebelum menjawab Deana ucapan Yuna tadi.


Dengan langkah yang malas Yuna pun pergi menuju ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2